Dua Jam di Kamar Mandi Bersama Ketua OSIS

Bab 3: Klik! Terjebak Bersama Musuh

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Klik! Terjebak Bersama Musuh**

Gerimis mulai turun satu-satu, rasanya dingin banget saat menyentuh kulit lengan gue yang polos tanpa jaket. Di depan gue, gedung olahraga lama berdiri dengan kokoh tapi kelihatan sangat mengenaskan. Cat temboknya yang dulu berwarna putih kini sudah berubah kelabu dan mengelupas di sana-sini. Jendelanya yang tinggi berdebu tebal, dan suasananya bener-bener mirip seperti lokasi syuting film horor murahan yang biasa gue tonton di YouTube.

"Aira! Berhenti!"

Suara bariton Devon kembali menggema dari arah belakang, memecah kesunyian area belakang sekolah. G***, tuh cowok fisik dan staminanya terbuat dari apa sih? Nggak ada capeknya sama sekali! Kakinya yang panjang bener-bener bikin jarak di antara kami berdua terkikis dengan sangat cepat.

Napas gue udah satu-satu, tenggorokan gue rasanya perih dan kering karena nekat lari maraton mendadak begini. Tanpa pikir panjang lagi, gue langsung mendorong pintu kayu GOR lama yang agak seret. Pintu itu terbuka dengan suara derit panjang yang ngilu banget di telinga, seolah memprotes kehadiran gue yang tiba-tiba.

Begitu berhasil menyelinap ma**k, bau debu, kayu lapuk, dan udara apek langsung menyengat hidung gue. Suasana di dalam sini jauh lebih gelap daripada di luar. Gue celingukan dengan panik, mencari tempat paling aman untuk bersembunyi. Di sebelah kanan lorong utama, mata gue menangkap sebuah papan petunjuk usang bertuliskan "Toilet" yang menggantung miring.

*Nah, ini dia!*

Gue langsung mengambil langkah seribu menuju ke arah toilet tersebut. Toiletnya kecil, cuma ada tiga bilik berjejer dengan pintu-pintu kayu yang sudah lapuk. Semuanya kelihatan jorok dan berdebu tebal. Tapi di saat darurat yang menentukan hidup dan mati ponsel gue begini, estetika jelas ditaruh di urutan paling buncit. Gue memilih bilik paling ujung yang pintunya kelihatan masih paling utuh. Gue buru-buru ma**k, lalu menutup pintunya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara berisik yang mencurigakan.

Jantung gue berdegup kencang banget di dalam dada, bunyinya saking kerasnya sampai gue takut kalau Devon bisa mendengarnya dari luar. Gue membekap mulut gue sendiri menggunakan kedua tangan, berusaha mati-matian menahan napas gue yang ngos-ngosan kayak habis dikejar an**** tetangga.

Keadaan di dalam bilik toilet ini sempit banget, cuma ada satu kloset jongkok yang untungnya kering, dan sebuah ember plastik kosong yang sudah berdebu. Cahaya di dalam sini sangat minim, hanya mengandalkan bias lampu koridor luar yang remang-remang ma**k lewat celah ventilasi di atas pintu.

*Tap. Tap. Tap.*

Suara derap langkah sepatu yang tegas dan teratur terdengar ma**k ke dalam area toilet. Jantung gue rasanya langsung merosot sampai ke jempol kaki. Demi apa pun, Devon beneran ma**k ke toilet cewek! Cowok ini bener-bener titisan polisi pamong praja atau gimana, sih? Dedikasinya dalam menegakkan kedisiplinan sekolah patut dipertanyakan kewarasannya.

"Aira, saya tahu kamu di dalam. Keluar sekarang sebelum poin pelanggaran kamu saya tambah karena mangkir dari hukuman."

Suara Devon terdengar sangat tenang, dingin, dan penuh penekanan. Justru nada bicaranya yang kayak begini yang selalu sukses bikin nyali murid-murid satu sekolah langsung ciut. Padahal kalau boleh jujur, wajah Devon itu ganteng bangetβ€”tipe-tipe cowok dingin populer di Webtoon yang selalu dikejar-kejar cewek satu sekolah. Tapi buat gue, Devon adalah musuh bebuyutan sekaligus malaikat maut versi seragam putih-abu-abu lengkap dengan atribut OSIS-nya yang rapi jali tanpa cela.

