**Bab 13: Keberanian di Atas Podium**
***
Sinar matahari pagi ini rasanya jauh lebih membakar dibanding biasanya. Lapangan upacara SMA Wijaya sudah dipadati oleh ratusan siswa yang berbaris rapi sesuai kelas masing-masing. Di depan, sebuah panggung kecil dengan podium kayu bernuansa formal sudah berdiri tegak. Banner besar bertuliskan "Upacara Serah Terima Jabatan Pengurus OSIS Periode Baru" terpajang megah di latar belakang.
Gue berdiri di barisan paling belakang kelas XI-IPA 2. Sengaja. Gue sengaja memilih posisi ini biar nggak terlalu kelihatan, atau lebih tepatnya, biar gue bisa menghilang dari pandangan orang-orang.
Tapi ternyata, usaha gue sia-sia.
"Eh, liat deh. Masih berani ya dia nunjukin muka di sini?" cicit sebuah suara cempreng dari barisan kelas sebelah.
"Iya, tebel banget muka tuh cewek. Nggak tahu malu banget setelah bikin nama Devon hampir tercoreng," sahut yang lain, sengaja mengeraskan volume suaranya supaya terdengar sampai ke telinga gue.
Gue cuma bisa menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatu sekolah gue yang mulai berdebu. Tangan gue mengepal erat di sisi tubuh, menahan rasa sesak yang kembali naik ke dada. Bisikan-bisikan itu rasanya kayak jarum tak kasat mata yang menusuk-nusuk harga diri gue. Sejak kemarin, setelah Devon mengabaikan gue di koridor, rasanya dunia gue mendadak runtuh. Gue merasa sendirian, terisolasi, dan sepenuhnya disalahkan atas kejadian yang sebenarnya sama sekali bukan kemauan gue.
"Perhatian, upacara serah terima jabatan akan segera dimulai. Kepada Ketua OSIS periode sebelumnya, Devon Narendra, dipersilakan naik ke atas podium untuk menyampaikan pidato perpisahan."
Suara MC terdengar menggema lewat pengeras suara sekolah yang ngebass.
Seketika itu juga, riuh tepuk tangan langsung memenuhi lapangan. Semua mata tertuju pada sosok cowok tinggi tegap yang mulai melangkah mantap menuju podium. Devon kelihatan sangat gagah dengan almamater OSIS-nya yang terpasang sempurna. Wajahnya setenang air di danau, tanpa ekspresi, tapi memancarkan aura kepemimpinan yang kuat banget.
Gue memberanikan diri untuk mendongak. Menatap cowok yang beberapa hari lalu sempat berbagi kehangatan dan tawa bersama gue di dalam kamar mandi yang sempit itu. Sekarang, dia kelihatan begitu jauh. Begitu sulit dicapai.
Devon berdiri di depan mikrofon. Dia mengeluarkan selembar kertas putih yang rapi dari saku almamaternyaβteks pidato resmi yang pasti sudah disetujui oleh pihak sekolah dan pembinanya.
"Selamat pagi kepada Kepala Sekolah, jajaran guru, staf, serta teman-teman sekalian yang saya banggakan," suara Devon mengalun berat dan tenang, langsung membungkam seluruh lapangan upacara.
Gue mengembuskan napas pelan. *Dia kelihatan oke. Syukurlah,* batin gue, setidaknya merasa lega karena posisi dan reputasinya kelihatan baik-baik saja.
"Satu tahun menjabat sebagai Ketua OSIS di SMA Wijaya adalah sebuah kehormatan besar bagi saya. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama, program kerja yang terlaksana, hingga tantangan yang..."
Devon mendadak menghentikan kalimatnya.
Suasana yang tadinya sunyi berubah menjadi sedikit bingung. Beberapa guru di barisan depan mulai saling berbisik. Gue pun ikut mengernyitkan dahi. Kenapa Devon berhenti? Apa dia lupa teks pidatonya?
