"βdan tantangan yang nggak mudah," Devon menjeda kalimatnya.
Suaranya yang berat lewat mik seketika berhenti. Keheningan langsung menyergap lapangan upacara SMA Wijaya. Guru-guru di barisan depan mulai saling berbisik, sementara para siswa di barisan belakangβterma**k gueβmulai mendongak heran.
Gue melihat Devon perlahan melipat kertas teks pidato resmi di tangannya. Dia mema**kkan kertas itu ke dalam saku almamater OSIS-nya yang biru tua. Tatapannya yang tajam menyapu seluruh lapangan, sebelum akhirnya berhenti tepat ke arah barisan kelas gue. Tepat ke arah mata gue yang mulai berkaca-kaca.
Devon mendekatkan wajahnya ke mik. Bahunya yang tegap tampak naik-turun perlahan, seolah dia baru saja mengambil keputusan paling besar dalam hidupnya.
"Tapi pagi ini, saya nggak mau berdiri di sini sebagai 'Ketua OSIS sempurna' yang kalian kenal," ucap Devon, sant** tapi tegas. Nada bicaranya berubah, tidak lagi formal seperti tadi. "Gue berdiri di sini sebagai Devon. Dan gue mau meluruskan satu hal penting yang belakangan ini bikin kuping gue panas."
Bisik-bisik langsung pecah di area lapangan. Guru pembina OSIS yang berdiri di samping panggung mulai kelihatan panik. Beliau memberi kode dengan tangannya agar Devon menyudahi bicaranya, tapi Devon mengabaikannya sepenuhnya.
"Beberapa hari ini, sekolah kita ramai sama gosip murahan. Tentang apa yang terjadi di toilet lama gedung belakang," lanjut Devon. Suaranya bergema kencang di seluruh penjuru sekolah. "Banyak dari kalian yang bermulut sampah, nyebarin fitnah, dan menyudutkan satu orang cewek seolah-olah dia yang bersalah dan gatel. Nama cewek itu Aira."
*Deg.*
Jantung gue rasanya mau copot saat nama gue disebut dengan lantang di depan ratusan orang. Semua mata di barisan kelas gue langsung menoleh serentak ke arah gue. Cewek-cewek yang tadi mencibir gue langsung melongo, nggak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Gue tegaskan di sini, di depan kepala sekolah dan semua guru. Hari itu, kami berdua terkunci di sana murni karena kecelakaan. Pintu toiletnya rusak dari luar, dan nggak ada satu pun orang yang denger teriakan kami. Nggak ada hal aneh-aneh yang terjadi. Aira adalah korban di sini. Dia takut, dia nangis, dan dia sama sekali nggak pantas dapet perlakuan diskriminatif dari kalian semua," suara Devon meninggi, penuh penekanan di setiap katanya. "Kalau ada yang mau kalian salahin karena insiden itu, salahin gue. Sebagai Ketua OSIS, gue gagal memastikan fasilitas sekolah aman. Dan sebagai cowok, gue nggak akan tinggal diam liat orang yang nggak bersalah nanggung fitnah sendirian."
Lapangan upacara yang tadinya tenang kini benar-benar heboh. Kehebohan besar pecah seketika. Guru-guru langsung kasak-kusuk dengan wajah tegang. Kepala Sekolah bahkan sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Devon! C**up! Turun dari podium!" tegur Pak kepala sekolah dengan wajah memerah.
Namun, Devon cuma tersenyum tipis. Dia menatap lurus ke arah kamera ponsel beberapa siswa yang diam-diam merekam kejadian itu.
"Gue tahu tindakan gue ini melanggar kode etik sekolah dan mencoreng nama baik kepengurusan OSIS. Maka dari itu, hari ini, di detik ini juga, sebelum masa jabatan gue resmi berakhir beberapa menit lagi... gue menyatakan mundur secara sepihak dan siap menerima konsekuensi apa pun dari pihak sekolah. Terma**k dicopot secara tidak terhormat."
Devon meletakkan miknya di atas podium dengan perlahan. Dia melepas pin emas lambang Ketua OSIS yang tersemat di dadanya, lalu menaruhnya di samping mik. Setelah itu, dia membungkuk hormat ke arah jajaran guru, lalu melangkah turun dari panggung dengan langkah yang sangat sant**, seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundaknya.
Gue cuma bisa berdiri mematung dengan air mata yang akhirnya lolos membasahi pipi. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Ini adalah rasa lega yang luar biasa besar. Devon baru saja mengorbankan reputasi emasnya, jabatan yang dia banggakan, dan penilaian semua orang... hanya untuk membersihkan nama gue.
***
Dua jam setelah upacara yang kacau itu, koridor sekolah sudah mulai sepi karena jam pelajaran kelas sudah dimulai. Namun, gue sama sekali nggak bisa fokus di kelas. Gue memutuskan untuk izin ke toilet, padahal tujuan asli gue adalah mencari Devon.
Gue menemukannya di koridor dekat ruang kepala sekolah.
Cowok itu sedang bersandar di tembok pembatas koridor sambil memainkan ponselnya. Almamater OSIS yang biasa dia pakai dengan rapi kini sudah tidak ada. Dia hanya mengenakan kemeja putih seragam sekolah biasa, dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka, memberikan kesan berantakan tapi justru kelihatan sangat keren.
Begitu mendengar suara langkah kaki gue, Devon mendongak. Senyum khasnya yang menyebalkan tapi ngangenin langsung mengembang.
"Hei," sapanya sant**, seolah dia baru saja menyelesaikan tugas piket biasa, bukan baru saja bikin gempar satu sekolah.
Gue berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depannya. Dada gue masih terasa sesak karena emosi yang campur aduk. "Lo... lo g*** ya, Dev?" suara gue bergetar.
Devon terkekeh pelan. Dia mema**kkan ponselnya ke saku celana. "G*** kenapa? Gue keren kan tadi? Kayak di film-film aksi gitu, pas bagian protagonisnya menyelamatkan dunia."
"Gue serius, Devon Narendra!" air mata gue hampir tumpah lagi. "Lo dicopot dari jabatan lo! Lo dicopot lebih awal dengan tidak terhormat! Prestasi lo selama setahun ini di OSIS... semuanya hilang gitu aja cuma karena lo pengen bela gue! Kenapa lo sebodoh itu, sih?"
Devon menghela napas panjang. Dia melangkah satu kali lagi hingga jarak di antara kami mengikis. Perlahan, tangannya terangkat untuk mengusap sisa air mata di pipi gue dengan ibu jarinya. Sentuhannya hangat banget, langsung bikin hati gue yang tadinya berantakan jadi tenang seketika.
"Ra, dengerin gue," kata Devon dengan suara lembut yang cuma bisa didengar oleh gue sendiri. "Sertifikat, jabatan, nama baik di mata orang lain... itu semua nggak ada artinya kalau gue harus liat cewek yang gue sayang menderita karena fitnah. Lagian, lo tahu nggak apa yang gue rasain pas lepasin jabatan itu?"
Gue menggeleng pelan, menatap matanya yang hitam pekat.
"Gue ngerasa bebas banget, Ra," Devon tersenyum lebar, senyuman paling tulus dan lepas yang pernah gue liat dari dia selama ini. "Selama ini gue dituntut buat jadi sempurna. Harus dapet nilai bagus, harus jadi pemimpin yang disegani, nggak boleh buat salah sedikit pun. Capek banget. Dan hari ini, berkat kejadian ini, gue akhirnya bisa jadi diri gue sendiri. Jadi Devon biasa. Dan bonusnya..." Devon mencubit hidung gue pelan. "...nama lo bersih. Nggak akan ada lagi yang berani ngomong macem-macem tentang lo di sekolah ini."
"Tapi lo dihukum apa sama kepala sekolah?" tanya gue cemas.
"Cuma diskors tiga hari, disuruh bersihin perpustakaan seminggu, sama surat peringatan pertama. Sant**, itu mah kecil," jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan sant**.
Gue nggak bisa menahan diri lagi. Gue langsung menghambur ke pelukannya, memeluk pinggangnya erat-erat tanpa peduli kalau ada guru yang lewat koridor ini. Devon sempat terkejut, tapi sedetik kemudian, kedua lengannya yang kokoh melingkar erat di punggung gue, menyembunyikan wajahnya di puncak kepala gue.
"Makasih, Dev. Makasih banyak," bisik gue di dadanya yang berdetak konstan.
"Sama-sama, pacar gue yang cengeng," bisiknya hangat sambil mengecup rambut gue lembut.
***
Satu bulan kemudian.
Gosip tentang kami berdua sudah benar-benar lenyap, digantikan oleh berita-berita baru yang lebih hangat di kalangan murid. Devon menjalani hukumannya dengan sant**, dan setelah masa skorsnya selesai, kepopulerannya justru makin meroket. Bedanya, sekarang dia bukan lagi dikenal sebagai Ketua OSIS yang kaku dan susah digapai, melainkan sebagai cowok keren yang berani pasang badan demi ceweknya.
Sore itu, setelah bel pulang sekolah berbunyi dan koridor sudah mulai sepi, Devon menahan tas gue saat gue mau bersiap-siap pulang.
"Ikut gue yuk," ajaknya sambil tersenyum misterius.
"Kemana? Gue mau langsung pulang, mendung nih," sahut gue sambil menunjuk ke luar jendela yang mulai menggelap oleh awan hitam.