Gue makin merapatkan punggung ke dinding toilet yang terasa dingin dan agak lembap. Gue memejamkan mata erat-erat. *Plis, jangan ketahuan, plis... pergi aja lo, Devon!*

*Tap.*

Langkah kaki itu tiba-tiba berhenti tepat di depan bilik tempat gue bersembunyi. Si****! Bagaimana bisa dia langsung tahu di mana gue berada tanpa perlu mengecek bilik satu per satu?

"Pintu bilik yang lain semuanya berdebu tebal dan agak terbuka. Cuma bilik ini yang pintunya tertutup rapat, dan ada bekas sidik jari segar di bagian gagangnya yang berdebu," ucap Devon dengan nada datar yang terkesan sangat menyebalkan. Dia seolah-olah sedang memecahkan ka**s detektif tingkat tinggi, padahal cuma lagi menangkap basah murid yang bolos. "Keluar, Aira. Atau saya dongkel pintunya dari luar?"

Mendengar ancaman sadis itu, pertahanan gue langsung runtuh. Daripada pintu ini beneran didongkel dan nama gue makin jelek di buku catatan dosa miliknya, lebih baik gue menyerah secara terhormat.

Dengan helaan napas pasrah yang sangat panjang, gue memutar selot pintu besi yang sudah karatan itu. Gue mendorong pintunya terbuka secara perlahan.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, sosok Devon yang tinggi menjulang langsung menghalangi pandangan gue. Dia berdiri tegak sambil bersendekap dada, menatap gue dengan pandangan datar dari balik koridor toilet yang remang-remang. Sepasang mata elangnya yang tajam seolah-olah langsung menusuk ke ulu hati gue, bikin gue refleks menelan ludah dengan susah payah.

"Puas larinya?" tanya Devon, nadanya terdengar sangat sarkas.

Gue mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang gue punya. Gue memutar bola mata malas, pura-pura bersikap sant** meskipun sebenarnya lutut gue udah lemas banget. "Gue nggak lari, ya. Gue cuma... olahraga pagi. Bagus kan buat kesehatan jantung?"

"Olahraga pagi dengan seragam yang nggak lengkap, kaos kaki bergambar buah persik, tanpa tali pinggang, dan mencoba kabur dari ketua OSIS? Kreatif sekali alasan kamu," balas Devon tajam.

Dia melangkah maju satu langkah ke arah dalam bilik, membuat jarak di antara kami berdua langsung mengikis habis. Tubuhnya yang tinggi tegap bikin gue terpaksa mendongak untuk menatap wajahnya. Wangi parfum maskulin yang segar bercampur dengan aroma detergen dari seragamnya yang rapi langsung menginvasi indra penciuman gue. Si****, cowok ini habis ngejar gue sejauh ini tapi badannya tetap wangi dan nggak berkeringat sama sekali. Nggak adil banget bagi kaum manusia biasa kayak gue.

"Ikut saya ke ruang OSIS. Sekarang," tegas Devon sambil mengulurkan tangannya yang kokoh, bersiap untuk menarik pergelangan tangan gue agar segera keluar dari bilik toilet yang sempit ini.

"Ih, bentar dulu dong! Jangan ditarik-tarik!" gue refleks mundur ke belakang sampai pinggul gue menab**k dinding toilet, mencoba menghindari jangkauan tangannya. "Devon, plis lah, sekali ini aja lolosin gue. Poin gue udah kritis banget, sumpah! Kalau sampai nyokap gue dipanggil ke sekolah, HP gue bakal disita sebulan penuh. Elo tega melihat teman seangkatan lo sengsara lahir batin?"

"Itu konsekuensi dari tindakan kamu sendiri, Aira. Peraturan tetap peraturan, tidak ada pengecualian," sahut Devon tanpa ekspresi. Dia ikut melangkah ma**k ke dalam bilik toilet yang sempit ini untuk menggapai tangan gue yang terus menghindar. "Jangan kekanak-kanakan. Cepat keluar."

"Nggak mau! Lepasin!" gue meronta keras saat telapak tangan hangat Devon akhirnya berhasil mencengkeram pergelangan tangan gue dengan erat. Genggamannya kuat banget, membuat gue sama sekali tidak berkutik.

Namun, tepat pada detik itu juga, tiba-tiba terdengar suara gemuruh guntur yang sangat keras dari arah luar gedung, membuat tanah di bawah kaki kami rasanya seperti ikut bergetar. Angin kencang yang sangat dahsyat mendadak bertiup ma**k lewat ventilasi kecil di bagian atas bilik toilet. Embusan anginnya begitu kencang dan dingin, membuat suasana di dalam GOR lama yang tadinya sunyi langsung berubah mencekam dalam sekejap.

