"βmuka kakak kelas cowok di sebelah gue udah kayak mau nelan gue hidup-hidup! Sumpah, mukanya galak banget, mirip guru BK yang lagi nyari mangsa. Akhirnya gue pura-pura batuk, langsung beresin buku dengan gerakan secepat kilat, terus lari keluar kelas sambil nahan nangis."
Devon kembali terbahak. Kali ini bahunya sampai terguncang pelan. "Sumpah, Ra. Kok bisa-bisanya lo nggak sadar dari awal? Padahal kan seragam mereka beda *badge* angkatan di lengannya."
"Ya namanya juga panik karena telat, Dev! Pikiran gue cuma satu waktu itu: pokoknya harus ma**k kelas dan duduk di barisan paling depan biar dibilang rajin!" gue membela diri, meskipun ujung-ujungnya ikut tertawa juga mengingat kekonyolan masa lalu itu.
Tawa Devon berangsur mereda, menyisakan senyum tipis di wajahnya yang mendadak kelihatan jauh lebih bersahabat daripada biasanya. "Tapi seenggaknya lo punya nyali. Kalau cewek lain mungkin udah pingsan di tempat."
Gue mencibir pelan, tapi dalam hati ada kembang api yang meletup-letup. Dipuji sama Devon, sang Ketua OSIS yang standarnya setinggi langit, rasanya kayak habis menang lotre.
Namun, momen hangat itu nggak bertahan lama. Sayup-sayup dari luar koridor yang sunyi, terdengar suara langkah kaki yang berat, beradu dengan lant** keramik. Suara itu makin lama makin dekat, disusul oleh sorot lampu senter yang bergerak acak melewati celah ventilasi di atas pintu toilet.
"Halo? Ada orang di dalam?" sebuah suara berat dan serak memecah keheningan malam.
Gue dan Devon spontan saling pandang. Mata kami melebar seketika.
"Pak Bambang?" bisik gue setengah tidak percaya.
"Pak! Kami di dalam!" teriak Devon gercep. Dia langsung berdiri dari posisi duduknya, menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang kotor, lalu mendekati pintu besi yang terkunci rapat itu. "Pak Bambang! Tolong buka pintunya! Kami kekunci!"
"Loh? Mas Devon?" Suara Pak Bambang, penjaga sekolah yang terkenal dengan kumis tebalnya itu, terdengar panik dari luar. "Walah, kok bisa di dalam? Kuncinya macet ya?"
"Iya, Pak. Slot kuncinya rusak dari dalam, nggak bisa diputar sama sekali," jelas Devon sambil mengetuk pintu beberapa kali.
"Waduh, sebentar, Mas, Mbak. Saya ambil linggis dulu di pos. Jangan panik ya!"
Gue mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang. Akhirnya. Setelah dua jam terjebak dalam kegelapan, kedinginan, dan ditemani aroma karbol yang samar-samar, bantuan akhirnya datang juga. Gue berdiri, meregangkan otot-otot kaki gue yang mulai kram karena terlalu lama menekuk.
"Kita bakal keluar, Ra," kata Devon, menatap gue dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kelegaan di matanya, tapi juga ada kilat kecemasan yang tiba-tiba melintas.
Nggak butuh waktu lama sampai Pak Bambang kembali. Terdengar suara besi yang bergesekan keras dengan slot pintu, disusul suara hantaman beberapa kali.
*B**K!*
Dengan satu sentakan kuat, pintu toilet itu akhirnya terbuka lebar. Angin malam yang dingin langsung berembus ma**k, menyapu wajah kami. Sorot lampu senter Pak Bambang yang silau membuat gue refleks menyipitkan mata dan menghalau cahaya itu dengan telapak tangan.
"Aduh, Gusti... kalian nggak apa-apa?" Pak Bambang menatap kami berdua bergantian dengan wajah cemas sekaligus heran. "Kok bisa berduaan di dalam sini malam-malam begini? Jam segini kan sekolah sudah sepi."
Devon langsung mengambil alih pembicaraan dengan sikapnya yang tenang dan berwibawaβsifat aslinya sebagai Ketua OSIS langsung kembali dalam sekejap.
"Kami habis nyiapin berkas buat rapat pleno besok, Pak. Terus Aira mau ke toilet, tapi karena laporannya belum selesai saya periksa, saya nunggu di luar koridor. Pas dia bilang pintunya macet, saya coba bantu buka dari luar, tapi malah pintunya menutup sendiri dan kami berdua malah kekunci di dalam," dusta Devon dengan sangat lancar dan meyakinkan. Dia bahkan tidak berkedip sedikit pun saat mengarang cerita itu dalam hitungan detik.
Gue cuma bisa mengangguk-angguk cepat bagaikan pajangan mobil, mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Devon.
"Oalah... pantesan. Slot pintu yang ini memang sudah lama dilaporkan rusak sama petugas kebersihan, tapi belum sempat diganti sama bagian sarpras," sahut Pak Bambang sambil mangut-mangut percaya. "Ya sudah, ayo keluar dulu. Di luar hujannya sudah reda, tinggal gerimis kecil. Biar saya antar ke depan."
Kami berdua mengikuti langkah Pak Bambang menyusuri koridor sekolah yang gelap gulita. Rasanya aneh banget. Baru beberapa menit yang lalu gue dan Devon duduk bersebelahan di lant** toilet yang dingin, saling berbagi cerita pribadi yang nggak pernah kami bagi ke orang lain. Tapi sekarang, berjalan di koridor ini, jarak di antara kami mendadak terasa berkilo-kilometer jauhnya. Devon berjalan di depan dengan tegap, sementara gue mengekor di belakangnya.
