**Bab 3: Satu Wadah, Dua Jiwa**
Sunyi.
Kesunyian yang begitu pekat hingga rasanya seperti zat padat yang menekan gendang telinga. Tidak ada lagi raungan sirene darurat yang m****akkan telinga. Tidak ada lagi guncangan ledakan termit, kepulan asap mesiu, atau derap langkah sepatu bot pa**kan taktis Aethelgard yang dingin. Semua kebisingan itu lenyap, digantikan oleh keheningan yang janggal.
Elian mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh indranya adalah aroma petrichorβbau tanah basah setelah diguyur hujan asam yang sangat khas dari sudut-sudut jalan Neo-Jakarta. Ia merasakan permukaan beludru abu-abu yang familier di bawah punggungnya.
Dengan napas yang masih tersengal, Elian bangkit dan terduduk. Matanya melebar saat menyapu sekeliling.
Ia berada di dalam apartemennya. Apartemen minimalis bersubsidi di Sektor 4 Neo-Jakarta yang selama ini ia tinggali bersama Kara. Di atas meja kopi kayu di depannya, sebuah cangkir keramik retak masih menyisakan kepulan uap tipis dari kopi sintetis yang belum sempat diminum. Di luar jendela kaca besar yang membentang dari lant** hingga langit-langit, gedung-gedung pencakar langit yang dilapisi papan iklan holografik raksasa menjulang tinggi, menembus kabut polusi malam yang berwarna ungu keperakan.
"Tidak mungkin..." gumam Elian. Ia menyentuh permukaan meja kopi. Tekstur kayunya terasa nyata. Dinginnya udara dari unit pendingin ruangan terasa menerpa kulit lengannya yang te*******. "Apakah semua itu hanya mimpi buruk? Vance... Aethelgard... laboratorium bawah tanah..."
"Elian?"
Suara itu lembut, namun getarannya sanggup menghentikan detak jantung Elian.
Elian menoleh dengan cepat ke arah sudut ruangan, dekat rak buku tua yang separuh kayunya sudah lapuk. Di sana, berdiri seorang wanita berambut hitam sebahu yang mengenakan sweter rajut longgar berwarna krem.
"Kara..." Bisikan itu lolos begitu saja dari tenggorokan Elian yang tercekat.
Air mata Elian merebak tanpa bisa ditahan. Ia segera bangkit berdiri, mengabaikan rasa pusing yang tiba-tiba mendera kepalanya, dan berlari menerjang wanita itu. Ia mendekap tubuh Kara erat-erat. Kehangatan tubuh wanita itu, aroma familier dari sampo melati yang biasa digunakannya, semua terasa begitu nyata hingga dada Elian sesak oleh kebahagiaan yang meluap-luap.
"Kamu di sini... kamu selamat," bisik Elian di ceruk leher Kara, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. "Aku berhasil memindahkanmu sebelum mereka menghancurkan lab. Kita aman sekarang, Kara. Kita di rumah."
Namun, Kara tidak membalas pelukannya dengan kehangatan yang sama. Tubuhnya kaku dalam dekapan Elian. Perlahan, Kara mendorong bahu Elian, menatapnya dengan sepasang mata bulat yang dipenuhi oleh kebingungan yang mendalam.
"Elian, lihat aku," kata Kara, suaranya bergetar. "Lihat tanganku."
Elian menurunkan pandangannya. Saat itulah ia menyadari ada sesuatu yang ganjil. Ketika tangan Kara menyentuh bahunya, tidak ada jeda taktil yang normal. Alih-alih merasakan tekanan fisik dari luar, Elian merasakan sensasi sentuhan itu *dari dalam dirinya sendiri*. Seolah-olah dialah yang sedang menyentuh bahunya sendiri, namun dengan perspektif orang lain.
Lebih mengerikan lagi, saat ia memperhatikan jemari Kara yang lentik, ujung-ujung jarinya sesekali memudarβterdistorsi menjadi garis-garis kode biner hijau berpendar sebelum kembali memadat menjadi kulit manusia.
Elian melangkah mundur, napasnya kembali memburu. Ia melihat ke sekeliling apartemen dengan pandangan meneliti. Papan iklan holografik di luar jendela tiba-tiba berkedip kasar. Tulisan bahasa Mandarin dan Inggris di papan itu hancur menjadi karakter acak, lalu kembali normal dalam sepersekian detik. Kopi di atas meja tidak lagi mengepulkan uap; uap itu membeku di udara, menjadi piksel-piksel statis yang diam.
"Ini bukan Neo-Jakarta," bisik Kara, suaranya mulai diliputi kepanikan. "Ini... ini simulasi. Elian, apa yang telah kamu lakukan?"
Elian menatap telapak tangannya sendiri. Ia mencoba mencubit lengannya. Rasa sakitnya ada, namun terasa tumpul, seperti sinyal yang terlambat dikirim ke otaknya.
"Aku... aku terpaksa melakukannya, Kara," jawab Elian, suaranya tercekat di tenggorokan. "Pa**kan Vance menerobos ma**k. Pintu hidrolik hancur. Transfer memorimu sudah mencapai sembilan puluh dua persen saat mereka mendob**k. Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku membiarkan mereka mengambil server Aegis, mereka akan menghapusmu, atau menjadikan kesadaranmu sebagai properti militer mereka. Aku harus menyelesaikan transfernya."
"Lalu kenapa kamu ada di sini?" tanya Kara, melangkah mendekat. Matanya menatap Elian dengan ketakutan yang menuntut jawaban. "Jika kamu menyelesaikan transferku ke dalam Aegis... bagaimana dengan tubuhmu di lab? Di mana kamu, Elian?"
Elian memejamkan mata. Ingatan terakhir di laboratorium bawah tanah itu menghantamnya seperti gada besi.
*Moncong senjata pa**kan Aethelgard yang dingin. Wajah kejam Vance. Rasa sakit yang luar biasa saat ia memutuskan untuk menarik tuas darurat dan memasang elektroda neural sekunder ke pelipisnya sendiri, menghubungkan otaknya secara langsung ke port transfer kuantum yang belum diuji coba untuk dua subjek.*
"Aku menyalin diriku sendiri," aku Elian lirih. "Aku menghubungkan kesadaranku ke dalam enkripsi yang sama untuk menyelamatkan kunci Aegis... dan bersamamu."
"Kamu g***!" teriak Kara. Suaranya bergema aneh di dalam ruangan, menciptakan distorsi audio yang melengking rendah di sudut-sudut apartemen. "Aegis dirancang untuk menampung satu kesadaran terenkripsi! Satu wadah, Elian! Kamu memaksakan dua pikiran ke dalam satu arsitektur kuantum!"
"Aku tidak punya pilihan, Kara! Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu!"
"Tapi sekarang kita terjebak!"
Tiba-tiba, sebuah gelombang rasa sakit yang tajam menghantam kepala Elian. Namun, itu bukan rasa sakit fisik. Itu adalah gumpalan emosi yang pekat dan asing yang tiba-tiba merangsek ma**k ke dalam lobus frontalnya.
Ketakutan yang luar biasa. Rasa dingin yang mencekam dari ranjang bedah laboratorium. Keputusasaan saat menyadari tubuh fisiknya telah mati.
"Ahg!" Elian mengerang, berlutut di lant** sambil memegangi kepalanya.
"Elian? Ada apa?!" Kara berteriak, ikut berlutut di sampingnya. Namun, saat Kara mendekat, ia juga langsung memegangi kepalanya sendiri. Napasnya terengah-engah, wajahnya memucat. "Apa... apa ini? Kenapa aku bisa merasakan... rasa bersalahmu? Elian, kamu menyalahkan dirimu sendiri atas kematianku? Kamu... kamu merasa seperti seorang pembunuh?"
Elian mendongak, matanya terbelalak menatap Kara. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku tidak mengetahuinya dari kata-katamu!" jerit Kara, air mata digital mulai mengalir di pipinya, berkilau seperti cairan perak sebelum menghilang di udara. "Aku bisa mendengarnya! Pikiranmu... suaramu berdengung di dalam kepalaku seperti tawon! Aku bisa merasakan penyesalanmu yang begitu dalam hingga dadaku rasanya mau pecah!"
"Kara, aku bisa merasakan ketakutanmu juga," gumam Elian dengan ngeri. "Aku bisa merasakan ketakutanmu pada kegelapan... ketakutanmu bahwa kita tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Aku merasakannya di dalam dadaku sendiri."
Sadar atau tidak, batasan ego di antara mereka mulai runtuh. Enkripsi Aegis yang seharusnya melindungi integritas data masing-masing jiwa, justru mulai meleburkan mereka karena keterbatasan ruang memori. Di dalam wadah digital ini, tidak ada lagi dinding pemisah. Emosi Elian adalah emosi Kara; trauma Kara adalah siksaan bagi Elian.
"Tidak, tidak, tidak..." Kara menggelengkan kepalanya dengan histeris. Ia mencoba mundur, menjauh dari Elian. "Menjauhlah dariku! Pikiranku... aku mulai kehilangan kendali atas ingatanku sendiri! Aku melihat memori masa kecilmu di pinggiran kota! Aku melihat pemakaman ayahmu... aku merasakannya seolah-olah itu adalah ayahku yang meninggal!"
"Kara, tenanglah! Jika kamu panik, enkripsinya akan tidak stabil!" Elian mencoba memperingatkan, namun ia sendiri kesulitan mengendalikan detak 'jantung' virtualnya yang berpacu liar.
Ketidakstabilan emosi mereka langsung berdampak pada dunia simulasi di sekitar mereka.
*KREK.*
Sebuah retakan besar berwarna neon hijau muncul di tengah-tengah lant** kayu apartemen, menjalar dengan cepat menuju dinding. Sofa abu-abu di sudut ruangan tiba-tiba terdistorsi, berubah menjadi tumpukan kubus biner yang berjatuhan sebelum lenyap sama sekali. Langit-langit apartemen mulai memudar, menampakkan langit hitam tak berujung yang dipenuhi oleh miliaran baris kode enkripsi Aegis yang berputar-putar seperti badai tornado raksasa.
"Dunia ini runtuh!" teriak Kara, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gemuruh frekuensi tinggi yang m****akkan telinga.
"Pegang tanganku, Kara!" Elian mengulurkan tangannya yang gemetar.
"Aku takut, Elian! Aku tidak tahu siapa diriku lagi jika kita terus menyatu seperti ini!" Kara menangis, namun di tengah keputusasaannya, ia tetap mengulurkan tangannya.
Saat jemari mereka bersentuhan, sebuah sensasi mengejutkan menyengat mereka berdua. Itu bukan sekadar sentuhan fisik, melainkan benturan dua arus informasi raksasa. Memori Kara tentang ibunya yang sakit, bercampur dengan memori Elian saat pertama kali merumuskan kode Aegis. Dua garis hidup yang berbeda kini dipaksa untuk mengalir di dalam satu pipa yang sempit.
Dunia simulasi di sekeliling mereka berguncang hebat. Apartemen minimalis Neo-Jakarta itu kini hancur berkeping-keping, runtuh ke dalam kehampaan digital yang gelap. Mereka berdua melayang di tengah-tengah badai enkripsi yang bergolak, terikat satu sama lain hanya oleh genggaman tangan dan keterhubungan paksa dari dua jiwa yang kini berbagi satu wadah yang sama.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!