...estetik.
Detik berikutnya, jaket almamater biru tua berbahan tebal itu sudah berpindah tangan. Devon menyampirkannya ke bahu gue tanpa permisi. Aroma parfum maskulin yang segar—campuran antara wangi mint dan sabun mandi bayi—langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman gue. Hangat. Sumpah, jaket ini hangat banget dan seketika mengusir rasa menggigil yang tadi hampir bikin tulang gue remuk.
"Pakai," kata Devon singkat. Dia sekarang cuma memakai kemeja seragam putihnya yang pas di badan.
"Tapi lo gimana? Nanti lo yang ma**k angin," ujar gue, agak merasa bersalah. Gue berusaha mengembalikan jaket itu, tapi tangan Devon menahan bahu gue. Sentuhan tangannya yang hangat di sela-sela kain jaket membuat jantung gue mendadak melakukan maraton mini.
"Gue cowok. Lebih tahan dingin dibanding lo yang badannya kayak tripleks begini," sahutnya lempeng. Dia kemudian duduk bersandar pada dinding toilet yang berseberangan dengan gue, meluruskan kakinya yang panjang.
Gue mendengus kesal. "Bisa nggak sih, sehariii aja nggak usah ngehina fisik gue? Dan lagi, sejak kapan lo pakai sebutan 'lo-gue' ke gue? Biasanya juga kaku banget pakai 'saya-kamu' kayak lagi sidang paripurna."
Devon sempat tertegun. Dia menatap ke arah ventilasi di atas, lalu mengembuskan napas perlahan. "Capek kalau harus formal terus. Di sini nggak ada guru, nggak ada anggota OSIS lain. Anggap aja ini *breaktime*."
Suasana mendadak hening lagi. Suara hujan di luar yang tadinya bising perlahan berubah menjadi latar belakang yang konstan. Hanya ada bunyi tetesan air dari wastafel yang bocor di sudut lain kamar mandi. *Tetes. Tetes. Tetes.*
Gue memeluk lutut gue erat-erat di dalam balutan jaket kebesaran Devon. Kepala gue mulai traveling ke mana-mana. Kamar mandi ini lumayan gelap, cuma terbantu sama cahaya lampu koridor luar yang samar-samar ma**k lewat ventilasi atas. Ditambah lagi gosip-gosip horor tentang toilet lant** tiga yang katanya dulu bekas tempat penampungan... ah, sudahlah. Pikiran gue makin liar.
Demi mengusir rasa takut dan sepi yang mulai mencekam, gue memutuskan untuk membuka suara.
"Dev," panggil gue pelan.
"Hmm?" Devon menyahut tanpa menoleh. Dia masih menatap lurus ke depan, dengan kedua tangan yang dima**kkan ke dalam saku celana abu-abunya.
"Lo emang nggak ada takut-takutnya, ya? Maksud gue... kita kekunci di kamar mandi sekolah yang terkenal angker, pas badai pula. Tapi lo tenang banget dari tadi. Bahkan sempat-sempatnya mikirin proposal pensi."
Devon terkekeh pelan. Itu suara tawa tertipis yang pernah gue dengar dari dia, tapi kedengarannya cowok banget. "Takut sama hantu itu buang-buang energi, Ra. Ada hal lain di dunia ini yang jauh lebih menakutkan dibanding cerita takhayul sekolah."
Gue memiringkan kepala, penasaran. "Contohnya?"
"Kecewa."
Satu kata itu keluar dari bibir Devon dengan begitu tenang, tapi entah kenapa terasa sangat berat.
"Kecewa?" ulang gue. "Kecewa sama siapa? Pacar lo?"
Devon menoleh ke arah gue, menatap gue datar. "Gue nggak punya pacar."
"Oh, kirain. Secara lo kan idola satu sekolah. Masa ketos ganteng, pintar, tajir, nggak punya pacar? Hampir tiap hari loker lo penuh sama cokelat dan surat cinta, kan?" tanya gue, mencoba mencairkan suasana dengan nada menggoda.
