**Bab 4: Canggung Setengah Mati**
"Aira, saya tahu kamu di dalam. Keluar sekarang se—"
Belum sempat Devon menyelesaikan kalimatnya, pintu bilik toilet yang tidak terkunci itu langsung didorong dari luar. Gue yang panik setengah mati refleks menarik knop pintu dari dalam untuk menahannya. Terjadilah aksi saling tarik-menarik pintu yang sangat tidak estetik. Sumpah, tenaga Devon kuat banget kayak kuli bangunan! Baru tiga detik bertahan, pertahanan gue langsung jebol.
Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Devon yang berdiri tegap dengan napas yang sedikit memburu. Seragam OSIS-nya yang rapi kini agak sedikit kusut, dan beberapa helai rambut depannya jatuh berantakan di dahi. Alih-alih kelihatan jelek, dia malah kelihatan kayak model majalah remaja yang lagi pose keringetan. Menyebalkan banget.
"Ketemu," ucap Devon pendek. Sepasang matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan gue. Dia langsung melangkah ma**k ke dalam bilik toilet yang sempit ini untuk menarik pergelangan tangan gue. "Ikut saya ke ruang—"
"Gak mau! Lepasin, Dev! Gue nggak salah apa-apa!" jerit gue heboh, berusaha menarik tangan gue kembali.
Gue mencoba mundur ke belakang, tapi ruang gerak gue terbatas banget karena ada kloset jongkok di belakang gue. Devon yang berniat menahan gue agar tidak kabur lagi, melangkah makin ma**k ke dalam bilik.
Dan saat itulah bencana yang sesungguhnya terjadi.
Mungkin karena engsel pintunya sudah karatan, atau mungkin karena embusan angin kencang dari ventilasi atas yang berbarengan dengan gerakan heboh kami berdua, pintu toilet kayu yang tebal itu tiba-tiba menutup dengan cepat.
*B**AAKKK!*
Suara benturan pintu yang keras menggema di dalam ruangan sempit itu. Disusul oleh suara mekanis yang sangat gue takuti di dunia ini.
*KLIK.*
Gue dan Devon langsung mematung seketika. Jantung gue rasanya berhenti berdetak selama beberapa detik.
Devon perlahan melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan gue. Dia berbalik membelakangi gue, lalu meraih gagang pintu bulat yang terbuat dari kuningan usang itu. Dia memutarnya ke kanan. Macet. Dia memutarnya ke kiri dengan tenaga lebih kuat. Tetap tidak bergerak sama sekali.
"Jangan bercanda, deh," bisik gue, mulai merasa hawa dingin menjalar ke seluruh tubuh gue. "Dev, buka pintunya. Jangan nakut-nakutin gue."
Devon tidak menjawab. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat sedikit tegang. Dia mencoba menekan tombol pengunci di tengah gagang pintu, tapi tombol itu sudah mendem ke dalam dan macet total. Si****. Ini beneran terkunci dari luar atau mekanisme kuncinya yang emang sudah rusak parah dimakan usia.
"Minggir," titah Devon ketus.
Gue buru-buru mepet ke dinding toilet yang berdebu, tidak peduli lagi kalau seragam gue bakal kotor.
Devon mengambil ancang-ancang. Dia memundurkan tubuhnya sedikit—yang membuat punggungnya hampir menab**k dada gue—lalu menghantamkan bahu kirinya ke pintu kayu tersebut.
*DUAAAKK!*
Gue refeks menutup mata dan telinga. Benturan keras itu terdengar menyakitkan, tapi tebak apa yang terjadi? Pintunya bahkan tidak bergeser satu milimeter pun! Tidak ada retakan, tidak ada bunyi kayu yang mau patah. Nihil.
"Aduh..." Devon meringis pelit sambil memegangi bahu kirinya. Wajahnya berkerut menahan sakit.
"Lo... lo gak apa-apa?" tanya gue ragu-ragu.
Devon tidak menjawab. Dia mengabaikan rasa sakit di bahunya, lalu mencoba menendang bagian dekat kunci pintu dengan sepatu hitamnya yang kokoh.
*BAMM! BAMM!*
Dua kali tendangan keras mendarat di pintu. Hasilnya? Kaki Devon yang kesakitan, sementara pintu kayu itu tetap berdiri dengan kokoh dan angkuh seolah sedang menertawakan kebodohan kami berdua.