Dan sebelum salah satu dari kami sempat menyadari apa yang sedang terjadi...

*B**AAK!!!*

Pintu kayu toilet yang tebal dan berat itu terbanting menutup dengan sangat keras akibat dorongan angin kencang dari arah koridor luar.

*KLIK!*

Suara benturan logam yang beradu terdengar sangat nyaring, disusul dengan suara benda keras yang jatuh dan menggelinding di atas lant** semen luar koridor.

Gue dan Devon langsung membeku seketika di posisi kami masing-masing. Napas gue tertahan di tenggorokan, dan jantung gue rasanya hampir mau copot dari tempatnya.

"Su-suara apa itu tadi?" bisik gue dengan suara yang mendadak bergetar karena ketakutan.

Devon perlahan melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan gue. Dia buru-buru memutar tubuhnya menghadap ke arah pintu, lalu mencoba memutar gagang pintu besi berbentuk bulat yang ada di bagian dalam.

Gagang pintu itu... terasa sangat longgar saat disentuh. Dan ketika Devon mencoba menariknya dengan sedikit tenaga, bagian dalam gagang pintu itu malah copot sepenuhnya dari porosnya. Gagang besi itu terlepas di tangan Devon, menyisakan sebuah lubang kosong berbentuk lingkaran kecil di tengah-tengah pintu kayu yang tebal tersebut.

"Sial," umpat Devon dengan suara yang sangat pelan namun terdengar jelas di telinga gue.

Gue terbelalak lebar. Ini adalah pertama kalinya selama hampir dua tahun gue satu sekolah dengan cowok ini, gue mendengar seorang Devonβ€”si ketua OSIS teladan yang selalu berbicara menggunakan bahasa I****esia baku yang sopanβ€”mengumpat dengan kata-kata kasar.

"Kenapa? Kenapa dicopot?!" tanya gue panik, langsung maju mendekat ke arah Devon sampai dada gue hampir menempel di punggung tegapnya yang dilapisi seragam putih.

"Bukan dicopot. Gagang pintunya patah dan terlepas ke arah luar," jelas Devon, suaranya kini mulai kehilangan ketenangannya yang biasa. Dia membungkuk sedikit, mencoba mengintip lewat lubang kecil bekas gagang pintu yang sudah copot tadi. "Gagang bagian luarnya juga jatuh dan menggelinding di lant** koridor. Pintunya terkunci mati dari luar."

"Hah?! Bohong kan elo?! Jangan nakut-nakutin gue ya!" gue langsung mendorong bahu Devon agar menyingkir dari hadapan pintu, lalu mencoba menggedor-gedor permukaan pintu kayu itu sekuat tenaga menggunakan kedua telapak tangan gue. "Woi! Masa pintu butut kayak gini langsung ngunci otomatis sih?! Buka, Devon! Jangan bercanda, ini nggak lucu sama sekali!"

"Saya nggak sedang bercanda, Aira," kata Devon dingin, meskipun gue bisa mendengar helaan napas beratnya yang sarat akan rasa frustrasi. Dia bersandar pada dinding toilet yang sempit di sebelah kiri pintu, memperhatikan gue yang mulai histeris dengan tatapan mata yang rumit.

Gue mengabaikan ucapannya dan terus mencoba mendorong pintu itu menggunakan seluruh berat badan gue, tapi usaha gue bener-bener sia-sia. Pintu kayu jati tua itu tebalnya bukan main dan masih terpasang dengan sangat kokoh meskipun tampilannya dari luar sudah usang. Engselnya yang berkarat justru membuat pintu itu terpasang sangat rapat pada kusennya, tanpa menyisakan celah sedikit pun untuk dicungkil.

"G***, g***, g***! Kita beneran kekunci?!" pekik gue panik, mengacak rambut gue sendiri sampai berantakan. Napas gue mulai memburu karena rasa cemas yang mendadak menyerang dada gue. Suasana di dalam bilik toilet yang super sempit ini mendadak terasa makin pengap dan kekurangan oksigen.

Ditambah lagi, karena badai yang mulai mengamuk di luar gedung, cahaya yang ma**k lewat ventilasi kecil di atas kepala kami semakin meredup drastis. Ruangan sempit ini kini hampir sepenuhnya gelap gulita, menyisakan bayang-bayang remang yang membuat suasana jadi makin mengerikan.

"Tenang, Aira. Jangan lebay dan membuang oksigen dengan berteriak," tegur Devon, mencoba terdengar rasional seperti biasanya. Dia merogoh saku celana abu-abunya dengan cepat, lalu mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlogo apel digigit yang layarnya langsung menyala terang, membiaskan cahaya putih ke wajah tampannya yang kini terlihat sedikit tegang.