Begitu sampai di lobi sekolah yang diterangi lampu neon putih yang temaram, Pak Bambang pamit sebentar untuk mengunci kembali gerbang samping. Tinggallah gue dan Devon berdua di lobi yang sepi.
Suasana mendadak canggung. Sangat canggung.
Gue merapatkan jaket almamater Devon yang masih melekat di tubuh gue. "Hmm... Dev. Ini jaket loβ"
"Ra," potong Devon cepat. Dia berbalik, menatap gue lurus-lurus. Matanya yang tajam kembali seperti semulaβdingin, datar, dan penuh perhitungan. Sosok Devon yang tertawa lepas beberapa menit lalu seolah lenyap tanpa bekas, digantikan oleh sang Ketua OSIS yang perfeksionis.
"Ya?"
Devon mengembuskan napas pelan, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Soal kejadian malam ini... gue minta tolong banget sama lo. Jangan pernah cerit**n ini ke siapa pun. Bahkan ke sahabat-sahabat dekat lo."
Langkah gue yang tadinya mau mendekat langsung terhenti. Kalimat Devon barusan terasa seperti siraman air es di tengah malam yang dingin ini. "Maksud lo?"
"Gue nggak mau ada gosip yang nggak bener beredar di sekolah," kata Devon lempeng, nadanya kelewat tegas. "Lo tahu sendiri anak-anak SMA Wijaya kayak gimana. Kalau mereka tahu kita berdua kejebak di kamar mandi cewek selama dua jam sampai malam, beritanya bakal digoreng ke mana-mana. Spekulasi mereka pasti bakal liar."
Gue terdiam. Dada gue mendadak terasa sesak, ada sesuatu yang mengganjal dan mendesak di dalam sana.
"Gue nggak mau reputasi lo rusak karena hal ini. Dan... gue juga nggak mau fokus anak-anak OSIS pecah cuma gara-gara gosip nggak bermutu tentang ketuanya," lanjut Devon lagi, seolah memperjelas alasannya.
"Reputasi gue... atau reputasi lo?" tanya gue, kalimat itu lolos begitu saja dari mulut gue sebelum gue sempat menyaringnya.
Devon agak terkejut mendengar pertanyaan gue, tapi dia dengan cepat menguasai dirinya kembali. "Dua-duanya, Ra. Kita harus bersikap realistis. Besok-besok, di sekolah, kita bersikap biasa aja. Kayak nggak pernah terjadi apa-apa di antara kita malam ini. Kita cuma Ketua OSIS dan anggota divisi humas yang nggak sengaja berpapasan. Oke?"
Gue menatap Devon lekat-lekat. Cowok di depan gue ini kelihatan sangat rasional. Apa yang dia katakan memang benar dan ma**k akal. Menghindari gosip di sekolah yang isinya orang-orang bermulut ember adalah pilihan paling cerdas. Tapi entah kenapa, hati gue menolak untuk merasa biasa saja.
Dua jam di dalam sana, obrolan tentang mimpi, tentang beban hidupnya, tentang tipenya, dan tawa manisnya yang langka itu... apa semuanya harus dianggap tidak pernah ada? Apa semua itu cuma efek karena kami sedang terjebak di situasi darurat saja?
Melihat gue yang cuma diam, Devon menghela napas lagi. Langkahnya maju satu tapak, membuat jarak di antara kami mengikis sedikit. "Ra? Lo denger gue, kan?"
Gue memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman paling palsu yang pernah gue buat seumur hidup. "Iya, Dev. Gue denger kok. Tenang aja, mulut gue aman. Gue juga nggak mau kok jadi bahan gibahan satu sekolah gara-gara dikira macam-macam sama lo."
Devon tampak sedikit lega mendengar jawaban gue. "Bagus kalau gitu. Makasih ya, Ra."
"Sama-sama," jawab gue singkat.
Gue melepaskan jaket almamater Devon dari bahu gue, lalu menyodorkannya kembali ke cowok itu. "Nih, jaket lo. Makasih udah dipinjemin. Untung ada jaket ini, kalau nggak gue pasti udah ma**k angin sekarang."
Devon menerima jaket itu, lalu menyampirkan di lengannya. "Gue anter lo ke depan sampai taksi lo datang."
"Nggak usah," tolak gue cepat, mungkin terdengar sedikit terlalu ketus dari yang gue rencanakan. "Gue udah pesen ojol kok dari tadi pas dapet sinyal sedikit di lobi. Bentar lagi juga nyampe. Lo duluan aja kalau mau balik, kan rumah lo jauh."
Devon menatap gue beberapa detik, seolah sedang mencari tahu apakah gue beneran baik-baik saja atau cuma berpura-pura. Namun, sebelum dia sempat bicara lagi, sebuah motor dengan jaket hijau khas ojek online berhenti di depan gerbang sekolah yang sedikit terbuka.
"Nah, itu ojol gue udah datang," kata gue sambil menunjuk ke arah gerbang. "Gue balik duluan ya, Dev. Sampai ketemu besok... di rapat OSIS."
Gue menekankan kata 'rapat OSIS' sebagai penegas bahwa gue menerima kesepakatan rahasia kami. Tanpa menunggu jawaban dari Devon, gue langsung berbalik dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah, membiarkan gerimis tipis membasahi puncak kepala gue.
Gue nggak menoleh ke belakang lagi. Tapi di dalam dada gue, ada rasa kecewa yang luar biasa besar yang nggak bisa gue jelaskan secara logika. Bebas dari toilet itu memang melegakan, tapi perjanjian rahasia ini... rasanya seperti mengunci kembali bagian dari diri gue ke dalam kegelapan yang baru saja gue tinggalkan.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!