"Gak berguna," desis Devon frustrasi. Napasnya mulai memburu, bukan cuma karena capek habis ngejar gue, tapi juga karena emosi yang mulai tersulut. "Pintu ini terbuat dari kayu jati tebal. Ini bangunan peninggalan zaman kolonial, semua materialnya masih asli dan kokoh. Mustahil didob**k pakai tenaga manusia biasa."
Mendengar penjelasan Devon, rasanya seluruh pasokan oksigen di sekitar gue mendadak menguap. Kepala gue langsung pening.
"Maksud lo... kita kekunci?" tanya gue dengan suara yang bergetar. "Di dalam toilet GOR lama? Yang bahkan gak pernah dilewatin orang?"
Devon tidak menjawab, tapi helaan napas panjangnya yang terdengar pasrah sudah c**up menjadi jawaban yang paling mengerikan.
Panik gue langsung naik ke level maksimal. Dan seperti biasa, mekanisme pertahanan diri gue saat panik adalah mengomel secara random untuk menutupi rasa takut.
"Ini semua gara-gara lo, tahu gak?!" tunjuk gue tepat di depan wajahnya yang ganteng tapi menyebalkan itu. "Ngapain sih lo pake ngejar gue segala? Kayak gak ada kerjaan lain aja! Lo itu Ketua OSIS, Dev, harusnya lo sibuk rapat atau ngurusin proposal apa kek gitu, bukannya malah hobi razia HP murid kayak satpam komplek!"
Devon menatap gue dingin. "Kalau kamu gak melanggar aturan dengan bawa HP ke sekolah dan gak kabur saat mau dirazia, kita gak bakal ada di situasi konyol begini, Aira. Sadar posisi. Kamu yang mulai kekacauan ini."
"Ya tapi kan lo bisa biarin gue pergi dulu! Lagian gue bawa HP juga karena ada urusan darurat!" bela gue, padahal urusan darurat yang gue maksud adalah nungguin *flash sale* skincare di Shopee.
"Aturan tetap aturan. Tidak ada pengecualian," sahut Devon dengan nada bicaranya yang sok baku dan formal itu. Benar-benar bikin tensi darah gue naik.
"Halah, sok disiplin lo! Sekarang rasain tuh akibatnya! Kita berdua mati konyol di toilet bau ini, dan besok pagi nama kita bakal ma**k berita koran lokal: 'Dua Siswa SMA Ditemukan Tewas Mengenaskan di Toilet GOR'. Hiii, ogah banget gue!" cerocos gue frustrasi sambil menjambak rambut gue sendiri.
"Diam, Aira. Kamu berisik sekali," potong Devon, suaranya terdengar rendah dan penuh penekanan. Dia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Mengomel tidak akan membuat pintu ini terbuka secara ajaib."
Gue langsung bungkam, cemberut sambil melipat tangan di dada. Kesal setengah mati karena semua yang dia omongin barusan ada benarnya. Tapi tetep aja, harga diri gue menolak untuk kalah dari seorang Devon Aliansyah.
Setelah aksi adu mulut yang tidak berfaedah itu reda, keheningan langsung menyergap kami berdua. Dan di sinilah siksaan yang sesungguhnya dimulai.
Toilet bilik ini ukurannya minimalis banget. Mungkin cuma sekitar satu kali satu meter. Ditambah lagi dengan adanya kloset jongkok di sudut belakang, ruang datar yang bisa kami pijak bener-bener sempit.
Gue terpaksa berdiri merapat ke dinding semen yang dingin di sudut kanan, sementara Devon berdiri di sudut kiri, dekat pintu. Jarak di antara kami berdua gak sampai tiga puluh sentimeter! Saking dekatnya, gue bisa mencium aroma parfum Devon dengan sangat jelas. Wanginya campuran antara daun mint yang segar dan wangi sabun mandi bayi yang lembut. Kontras banget sama bau debu dan kayu lapuk di sekitar kami.
Gue berdeham canggung, mencoba mengalihkan pandangan ke arah mana saja asal bukan ke arah cowok di depan gue ini. Gue menatap langit-langit toilet yang sarang laba-labanya sudah tebal, lalu beralih menatap ujung sepatu gue yang kotor karena tanah basah.
Namun, karena Devon badannya tinggi menjulang—sekitar 180 sentimeter—mau gak mau siluet tubuhnya yang tegap mendominasi seluruh pandangan gue. Dada bidangnya yang dibalut seragam putih kelihatan naik turun seiring dengan helaan napasnya yang teratur.
*G***, ini sempit banget,* jerit gue dalam hati.
Gue mencoba menggeser kaki gue sedikit ke kanan untuk memberi jarak, tapi ujung sepatu gue malah tidak sengaja menyenggol sepatu hitam Devon yang meng***p.
