Devon pasti langsung mengenali gue.
Satu detik. Dua detik.
Pandangan mata elang cowok itu bergeser, melewati barisan murid bandel, dan langsung terkunci tepat di wajah gue. Jantung gue rasanya berhenti berdetak seketika. Devon sedikit menyipitkan matanya, lalu menunduk ke arah kaki gue—melihat kaos kaki hitam bergambar persik yang sangat mencolok—kemudian naik ke pinggang gue yang polos tanpa tali pinggang.
"Aira Kirana."
Suara baritonnya yang berat dan dingin terdengar memanggil nama gue lewat corong megafon kecil yang dipegangnya.
Mampus! Nama gue disebut! Semua mata di dekat gerbang langsung tertuju ke arah gue.
"Sini. Jangan coba-coba kabur," ucap Devon datar, tapi nadanya penuh penekanan yang mutlak. Dia mulai melangkah lebar-lebar ke arah gue, sementara papan jalan di tangannya sudah siap untuk mencatat dosa-dosa gue hari ini.
Otak gue langsung bekerja dalam mode *survival*. Poin pelanggaran gue semester ini udah mencapai angka 75. Kalau ditambah poin hari ini karena nggak pakai atribut lengkap dan mencoba kabur, angka itu bakal melesat ke 90. Itu artinya, nyokap gue bakal dipanggil ke sekolah, dan HP gue bakal disita selama sebulan penuh. Demi apa pun, gue nggak boleh ketangkap!
"Maaf, Devon! Gue ada urusan mendadak!" teriak gue panik.
Tanpa pikir panjang lagi, gue langsung memutar tubuh 180 derajat dan berlari sekencang mungkin. Tapi gue nggak bodoh untuk lari keluar gerbang lagi, karena di luar ada satpam yang siap mengadang. Satu-satunya jalan adalah menerobos ma**k lewat jalan pintas di samping pos satpam, menuju ke arah halaman belakang sekolah.
"Aira! Berhenti!"
Suara Devon terdengar menggelegar di belakang gue. Cowok itu ternyata beneran mengejar gue! Si****, kenapa dia harus se-dedikasi itu sih jadi ketua OSIS?! Apa dia nggak punya kerjaan lain?!
Gue terus berlari, mengabaikan tatapan heran dari beberapa murid yang baru datang. Langkah kaki gue membawa gue melewati koridor kelas sepuluh yang mulai sepi karena bel ma**k hampir berbunyi. Di belakang gue, suara derap langkah sepatu yang tegas dan cepat terdengar semakin mendekat. Devon punya kaki yang panjang, jelas saja langkahnya dua kali lipat lebih lebar dari kaki pendek gue.
"Aira, saya bilang berhenti! Jangan bikin pelanggaran kamu makin berat!" teriak Devon lagi, suaranya terdengar lebih dekat dari sebelumnya. G***, cowok itu cepat banget!
Gue belok tajam ke arah kanan, menuju area belakang sekolah yang dikenal sebagai area mati. Di sana ada gedung olahraga lama yang sudah jarang dilewati siswa karena sekolah sudah membangun GOR baru yang lebih modern di dekat lapangan utama. Gedung olahraga lama ini terisolasi, dikelilingi oleh pohon-pohon beringin tua dan semak-semak yang rimbun. Biasanya, tempat ini cuma dipakai buat gudang penyimpanan barang-barang bekas olahraga yang sudah rusak.
Begitu gue menapakkan kaki di jalan setapak menuju gedung olahraga lama, tiba-tiba langit di atas sana yang tadinya mendung abu-abu langsung menggelap total dalam hitungan detik. Angin kencang berembus, membuat dedaunan kering beterbangan di sekitar gue.
*Duar!!!*
Suara petir menggelegar keras, membuat gue tersentak kaget sampai hampir tersandung kaki sendiri. Dan tanpa aba-aba lagi, hujan deras langsung tumpah dari langit seperti air yang ditumpahkan dari ember raksasa.
"Ah, elah! Kenapa harus hujan sekarang sih?!" umpat gue frustrasi.
Hanya dalam hitungan detik, seragam putih abu-abu gue mulai basah kuyup. Rambut gue lepek menempel di dahi, dan pandangan mata gue agak terganggu karena air hujan yang terus menerus mengenai wajah. Tapi gue nggak boleh berhenti. Kalau gue berhenti sekarang, Devon bakal langsung menangkap gue dan menyeret gue ke ruang BK.
Gue mempercepat lari, menerobos hujan deras, dan langsung melompat ma**k ke dalam koridor luar gedung olahraga lama yang beratap semen tebal.
Begitu sampai di dalam koridor, suasana langsung berubah drastis. Di sini sangat gelap karena tidak ada lampu yang menyala. Lorong panjang ini terasa sangat sepi, dingin, dan lembap. Suara gemuruh hujan yang menghantam atap seng di atas terdengar sangat nyaring, menciptakan gaung yang bikin merinding. Bau debu tua dan kayu basah langsung menusuk hidung gue.
Gue bersandar di dinding semen yang dingin sambil terengah-engah, memegangi dada gue yang naik-turun dengan rakus mencari oksigen. Kaki gue rasanya lemas seperti jeli. Kaos kaki persik gue yang basah kuyup terasa dingin dan tidak nyaman di dalam sepatu yang sekarang juga sudah kema**kan air.