Namun, bukannya tersenyum atau membalas dengan sarkasme khasnya, tatapan Devon malah meredup. Cahaya dari ventilasi yang menerpa separuh wajahnya membuat cowok ini kelihatan rapuh. Sisi misteriusnya yang selama ini ditutupi oleh sikap tegas dan berwibawa perlahan-lahan mulai mengelupas.
"Mereka cuma suka sama apa yang mereka lihat di luar, Ra," ujar Devon lirih. Suaranya terdengar sangat lelah. "Mereka suka Devon yang ketua OSIS, Devon yang selalu juara umum, Devon yang nggak pernah bikin masalah. Mereka nggak kenal gue yang sebenarnya."
Gue terdiam. Rasa penasaran gue makin membuncah, tapi kali ini bukan karena pengen kepo gosip murahan. Ada rasa empati yang tiba-tiba muncul di dada gue.
"Emangnya... Devon yang sebenarnya itu kayak gimana?" tanya gue dengan nada selembut mungkin.
Devon menarik kedua lututnya, melipat tangannya di atas lutut lalu menumpukan dagunya di sana. Pose yang sangat tidak 'Devon-si-Ketua-OSIS-Sempurna' sekali. Sekarang dia kelihatan kayak anak cowok biasa yang lagi kesepian.
"Devon yang sebenarnya itu... cuma orang biasa yang capek dituntut jadi sempurna," bisiknya. Dia menatap ke arah lant** ubin yang dingin. "Lo tahu nggak kenapa gue selalu pulang telat? Kenapa gue selalu nyibukin diri di ruang OSIS sampai malam?"
Gue menggeleng pelan, menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Karena rumah gue rasanya kayak medan perang," lanjut Devon. Senyum kecut terukir di bibirnya. "Setiap kali gue melangkah ma**k ke rumah, yang ditanya bukan 'Kamu capek, Dev?' atau 'Udah makan belum?'. Tapi, 'Gimana hasil simulasi olimpiade fisika kamu? Kenapa cuma dapat peringkat dua nasional? Kenapa nggak peringkat satu?'."
Napas gue tertahan. Peringkat dua nasional? Dan orang tuanya masih belum puas? G***. Gue yang ma**k peringkat sepuluh besar paralel di sekolah aja emak gue udah bikin tumpengan sewajan.
"Nyokap dan bokap gue... mereka berdua akademisi. Kakak-kakak gue semuanya lulusan Ivy League. Di keluarga gue, kegagalan itu hal yang haram. Kalau gue nggak bisa jadi nomor satu, artinya gue nggak berguna," jelas Devon. Ada getaran tipis dalam suaranya yang berusaha keras dia sembunyikan. "Mereka udah ngatur seluruh hidup gue. Kuliah di mana, ambil jurusan apa, bahkan sampai nanti gue harus kerja di mana. Semua udah ada jalurnya. Gue nggak punya pilihan."
Di bawah remang cahaya ventilasi, gue bisa melihat setitik kesedihan yang mendalam di matanya. Topeng sempurna yang selama ini dia pakai di sekolah—yang bikin semua orang segan dan kagum—malam ini retak sepenuhnya di depan gue. Di dalam bilik toilet yang sempit dan dingin ini.
"Lo... nggak pernah coba buat nolak?" tanya gue hati-hati.
Devon tertawa sumbang. "Nolak? Sekali gue coba nolak dengan bilang kalau gue capek, bokap langsung ngebanding-bandingin gue sama kakak pertama gue. Mereka bilang gue manja, nggak tahu diuntung, padahal fasilitas udah dipenuhi semua. Akhirnya gue sadar, suara gue nggak pernah didengar. Jadi, daripada ribut, mending gue turuti semua kemauan mereka. Meskipun rasanya kayak perlahan-lahan ngebunuh diri gue sendiri."
Gue memandang Devon dengan perasaan campur aduk. Dada gue mendadak terasa sesak mendengarnya. Selama ini gue selalu sirik sama Devon. Gue pikir hidup dia enak banget. Punya segalanya, dipuji semua orang, masa depannya udah pasti cerah. Tapi ternyata, di balik semua kemewahan dan reputasi hebat itu, Devon cuma remaja biasa yang sangat kesepian. Dia dikurung dalam sangkar emas yang begitu sempit sampai dia susah buat sekadar bernapas.