"Eh, s-sori," ucap gue terbata-bata. Sumpah, ke mana perginya Aira yang galak dan jago ngejawab tadi? Kenapa sekarang gue mendadak gagap gini?
"Ya," sahut Devon singkat tanpa menoleh. Dia masih sibuk mengutak-atik ponselnya yang untungnya ada di saku celananya.
Ah, benar! Ponsel!
"Dev! Telepon siapa aja kek! Pak kepsek, guru piket, atau anak-anak OSIS yang lain! Suruh mereka ke sini sekarang!" seru gue dengan binar harapan di mata.
Devon mengembuskan napas berat, lalu memutar layar ponselnya ke arah gue. "Gak ada sinyal, Aira. Daerah GOR lama ini memang terkenal *blank spot*, ditambah lagi kita di dalam ruangan tertutup berbahan beton tebal begini."
Harapan gue yang baru saja mekar langsung layu sebelum berkembang. Gue mengintip layar ponsel Devon. Benar saja, di sudut kanan atas layarnya cuma ada tulisan *'No Service'* yang kelihatan sangat menyedihkan.
"Terus kita harus gimana?" tanya gue, kali ini beneran dengan nada pasrah dan ketakutan yang gak bisa gue sembunyikan lagi. Suara gue mencicit pelan.
Devon menatap gue. Untuk pertama kalinya sejak kami terjebak, tatapan matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi itu sedikit melunak. "Kita tunggu sampai ada orang yang menyadari kita hilang. Atau sampai hujan reda dan ada petugas kebersihan yang lewat."
"Tapi ini kan area terbengkalai, Dev. Siapa juga yang mau lewat sini pas hujan-hujan gini?"
Devon tidak menjawab. Dia mema**kkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu menyandarkan punggungnya ke pintu kayu di belakangnya. Tindakan itu otomatis membuat jarak di antara kami semakin terkikis.
Gue refleks menahan napas.
Karena Devon bersandar di pintu, wajahnya sekarang sejajar dan berhadapan langsung dengan gue. Gue bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang ternyata c**up lentik untuk ukuran seorang cowok, serta garis rahangnya yang tegas. Sumpah, kalau dalam keadaan normal dan bukan di toilet bau begini, adegan ini pasti udah kelihatan kayak adegan di drama Korea romantis.
Tapi masalahnya, ini dunia nyata! Dan cowok di depan gue ini adalah musuh bebuyutan gue di sekolah yang hobi banget nyatet nama gue di buku ka**s pelanggaran!
Udara di dalam bilik toilet ini perlahan-lahan mulai terasa hangat dan pengap. Keringat dingin mulai bermunculan di pelipis gue. Gue merasa canggung setengah mati. Rasanya mau mati saja daripada harus berdiri sedekat ini dengan Devon selama entah berapa jam ke depan.
Gue mencoba merapatkan punggung gue ke dinding semen di belakang gue, berusaha menciptakan jarak sebisanya. Namun sialnya, dinding semen itu ternyata sedikit basah karena rembesan air hujan dari luar.
"Dingin..." gumam gue tanpa sadar saat punggung gue menyentuh semen yang basah itu.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik pelan lengan kanan gue.
"Jangan nempel ke tembok, nanti seragam kamu basah semua," ucap Devon pelan.
Sentuhan tangannya di lengan gue yang polos—karena gue gak pakai jaket—terasa sangat hangat. Kulit gue langsung meremang seketika. Jantung gue kembali berulah, kali ini dengan ritme yang jauh lebih cepat dan berisik daripada saat gue dikejar Devon tadi.
Gue menatap tangan Devon yang masih memegang lengan gue, lalu beralih menatap matanya. Devon seolah baru tersadar dengan apa yang dia lakukan, langsung melepaskan tangannya dengan canggung. Dia berdeham pelit, lalu memalingkan wajahnya yang entah kenapa... kelihatan agak sedikit merona merah di bagian telinganya.
Tunggu. Apa gue gak salah lihat? Seorang Devon Aliansyah yang berhati batu dan sedingin es itu... bisa salting juga?
Keadaan di dalam toilet itu mendadak jadi seratus kali lipat lebih canggung daripada sebelumnya. Sunyi senyap, cuma ada suara rintik hujan yang semakin deras memukul atap seng di luar sana. Kami berdua terjebak dalam keheningan yang sangat menyiksa, ditemani oleh degup jantung masing-masing yang saling berkejaran di dalam dada.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!