**Bab 9: Canggung di Dunia Nyata**
Matahari pagi ini rasanya silau banget, atau mungkin cuma mata gue aja yang sensitif karena semalam cuma bisa tidur nyenyak selama tiga jam. Sisanya? Gue habiskan dengan guling-guling nggak jelas di ka**r, menatap langit-langit kamar, sambil terus-menerus memutar ulang rekaman kejadian di kamar mandi kemarin malam.
Suara tawa Devon yang renyah, tatapan matanya yang mendadak lembut, dan cara dia memanggil nama gue... Sumpah, itu semua merusak sistem kerja otak gue sampai sukses bikin gue insomnia akut.
Gue mengembuskan napas panjang, merapatkan jaket denim yang gue pakai di luar seragam, lalu mulai melangkah malas menyusuri koridor utama sekolah yang mulai ramai. Suara bising khas pagi hari—mulai dari derap langkah kaki, tawa gerombolan anak cowok di depan kelas, sampai suara cempreng anak-anak cewek yang lagi ngegosip—biasanya terdengar biasa aja di telinga gue. Tapi hari ini, entah kenapa semuanya terasa lewat begitu aja. Pikiran gue masih tertinggal di toilet lant** dua yang gelap itu.
"Aira!"
Gue tersentak kaget waktu sebuah lengan tiba-tiba merangkul pundak gue dengan heboh. Pas gue menoleh, ternyata itu Caca, lengkap dengan cengiran lebarnya yang khas, disusul Febby yang berjalan sant** di sebelahnya sambil mengunyah permen karet.
"Pagi-pagi udah ngelamun aja lo. Kesambet s**** toilet baru tahu rasa," celetuk Caca tanpa dosa.
Jantung gue langsung copot denger kata 'toilet'. Gue berdeham canggung, berusaha menetralkan ekspresi wajah gue yang mendadak tegang. "Apaan sih, Ca. Nggak jelas banget. Gue cuma... agak kurang tidur aja."
"Kurang tidur kenapa? Nonton drakor lagi ya lo?" sahut Febby, matanya menyipit curiga menatap kantung mata gue yang emang kelihatan agak samar.
"I-iya, biasa... episode terakhirnya seru banget," bohong gue, sambil membuang muka ke arah lapangan sekolah. Bohong demi kebaikan bersama. Nggak mungkin kan gue jujur kalau gue habis dikurung dua jam bareng Ketua OSIS paling populer dan paling galak seantero sekolah? Bisa-bisa nanti jam istirahat nama gue langsung nangkring di urutan pertama *trending topic* akun *base* sekolah.
"Eh, bentar, Ra. Itu bukannya si Devon?"
Bisikan Caca tiba-tiba membuat tubuh gue kaku seketika. Gue refleks menoleh ke arah depan koridor.
Dan benar aja. Dari arah berlawanan, Devon lagi berjalan ke arah kami. Pagi ini dia kelihatan rapi banget—seperti biasanya. Seragam OSIS-nya tersetrika licin tanpa cela, lengkap dengan ban lengan bertuliskan 'KETUA' yang terpasang kokoh di lengan kanannya. Dia lagi jalan bareng beberapa anggota OSIS lainnya, sambil memegang tumpukan map plastik biru di tangannya. Wajahnya datar, dingin, dan kelihatan berwibawa banget. Benar-benar beda seratus delapan puluh derajat sama Devon yang kemarin malam ketawa lepas gara-gara cerita konyol gue.
Gue menelan ludah dengan susah payah. Mendadak, jarak di antara kami terasa menyempit dengan sangat cepat. Langkah kaki gue mendadak berubah kaku, kayak robot kehabisan oli.
*Aduh, gue harus gimana nih? Harus nyapa nggak? Atau pura-pura main HP aja?* batin gue panik setengah mati.
Saat jarak kami tinggal sekitar tiga meter, Devon mendongak. Pandangan mata kami langsung bertemu.
*Deg.*
Satu detik. Dua detik.
Gue bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua mata tajam itu melebar sedikit, tanda kalau dia juga terkejut melihat gue. Langkah kaki Devon yang tadinya tegap dan konstan, mendadak goyah. Dia kelihatan salah tingkah.
Dan kemudian, hal luar biasa yang nggak pernah gue duga seumur hidup pun terjadi.
Karena terlalu fokus menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikan itu, Devon nggak memperhatikan langkahnya sendiri. Ujung sepatunya tersangkut di undakan ubin yang sedikit menonjol di dekat mading sekolah.
"Eh—!"
Tubuh tegap itu oleng ke depan. Devon refleks mengayunkan tangannya untuk menjaga keseimbangan, yang justru membuat tumpukan map plastik di pelukannya terlepas dan meluncur bebas ke lant** koridor. Lembaran-lembaran kertas di dalamnya langsung berhamburan ke mana-mana.
*SREK! BRUK!*
Suasana koridor yang tadinya bising mendadak senyap seketika. Semua pasang mata langsung tertuju pada Devon, sang Ketua OSIS perfeksionis yang baru saja tersandung dengan cara yang sangat tidak estetis di depan umum.
"Eh, Dev! Lo nggak apa-apa?" tanya salah satu cowok anggota OSIS yang jalan di sampingnya, langsung heboh membantu memunguti kertas yang berserakan.
Muka Devon yang biasanya putih bersih, dalam hitungan detik langsung berubah merah padam sampai ke telinga. Dia berjongkok dengan gerakan super cepat, hampir seperti gerakan refleks orang yang mau menyembunyikan wajahnya. "Nggak apa-apa. Kaki gue cuma... agak kram," jawabnya dengan suara yang terdengar serak dan buru-buru.
Gue yang berdiri nggak jauh dari sana langsung membeku. Mulut gue sedikit menganga, nggak percaya dengan apa yang baru saja gue saksikan. Devon? Tersandung? Salting? Gara-gara melihat gue?
"G***..." gumam Caca di sebelah gue, matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya. "Sejak kapan si Devon bisa se-ceroboh itu? Biasanya kan dia kalau jalan kayak model *catwalk*, tegap bener. Kok hari ini malah kayak anak SD baru belajar jalan?"
"Iya ya," Febby menyenggol lengan gue. "Tapi kok gue ngerasa... tadi sebelum dia jatuh, dia lagi ngelihatin lo deh, Ra? Iya nggak sih?"
Jantung gue langsung berdegup dua kali lipat lebih cepat. "Hah? N-nggak mungkin lah! Mana ada! Dia pasti lagi ngelihat mading di belakang kita kali," sanggah gue dengan suara yang sengaja gue buat senormal mungkin, meskipun dalam hati gue udah kayak kembang api tahun baru yang meletus barengan.
Gue buru-buru menarik lengan Caca dan Febby. "Yuk ah, ma**k kelas. Bentar lagi bel ma**k bunyi, ntar kita telat."
Gue berjalan cepat-cepat melewati Devon yang masih sibuk merapikan kertas-kertasnya. Tapi sebelum benar-benar menjauh, gue sempat melirik ke bawah sekilas. Tepat saat itu, Devon juga mendongak. Kami saling melempar pandangan lagi—kali ini sangat singkat, tapi penuh arti. Devon menggigit bibir bawahnya, kelihatan luar biasa malu dan salah tingkah, sementara gue cuma bisa menahan senyum tipis yang hampir aja lolos dari bibir gue.
***
Selama jam pelajaran pertama dan kedua, fokus gue benar-benar hancur lebur. Bu Endang yang lagi menerangkan rumus trigonometri di depan kelas cuma terdengar seperti suara dengungan lebah di telinga gue. Pandangan gue terus-menerus terlempar ke luar jendela, menatap daun-daun pohon mangga yang bergoyang ditiup angin.
Setiap kali gue mengingat muka merah Devon tadi pagi, dada gue rasanya aneh banget. Ada rasa geli, tapi juga ada rasa hangat yang menjalar pelan.
*Kenapa dia bisa se-salting itu ya? Apa dia juga ngerasain hal yang sama kayak yang gue rasain?*
"Aira."
Gue masih diam, larut dalam lamunan gue sendiri.
"Aira Maharani!"
Sebuah tepukan c**up keras di meja akhirnya sukses menarik gue kembali ke dunia nyata. Gue tersentak kaget dan langsung duduk tegak, mendapati Caca dan Febby sudah berdiri di depan meja gue dengan tangan bersendekap. Di sekeliling kami, kelas sudah sepi. Hanya ada beberapa anak yang masih merapikan buku ke dalam tas.
"Eh? Kok... udah sepi?" tanya gue linglung.
"Ya iyalah sepi! Udah bel istirahat dari lima menit yang lalu, pinter!" Caca menoyor dahi gue gemas. "Lo beneran aneh banget hari ini, Ra. Dari tadi dipanggil Bu Endang buat ngerjain soal di papan tulis aja lo nggak nyaut. Untung gue buru-buru bilang lo lagi sakit perut makanya nggak fokus."
"Oh ya? Duh, *sorry* banget, Ca, Feb. Kepala gue emang agak pusing," dusta gue lagi, sambil memijat pelipis gue yang sebenarnya sama sekali nggak sakit.
Febby menarik kursi kosong di depan meja gue dan duduk menghadap gue. Matanya yang tajam menatap gue lurus-lurus, membuat gue mendadak merasa kayak lagi disidang di kantor polisi. "Ra, jujur deh sama kita. Lo lagi ada masalah ya?"
"Masalah? Masalah apaan? Enggak kok," jawab gue defensif.
"Nggak usah bohong," potong Caca, ikut duduk di sudut meja gue. "Lo tuh biasanya paling heboh kalau jam istirahat. Sekarang ditawarin jajan ke kantin aja lo malah bengong kayak patung pancoran. Terus dari tadi pagi, tiap kali ada yang nyebut nama 'Devon' atau 'OSIS', lo langsung kelihatan tegang banget. Ada hubungannya sama kejadian kemarin sore pas lo bilang mau balikin buku ke perpus kan?"
Deg. Insting cewek emang se-menakutkan itu ya?
Gue menelan ludah, mencoba memikirkan alasan yang ma**k akal. "Ya... kemarin emang gue ketemu Devon di perpus. Terus... dia sempat negur gue karena gue balikin bukunya telat. Iya, cuma itu kok!"
Febby menaikkan satu alisnya, kelihatan sangat tidak puas dengan jawaban gue. "Cuma ditegur karena telat balikin buku? Terus kenapa lo sampai kepikiran kayak gini? Biasanya juga lo cuek bebek kalau dihukum guru BK sekalipun."
"Kan... kan Devon beda. Dia galak banget, lo tahu sendiri," bela gue, berusaha meyakinkan mereka.
Sebelum Caca dan Febby sempat menginterogasi gue lebih jauh, perut gue tiba-tiba berbunyi c**up nyaring, memecah ketegangan di antara kami.
Gue langsung menyengir kuda, merasa terselamatkan oleh alarm alami tubuh gue sendiri. "Tuh kan, perut gue udah demo. Udah yuk, kita ke kantin aja. Gue laper banget."
Caca mendengus pelan, tapi akhirnya menyerah. "Yaudah deh, awas ya lo kalau ada apa-apa nggak cerita sama kita."
"Iya, tenang aja," ucap gue lega, meskipun dalam hati gue meminta maaf karena harus menyimpan rahasia besar ini sendirian untuk sementara waktu.
***
Kantin sekolah siang itu padatnya minta ampun. Antrean di stan bakso Pak Min bahkan sudah mengular sampai dekat tangga. Setelah berjuang melewati kerumunan siswa yang kelaparan, kami akhirnya berhasil mendapatkan satu meja kosong di pojok dekat pagar tanaman pembatas.
"Gue pesen mie ayam aja deh. Lo berdua mau titip apa?" tanya Febby sambil berdiri.
"Gue batagor sama es teh manis," sahut Caca gercep.
"Gue samain kayak Caca aja, Feb. Ini uangnya," kata gue sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan.
Setelah Febby pergi memesan makanan, Caca langsung sibuk dengan ponselnya, sementara gue kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Dan entah ini takdir atau emang kesi**** gue yang hakiki, dari arah pintu ma**k kantin, gue melihat siluet tinggi yang sangat familiar.
Itu Devon. Lagi.
Kali ini dia jalan sendirian, masih dengan seragam OSIS lengkapnya. Kelihatan banget kalau dia lagi nyari tempat duduk yang kosong, tapi karena kantin penuh banget, dia kelihatan agak ragu untuk melangkah ma**k lebih dalam.
Gue buru-buru mengalihkan pandangan, berpura-pura sangat tertarik dengan motif taplak meja di depan gue. Tapi terlambat. Dari sudut mata gue, gue bisa merasakan kalau langkah Devon mengarah ke bagian pojok kantin. Tempat di mana meja gue berada.
"Permisi."
Suara berat dan agak canggung itu terdengar tepat di sebelah meja kami.
Gue mendongak lambat-lambat. Jantung gue rasanya langsung melompat ke tenggorokan begitu melihat Devon sudah berdiri di sana, memegang satu botol minuman isotonik dingin di tangannya. Dia nggak menatap langsung ke mata gue, melainkan menatap ke arah kursi kosong di samping Caca.
Caca yang tadi lagi asyik main HP langsung mendongak. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget melihat sang Ketua OSIS tiba-tiba ada di dekat meja kami. "Eh... iya, Kak Devon? Ada apa?" tanya Caca, mendadak jadi sopan banget.
Devon berdeham pelan. Tangan kirinya yang bebas ma**k ke dalam saku celana, sebuah gestur yang gue tahu banget dia lakukan kalau lagi merasa nggak nyaman atau gugup. "Kursi ini... ada yang nempatin nggak? Meja di depan penuh semua."
"Oh! Nggak ada kok, Kak! Kosong. Pakai aja," jawab Caca dengan nada suara yang sedikit dinaikkan, lalu melirik gue dengan tatapan penuh arti yang bikin gue pengen tenggelam ke dalam mangkok batagor saat itu juga.
"Makasih," kata Devon pendek. Tapi alih-alih mengambil kursi itu dan membawanya ke mejanya sendiri, Devon justru menarik kursi tersebut dan duduk di meja yang sama dengan kami.
Tepatnya, dia duduk persis di hadapan gue.
Suasana di meja kami mendadak berubah hening total, kontras banget dengan kebisingan kantin di sekeliling kami. Gue bisa merasakan atmosfer canggung yang kental langsung menyelimuti area meja ini. Gue hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk merapikan sendok dan garpu di atas meja, sementara Devon tampak sibuk memutar-mutar tutup botol minumannya tanpa benar-benar membukanya.
Gue melirik Caca lewat sudut mata, memberi kode 'tolong selamatin gue' dengan kedipan mata yang heboh. Tapi dasar teman tidak berakhlak, Caca justru pura-pura nggak lihat dan malah asyik mengetik sesuatu di HP-nya dengan senyum-senyum tertahan.
"Ekhem."
Devon berdeham pelan. Suara itu membuat gue refleks mendongak.
"Pagi tadi... lo nggak apa-apa?" tanya Devon tiba-tiba. Suaranya pelan, hampir tenggelam di antara suara bising kantin, tapi terdengar sangat jelas di telinga gue.
Gue mengerjap. "Hah? Pagi tadi?"
"Iya," Devon menggaruk tengkuknya yang sebenarnya nggak gatal. Matanya melirik ke arah lain sebentar sebelum kembali menatap gue. "Yang... pas gue jatuh di koridor. Lo nggak... kaget kan?"
Sumpah, gue hampir aja kelepasan ketawa mendengar pertanyaannya. Jadi dia beneran kepikiran kejadian memalukan tadi pagi sampai harus nanya langsung kayak gini?
"Oh, itu," gue menggigit bibir bagian dalam, berusaha menahan senyum geli yang mati-matian ingin keluar. "Nggak apa-apa kok, Dev. Gue cuma... agak kaget aja. Tumben banget seorang Ketua OSIS bisa kepeleset ubin."
Mendengar jawaban gue yang agak bernada meledek itu, pertahanan 'dingin' Devon langsung runtuh. Dia mengembuskan napas pasrah, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Wajahnya kembali memerah samar, tapi kali ini ada senyum tipis, sangat tipis, yang terukir di sudut bibirnya.
"Gara-gara lo," bisik Devon pelan, hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri.
"Hah? Apa?" tanya gue, nggak begitu mendengar karena bertepatan dengan suara mangkok yang beradu dari meja sebelah.
"Nggak. Nggak ada apa-apa," potong Devon cepat, langsung menegakkan tubuhnya kembali. Dia membuka tutup botol minumannya lalu meminumnya beberapa teguk, berusaha menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang makin kelihatan jelas.
Di sebelah gue, gue bisa mendengar Caca menghela napas panjang dengan dramatis, seolah-olah dia baru saja menyaksikan adegan romantis dari drama korea secara langsung.
Tepat saat itu, Febby kembali dengan membawa nampan berisi pesanan kami. Langkah kakinya sempat berhenti beberapa detik begitu melihat ada Devon di meja kami, sebelum akhirnya dia melanjutkan jalan dengan wajah penuh tanda tanya yang luar biasa besar.
"Ini... pesanannya," kata Febby pelan, meletakkan mangkok batagor di depan gue dan Caca, lalu meletakkan mie ayamnya sendiri di meja. Dia duduk di samping gue, matanya bergantian menatap gue dan Devon dengan pandangan penuh selidik.
"Makasih, Feb," kata gue canggung.
"Iya, sama-sama," sahut Febby lambat-lambat. Dia lalu menoleh ke arah Devon. "Kak Devon... mau gabung makan bareng juga?"
"Nggak, gue cuma numpang duduk bentar. Ini juga mau balik ke ruang OSIS," jawab Devon datar, kembali ke mode 'Ketua OSIS' yang biasa dia tunjukkan di depan umum. Dia berdiri dari kursinya, merapikan seragamnya sekilas, lalu menatap gue untuk terakhir kalinya siang itu.
"Gue duluan, Ra," ucapnya lembut.
"Eh... iya, Dev. Makasih," jawab gue dengan suara yang mendadak cicit seperti anak ayam.
Devon mengangguk pelan ke arah Caca dan Febby sebagai tanda pamit, lalu melangkah pergi meninggalkan area kantin dengan langkah tegap—kali ini dia sangat berhati-hati agar tidak tersandung ubin lagi.
Begitu sosok Devon benar-benar menghilang di balik pintu kantin, Caca dan Febby langsung bergerak serentak. Mereka berdua condong ke arah gue, menatap gue dengan mata yang melebar sempurna dan senyum penuh kemenangan yang mengerikan.
"Aira Maharani," bisik Caca dengan nada mengancam yang dibuat-buat. "Sejak kapan lo panggil dia 'Dev' dan dia panggil lo 'Ra' dengan suara selembut sutra kayak gitu?"
"Dan sejak kapan seorang Devon, manusia paling dingin sesekolah, nanya keadaan cewek dengan muka salting kayak tadi?" sambung Febby, menunjuk-nunjuk wajah gue dengan garpunya. "Jelasin ke kita sekarang juga. Lo utang cerita yang sangat panjang, Aira!"
Gue cuma bisa menatap mangkok batagor di depan gue dengan pasrah, menyadari kalau rahasia tentang apa yang terjadi di dalam kamar mandi selama dua jam itu sepertinya nggak akan bisa gue simpan sendiri lebih lama lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!