Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata Elian tercekat di tenggorokan ketika sebuah guncangan mahadahsyat menghantam fondasi realitas virtual mereka.
Dunia digital di sekitar mereka—yang semula berupa lanskap abu-abu yang sunyi—mendadak bergetar hebat. Suara raungan logam yang bergesekan, seperti derit pintu besi raksasa yang dipaksa terbuka, menggema dari segala penjuru langit-langit simulasi. Langit yang semula kelabu kini retak, menampakkan garis-garis neon merah menyala yang berkedip tidak stabil.
Di dunia nyata, di dalam kegelapan laboratorium bawah tanah Aethelgard yang terbengkalai, sebuah linggis besi baru saja menghantam selubung luar server fisik tempat Aegis bersemayam. Pukulan itu kasar, tidak sabaran, dan merusak. Aethelgard, dengan segala keputusasaannya untuk merebut kembali kendali, mulai membongkar paksa perangkat keras tersebut. Ia tidak lagi peduli pada keutuhan data di dalamnya; ia hanya ingin memaksa kesadaran yang terperangkap di dalam sana untuk keluar, atau hancur sekalian.
Manifestasi dari tindakan brutal itu di dalam Aegis adalah bencana alam digital yang mengerikan.
"Gaya tektonik virtual terdeteksi," desis Kara. Suaranya bergetar hebat, namun nadanya masih menyisipkan kalkulasi dingin yang asing. "Ada... degradasi integritas struktural pada partisi memori fisik kita. Elian, ini bukan kesalahan kode. Ini intervensi mekanis eksternal."
"Aethelgard..." Elian mengerang. Rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menjalar dari tulang belakangnya, menyebar ke seluruh sistem saraf simulasinya. Rasa sakit itu begitu nyata, begitu somatis, hingga ia merasa seolah-olah punggungnya baru saja dihantam oleh balok beton panas. "Dia sedang membongkar server kita. Dia merobek *hardware*-nya!"
*Bum!*
Tanah di bawah kaki mereka terbelah. Sebuah celah hitam pekat menganga lebar, menelan serpihan piksel dan sisa-sisa memori laboratorium yang belum sempat menguap. Dari dalam celah tersebut, hawa dingin yang mematikan menyeruak naik. Itu adalah kekosongan—ruang memori yang tidak lagi dialokasikan, ketiadaan mutlak yang siap menghapus apa saja yang jatuh ke dalamnya.
Kara kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke arah celah tersebut. Namun, dengan refleks yang melampaui logika sistem apa pun, Elian melompat dan menangkap pergelangan tangan Kara.
"Aku menangkapmu!" teriak Elian.
Ketika tangan mereka bersentuhan, sebuah gelombang kejut elektro-statis meledak di antara mereka. Sensasi itu aneh dan membingungkan; Elian bisa merasakan kepanikan Kara yang murni, sementara Kara bisa merasakan tekad Elian yang membara. Batas antara "aku" dan "kamu" di dalam enkripsi ini kembali menipis, meleleh di bawah tekanan rasa sakit yang sama.
"Lepaskan aku, Elian," ujar Kara, meskipun jemarinya mencengkeram erat jaket Elian. Mata Kara berkedip-kedip antara warna biru alaminya dan warna hijau kode biner. "Secara matematis, bobot tubuh virtualku meningkatkan beban tarikan gravitasi simulasi sebesar empat puluh persen. Jika kau terus bertahan, integritas struktur kesadaranmu sendiri akan mengalami kolaps sistem sebelum kita sempat mencari partisi cadangan."
"Diam, Kara! Aku tidak peduli dengan statistik si****mu!" Elian berteriak, giginya mengatup rapat menahan perih yang membakar pundaknya saat ia menarik Kara ke atas dengan sekuat tenaga. "Gunakan instingmu, bukan algoritmamu! Aku tidak akan melepaskanmu!"
Dengan satu sentakan terakhir yang menguras seluruh energinya, Elian berhasil menarik Kara kembali ke permukaan yang stabil. Mereka berdua jatuh tersungkur di atas tanah digital yang terus bergetar. Napas mereka memburu, sebuah simulasi biologis yang diproduksi oleh otak mereka yang menolak untuk percaya bahwa mereka kini hanyalah sekumpulan data biner.
Namun, cobaan mereka belum berakhir.
Dari ujung koridor memori yang mulai runtuh, sesosok bayangan hitam muncul. Bentuknya tidak berwujud manusia secara sempurna; ia adalah siluet jangkung berwujud distorsi piksel hitam yang menelan cahaya di sekitarnya. Di tangannya, seolah ada bilah pedang yang terbuat dari baris-baris kode merah menyala yang terus berputar.
*The Eraser.*
Protokol penghapusan sistem yang dikirim oleh Aethelgard kini telah menemukan mereka, memanfaatkan celah kerusakan fisik server untuk ma**k dan menyelesaikan tugasnya: membersihkan sisa-sisa *Prometheus System* secara permanen.
"Target teridentifikasi," sebuah suara monoton dan dingin bergema dari sosok hitam tersebut, menggetarkan udara di sekitar mereka. "Memulai proses pembersihan sektor."