*Tap. Tap. Tap.*
Suara langkah kaki basah yang teratur terdengar dari arah ujung lorong tempat gue ma**k tadi.
Jantung gue serasa merosot ke lambung. Perlahan, sesosok bayangan tinggi muncul dari balik kegelapan lorong. Itu Devon. Bajunya juga basah kuyup, menempel ketat di tubuh atletisnya. Almamater OSIS biru dongker yang biasanya dia pakai dengan rapi sekarang sudah dia lepas dan tersampir di lengan kirinya. Rambut hitamnya yang tadi tertata rapi kini basah dan jatuh berantakan di dahinya, memberikan kesan yang sangat berbeda dari Devon yang biasanya kaku dan formal.
Tapi tatapan matanya tetap sama. Tajam, dingin, dan menusuk.
"Mau lari ke mana lagi, Aira?" tanya Devon. Suaranya terdengar sangat tenang, tapi justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk gue merinding. Suara langkah sepatunya yang basah menggema di sepanjang lorong tua yang sunyi ini.
Gue mundur beberapa langkah ke belakang, menjauh darinya. "Devon, *please*... kali ini aja lolosin gue. Gue janji besok-besok bakal pakai atribut lengkap! Gue bakal pakai kaos kaki putih sampai lutut kalau perlu!" pinta gue dengan nada memelas, mencoba bernegosiasi.
Devon menghentikan langkahnya, berdiri sekitar tiga meter di depan gue. Dia melipat tangannya di dada, menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai.
"Aturan tetap aturan, Aira. Kamu pikir sekolah ini punya nenek moyang kamu bisa tawar-menawar?" sahut Devon sarkastik. "Nggak pakai tali pinggang, kaos kaki hitam bergambar buah—entah buah apa itu—dan sekarang kamu nambah satu pelanggaran berat lagi: melarikan diri dari petugas OSIS dan membolos jam pelajaran pertama."
"Gue nggak membolos! Gue cuma... berteduh!" bela gue, membantah dengan suara yang agak bergetar karena hawa dingin yang mulai menyerang tubuh basah gue.
"Berteduh di gedung olahraga lama yang udah dilarang untuk dima**ki siswa?" Devon menaikkan sebelah alisnya. "Alasan yang sangat tidak ma**k akal."
Dia mulai melangkah mendekat lagi. Langkahnya pelan, seperti predator yang sedang menyudutkan mangsanya. Gue semakin panik. Lorong ini adalah jalan buntu, dan di ujung lorong hanya ada beberapa ruangan kosong yang biasanya terkunci.
"Jangan mendekat!" teriak gue sambil terus mundur.
"Siniin kartu pelajar kamu. Biar saya catat poinnya sekarang, terus kamu ikut saya ke ruang piket," perintah Devon dingin, mengabaikan peringatan gue. Dia merogoh kantong celananya, mengambil sebuah pulpen dan kertas catatan kecil yang entah bagaimana caranya masih kering karena disimpan di dalam saku yang aman.
"Nggak mau! Gue nggak bakal kasih!"
Gue berbalik dan kembali berlari menyusuri lorong tua yang semakin gelap. Di ujung lorong, gue melihat beberapa pintu kayu yang sudah usang. Gue mencoba memutar kenop pintu pertama—ruang ganti lama—tapi sial, pintunya terkunci rapat.
Gue mendengar suara langkah kaki Devon yang semakin cepat mengejar di belakang. Dia tidak lagi berjalan sant**. Dia ikut berlari!
"Aira, jangan keras kepala!" bentak Devon, suaranya terdengar kesal sekarang. Sepertinya kesabaran ketua OSIS yang terkenal setebal baja itu mulai habis menghadapi tingkah keras kepala gue.
Gue mencoba pintu kedua. Terkunci juga! Sial, sial, sial! Kenapa semua pintu di sini harus dikunci sih?!
Hujan di luar semakin deras, suaranya bergemuruh kencang menyamarkan suara kepanikan gue. Petir kembali menyambar, menerangi lorong gelap itu selama satu detik, memperlihatkan bayangan Devon yang sudah sangat dekat di belakang gue. Jaraknya mungkin tidak sampai dua meter lagi.
Gue melihat satu pintu terakhir di ujung lorong yang sedikit terbuka. Di atas pintu itu, ada papan kayu kecil yang tergantung miring, bertuliskan "TOILET" dengan cat yang sudah mengelupas.
Tanpa berpikir panjang tentang betapa seramnya toilet di gedung tua ini, gue langsung menerobos ma**k ke dalam ruangan itu. Gue berniat menutup pintu dan menguncinya dari dalam agar Devon tidak bisa ma**k.
Namun, tepat saat gue hendak membanting pintu kayu tebal itu hingga tertutup, sebuah tangan kekar dengan urat-urat yang menonjol langsung menahan tepi pintu dengan sangat kuat.
*B**k!*
"Nggak semudah itu, Aira," desis Devon dari balik celah pintu. Wajahnya yang basah kini berada sangat dekat dengan wajah gue, dipisahkan oleh daun pintu yang sedang kami perebutkan kekuatannya. Matanya berkilat marah dan tegas, membuat pertahanan gue langsung runtuh seketika akibat rasa takut yang luar biasa.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!