Dua Jam di Kamar Mandi Bersama Ketua OSIS

Bab 5: Hangatnya Jaket OSIS

Pengaturan Membaca

"Sakit, ya?" tanya gue refleks begitu melihat Devon memegangi bahu kirinya sambil meringis tipis.

G***, sih. Pintu toilet kayu jati tua sekolah ini emang terkenal kokoh banget, padahal udah rayapan di beberapa sudut. Ditambah lagi sistem kuncinya yang udah berkarat. Mau dihantam pakai gaya apa pun, kayaknya nggak bakal mempan kalau cuma mengandalkan kekuatan otot manusia biasa.

Devon nggak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Rambut depannya yang agak basah karena keringat menempel di dahinya, membuat kesan cowok disiplin dan kaku yang biasanya melekat erat pada dirinya sedikit luntur. Malam ini, di dalam bilik toilet yang sempit ini, Devon kelihatan... manusiawi. Dan sialnya, sangat tampan.

"Sedikit," jawab Devon pendek. Suaranya agak serak. Dia kembali memutar gagang pintu kuningan itu dengan sisa tenaganya, tapi hasilnya nihil. Gagang pintu itu sama sekali nggak bergeser satu milimeter pun.

*DUARRR!*

Gue hampir melompat saking kagetnya saat suara petir menggelegar dari luar. Bersamaan dengan itu, angin kencang berembus ma**k lewat celah ventilasi di bagian atas dinding toilet. Hujan badai di luar tampaknya makin mengg***. Air hujan yang terbawa angin mulai menyiprat ma**k, menciptakan gerimis tipis di dalam bilik kami yang sempit.

Gue merapatkan tubuh ke sudut dinding, berusaha menghindari cipratan air. Tapi sia-sia. Bahu dan lengan seragam putih gue perlahan mulai basah. Bahannya yang tipis langsung menempel di kulit, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk sampai ke tulang.

"Dingin banget..." bisik gue hampir tak terdengar.

Gue memeluk diri sendiri, merapatkan kedua lengan di dada sambil menggosok-gosok lengan atas gue. Gigi gue mulai bergemeletuk tipis. *Klak-klak-klak.* Sumpah, ini bukan lebay. Kamar mandi sekolah di lant** tiga ini emang terkenal paling dingin karena posisinya yang langsung menghadap ke arah gunung di bagian belakang sekolah. Ditambah badai di luar, rasanya kayak gue lagi dikurung di dalam freezer raksasa.

Devon yang sejak tadi berdiri membelakangi gue, perlahan membalikkan badannya. Dia menunduk, menatap gue yang sudah berjongkok di sudut bilik sambil menggigil.

"Kamu kedinginan?" tanyanya. Suaranya datar, tapi ada sedikit nada khawatir yang berusaha dia sembunyikan.

"Enggak, kok. Ini gue lagi simulasi jadi Elsa Frozen," jawab gue asal, berusaha tetap kelihatan sarkas meski bibir gue udah gemetaran parah.

Devon menghela napas panjang. Dia menggelengkan kepalanya perlahan, seolah habis menghadapi anak kecil yang keras kepala. "Masih bisa-bisanya bercanda di situasi kayak gini."

Gue mendongak, bersiap untuk membalas ucapannya dengan kalimat yang nggak kalah ketus. Tapi kata-kata gue langsung tertelan kembali di tenggorokan saat melihat apa yang dilakukan Devon selanjutnya.

Tangan kanan Devon bergerak naik ke kerah jaket almamater OSIS-nya yang berwarna biru tua berbahan tebal. Dia menarik ritsletingnya ke bawah dengan gerakan pelan yang entah kenapa kelihatan sangat estetik di mata gue. Setelah ritsletingnya terbuka sepenuhnya, dia meloloskan kedua lengannya dari jaket tersebut.

Kini, Devon hanya mengenakan kemeja seragam putih lengan pendeknya. Potongan kemeja yang pas di tubuhnya memperlihatkan siluet bahunya yang lebar dan tegap.

"Nih, pakai," kata Devon sambil menyodorkan jaket tebal yang masih terasa hangat itu ke arah gue.

Gue mengerjapkan mata beberapa kali, menatap jaket di tangannya lalu beralih menatap wajahnya. "Nggak usah. Nanti lo yang kedinginan."

"Saya cowok, fisik saya lebih kuat dari kamu. Jangan keras kepala," potong Devon cepat. Nada bicaranya kembali dingin dan tidak menerima bantahan, khas Ketua OSIS yang biasa ngasih instruksi saat apel pagi.

