"βpacar." Devon melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus, menatap gue datar seolah apa yang barusan dia omongin itu bukan hal besar.
Gue mengerjapkan mata beberapa kali, beneran cengo. "Hah? Demi apa? Lo... nggak punya pacar?"
"Emang tampang gue kelihatan kayak cowok yang punya banyak waktu buat pacaran?" Devon balik bertanya, nadanya kelewat lempeng. Dia meluruskan kakinya yang panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding toilet yang dingin. "Mengurus OSIS, laporan pertanggungjawaban, bimbel intensif, belum lagi tekanan dari bokap. Pacaran cuma bakal nambah daftar hal yang harus gue pikirin."
Gue mangut-mangut, entah kenapa merasa lega mendengar jawabannya. "Ya lagian, lo tuh standarnya ketinggian kali. Cewek-cewek se-sekolah yang antre pengen jadi pacar lo kan banyak banget, Dev. Masa nggak ada satu pun yang nyangkut di hati lo? Bahkan si Clara, anak *cheerleaders* yang katanya paling hits itu?"
Devon mendengus pelan, lalu menoleh ke arah gue dengan senyum tipis yang super langka. "Clara berisik. Gue nggak suka cewek yang terlalu banyak menuntut perhatian."
"Oh, jadi lo sukanya cewek yang gimana? Yang pendiam? Yang pinter? Atau yang... kayak gimana?" tanya gue, mendadak jadi s**** wawancara pribadi.
"Nggak tahu," jawab Devon singkat, matanya kembali menatap langit-langit. "Gue nggak punya tipe spesifik. Yang penting nyambung pas diajak ngobrol, nggak jaim, dan nggak bikin pusing."
"Wah, kalau itu sih kriteria hampir semua cowok, kali," sahut gue sambil terkekeh.
Dua jam berlalu tanpa terasa. Sumpah, gue nggak pernah menyangka kalau waktu dua jam di dalam kamar mandi yang terkunci, di tengah badai pula, bisa mengalir secepat ini. Yang lebih nggak gue sangka lagi adalah sosok Devon di depan gue sekarang.
Selama ini, di mata gue dan hampir seluruh warga SMA Wijaya, Devon adalah sosok "dewa" yang tidak tersentuh. Dia dingin, kaku, perfeksionis, dan selalu kelihatan punya segalanya di bawah kendali. Tapi malam ini, di bawah temaram cahaya lampu koridor yang menembus ventilasi, gue melihat sisi lain dari seorang Devon.
Cowok itu ternyata bisa receh juga.
Semua bermula saat gue menceritakan kejadian konyol pas gue masih kelas sepuluh, waktu gue salah ma**k kelas dan dengan percaya dirinya duduk di barisan paling depan selama lima belas menit sebelum sadar kalau itu kelas dua belas yang lagi kuis Kimia.
Devon yang biasanya cuma berekspresi datar, langsung tertawa mendengar cerita gue. Dan demi apa pun, tawa Devon itu candu banget. Suaranya rendah, kedengaran tulus, dan mata elangnya menyipit membentuk bulan sabit yang manis banget. Detik itu juga, gue harus meremas ujung jaket almamaternya kuat-kuat biar jantung gue nggak melompat keluar dari tempatnya.
"G***, Ra. Lo beneran se-pede itu?" tanya Devon masih dengan sisa-sisa tawa di wajahnya.
"Iya! Lo bayangin aja, gue udah telanjur ngeluarin buku tulis, terus pas guru di depan bilang 'Silakan kuis bab termokimia dimulai', gue langsung keringat dingin. Pas gue nengok kanan-kiri, mukanya kakak kelas semua. Langsung deh gue pura-pura sakit perut terus kabur," ceritera gue menggebu-gebu, bikin Devon menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Gue nggak habis pikir gimana jalan pikiran lo," ujar Devon, sudut bibirnya masih melengkung ke atas. "Tapi seru juga ya hidup lo. Penuh plot twist."
"Daripada lo, hidupnya lempeng banget kayak jalan tol. Pasti dari kecil lo tuh tipe anak penurut yang kalau dikasih tahu 'jangan' langsung nurut, kan?" sindir gue sambil menyenggol pelan kakinya yang berada dekat kaki gue.
Devon terdiam sebentar, lalu tersenyum tipisβkali ini senyum yang agak pahit. "Iya. Gue nggak punya pilihan buat jadi pemberontak. Bokap gue militer, semuanya harus serba disiplin dan terstruktur. Nilai sembilan puluh aja dianggap kegagalan di rumah gue."
Gue tertegun. Rasa bersalah langsung menjalar di dada gue. "Sorry, Dev. Gue nggak maksud..."
"Sant** aja," potong Devon cepat, seolah tahu gue mau minta maaf. "Gue udah biasa. Makanya, bisa kejebak di kamar mandi kayak gini... sebenarnya agak menyenangkan. Gue nggak harus mikirin target, nggak harus bersikap sempurna di depan orang-orang."
Gue menatap Devon lekat-lekat. Di bawah cahaya yang minim ini, dia kelihatan begitu rapuh sekaligus menawan. Jaket almamaternya masih tersampir di bahu gue, menyebarkan kehangatan dan aroma tubuhnya yang sekarang terasa sangat familier di indra penciuman gue.
"Makasih ya, Dev," kata gue tulus.
Devon menaikkan sebelah alisnya. "Buat?"
"Buat jaketnya, buat obrolannya, dan karena lo nggak se-menyebalkan yang gue kira," jawab gue sambil nyengir lebar.
Devon mendengus, tapi ada binar geli di matanya. "Lo juga nggak se-merepotkan yang gue kira, Ra."
"Heh! Maksud lo apa, ya?!" gue pura-pura tersinggung.
Gue berniat untuk berdiri, berniat untuk meregangkan otot-otot kaki gue yang mulai terasa kesemutan setelah hampir dua jam duduk bersandar di lant** yang dingin. Tapi rupanya, itu adalah keputusan terburuk malam ini.
Kaki kanan gue mendadak mati rasa karena kesemutan parah. Begitu gue menapakkan kaki ke lant**, rasa kebas langsung menyerang. Ditambah lagi, lant** di dekat wastafel bocor itu ternyata sangat licin akibat genangan air sabun tipis yang tidak gue sadari sebelumnya.
"Aduhβ!"
Keseimbangan gue hilang total. Tubuh gue limbung ke depan, siap menghantam lant** keramik yang keras. Gue reflek memejamkan mata, bersiap merasakan sakit yang luar biasa.
Namun, rasa sakit itu nggak pernah datang.
Sebuah tangan yang besar dan kokoh dengan sigap menangkap pinggang gue. Dalam hitungan detik, tubuh gue ditarik dengan kuat ke arah yang berlawanan. Tenaga tarikan itu begitu besar hingga membuat dada gue langsung menubruk dada bidang Devon yang keras.
*Deg!*
Napas gue tercekat. Mata gue langsung terbuka lebar.
Gue bisa merasakan detak jantung Devon yang berdegup kencang di balik kemeja putihnya, bertalu-talu dengan ritme yang sama g***nya dengan detak jantung gue sendiri. Kedua tangan Devon mendekap erat pinggang gue, menahan bobot tubuh gue sepenuhnya agar tidak terjatuh. Sementara itu, satu tangan gue reflek mencengkeram erat bahu kokoh Devon, dan tangan satunya lagi bertumpu di dadanya.
Jarak di antara wajah kami cuma tersisa beberapa sentimeter. Dekat banget. Begitu dekat sampai gue bisa merasakan embusan napas hangat Devon yang menerpa dahi dan puc** hidung gue.
Keheningan malam langsung menyergap kamar mandi itu. Suara hujan di luar yang tadinya bising mendadak senyap, tergantikan oleh suara napas kami yang memburu dan saling bersahutan.
Gue terpaku, menatap langsung ke dalam manik mata hitam milik Devon yang biasanya tajam, tapi kini kelihatan begitu dalam dan... hangat. Ada kilatan aneh di sana yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Sesuatu yang membuat perut gue mendadak mulas seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
Devon juga tidak melepaskan tatapannya dari gue. Matanya perlahan turun, menatap bibir gue yang sedikit terbuka karena terkejut, sebelum kembali menatap mata gue dengan intensitas yang membuat lutut gue makin lemas.
"Lo... nggak apa-apa?" tanya Devon. Suaranya terdengar lebih berat dan serak dari biasanya, bergema rendah di dada bidangnya yang masih menempel rapat dengan dada gue.
"N-nggak apa-apa..." jawab gue nyaris berbisik. Tenggorokan gue mendadak kering kerontang.
Alih-alih langsung melepaskan pelukannya, tangan Devon di pinggang gue justru terasa sedikit mengetat, menarik tubuh gue setingkat lebih dekat dengannya. Kulit telapak tangannya yang hangat seolah bisa menembus kaos tipis yang gue pakai, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduk gue meremajang.
Gue bisa melihat jakun Devon naik-turun saat dia menelan ludah. Tatapannya terkunci pada wajah gue, melacak setiap jengkal ekspresi gue yang pasti sekarang sudah merah padam mirip kepiting rebus.
"Ra," panggil Devon pelan. Suaranya seolah menuntut perhatian penuh dari seluruh kesadaran gue.
"Ya?" sahut gue, masih dalam posisi yang sama sekali tidak berubah. Kami berdua seolah lupa kalau kami sedang berada di kamar mandi sekolah yang dingin. Kami seolah lupa dengan waktu, lupa dengan dunia di luar sana yang sedang dilanda badai.
"Jantung lo... berisik banget," bisik Devon, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat mematikan.
Wajah gue yang tadinya sudah panas, sekarang rasanya seperti mau meledak. "Lo... lo sendiri juga!" balas gue terbata-bata, mencoba membela diri karena gue juga bisa merasakan dengan jelas bagaimana jantung cowok di depan gue ini berdetak sama kencangnya.
Devon tidak membantah. Dia justru terkekeh pelan, sebuah getaran yang langsung merambat dari dadanya ke dada gue. "Iya. Lo benar. Jantung gue juga berisik."
Dia menatap gue lebih dalam lagi, mengikis jarak yang tersisa di antara kami hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan. Keheningan yang intim ini mendadak terasa begitu pekat, begitu menuntut. Ada getaran aneh, sebuah rasa yang baru, yang tiba-tiba saja tumbuh dan mekar di antara kami berdua dalam waktu dua jam ini.
Dua jam yang awalnya gue pikir bakal jadi bencana terbesar dalam hidup gue, ternyata justru menjadi dua jam yang mengubah segalanya. Mengubah cara gue memandang cowok menyebalkan bernama Devon, dan mungkin... mengubah bagaimana takdir akan membawa hubungan kami setelah malam ini berakhir.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!