"Bentar doang. Ke tempat bersejarah kita."
Gue sempat bingung, tapi akhirnya gue pasrah saat Devon menarik tangan gue dengan lembut, menuntun gue melewati lorong-lorong sekolah yang mulai sunyi. Langkah kakinya membawa kami ke arah gedung belakang sekolah yang sudah jarang dilewati orang. Gedung tua yang semi-terbengkalai.
Begitu menyadari kemana arah tujuannya, gue langsung menoleh ke arahnya dengan mata membelalak. "Dev? Kita mau ke...?"
"Yap. Ke kamar mandi lama," Devon terkekeh.
Kami berdua berhenti di depan pintu kayu usang yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Di atas pintu itu, masih ada papan kecil bertuliskan 'Toilet' yang miring. Tempat ini adalah awal dari segalanya. Tempat di mana gue dan Devon, yang dulunya kayak kucing dan an**** yang selalu berantem setiap kali ketemu, dipaksa menghabiskan waktu dua jam bersama dalam kepanikan.
Devon mendorong pintu kayu itu perlahan. Suara deritannya yang khas terdengar nyaring, memicu memori satu bulan lalu di kepala gue. Aroma debu dan lembap langsung menyapa hidung kami.
"Wah, ternyata pintunya udah diperbaiki," gumam Devon begitu melihat gagang pintu yang baru dan fungsional terpasang di sana.
"Ya iyalah, kalau nggak diganti, ntar ada korban lain yang terkunci di sini," sahut gue sambil melangkah ma**k ke dalam ruangan sempit itu.
Gue melihat sekeliling. Wastafel berdebu, cermin retak yang masih ada di sana, dan jendela kecil di bagian atas yang menyalurkan sedikit cahaya sore. Semuanya masih sama. Tapi rasanya sangat berbeda.
Dulu, berada di ruangan ini membuat gue merasa sesak, panik, dan ketakutan setengah mati. Tapi sekarang, berdiri di tempat yang sama bersama cowok yang sekarang menggenggam erat tangan gue, rasanya hangat dan menenangkan.
Devon bersandar di wastafel tua, menatap gue dengan tatapan matanya yang selalu berhasil bikin jantung gue berdebar tidak karuan. "Inget nggak pas lo pertama kali kekunci di sini? Lo langsung nuduh gue yang sengaja ngunciin lo karena gue dendam sama lo."
Gue mendengus geli, melangkah mendekat dan ikut bersandar di sampingnya. "Ya habisnya lo mencurigakan banget waktu itu! Lo kan musuh bebuyutan gue di kelas. Mana gue tahu kalau lo ternyata juga apes."
"Tapi kalau dipikir-pikir, gue bersyukur banget pintu ini rusak hari itu," Devon meraih kedua tangan gue, memainkannya dengan lembut di dalam genggamannya. "Kalau pintu ini nggak rusak, mungkin sampai sekarang gue masih jadi Ketua OSIS yang kesepian, dan lo masih jadi cewek galak yang selalu sinis setiap kali liat muka gue."
"Gue nggak sinis ya!" protes gue, meskipun dalam hati gue membenarkan ucapannya.
"Masa?" Devon mendekatkan wajahnya, tersenyum jahil yang membuat pipi gue mendadak terasa panas. "Tapi sekarang lo sayang kan sama cowok yang lo tuduh mencurigakan ini?"
"Nggak tahu ya, kayaknya sih terpaksa," canda gue, mencoba menyembunyikan rasa baper yang luar biasa.
Devon tertawa renyah. Suara tawanya memenuhi ruangan sempit ini, menghapus semua sisa kenangan buruk yang pernah ada di sini. Dia tiba-tiba menarik tubuh gue mendekat, mendekap gue dengan erat di bawah temaramnya cahaya sore yang menembus jendela kecil di atas kami.
Di dalam kamar mandi tua ini, tempat yang dulu kami benci setengah mati, kami justru menemukan awal dari segalanya. Kami bukan lagi dua orang musuh yang terjebak karena ketakutan, melainkan sepasang kekasih yang siap melangkah keluar bersama-sama.
"Makasih ya, Ra. Udah mau nemenin gue lewat dari semua kekacauan ini," bisik Devon di telinga gue.
Gue tersenyum, menyandarkan kepala gue di dada bidangnya yang selalu terasa nyaman. "Gue yang harusnya makasih, Dev. Karena lo, dua jam di kamar mandi ini jadi takdir terbaik dalam hidup gue."
Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi, tapi di dalam sini, di tempat yang penuh debu ini, kami berdua tahu bahwa apa pun badai yang akan datang di masa depan, kami nggak perlu takut lagi. Karena sekarang, kami menghadapinya bersama.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!