"Tapi, Dev—"

Sebelum gue sempat menyelesaikan protes gue, Devon tiba-tiba melangkah maju. Karena bilik toilet ini sangat sempit—mungkin hanya berukuran satu setengah kali satu setengah meter—satu langkah besar Devon langsung memangkas jarak di antara kami berdua.

Gue menahan napas saat Devon ikut berjongkok di depan gue.

Jarak kami dekat banget. Terlalu dekat sampai gue bisa mencium aroma parfum *cedarwood* bercampur mint maskulin yang menguar dari tubuhnya. Aroma yang sangat menenangkan, tapi di saat yang sama juga bikin otak gue mendadak korslet.

Dengan gerakan yang sangat lembut—sangat bertolak belakang dengan sikap ketusnya tadi—Devon membentangkan jaket OSIS-nya, lalu menyampirkannya ke atas bahu gue.

Saat dia merapikan kerah jaket itu agar membungkus tubuh gue dengan sempurna, ujung jari-jarinya yang hangat tidak sengaja bersentuhan dengan kulit leher dan tulang selangka gue yang sensitif.

*DEG!*

Jantung gue rasanya seperti melompat dari tempatnya. Aliran listrik instan yang aneh seolah menjalar dari titik sentuhan jarinya langsung ke pusat dada gue. Gue refleks menatap matanya, dan pada saat yang bersamaan, Devon juga sedang menatap gue.

Sepasang mata elang milik Devon yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini terlihat berbeda. Di bawah temaram cahaya lampu toilet yang agak redup, matanya tampak berkilat hangat. Tatapannya terkunci pada mata gue, lalu turun sedikit ke bibir gue yang masih agak pucat karena dingin, sebelum akhirnya kembali menatap mata gue lagi.

Gue bisa mendengar suara napas Devon yang agak memburu. Dan entah ini cuma perasaan gue atau bukan, tapi gue bisa merasakan dadanya naik turun dengan ritme yang sama cepatnya dengan degup jantung gue saat ini.

*Deg. Deg. Deg.*

Suara detak jantung gue terdengar begitu nyaring di telinga gue sendiri, mengalahkan suara gemuruh hujan di luar. Suasananya mendadak jadi canggung banget, tapi dengan jenis kecanggungan yang bikin perut gue serasa digilitik jutaan kupu-kupu.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

Kami berdua saling terpaku dalam posisi super dekat itu tanpa ada yang berani bersuara. Tangan Devon masih bertengger di bahu gue, seolah dia juga lupa bagaimana cara menariknya kembali.

Hingga akhirnya, Devon berdehem pelan. Dia menarik tangannya dengan cepat, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Ada semburat merah tipis yang samar-samar muncul di tulang pipinya, meski dia berusaha keras menutupinya dengan ekspresi datar andalannya.

"Ehem... pakai yang bener. Biar nggak ma**k angin," ujar Devon, suaranya terdengar agak canggung sekarang. Dia langsung berdiri tegak kembali, membelakangi gue untuk menatap pintu toilet yang masih terkunci rapat.

Gue bur-buru merapatkan jaket tebal itu ke tubuh gue. Sumpah, jaket ini hangat banget. Wangi parfum Devon langsung mendominasi indra penciuman gue, membuat rasa dingin yang tadi menyiksa perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar sampai ke pipi gue. Gue yakin muka gue sekarang udah merah padam kayak kepiting rebus.

"M-makasih," cicit gue pelan, mendadak kehilangan keberanian untuk bicara dengan nada nyolot kayak biasanya.

Devon terdiam beberapa saat sebelum menyahut tanpa berbalik. "Sama-sama."

"Tapi lo beneran nggak kedinginan? Seragam lo kan tipis," tanya gue lagi, berusaha mencairkan suasana yang mendadak terasa super canggung pasca-kejadian tatap-tatapan tadi.

"Saya biasa latihan fisik sampai malam, udara kayak gini nggak ada apa-apanya," jawab Devon sombong. Tapi sedetik kemudian, dia melipat kedua lengannya di dada, sedikit merapatkan tubuhnya sendiri.

Cih, dasar cowok gengsian. Jelas-jelas dia juga kedinginan, tapi masih aja sok kuat di depan gue.

Gue menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang tiba-tiba terukir di bibir gue. Gue menarik ujung lengan jaket OSIS Devon yang kebesaran di tubuh gue, menghirup aromanya sekali lagi secara sembunyi-sembunyi.

Malam ini, di dalam bilik toilet sekolah yang kotor, sempit, dan terkunci dari luar, gue menyadari satu hal. Devon yang terkenal sebagai "Ketua OSIS Kejam Tanpa Toleransi" di SMA Wijaya ternyata punya sisi lain yang sangat hangat. Sehangat jaket biru tua yang sekarang sedang mendekap tubuh gue erat-erat.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca