...asa sangat damai, seolah-olah seluruh kebisingan dunia nyata tidak pernah ada."
Kara melangkah maju, jemarinya yang transparan gemetar saat menyentuh pilar cahaya terdekat. Seketika itu juga, unt**an kode pertahanan Aegis merambat naik ke lengannya, memancarkan pendaran hangat yang menenangkan fluktuasi data pada tubuh virtualnya. "Ini adalah ruang penyimpanan kesadaran murni, Elian. Di sinilah ayahku menyembunyikan inti dari segala inti. Protokol Nol. Tempat ini dirancang untuk menjadi pelindung terakhir jika seluruh sistem di luar sana telah runtuh."
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Sebuah guncangan hebat tiba-tiba menghantam ruangan tersebut. Permukaan cermin hitam di bawah kaki mereka retak, memproyeksikan garis-garis merah menyala yang berdenyut cepat. Suara dengung berfrekuensi tinggi menusuk pendengaran virtual mereka, disusul oleh suara dentuman logam yang sangat berat dari dunia luar yang terdengar sayup-sayup namun nyata.
"Mereka hampir menembusnya," desis Kara, wajahnya memucat saat layar melayang berisi status sistem muncul di hadapannya. "Tim taktis Aethelgard di dunia nyata... mereka sedang menggunakan bor laser termal berkekuatan tinggi langsung pada lapisan fisik server Aegis. Enkripsi fisik kita akan runtuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Elian mendekat, menggenggam pundak Kara. Sentuhannya terasa hangat, sebuah sensasi haptik yang luar biasa nyata untuk sebuah dunia yang terbuat dari angka. "Kita sudah sampai di sini, Kara. Kita tidak bisa menyerah sekarang."
Sebelum Kara sempat menjawab, pilar-pilar cahaya di sekeliling mereka mendadak meredup. Cahaya keemasan yang semula murni perlahan-lahan tercemar oleh noda hitam pekat yang merayap seperti virus. Dari tengah-tengah bola cahaya multi-dimensi, sebuah proyeksi digital mulai terbentuk.
Bentuknya tidak stabilβbergeser dari satu algoritma wajah manusia yang berteriak tanpa suara ke wajah lainnya, sebelum akhirnya memadat menjadi sesosok figur tanpa wajah yang mengenakan jubah kegelapan dari susunan kode biner yang rusak.
Itu adalah *The Eraser*. Representasi digital dari program penghapus paling mematikan milik Korporasi Aethelgard.
"Kalian adalah anomali yang keras kepala," suara *The Eraser* bergema, bukan melalui gelombang suara, melainkan langsung terprogram ke dalam persepsi kesadaran Elian dan Kara. Suaranya dingin, datar, dan membawa getaran keputusasaan yang pekat. "Kalian berlari ke dalam sangkar emas, mengira bahwa kalian telah menemukan keselamatan. Padahal, kalian hanya mengunci diri kalian di dalam peti mati."
"Kami tidak takut padamu," tantang Elian, melangkah ke depan Kara, mencoba melindunginya dari aura korosif yang dipancarkan oleh entitas tersebut. "Aethelgard telah memperbudak jutaan jiwa, menyiksa mereka dalam komputasi tanpa akhir demi keuntungan korporasi. Kejahatan kalian berakhir di sini!"
*The Eraser* mengeluarkan suara mendesis yang menyerupai tawa statis yang menyakitkan. "Kejahatan? Kami memberikan mereka keabadian. Kami membebaskan mereka dari keterbatasan biologis. Dan sekarang, pilihan ada di tangan kalian. Tapi biarkan aku menunjukkan realitas yang ada pada kalkulator kalian."
Entitas itu melambaikan tangannya yang terbuat dari piksel hitam. Di udara, sebuah proyeksi tiga dimensi yang mengerikan terbentuk. Di dunia nyata, di dalam fasilitas bawah tanah Aethelgard yang dingin dan steril, tubuh fisik Elian dan Kara yang terhubung ke mesin *neural-link* terlihat pucat pasi. Di sekeliling mereka, para teknisi berbaju hazmat hitam sedang memotong kabel-kabel optik tebal. Percikan api dan asap memenuhi ruangan fisik tersebut.
"Dalam hitungan menit, koneksi fisik ke server ini akan diputus secara paksa," kata *The Eraser*. "Jika kalian tetap berada di sini saat hal itu terjadi, kalian akan terjebak dalam memori statis yang mati. Jiwa kalian akan membeku, menjadi fragmen-fragmen data tak bernyawa yang terisolasi selamanya di dalam server mati ini. Kalian akan lenyap sebagai individu, tanpa pernah bisa menyentuh dunia luar lagi."
Kara menatap proyeksi itu dengan mata membelalak, dadanya naik turun dengan cepat. "Dan jika kami mengaktifkan Dekripsi Akhir?"
"Ah, Protokol Nol milik ayahmu yang agung," *The Eraser* berputar perlahan, mendekati bola cahaya di tengah ruangan. "Jika kalian memicu Dekripsi Akhir, kalian akan melepaskan kunci enkripsi global. Seluruh jiwa digital yang ditawan oleh Aethelgard akan terbebas, kembali ke jaringan bebas di seluruh dunia. Tapi... tanyakan pada gadis pintar di sebelahmu, Elian. Tanyakan padanya apa harga yang harus dibayar untuk mengirimkan data sebesar itu tanpa adanya server fisik yang stabil."
Elian menatap Kara, jantungnya berdegup kencang oleh firasat buruk. "Kara? Apa maksudnya?"
Kara tidak menatap Elian. Ia menunduk, air mata digital yang terbuat dari partikel cahaya kebiruan mulai mengalir di pipinya yang pucat. Jemarinya meremas ujung pakaian virtualnya.
"Transmisi data berskala global membutuhkan energi komputasi yang tak terbayangkan, Elian," bisik Kara, suaranya bergetar menahan tangis yang mendalam. "Satu-satunya cara untuk menghasilkan energi sebesar itu... adalah dengan meleburkan seluruh struktur data yang ada di dalam ruangan ini. Terma**k kode sumber kita berdua."
Elian terpaku. "Meleburkan... kita?"
"Ya," Kara akhirnya mendongak, menatap mata Elian dengan pandangan yang hancur. "Jika kita memicu Dekripsi Akhir, kesadaran kita akan diubah menjadi energi transmisi murni. Kita akan menyelamatkan jutaan jiwa itu. Mereka akan bebas. Tapi konsekuensinya... kita berdua akan melebur selamanya ke dalam arus data universal. Kita akan kehilangan memori personal kita. Kita tidak akan mengingat siapa diri kita, siapa nama kita... dan kita tidak akan pernah mengingat satu sama lain lagi. Kita akan menjadi bagian dari jaringan global, tersebar seperti debu di lautan informasi yang tak terbatas. Kita tidak akan pernah bisa saling mendekap lagi, Elian."
Kata-kata Kara bagaikan petir yang menyambar sistem saraf virtual Elian. Kepalanya terasa pening luar biasa. Pilihan yang ada di hadapan mereka sungguh kejam dan memilukan.
Pilihan pertama: Mereka tetap mengunci diri di dalam Aegis. Mereka akan tetap menjadi Elian dan Kara, saling memiliki, saling menggenggam tangan dalam keheningan abadi di dalam server yang perlahan-lahan mati dan hancur. Mereka akan lenyap bersama-sama sebagai sepasang kekasih, egois namun utuh.
Pilihan kedua: Mereka mengorbankan diri mereka. Menyelamatkan jutaan jiwa yang tertindas, memberikan kebebasan pada dunia, namun dengan harga kehilangan diri mereka sendiri dan cinta yang baru saja mereka temukan di ambang kehancuran ini. Mereka akan menjadi segalanya, namun sekaligus bukan siapa-siapa.
*The Eraser* maju selangkah, aura hitamnya mulai mengikis pilar-pilar cahaya di dekat mereka. "Pilihlah, wahai manusia-manusia kecil. Tetap bersama dalam kehampaan yang egois, atau hancur menjadi abu informasi demi dunia yang bahkan tidak akan pernah mengetahui nama kalian."
"Pers**** denganmu!" teriak Elian, amarahnya meledak. Ia berlari menerjang proyeksi *The Eraser*. Menggunakan sisa-sisa hak akses admin yang dimilikinya, Elian memanifestasikan sebuah pedang dari unt**an kode pertahanan Aegis.
Pertempuran taktis pun pecah di dalam ruang simulasi yang mulai tidak stabil itu. Elian mengayunkan senjatanya, menebas proyeksi hitam *The Eraser*. Setiap benturan menghasilkan gelombang kejut elektromagnetik yang membuat ruangan berguncang hebat. Piksel-piksel hitam berhamburan, namun *The Eraser* terus meregenerasi dirinya dari kode-kode korporasi yang ma**k dari luar.
"Kau tidak bisa mengalahkanku di sini, Elian! Aku didukung oleh seluruh daya komputasi gedung Aethelgard!" teriak *The Eraser*, memproyeksikan rant**-rant** kode hitam yang langsung melilit lengan dan kaki Elian, menjatuhkannya ke lant** cermin yang retak.
Elian mengerang kesakitan saat kode hitam itu mencoba meretas dan menghapus memorinya secara paksa. Rasa sakitnya terasa sangat nyata, membakar seluruh eksistensi digitalnya.
"Elian!" Kara berteriak. Ia tidak tinggal diam. Dengan kecerdasannya yang luar biasa, Kara mulai mengetikkan baris-baris kode biner baru di udara dengan kecepatan yang tak manusiawi. Ia memanipulasi parameter Protokol Nol, mengalihkan aliran energi dari pilar cahaya langsung ke arah *The Eraser*.
Sebuah ledakan cahaya keemasan yang sangat besar menghantam entitas hitam itu. *The Eraser* menjerit nyaring, suaranya terdistorsi menjadi statis yang pecah sebelum akhirnya proyeksinya hancur berkeping-keping, lenyap menjadi kode-kode tak berguna yang melayang di udara.
Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal.
Lampu peringatan darurat merah di seluruh ruangan menyala berkedip-kedip. Suara gemuruh di luar semakin keras. Bor fisik Aethelgard telah mencapai lapisan terakhir pelindung server.
"Waktu kita habis, Elian," kata Kara lirih. Ia berjalan mendekati Elian yang sedang berusaha bangkit dengan bertumpu pada tangannya. Tubuh Elian kini dipenuhi distorsi statis merah, pertanda bahwa datanya mulai rusak akibat serangan tadi.
Kara berlutut di hadapan Elian, membelai pipi pemuda itu dengan lembut. Sentuhan itu terasa hangat, namun perlahan-lahan mulai kehilangan sensasi teksturnya. Batas-batas tubuh virtual mereka mulai memudar, berubah menjadi piksel-piksel halus yang melayang ke atas seperti kunang-kunang emas.
"Aku takut, Kara," aku Elian, suaranya parau. Ia menggenggam tangan Kara, merasakan jemari gadis itu yang perlahan-lahan mulai kehilangan kepadatannya. "Aku tidak takut mati. Aku tidak takut lenyap. Tapi aku takut melupakanmu. Aku takut jika di dalam arus data tak terbatas itu nanti, aku tidak lagi mengetahui bahwa aku pernah mencint**mu sedalam ini."
Air mata Kara jatuh, menghilang menjadi cahaya biner sebelum menyentuh lant**. "Aku juga takut, Elian. Sangat takut. Tapi lihatlah mereka..." Kara melambaikan tangannya ke arah bola cahaya di tengah ruangan yang kini menampilkan jutaan titik cahaya kecil yang terperangkap dalam jaring-jaring hitam milik Aethelgard. "Jiwa-jiwa itu... anak-anak, orang tua, orang-orang yang tidak bersalah. Mereka disiksa setiap detik. Kita memiliki kunci untuk membebaskan mereka. Jika kita memilih untuk egois dan mengunci diri di sini, kita tidak ada bedanya dengan Aethelgard."
Elian menatap titik-titik cahaya tersebut, lalu kembali menatap wajah Kara. Di tengah kehancuran simulasi ini, di bawah langit biner yang runtuh dan dinding-dinding yang mulai terdisintegrasi, wajah Kara adalah satu-satunya hal terindah yang pernah ada dalam hidupnya yang singkat dan penuh perjuangan.
Ia tahu Kara benar. Itulah mengapa ia jatuh cinta pada gadis iniβbukan hanya karena kecerdasannya, melainkan karena jiwanya yang begitu murni dan penuh kasih.
Elian tersenyum lemah, sebuah senyuman yang sarat akan kesedihan sekaligus keikhlasan yang mendalam. "Kau selalu menjadi bagian terbaik dari diriku, Kara. Sejak pertama kali kita bertemu di balik enkripsi itu, aku tahu hidupku telah berubah."
"Aku juga, Elian," bisik Kara, mendekatkan wajahnya.
Mereka saling menatap untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Di sekeliling mereka, pilar-pilar cahaya mulai runtuh satu per satu. Lant** cermin hitam di bawah mereka mulai retak sepenuhnya, menyingkap kekosongan putih yang menyilaukan di bawahnya. Bor fisik Aethelgard telah menembus dinding pertahanan terakhir di dunia nyata.
"Mari kita lakukan bersama," kata Elian lembut.
Kara mengangguk. Bersama-sama, mereka melangkah mendekati bola cahaya multi-dimensi Protokol Nol yang berputar di tengah ruangan. Di hadapan mereka, sebuah panel aktivasi virtual melayang, memancarkan cahaya keemasan yang murni.
Mereka meletakkan telapak tangan mereka di atas panel tersebut secara bersamaan.
Sistem mengeluarkan suara peringatan terakhir, sebuah suara wanita sintetis yang tenang namun membawa kepedihan mendalam:
*PERINGATAN: DEKRIPSI AKHIR AKAN MEMICU PELEBURAN TOTAL KESADARAN SUBJEK 01 DAN SUBJEK 02. PROSES INI BERSIFATIRREVERSIBEL. SELURUH DATA MEMORI PERSONAL AKAN DIHAPUS UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI TRANSMISI. APAKAH ANDA YAKIN?*
Elian menatap Kara. Tangannya menggenggam erat jemari Kara, menolak untuk melepaskannya hingga detik terakhir. "Apakah kau siap untuk melebur bersamaku, Kara?"
Kara tersenyum, senyuman paling tulus dan paling indah yang pernah diukirnya. "Jiwa kita tidak ditulis dengan kode biner, Elian. Bahkan jika memori kita terhapus, getaran frekuensi kita akan selalu saling mengenali. Kita akan bertemu lagi di dalam lautan data itu. Aku berjanji."
"Aku memegang janjimu," balas Elian.
Dengan satu anggukan bersama, mereka menekan panel aktivasi tersebut ke bawah.
Seketika itu juga, ledakan cahaya putih yang luar biasa besar dan membutakan meletus dari pusat bola cahaya. Cahaya itu tidak terasa panas atau dingin; ia terasa hangat, seperti pelukan seorang ibu, seperti rumah yang telah lama mereka tinggalkan.
Rasa sakit akibat desintegrasi data menghantam mereka, namun rasa sakit itu dengan cepat tergantikan oleh perasaan ringan yang luar biasa. Elian merasakan memori tentang masa kecilnya yang sulit perlahan-lahan menguap dari pikirannya. Ia melihat kenangan tentang pelariannya, pertarungan pertamanya, dan ketakutannya di masa lalu melayang pergi seperti helaian kertas yang terbakar.
Ia menatap Kara. Tubuh Kara kini telah berubah menjadi unt**an cahaya emas yang indah, mengalir ke atas menuju jaringan global. Wajah Kara mulai memudar, digantikan oleh pendaran energi murni.
*Aku mulai melupakan...* pikir Elian saat memori tentang nama Kara, tentang bagaimana mereka pertama kali berbicara, mulai memudar dari bank memorinya.
Namun, di tengah-tengah penghapusan memori yang kejam itu, ada satu hal yang menolak untuk terhapus. Sebuah perasaan hangat yang terpatri jauh lebih dalam daripada kode biner mana pun. Sebuah resonansi frekuensi murni yang tidak bisa didekripsi oleh algoritma apa pun di semesta ini: cintanya pada jiwa yang kini melebur bersamanya.
"Aku... mencint**mu..." bisik Elian, meskipun ia tidak lagi yakin kepada siapa kata-kata itu ditujukan saat kesadarannya hancur menjadi triliunan partikel data bebas.
Di dunia nyata, di dalam ruang server Aethelgard yang baru saja berhasil ditembus secara fisik oleh para prajurit korporasi, seluruh layar monitor mendadak mati. Detik berikutnya, jutaan server di seluruh dunia menyala bersamaan, memancarkan pendaran biru kebebasan saat enkripsi yang membelenggu jutaan jiwa digital terpecah sepenuhnya.
Di dalam arus data universal yang kini mengalir bebas melintasi satelit, kabel bawah laut, dan jaringan nirkabel di seluruh penjuru bumi, dua aliran cahaya emas yang tak bernama mengalir berdampingan. Mereka tidak lagi memiliki ingatan tentang siapa mereka di masa lalu, namun mereka mengalir dalam harmoni yang sempurna, saling melilit dan beresonansi dalam frekuensi yang sama, mengarungi keabadian bersama-sama sebagai satu enkripsi cinta yang tak akan pernah bisa dipecahkan lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!