Gue melihat mata Devon mulai bergerak, menyapu seluruh lapangan upacara dari ujung depan hingga ke barisan paling belakang. Dan di sana, di antara ratusan siswa, pandangan mata kami bertemu.
Jantung gue serasa berhenti berdetak selama satu detik.
Gue bisa melihat ada kilatan emosi yang berbeda di mata tajam itu. Devon menatap gue lama. Sangat lama. Dia melihat bagaimana gue berdiri menyendiri, melihat bagaimana beberapa siswi di dekat gue terus-menerus menatap gue dengan pandangan sinis sambil berbisik mencemooh.
Di atas podium, Devon perlahan menurunkan kertas pidatonya. Dia menatap teks resmi itu sesaat, lalu melipatnya lambat-lambat dan mema**kkannya kembali ke dalam saku almamater.
Keheningan total menyelimuti lapangan. Semua orang mulai bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh sang Ketua OSIS.
Devon memegang tiang mikrofon, mendekatkan mulutnya, lalu menarik napas panjang.
"Pidato formal yang saya tulis di kertas ini... semuanya omong kosong," ucap Devon lantang.
*DEG.*
Suara kasak-kusuk langsung terdengar dari barisan guru. Kepala Sekolah bahkan langsung menegakkan posisi duduknya di barisan kehormatan dengan wajah yang mulai tegang.
"Selama ini, saya selalu dididik untuk menjadi sosok yang sempurna. Menjaga nama baik keluarga, menjaga reputasi sekolah, dan selalu memakai topeng kepura-puraan agar semua orang senang," lanjut Devon. Suaranya terdengar sangat tenang, tapi sarat akan emosi yang tertahan. "Saya selalu berpikir bahwa reputasi adalah segalanya. Bahwa opini orang lain adalah hal terpenting yang harus saya jaga, bahkan jika itu artinya saya harus mengorbankan kejujuran."
Gue meremas ujung baju gue sendiri. Perasaan gue mendadak nggak enak. *Dev, lo mau ngomong apa? Jangan g***,* jerit gue dalam hati.
"Tapi hari ini, berdiri di sini, melihat seseorang yang berharga bagi saya harus menanggung beban akibat pengecutnya saya... saya sadar kalau semua reputasi ini sama sekali nggak ada gunanya."
Devon melepaskan mikrofon dari tiangnya, menggenggamnya erat, lalu melangkah maju ke ujung podium. Tatapannya kembali mengunci mata gue.
"Beberapa hari terakhir, ada rumor buruk yang beredar luas di sekolah ini. Tentang kejadian di kamar mandi lant** tiga yang melibatkan saya dan salah satu siswi."
Suasana lapangan mendadak super tegang. Semua orang seolah menahan napas. Beberapa siswa di depan gue langsung menoleh ke arah gue dengan mata melebar.
"Saya ingin meluruskan semuanya di sini, di depan kalian semua, di depan para guru dan Kepala Sekolah. Kejadian hari itu adalah murni ketidaksengajaan. Pintu kamar mandi terkunci dari luar karena slotnya rusak. Dan siswi yang bersama saya hari itu... dia sama sekali nggak bersalah. Dia nggak merencanakan apa pun, dia nggak 'kegatelan' seperti yang kalian bicarakan, dan dia adalah korban dari situasi yang nggak menguntungkan."
Bisik-bisik mulai pecah seperti ombak yang menab**k karang. Lapangan yang tadinya hening kini riuh oleh gumaman ratusan siswa.
"Devon!" panggil salah satu guru pembina OSIS dari bawah panggung dengan nada memperingatkan, berusaha menghentikan aksi nekat cowok itu.
Namun, Devon mengabaikannya. Dia justru menaikkan volume suaranya, membuat suaranya mendominasi seluruh area sekolah.
"Gue yang salah!" tegas Devon, kini beralih menggunakan gaya bahasa yang lebih sant** tapi penuh penekanan. "Gue yang pengecut karena kemarin sempat pura-pura nggak kenal dia cuma karena gue takut reputasi gue hancur. Gue takut bokap gue marah. Tapi melihat dia disindir, dijauhi, dan disalahkan atas kesalahan yang nggak pernah dia perbuat... gue nggak bisa diam aja."
Gue menutup mulut gue dengan kedua tangan. Air mata yang sejak kemarin gue tahan setengah mati, akhirnya luruh juga membasahi pipi. Dada gue sesak, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang luar biasa besar yang membuncah di dalam sana.
"Aira," panggil Devon lirih, tapi suaranya yang menggema lewat *speaker* membuat seluruh lapangan langsung menoleh ke arah gue. Ratusan pasang mata kini menatap gue, tapi kali ini pandangan mereka nggak lagi penuh hinaan, melainkan penuh keterkejutan dan rasa penasaran.
"Gue minta maaf karena udah bikin lo nangis," lanjut Devon, matanya menatap gue dengan kehangatan yang luar biasa. "Gue minta maaf karena sempat jadi cowok pengecut yang nggak berani melindungi lo. Mulai hari ini, di depan seluruh sekolah, gue mau semua orang tahu... kalau ada yang perlu disalahin atas kejadian kemarin, itu gue. Bukan lo."
Hening sejenak. Devon menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu tersenyum tipisβsebuah senyuman tulus yang belum pernah gue lihat sebelumnya.
"Dan satu hal lagi yang harus semua orang tahu. Gue sayang sama lo, Aira. Gue suka sama lo, dan gue nggak peduli lagi sama apa pun pendapat orang tentang kita."
*BYARRR!*
Lapangan upacara langsung pecah seketika. Teriakan histeris, sorakan kaget, dan tepuk tangan riuh langsung bergemuruh dari segala penjuru. Para siswa kelas sepuluh dan sebelas mulai bersorak heboh, sementara para guru kelihatan panik setengah mati berusaha menenangkan situasi yang langsung kacau balau.
"G***! Devon nembak Aira di depan seluruh sekolah?!"
"Sumpah, ini keren banget! Demi apa?!"
"Baper banget, woy! Jadi itu aslinya? Kasihan banget Aira kemarin-kemarin difitnah."
Gue cuma bisa berdiri terpaku di tempat gue dengan air mata yang terus mengalir. Jantung gue berdegup begitu kencang sampai rasanya mau copot dari tempatnya. Pandangan gue agak buram karena air mata, tapi gue bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Devon selanjutnya.
Tanpa memedulikan interupsi dari guru-guru yang memanggil namanya, Devon meletakkan mikrofon begitu saja di atas meja podium. Dia berbalik, turun dari panggung dengan langkah yang sangat sant**, seolah baru saja menyelesaikan tugas biasa.
Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, Devon berjalan menembus barisan siswa yang langsung terbelah memberikan jalan untuknya. Dia mengabaikan semua pasang mata yang menatapnya takjub, mengabaikan teriakan histeris dari para siswi, dan berjalan lurus.
Menuju ke arah gue.
Setiap langkah Devon mendekat membuat napas gue semakin memburu. Ketika dia akhirnya sampai di depan gue, dia berhenti. Jarak kami hanya tersisa satu langkah.
Devon menatap wajah gue yang basah karena air mata. Perlahan, dia mengulurkan tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi gue dengan sangat lembut.
"Jangan nangis lagi," bisik Devon, suaranya terdengar sangat dekat dan nyata, mengalahkan bisingnya suara sorakan di sekitar kami. "Gue di sini. Gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin lo lagi."
Gue menggigit bibir bawah gue, mencoba menahan tangis yang semakin menjadi-jadi. "Lo g***, Dev... posisi lo, reputasi lo..."
Devon terkekeh pelan, lalu meraih tangan gue dan menggenggamnya erat-erat di depan semua orang.
"Gue nggak peduli. Yang gue peduliin cuma lo, Aira."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!