**Bab 6: Rahasia yang Terkupas**
Udara di sekitar mereka mendadak berubah dingin, mengalirkan sensasi sedingin es yang menusuk hingga ke dasar kesadaran digital mereka. Universitas Neo-Jakarta yang semula tampak begitu nyata perlahan-lahan mulai kehilangan koherensi strukturnya. Tiang-tiang beton gedung fakultas melengkung, memanjang seperti bayangan di kala senja, sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan partikel piksel yang melayang ke udara.
"Aegis... sistem ini tidak stabil," bisik Elian, jemarinya bergerak di udara kosong, mencoba memanggil antarmuka kontrol yang biasanya muncul dalam sekali kedipan mata. Namun, yang didapatkannya hanyalah kilatan peringatan berwarna merah darah yang berkedip cepat. "Enkripsi pelindung kita retak. Kara, kita harus menahan fluktuasi emosi kita, atau tempat ini akan runtuh sepenuhnya."
Namun, Kara tidak mendengar peringatan itu. Matanya terpaku pada sebuah titik di tengah koridor yang kini terdistorsi. Cahaya keemasan sore hari tiba-tiba digantikan oleh pencahayaan neon biru yang steril dan dingin. Lingkungan di sekitar mereka bergeser dengan cepat, membangun kembali sebuah ruang baru dari tumpukan memori yang terfragmentasi.
Itu adalah sebuah laboratorium rahasia yang sangat dikenal Karaβlaboratorium bawah tanah milik Aethelgard.
Di tengah ruangan virtual yang baru terbentuk itu, berdiri sesosok bayangan semi-transparan yang sangat mereka kenal. Itu adalah Elian dari masa lalu, tiga tahun yang lalu. Wajahnya tampak tirus, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya, mencerminkan keputusasaan yang mendalam. Di hadapannya, terdapat sebuah konsol peladen utama yang mengendalikan proyek penelitian kompetitor Aethelgard, *Prometheus System*.
"Elian..." Kara melangkah mundur, tangan kanannya menutup mulutnya sendiri saat menyadari apa yang sedang terjadi. "Apa... apa yang sedang kau lakukan di sana?"
"Kara, jangan lihat!" Elian berteriak, mencoba berlari untuk menghalangi pandangan Kara, namun kakinya seolah tertanam di lant** piksel yang mulai mencair. Aegis memaksa mereka untuk menjadi saksi dari memori yang paling dijaga ketat ini.
Dalam proyeksi memori tersebut, Elian masa lalu tampak mema**kkan sebuah diska lepas berenkripsi tinggi ke dalam peladen utama. Jari-jarinya gemetar hebat, namun ekspresi wajahnya mengeras oleh tekad yang mengerikan.
"Maafkan aku, Aris," bisik Elian masa lalu di dalam memori tersebut, merujuk pada Dr. Aris, kepala peneliti proyek saingan yang juga merupakan sahabat dekatnya sendiri. "Tetapi mereka menawarkan dana penuh untuk proyek restorasi saraf jika aku berhasil menyingkirkan kalian. Aku tidak punya pilihan lain. Kara tidak punya waktu lagi."
Dengan satu tekanan tombol enter, seluruh sistem *Prometheus* mengalami gagal fungsi total. Data penelitian bertahun-tahun lenyap dalam hitungan detik, memicu kebakaran digital yang menghancurkan reputasi Dr. Aris dan seluruh timnya secara permanen. Keesokan harinya, Aethelgard mengumumkan pengalihan seluruh dana hibah penelitian saraf kepada proyek Elian.
Proyeksi memori itu memudar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara Kara dan Elian yang sekarang.
Kara menatap Elian dengan tatapan yang bercampur antara ngeri, kecewa, dan tidak percaya. Air mata digital yang hangat mulai mengalir di pipinya, menguap menjadi partikel cahaya sebelum menyentuh tanah.
"Kau menyabotase mereka, Elian?" suara Kara bergetar, begitu lirih namun terdengar sangat tajam di dalam ruang kognitif itu. "Dr. Aris... dia kehilangan segalanya. Karirnya hancur, keluarganya menderita, dan dia bahkan hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Semua itu... karena kau?"
Elian mengepalkan tangannya erat-eram, menundukkan kepala saat rasa bersalah yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat di sudut tergelap jiwanya kini meledak keluar. "Aku melakukannya untukmu, Kara! Kau sekarat! Kerusakan saraf kognitifmu sudah mencapai tahap terminal. Tanpa dana dan fasilitas dari Aethelgard, kau tidak akan bertahan melintasi minggu itu! Aku harus memilih antara moralitas atau nyawamu!"
"Tapi tidak dengan cara menghancurkan hidup orang lain!" teriak Kara, emosinya meledak, memicu gelombang kejut statis yang membuat dinding-dinding simulasi di sekitar mereka bergetar hebat. "Kau membuatku hidup di atas penderitaan orang lain, Elian! Setiap detik yang kuhabiskan di dalam Aegis ini sekarang terasa seperti dosa yang terus menggerogotiku!"
"Lalu apa yang harus kulakukan?!" Elian membalas berteriak, matanya memerah karena rasa sakit yang teramat sangat. "Membiarkanmu mati? Membiarkanmu lenyap dari dunia ini sementara aku hanya berdiri menonton? Aku akan membakar seluruh dunia ini jika itu bisa menyelamatkanmu, Kara!"
Sebelum Kara sempat membalas, lant** di bawah mereka kembali bergetar dahsyat. Warna biru laboratorium itu mendadak luntur, berganti menjadi warna abu-abu yang suram. Kali ini, Aegis merespons lonjakan emosi Kara dengan menarik memori lain dari sisi yang berlawanan.
Sebuah apartemen kecil yang hangat muncul di hadapan mereka. Di sudut ruangan, versi memori dari Kara sedang duduk di tepi tempat tidur, menatap layar terminal pribadinya dengan tatapan kosong. Tangannya memegang sebuah jurnal digital yang terkunci.
"Sekarang giliranmu, Kara," bisik Elian, suaranya mendadak terdengar dingin saat menyadari memori siapa yang kini terekspos.
Di dalam proyeksi tersebut, suara Kara masa lalu terdengar membacakan entri jurnalnya secara verbal, sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan saat pikirannya sedang kacau.
"Hari ini Elian melamarku lagi. Dia tersenyum begitu tulus, tapi di dalam hati, aku merasa begitu sesak," suara Kara dari masa lalu menggema di ruangan itu, terdengar begitu putus asa. "Aku mencint**nya, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa terus bersamanya. Hubungan ini... terasa seperti sangkar yang perlahan mencekikku. Obsesinya padaku begitu besar hingga aku merasa kehilangan diriku sendiri. Terkadang, aku berharap penyakit ini membawaku pergi lebih cepat, atau aku punya keberanian untuk mengemas barang-barangku dan pergi jauh darinya sebelum semuanya terlambat."
Proyeksi itu padam dengan suara klik yang tajam, menyisakan kegelapan yang pekat di sekitar mereka.
Elian tertegun. Tubuhnya mendadak terasa lemas, seolah seluruh energi kognitifnya telah dikuras habis. Ia menatap Kara dengan tatapan kosong, dikhianati oleh kenyataan yang baru saja ia saksikan.
"Kau... ingin pergi?" tanya Elian, suaranya nyaris berupa bisikan yang patah. "Di saat aku mengorbankan jiwaku, reputasiku, dan masa depanku untuk meretas takdir demi menyembuhkanmu... kau justru menganggapku sebagai penjara? Kau ingin meninggalkanku?"
Kara menggelengkan kepalanya dengan cepat, langkahnya mendekat namun terhenti oleh dinding tak terlihat yang tercipta dari keraguan mereka. "Elian, itu... itu terjadi sebelum aku jatuh sakit sepenuhnya. Aku merasa tertekan oleh caramu memperlakukanku seolah aku adalah satu-satunya hal yang berharga di dunia ini. Kau mengabaikan dirimu sendiri, kau mengabaikan mimpimu, hanya untukku! Itu terlalu berat untuk kupikul!"
"Itu karena aku mencint**mu, Kara!" sentak Elian, kemarahan yang bercampur dengan rasa sakit yang mendalam meluap dari dadanya. "Tetapi ternyata, bagimu, cintaku adalah sebuah beban. Semua perjuanganku... semua kejahatan yang kulakukan untuk mempertahankanmu di sini... tidak ada artinya bagimu. Kau bahkan lebih memilih mati daripada harus bersamaku!"
"Bukan begitu, Elian! Kau tidak mengertiβ"
"Aku mengerti dengan sangat jelas!" potong Elian, suaranya meninggi. "Aku telah mengorbankan kemanusiaanku demi seorang wanita yang bahkan tidak yakin apakah dia ingin berada di sisiku!"
Ledakan emosi yang begitu hebat dari keduanya menciptakan kekacauan resonansi dalam sistem Aegis. Kode enkripsi pelindung yang selama ini menyembunyikan tanda kognitif mereka dari deteksi luar kini mulai pecah berkeping-keping. Langit virtual di atas mereka retak, menampilkan celah-celah hitam yang diisi oleh unt**an kode fraktal berwarna merah menyala yang bergerak dinamis.
Dengungan berfrekuensi tinggi yang mengerikan kembali terdengar, kali ini jauh lebih keras dan menyakitkan daripada sebelumnya.
"Sinyal kognitif kita... meluap keluar," bisik Kara, menatap tangannya yang kini mulai mengalami *glitch*, berkedip antara bentuk manusia dan jalinan angka biner yang tidak beraturan. "Elian, energinya terlalu tidak stabil. Aegis tidak bisa meredamnya."
Dari celah langit yang retak, sebuah sulur raksasa berwarna merah darah mulai menjulur turun. Sulur itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, memindai ruang virtual dengan sensor kognitif yang mematikan.
*The Eraser.*
Virus pemusnah itu telah mendeteksi fluktuasi energi yang masif dari pertengkaran mereka. Keberadaan mereka kini benar-benar terancam untuk dihapus secara permanen dari jaringan.
"Dia di sini," ujar Elian, kemarahannya mendadak berganti dengan ketakutan yang dingin saat melihat sulur merah itu mulai mendekati posisi mereka. "Kara, kita harus menyatukan kembali frekuensi pikiran kita. Sekarang! Jika kita terus bertengkar, pelindung ini akan runtuh sepenuhnya, dan kita akan terhapus!"
Kara menatap Elian, matanya masih memancarkan luka yang mendalam dari rahasia yang baru saja terungkap, namun ia juga tahu bahwa kematian digital bukanlah jalan keluar yang mereka inginkan. Di tengah badai piksel dan ancaman virus yang mendekat, mereka berdua berdiri berhadapan, membawa beban kebenaran yang kini telah merubah segalanya di antara mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!