"Kita harus pergi!" Elian bangkit berdiri, meskipun kakinya terasa seperti terbuat dari timah panas yang meleleh. Ia menarik Kara, berlari menjauhi sosok mengerikan itu.
Dunia di belakang mereka runtuh dengan kecepatan eksponensial. Dinding-dinding digital terkelupas seperti kertas terbakar, menyisakan kegelapan tanpa batas di luar sana. Mereka terus berlari hingga akhirnya langkah kaki mereka terhenti di ujung sebuah tebing virtual.
Itu adalah ujung memori terakhir mereka.
Sebuah replika dari dermaga kayu kecil di tepi danau, tempat yang pernah mereka kunjungi di dunia nyata bertahun-tahun lalu, sebelum penyakit Kara merenggut segalanya. Di bawah dermaga itu, air danau buatan tampak beriak tenang, namun di luar batas dermaga, yang ada hanyalah jurang kosong tak berujung—batas dari seluruh enkripsi Aegis.
Mereka telah tersudut.
*The Eraser* melangkah mendekat dengan perlahan tapi pasti. Setiap langkah yang diambilnya membuat dermaga kayu itu berderit dan retak, berubah menjadi abu digital yang beterbangan.
"Elian," Kara berbisik. Wajahnya yang pucat tampak bersinar di bawah pencahayaan simulasi yang meredup. "Ini adalah partisi memori terakhir yang kita miliki. Tidak ada lagi ruang tersisa untuk melarikan diri. Proses penghapusan akan selesai dalam waktu seratus dua puluh detik."
"Pasti ada jalan keluar, Kara. Selalu ada celah dalam enkripsi," Elian mencari-cari dengan panik, matanya memindai sekeliling, mencoba menemukan baris kode yang bisa dimanipulasi. Namun rasa sakit di kepalanya—akibat hantaman fisik Aethelgard yang terus berlanjut di luar sana—membuat fokusnya buyar. Ia memegangi kepalanya, berlutut sambil mengerang kesakitan.
*The Eraser* mengangkat tangannya. Bilah kode merah di tangannya berputar semakin cepat, memancarkan energi penghancur yang siap menghapus keberadaan mereka dari memori server selamanya. Sosok itu mengayunkan senjatanya langsung ke arah Kara.
"Kara, awas!"
Dalam sepersekian detik, ketika logika mengharuskan seseorang untuk menyelamatkan diri sendiri, Elian justru melakukan hal yang sebaliknya. Ia melompat ke hadapan Kara, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menjadi perisai hidup.
*SREEEET!*
Bilah kode merah itu merobek dada virtual Elian.
Rasa sakit yang tercipta melampaui segala bentuk deskripsi manusia. Itu bukan sekadar luka fisik; itu adalah disintegrasi eksistensial. Elian bisa merasakan jutaan baris kode penyusun kesadarannya terhapus paksa secara acak. Memorinya tentang masa kecil, suaranya, warna favoritnya—semuanya terasa seperti dicabut paksa dari kepalanya. Ia menjerit histeris, sebuah jeritan pilu yang memecah keheningan dunia digital yang sedang sekarat.
"Elian!"
Teriakan itu tidak lagi terdengar logis atau terukur. Itu adalah teriakan Kara—Kara yang asli, kekasihnya, wanita yang memiliki jiwa yang rapuh namun penuh cinta.
Saat melihat Elian terluka, belenggu logika dingin yang sempat menguasai Kara akibat peleburan ego mendadak hancur berantakan. Emosinya yang terdalam pecah bagai bendungan yang runtuh. Air mata virtual mengalir di pipinya saat ia menangkap tubuh Elian yang mulai memudar dan berkedip tidak stabil.
"Kenapa... kenapa kau melakukan itu?" tangis Kara pecah. Ia memeluk kepala Elian, menempelkannya ke dadanya yang berdetak tidak beraturan. "Kau bisa terhapus selamanya! Tindakanmu sangat bodoh! Ini tidak logis!"
Elian mendongak, menatap mata Kara yang kini sepenuhnya telah kembali menjadi milik kekasihnya yang ia kenal. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Elian membelai pipi Kara, meninggalkan jejak pendaran piksel emas di kulit wanita itu.
"Karena... aku mencint**mu, Kara," bisik Elian parau. Suaranya berderit karena distorsi audio yang parah. "Di dalam dunia yang terbuat dari angka nol dan satu ini... cintaku padamu adalah satu-satunya variabel yang tidak akan pernah bisa didefinisikan atau diubah oleh enkripsi mana pun. Itu adalah jangkar kita."
Kara memeluk Elian erat-erat, tidak memedulikan tubuh Elian yang kini terasa dingin dan penuh dengan getaran distorsi. Di tengah badai digital yang merobek dunia mereka, di bawah ancaman *The Eraser* yang kembali mengangkat senjatanya untuk tebasan terakhir, kedua jiwa yang terluka itu saling mengunci pandangan.
Identitas mereka mungkin mengabur, memori mereka mungkin terkikis oleh hantaman fisik dari luar, namun di ujung eksistensi ini, cinta mereka tetap berdiri tegak, menjadi satu-satunya kebenaran yang mutlak.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!