**Bab 1: Batas Terakhir di Neo-Jakarta**
Langit di atas Neo-Jakarta tidak pernah benar-benar hitam; ia adalah kanvas kelabu yang sekarat, dikotori oleh pendar neon jingga yang memantul dari kabut polusi elektromagnetik. Di luar sana, gerimis asam mengguyur aspal-aspal retak di Distrik 9, menyisakan bau tembaga bakar yang menyengat paru-paru. Jutaan manusia hidup di bawah bayang-bayang megastruktur korporat yang menjulang tinggi menembus awan, sementara di bawah tanah, di dalam celah-celah beton yang terlupakan, kehidupan merayap layaknya sirkuit yang kelebihan beban.
Di dalam sebuah laboratorium bawah tanah yang tersembunyi di balik dinding reruntuhan stasiun kereta cepat, Elian tidak memedulikan gemuruh kota di atasnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, bercampur dengan debu sisa pembakaran generator kuno yang menderu bising di sudut ruangan. Jemarinya menari dengan kecepatan abnormal di atas papan ketik holografik yang memproyeksikan ribuan baris kode berwarna hijau pudar dan biru kuantum.
"Tolong, bertahanlah..." bisik Elian, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh dengung konstan kipas pendingin superkomputer di hadapannya.
Di atas ranjang bedah modular yang dikelilingi oleh unt**an kabel serat optik, Kara terbaring lemah. Tubuh wanita itu tampak rapuh di bawah sorotan lampu halogen yang berkedip tak stabil. Di pangkal leher Kara, sebuah implan saraf buatan Axiom Corpβperangkat silikon berwarna hitam legamβberkedip dengan cahaya merah pekat yang tidak beraturan. Itu adalah tanda bahaya mutlak. Implan itu tidak lagi berfungsi sebagai jembatan kognitif; ia telah gagal fungsional dan kini tengah memakan habis jaringan otak Kara melalui degradasi saraf ekstrem.
Kulit Kara yang biasanya sehangat madu kini pucat pasi, nyaris transparan, memperlihatkan garis-garis pembuluh darahnya yang berdenyut biru keperakan akibat distorsi sinoptik.
"Elian..." Suara Kara terdengar seperti gesekan kertas pasir, sangat pelan namun mampu menghentikan gerakan jemari Elian seketika.
Elian segera berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Kara yang terasa sedingin es. "Aku di sini, Kara. Aku memegangmu. Jangan menutup matamu. Tetaplah bersamaku."
Kara mencoba tersenyum, namun sudut bibirnya bergetar hebat saat gelombang kejang kecil merambat di sepanjang lengannya. Sensor vital di layar monitor di atas mereka berbunyi nyaring, menampilkan grafik aktivitas otak yang meluncur turun layaknya tebing curam. Integritas kesadaran Kara berada di angka dua belas persen. Dan terus menurun.
"Rasanya... dingin sekali," bisik Kara. Matanya yang sayu berjuang untuk tetap fokus pada wajah Elian. "Kegelapan ini... ia tidak lagi berada di luar, Elian. Ia sudah ada di dalam kepalaku. Merayap, menghapus setiap sudut ingatan yang kupunya."
"Aku tidak akan membiarkannya mengambilmu," tegas Elian dengan nada suara yang bergetar menahan tangis. Ia menatap lekat-lekat mata cokelat Kara yang mulai kehilangan binarnya. "Aku sedang menyiapkan kodenya. Protokol Aegis hampir siap. Ini akan melindungimu. Ini akan mengunci siapa dirimu di tempat yang tidak bisa disentuh oleh Axiom ataupun kegagalan sistem ini."
"Aegis?" Kara berbisik, ada ketakutan yang tersirat dalam nada suaranya. Sebagai sesama ahli neuro-enkripsi, ia tahu persis apa arti protokol itu. "Itu belum diuji, Elian. Itu hanya teori di atas kertas kerja kita... sebuah enkripsi kuantum murni tanpa jangkar fisik. Jika kau salah menghitung satu desimal saja... kesadaranku akan hancur menjadi fraktal tak bermakna di dalam jaringan."
"Aku tidak salah menghitung," ujar Elian, meski dalam hatinya badai keraguan berkecamuk hebat. Ia berdiri kembali, setengah berlari ke arah konsol utama, menatap baris-baris enkripsi yang sedang disusun oleh kecerdasan buatan lokalnya. "Aku merancang Aegis dengan algoritma kunci asimetris tingkat lanjut. Ini bukan sekadar enkripsi; ini adalah pelindung. Jiwamu, kesadaranmu, seluruh memori tentang siapa dirimu akan diisolasi dalam ruang kuantum terenkripsi. Tubuh fisikmu mungkin menyerah pada kegagalan implan korporat ke***** itu, tapi *dirimu*... kau akan tetap hidup."
"Sebagai apa?" tanya Kara, setetes air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi sensor elektroda yang menempel di pipinya. "Sebagai hantu di dalam mesin? Sebagai barisan kode biner yang terjebak dalam memori penyimpanan dingin?"
Elian berhenti mengetik. Pertanyaan itu menghantam dadanya seperti palu godam. Ia menatap Kara, melihat wanita yang telah bersamanya melewati tahun-tahun pelarian dari kejaran korporat, wanita yang bersamanya memimpikan sebuah dunia di mana manusia tidak perlu menjual jiwa mereka pada implan sewaan hanya untuk bisa bertahan hidup.
"Sebagai dirimu yang utuh," jawab Elian lembut, melangkah kembali ke sisi ranjang dan mengusap dahi Kara yang basah oleh keringat dingin. "Hingga aku bisa menemukan cara untuk membangun kembali wadah fisikmu. Hingga aku bisa membebaskanmu sepenuhnya. Aku tidak bisa membiarkanmu mati di sini, Kara. Tidak di tempat kotor ini. Tidak di bawah langit kelabu ini. Cinta kita... ia tidak boleh berakhir di dalam enkripsi yang rusak."
Kara menatap langit-langit laboratorium yang retak, tempat debu-debu mikro berkilauan diterpa cahaya neon. "Aku lelah, Elian. Setiap kali aku mencoba mengingat masa kecil kita di kubah lama, yang kulihat hanyalah distorsi statis. Namamu... terkadang menghilang dari pikiranku selama beberapa detik sebelum kembali lagi dengan rasa sakit yang luar biasa. Jika aku pergi... biarkan aku pergi dengan layak. Sebagai manusia. Bukan sebagai program komputer."
"Tidak!" Elian mencengkeram pundak Kara dengan lembut namun penuh keputusasaan. Air matanya akhirnya jatuh, membasahi punggung tangan Kara. "Aku tidak membiarkanmu menyerah! Kau ingat janji kita di bawah menara transmisi Distrik 3? Kita sepakat untuk menghadapi akhir dunia bersama-sama. Jika kau mati hari ini, kau meninggalkanku sendirian di neraka ini. Aku tidak akan sanggup hidup dalam kesunyian Neo-Jakarta tanpa suaramu."
Kara menatap Elian, melihat kehancuran yang teramat sangat di mata pria itu. Ia tahu keras kepala Elian; ia tahu bahwa bagi Elian, sains bukan lagi sekadar alat bertahan hidup, melainkan satu-satunya iman yang tersisa untuk mempertahankan cinta mereka.
"Elian..." Kara berbisik, suaranya kian melemah, nyaris tak terdengar di atas dengung mesin yang kian m****akkan telinga. "Jika kau melakukan ini... jika aku terbangun di dalam Aegis dan tidak bisa merasaimu... itu akan menjadi neraka yang lebih sunyi daripada kematian."
"Kau akan merasakanku. Aku akan berada di sana, bersamamu. Aku akan mengodekan keberadaanku ke dalam struktur Aegis. Kita akan berada dalam enkripsi yang sama," jawab Elian dengan keyakinan yang dipaksakan.
Alarm pada monitor tiba-tiba melengking tinggi, berubah dari nada putus-putus menjadi satu nada panjang yang mengerikan. Lampu indikator pada implan leher Kara berubah menjadi merah pekat yang berdenyut cepat. Tubuh Kara tiba-tiba menegang, punggungnya melengkung ke atas saat kejutan listrik dari kegagalan sistem saraf menghantam sumsum tulang belakangnya.
"Kara!" teriak Elian.
"Elian... sekarang... sakit sekali...!" Kara menjerit tanpa suara, matanya terbelalak menatap hampa, sementara jemarinya mencengkeram sprei ranjang hingga koyak.
Elian tahu tidak ada waktu lagi untuk berdebat. Detik-detik terakhir sedang berdetak menujut nol. Jika ia tidak bertindak sekarang, kematian biologis otak Kara akan menghancurkan seluruh data kognitifnya secara permanen, menyisakan hanya jasad tanpa jiwa.
Dengan tangan yang gemetar namun dipandu oleh keputusasaan yang mutlak, Elian berlari ke konsol utama. Ia menarik sebuah kabel antarmuka tebal dengan ujung konektor kuantum berlapis emas murni. Ia mendekati Kara, lalu dengan presisi seorang ahli bedah saraf yang sedang berpacu dengan maut, ia menancapkan konektor tersebut ke port sekunder di bawah implan leher Kara yang rusak.
Suara desis hidrolik terdengar saat koneksi terkunci.
"Menginisiasi Protokol Aegis," ucap Elian dengan suara bergetar, namun tegas. Ia menatap layar monitor besar yang kini dipenuhi oleh visualisasi unt**an DNA digital yang berputar cepat, mencoba membungkus sinyal-sinyal saraf Kara yang sekarat.
*WARNING: Neural integrity at 4%. High risk of cognitive fragmentation.* Peringatan berwarna merah berkedip di seluruh layar komputer.
"Abaikan peringatan. Paksa transfer," perintah Elian pada sistemnya.
Jari-jarinya menekan tombol eksekusi akhir pada konsol. Seketika, laboratorium itu seakan kehilangan daya selama satu detik; lampu-lampu meredup, digantikan oleh pendar biru elektrik yang memancar dari kabel-kabel kuantum yang mengelilingi ranjang Kara. Suara dengung mesin berubah menjadi raungan frekuensi tinggi yang m****akkan telinga.
Di atas ranjang, tubuh Kara perlahan melandai kembali. Matanya yang terbuka lebar perlahan-lahan mulai kehilangan fokus fisiknya, digantikan oleh pendar cahaya biru redup yang memancar dari pupilnyaβtanda bahwa kesadarannya sedang ditarik paksa, dikonversi dari impuls bio-listrik menjadi kode-kode kuantum yang tidak dapat dihancurkan.
Elian kembali ke sisi Kara, memegang wajah wanita itu dengan kedua tangannya yang basah oleh air mata. "Ikuti cahayanya, Kara. Ma**klah ke dalam Aegis. Aku akan segera menyusulmu. Aku berjanji..."
Bibir Kara bergerak tanpa suara, mengucapkan satu kata terakhir yang terpotong oleh statis sebelum matanya perlahan tertutup rapat. Denyut nadi di pergelangan tangannya melemah, lalu berhenti sepenuhnya. Monitor vital di dinding menampilkan garis lurus berwarna hijau yang dingin disert** bunyi konstan yang menandakan kematian klinis.
Namun, di layar utama di hadapan Elian, sebuah baris status baru muncul, berkilau dalam warna emas kuantum yang megah di tengah kegelapan sistem:
*PROSES TRANSFER PROTOKOL AEGIS: 100% SELESAI.*
*STATUS KESADARAN: TERENKRIPSI DAN TERISOLASI.*
Elian melepaskan napas yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Ia jatuh berlutut di samping tubuh Kara yang sudah tak bernyawa, membenamkan wajahnya di tangan wanita itu yang kini benar-benar dingin. Di sekelilingnya, Neo-Jakarta terus bergemuruh dalam polusi dan kehampaan, tetapi di dalam kegelapan laboratorium itu, sebuah dunia baru yang tak kasat mata baru saja lahir dari sisa-sisa jiwa yang menolak untuk mati.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!