"Telepon siapa aja kek! Hubungi anak OSIS yang lain, guru piket, atau satpam sekolah!" desak gue dengan suara gemetaran, tanpa sadar tangan gue meremas ujung lengan seragam Devon dengan erat, seolah-olah cowok itu adalah satu-satunya pegangan hidup gue saat ini.

Devon tidak menepis tangan gue kali ini. Dia hanya menatap layar ponselnya sambil mengernyitkan dahinya dalam-dalam. "Nggak ada sinyal."

"Hah? Masa HP mahal kayak gitu nggak ada sinyalnya?! Elo pakai kartu apa sih?!" tanya gue nggak percaya, langsung merebut ponsel dari tangan Devon untuk melihat layarnya sendiri. Benar saja, di pojok kiri atas layar tertulis dengan jelas: *No Service*.

"Gedung olahraga lama ini dikelilingi pohon beringin yang sangat lebat dan dindingnya terbuat dari beton tebal sisa bangunan zaman dulu. Ditambah cuaca badai di luar, sangat wajar kalau sinyal seluler terputus total," jelas Devon panjang lebar dengan nada suara yang mulai terdengar kesal. Dia mengambil kembali ponselnya dari tangan gue. "Kamu sendiri? Mana ponsel kamu? Coba cek barangkali pakai operator yang berbeda bisa dapat sinyal."

"Ponsel gue..." Gue buru-buru meraba saku rok abu-abu gue dengan panik. Sial, kosong melompong! "Mampus, ponsel gue ketinggalan di dalam tas di kelas! Kan tadi gue langsung lari terbirit-birit pas elo panggil lewat megafon!"

Devon memejamkan matanya rapat-rapat sambil menghela napas panjang sekali lagi. Dia memijit pelipisnya dengan jari telunjuk dan jempolnya, seolah-olah kepalanya mendadak pusing tujuh keliling menghadapi kenyataan ini. "Hebat. Benar-benar skenario yang sangat luar biasa."

"Heh! Kenapa elo malah bernada sarkas begitu dan seolah-olah menyalahkan gue?! Ini semua kan murni salah elo yang ngejar-ngejar gue kayak rentenir lagi nagih utang!" balas gue tidak terima, melotot ke arahnya di bawah temaram cahaya layar ponsel.

"Kalau kamu tidak membuat pelanggaran dari awal, mematuhi aturan sekolah, dan tidak nekat lari ke tempat terpencil seperti ini, kita berdua tidak akan pernah terjebak di dalam sini, Aira Kirana," sahut Devon dengan nada tajam yang menusuk telinga. Sepasang matanya yang gelap kini menatap gue dengan sangat intens dari jarak dekat.

Gue langsung terdiam seribu bahasa. Si****, ucapan cowok ini ada benarnya juga dan gue sama sekali tidak bisa menyangkalnya. Tapi ya gengsi dong kalau gue harus mengaku kalah dan meminta maaf duluan di depan musuh bebuyutan gue ini.

"Terus sekarang kita harus gimana?!" tanya gue setengah berbisik, mulai merasa ngeri sendiri saat menyadari betapa sempitnya ruang di antara tubuh kami berdua.

Jarak di antara dada gue dan dada Devon tidak sampai setengah meter. Di dalam ruang sesempit ini, gue bahkan bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuhnya, serta embusan napasnya yang teratur menyapu lembut bagian dahi gue setiap kali dia mengembuskan napas. Aroma tubuh Devon yang wangi membuat gue mendadak merasa sangat gugup dan canggung setengah mati.

Di luar sana, suara derasnya air hujan yang mengguyur atap seng GOR lama terdengar sangat berisik dan bergemuruh, seolah-olah menertawakan nasib sial kami berdua. Suara gemuruh air hujan itu benar-benar menghapus segala harapan tipis yang gue punya bahwa akan ada orang yang bisa mendengar suara teriakan minta tolong kami dari dalam kamar mandi ini.

Kami bener-bener terjebak.

Berdua saja. Di dalam bilik kamar mandi sekolah yang sempit, gelap, pengap, tanpa sinyal ponsel, dan tanpa ada satu orang pun di sekolah yang tahu keberadaan kami di sini. Dan yang paling parah dari semua itu adalah... gue harus terjebak bersama Devon, si ketua OSIS super galak yang paling gue hindari di seluruh penjuru sekolah!

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca