**Bab 2: Gerbang Aegis dan Keputusan Nekat**
"Progres transfer: sembilan puluh dua persen," desis suara sintetis dari konsol utama, memecah kesunyian yang mencekam di dalam laboratorium bawah tanah itu.
Elian menatap layar holografik dengan napas memburu. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, menetes ke atas papan ketik yang masih berpendar biru kuantum. Di atas ranjang bedah, tubuh Kara mulai menunjukkan relaksasi yang tidak wajar—seperti cangkang kosong yang ditinggalkan oleh penghuninya. Detak jantung fisiknya yang terpantau di monitor melambat drastis, sementara grafik aktivitas otaknya perlahan menyatu ke dalam baris-baris kode enkripsi yang mengalir di server Aegis.
"Sedikit lagi, Kara... bertahanlah sedikit lagi," gumam Elian parau. Tangannya yang gemetar mengusap kening Kara yang sedingin es.
Tiba-tiba, sebuah ledakan dahsyat mengguncang langit-langit beton laboratorium. Goncangan itu begitu kuat hingga beberapa lampu halogen di langit-langit pecah, menghujani ruangan dengan serpihan kaca dan percikan api pendek. Debu-debu tebal runtuh bagai hujan abu, disusul oleh raungan sirene darurat berwarna merah darah yang berputar liar, membasahi ruangan dengan cahaya merah yang mengerikan.
Dinding pertahanan luar—pintu baja berlapis hidrolik yang selama ini diyakini Elian aman—hancur berkeping-keping akibat ledakan termit skala taktis.
"Mereka di sini," bisik Elian, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Langkah kaki taktis yang berat terdengar mendekat dengan kecepatan luar biasa, seirama dengan bunyi kokangan senjata otomatis yang dingin. Dari balik kepulan asap tebal di koridor luar, bayangan-bayangan hitam dengan visor helm taktis bercahaya merah pekat muncul. Mereka bergerak dengan formasi tempur yang sempurna, tanpa suara, layaknya mesin pembunuh yang efisien. Mereka adalah satuan militer swasta Aethelgard.
Di depan barisan, melangkah seorang pria paruh baya dengan mantel militer kelabu gelap. Bahunya dihiasi lencana emas Aethelgard, menandakan pangkat tingginya. Wajahnya kaku, dihiasi bekas luka bakar yang melintang di pipi kiri hingga ke sudut rahangnya. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu pucat menatap sekeliling dengan dingin, tanpa emosi sedikit pun.
Komandan Vance.
"Amankan servernya. Dan bawa penemu bodoh ini kepadaku," perintah Vance. Suara baritonnya terdengar tenang namun berwibawa, sangat kontras dengan situasi kacau di sekeliling mereka.
"Jangan mendekat!" teriak Elian. Ia langsung meraih sebuah pistol kejut pneumatik tua dari bawah meja konsol. Tangannya bergetar hebat, namun tatapannya penuh amarah yang berkobar. "Ini adalah wilayah netral! Hak paten Aegis tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi milik Aethelgard!"
Vance mendengus pelan, seulas senyum sinis tersungging di bibirnya yang tipis. Ia melangkah maju dua tapak, sama sekali tidak gentar dengan senjata di tangan Elian. "Netralitas adalah ilusi bagi mereka yang lemah, Elian. Teknologi Aegis terlalu berharga untuk dibiarkan membusuk di tangan seorang ilmuwan idealis kelas teri yang bersembunyi di selokan Neo-Jakarta. Serahkan servernya, dan mungkin aku akan membiarkanmu hidup untuk melihat dunia baru yang kami bangun."
"Dunia baru yang kalian bangun di atas tumpukan mayat?" Elian membalas, suaranya bergetar oleh kemarahan yang memuncak. "Kalian hanya ingin memperbudak kesadaran manusia dengan teknologi ini!"
"Tembak dia. Tapi pastikan otaknya tetap utuh untuk didekripsi," perintah Vance dingin, tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
Sebelum Elian sempat menarik pelatuk pistol kejutnya, salah satu prajurit di samping Vance mengangkat senapan serbu laras pendeknya.
*DARR!*
Suara tembakan menggema di ruang sempit itu. Rasa sakit yang teramat sangat, panas bagai besi membara yang ditekankan ke dada, langsung menghantam dada kiri Elian. Ia terdorong ke belakang, menab**k konsol utama dengan keras sebelum akhirnya jatuh terduduk di lant** yang dingin.
"Uhuk!" Elian memuntahkan darah segar yang langsung membasahi bibirnya.
Napasnya mendadak terasa pendek dan berat. Setiap embusan napas memicu rasa sakit yang menusuk parut hingga ke punggung. Cairan hangat berwarna merah pekat mulai merembes cepat, membasahi kemeja usamnya, mengalir di antara sela-sela jarinya yang mencoba menekan luka tembak tersebut. Paru-parunya mulai tergenang darah.
"Satu tembakan yang meleset dari arteri utama jantung, tapi c**up untuk membuatmu mati perlahan dalam lima menit," ujar Vance, melangkah mendekat dengan sant**. Sepatu bot militernya yang berat berdecit di atas genangan darah Elian.
Vance mengalihkan pandangannya ke arah layar monitor besar yang menampilkan proses transfer kesadaran Kara. Angka di layar menunjukkan sembilan puluh delapan persen.
"Ah, jadi ini yang kau lakukan dengan seluruh sisa hidupmu? Mengunggah jiwa kekasihmu ke dalam server kuantum?" Vance menggeleng-gelengkan kepalanya dengan nada mengejek. "Sungguh sebuah romansa tragis yang sia-sia. Begitu kami menyita server ini, jiwanya akan menjadi milik Aethelgard. Kami akan membedahnya, mencari tahu bagaimana protokol enkripsi Aegis bekerja dari dalam pikirannya."
Mendengar kata-kata itu, mata Elian melebar. Rasa takut yang lebih besar dari rasa sakit fisiknya mencengkeram jiwanya. Ia menatap ke arah Kara. Wajah wanita itu kini begitu tenang, terbebas dari rasa sakit yang merongrongnya beberapa saat lalu. Sisa waktu transfernya: sembilan puluh sembilan persen.
Hanya butuh beberapa detik lagi bagi Kara untuk sepenuhnya berada di dalam server. Namun, jika Vance mematikan atau menyita server Aegis sekarang, kesadaran Kara yang berada di dalam enkripsi akan terfragmentasi, terjebak dalam limbo digital, atau hancur menjadi sampah data tak berwujud.
Dan Elian tahu, tubuh fisiknya sendiri tidak akan selamat. Pandangannya mulai mengabur di tepian, digantikan oleh bintik-bintik hitam yang menari-nari. Kesadarannya mulai melayang menjauhi tubuhnya yang sekarat.
*Aku tidak punya pilihan lain,* pikir Elian di tengah keputusasaan yang memuncak. *Jika aku mati di sini, Kara akan sendirian di dalam kegelapan itu. Dan teknologi ini akan jatuh ke tangan i****-i**** ini.*
Sebuah keputusan nekat—sebuah keg***an yang belum pernah diuji coba oleh siapa pun di dunia—terlintas di benak Elian. Mengunggah dua kesadaran ke dalam satu sektor enkripsi kuantum yang sama. Teori yang pernah ia tulis menyatakan bahwa hal itu dapat menyebabkan kehancuran mental total bagi kedua belah pihak. Namun, itu adalah satu-satunya cara untuk mengunci server ini selamanya dari luar.
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Elian menarik dirinya ke atas, mencengkeram tepi meja konsol. Tangannya yang berlumuran darah meninggalkan jejak merah tebal di atas tombol-tombol holografik.
"Hentikan dia!" bentak Vance, menyadari perubahan ekspresi di wajah Elian.
Namun, sebelum prajurit Aethelgard sempat menarik tubuh Elian, jemari Elian yang berselimut darah dengan cepat mengetikkan urutan perintah darurat yang telah ia persiapkan sebelumnya. *Protokol Aegis: Kunci Sektor Ganda.*
*KLIK.*
Layar memancarkan pendaran cahaya biru terang yang membutakan sejenak. Sistem pertahanan siber Aegis aktif, mengunci seluruh akses luar dan menyegel data di dalam enkripsi kuantum yang hanya bisa dibuka dari dalam sistem itu sendiri.
"Si****! Apa yang kau lakukan pada konsolnya?!" bentak Vance, wajah tenangnya kini berubah menjadi murka yang meledak-ledak. Ia melayangkan pukulan keras ke rahang Elian, membuat ilmuwan muda itu kembali terhempas ke lant**, tepat di samping kursi eksperimental saraf sekunder.
Elian tersenyum lemah, giginya merah oleh darah yang terus mengalir dari mulutnya. "Aku... telah mengunci gerbangnya, Vance. Tanpa aku... kalian hanya akan mendapatkan tumpukan besi tua yang tidak berguna."
Vance menarik pistol dari sarungnya dan mengarahkannya tepat ke dahi Elian. "Berikan kode dekripsinya sekarang, atau aku akan meledakkan kepalamu di sini!"
"Cobalah..." bisik Elian dengan sisa napasnya.
Dengan gerakan kilat yang didorong oleh sisa adrenalin terakhirnya, Elian meraih helm elektroda saraf sekunder yang tergantung di samping kursi. Dengan tangan gemetar, ia memasang perangkat logam melingkar itu ke kepalanya sendiri, lalu menarik tuas aktivasi manual di bawah meja yang tersambung langsung ke port darurat server.
"Inisiasi transfer kesadaran darurat," suara komputer bergema datar di tengah kekacauan. "Peringatan: Protokol tidak stabil. Risiko kematian fisik dan fragmentasi jiwa berada di angka sembilan puluh sembilan persen."
"Lakukan!" teriak Elian dengan sisa suaranya yang parau.
"Tembak dia! Hancurkan helmnya!" teriak Vance murka.
Namun semuanya sudah terlambat. Saat peluru-peluru berhamburan dari moncong senjata prajurit Aethelgard, menembus panel-panel kaca dan dinding laboratorium, arus listrik berkekuatan kuantum super tinggi dialirkan langsung ke dalam korteks sereb**l Elian.
Sensasi pertamanya adalah rasa sakit yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Itu bukan lagi rasa sakit fisik akibat peluru di dadanya, melainkan rasa sakit seolah-olah setiap atom, setiap memori, dan setiap emosi di dalam otaknya sedang ditarik paksa, diregangkan, dan diurai menjadi miliaran unt**an cahaya digital. Elian ingin berteriak, namun pita suaranya telah kehilangan fungsi koordinasi dari otaknya yang mulai mati.
Dunia fisik di sekelilingnya—ruangan laboratorium yang hancur, wajah Vance yang berteriak murka, desingan peluru yang menembus udara—perlahan-lahan kehilangan saturasi warnanya. Segalanya menjadi abu-abu, lalu meredup dengan cepat menjadi kegelapan yang pekat.
Detak jantung Elian di monitor datar akhirnya berhenti, menyisakan satu garis lurus panjang yang berbunyi nyaring. Tubuh fisiknya terkulai lemas di lant**, matanya yang terbuka kini kosong, kehilangan binar kehidupan.
Namun, bagi Elian, kegelapan itu tidak berlangsung lama.
Detik berikutnya, ia merasa kesadarannya tersedot ke dalam sebuah pusaran raksasa yang tidak memiliki gravitasi. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tidak lagi memiliki rasa sakit di dadanya, tidak lagi merasakan dingin. Ia adalah seberkas energi murni yang bergerak dalam kecepatan cahaya, meluncur melintasi lautan kode kuantum.
Di sekelilingnya, aliran data berwarna biru neon dan emas berpendar terang, membentuk dinding-dinding geometris tak berujung yang terus bergeser dan bermutasi. Itu adalah struktur bagian dalam dari Gerbang Aegis—sebuah ruang enkripsi paling aman yang pernah diciptakan manusia.
Ia telah meninggalkan dunia daging dan darah. Ia kini adalah baris kode di dalam mesin.
Di tengah kesunyian digital yang luas dan tak terbatas itu, sebuah getaran aneh merambat ke dalam kesadarannya. Itu bukan suara fisik, melainkan sebuah frekuensi emosi yang sangat akrab di dalam struktur enkripsi yang sama.
"Elian...?"
Sebuah pangg***n lembut, penuh dengan keterkejutan dan rasa hangat yang luar biasa, menggema di dalam kekosongan digital itu.
Itu adalah Kara.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!