Gue menggeser duduk gue, mendekat ke arahnya. Jarak kami sekarang cuma tersisa beberapa puluh sentimeter.
"Dev," panggil gue lembut.
Devon mendongak, menatap gue dengan mata yang kelihatan sedikit berkaca-kaca, walau dia buru-buru mengerjapkan matanya untuk menghilangkan itu.
"Sini deh," kata gue sambil menepuk-nepuk lant** di sebelah gue yang agak kering. "Gue tahu ini lant** kamar mandi sekolah dan mungkin agak jorok, tapi kayaknya kalau duduk deketan gini, hawanya jadi lebih hangat."
Devon sempat ragu sejenak, sebelum akhirnya dia menggeser tubuhnya dan duduk tepat di sebelah gue. Bahu kami saling bersentuhan, mengirimkan rasa hangat yang menyenangkan ke seluruh tubuh gue.
"Gue nggak pinter bikin kata-kata bijak kayak motivator di YouTube," kata gue sambil menatap profil samping wajahnya yang tegas dari jarak dekat. "Tapi gue cuma mau bilang... lo hebat banget, Dev. Bisa bertahan di bawah tekanan kayak gitu selama bertahun-tahun, itu luar biasa. Lo nggak harus selalu jadi nomor satu buat ngebuktiin kalau lo berharga. Di mata gue, lo yang sekarang—yang lagi duduk lemes di lant** toilet sambil curhat—itu jauh lebih keren dibanding Devon yang berdiri tegak di podium lapangan upacara sambil pidato kaku."
Devon menoleh ke arah gue. Jarak kami dekat banget sampai gue bisa melihat pantulan diri gue di manik mata hitamnya. Untuk beberapa detik, waktu rasanya berhenti berputar. Suara badai di luar seolah meredup, digantikan oleh detak jantung gue yang mendadak berisik banget.
"Kenapa?" tanya Devon pelan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa lo dengerin gue? Biasanya lo paling malas kalau berurusan sama gue. Lo selalu ngat**n gue ketos galak, sok rajin, diktator..."
Gue tertawa pelan, membuat suasana yang tadinya tegang jadi sedikit lebih sant**. "Ya habisnya lo emang galak banget kalau lagi nagih revisi proposal! Tapi kan itu dulu, sebelum gue tahu kalau lo ternyata cuma manusia biasa yang butuh tempat sampah buat numpahin semua unek-unek."
Gue tersenyum tulus ke arahnya. "Mulai sekarang, kalau lo capek, lo nggak usah pura-pura kuat di depan gue. Kalau lo butuh temen buat sekadar teriak, marah-marah, atau bahkan nangis... lo bisa cari gue. Gue janji nggak bakal ngetawain lo. Dan gue juga nggak bakal bocorin ke anak-anak OSIS kalau ketua mereka yang super cool ini ternyata bisa curhat melow di kamar mandi."
Devon menatap gue c**up lama. Perlahan, sudut-sudut bibirnya terangkat. Kali ini, itu bukan senyum sinis atau senyum formalitas yang biasa dia tunjukkan ke guru-guru. Itu adalah senyum nyata, tulus, dan sangat manis yang membuat wajahnya kelihatan sepuluh kali lipat lebih tampan.
"Makasih ya, Ra," bisik Devon.
"Sama-sama, Pak Ketos," jawab gue sambil nyengir, mencoba menutupi rasa gugup karena jantung gue makin nggak aman setelah melihat senyumannya.
Malam itu, di tengah badai yang mengamuk di luar dan udara dingin yang menusuk kulit, di dalam bilik toilet lant** tiga yang sempit, gue menyadari satu hal. Topeng sempurna Devon mungkin sudah retak, tapi retakan itulah yang justru memperlihatkan keindahan aslinya yang selama ini tersembunyi. Dan sialnya, gue rasa gue mulai menyukai apa yang ada di balik retakan itu.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!