"Pers**** dengan matematikamu, Kara!" teriak Elian.
Ujung jarinya memutih, mengirimkan sinyal distorsi merah di sepanjang lengannya saat ia mencengkeram pergelangan tangan Kara dengan sisa-sisa kekuatannya yang kian menipis. Di atas mereka, langit simulasi terus runtuh, menjatuhkan pecahan-pecahan kode biner yang menyala seperti hujan meteor yang merusak. Rasa sakit fisik akibat pembongkaran paksa server di dunia nyata menghantam sistem saraf virtual Elian seperti sengatan listrik ribuan volt. Kepalanya serasa mau pecah, dan pandangannya berbayang kabur, namun ia menolak untuk melepaskan genggamannya.
"Jika aku melepaskanmu," Elian terengah-engah, suaranya parau dan terputus-putus oleh desis statis, "maka tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di sini. Kita ma**k bersama, kita keluar bersama!"
Dengan satu sentakan terakhir yang menguras seluruh memori penyangga dalam sistemnya, Elian menarik Kara ke atas. Tepat saat tubuh Kara mendarat di atas tanah virtual yang tidak stabil, seluruh fondasi di bawah mereka runtuh sepenuhnya. Mereka jatuh.
Namun, alih-alih tenggelam ke dalam kekosongan tanpa dasar yang dingin, mereka justru meluncur melewati lapisan demi lapisan enkripsi yang tebal dan rumit. Itu seperti jatuh menembus badai cahaya keemasan. Angka-angka runik, matriks matematika kompleks, dan unt**an kode pertahanan Aegis berputar di sekeliling mereka, membentuk pusaran yang melindung mereka dari kehancuran di luar.
Hingga akhirnya, gravitasi artifisial kembali berfungsi dengan lembut.
Mereka mendarat di atas permukaan yang halus seperti cermin hitam. Keadaan di sekeliling mereka mendadak hening seketika. Raungan logam bergeser dan derit kehancuran dari server yang dibongkar paksa di dunia nyata terdengar sangat jauh, teredam oleh dinding pertahanan yang tak kasatmata.
Elian bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya, dadanya naik-turun meniru refleks bernapas manusia, meski tubuhnya di sini hanyalah proyeksi data. Ia menoleh ke arah Kara. Gadis itu masih terbaring, menatap langit-langit ruang virtual tersebut dengan mata yang memancarkan pendaran cahaya biru-hijau yang tidak stabil.
"Kara? Kau bisa mendengarku?" Elian merangkak mendekat, menyentuh bahu Kara.
Kara mengerjap. Ketika ia bangkit dan duduk, lingkungan di sekitar mereka mulai bereaksi terhadap kehadiran mereka. Cahaya keemasan berpendar dari bawah permukaan cermin hitam, merambat ke atas membentuk pilar-pilar cahaya silinder yang megah. Di tengah ruangan, sebuah struktur geometris yang melayang perlahan berputarβsebuah bola cahaya multi-dimensi yang memancarkan kehangatan yang terasa sangat nyata di kulit virtual mereka.
"Ini..." Kara berbisik, suaranya bergetar bukan karena ketakutan, melainkan karena pengenalan yang mendalam. "Ini adalah inti terdalam dari Aegis. Protokol Nol."
Elian berdiri, membantu Kara untuk tegak kembali. Ia menatap bola cahaya itu dengan takjub. "Tempat apa ini sebenarnya, Kara? Rasanya... berbeda dari bagian simulasi lainnya. Di sini terasa hangat. Sangat manusiawi."
Kara berjalan mendekati bola cahaya tersebut. Langkah kakinya meninggalkan riak keemasan di atas lant** cermin. "Karena ini bukan sekadar benteng pertahanan, Elian. Selama ini, Aethelgard mengira aku menciptakan Aegis untuk menjadi perisai data militer terbaik di dunia. Mereka mengira ini adalah senjata enkripsi mutlak untuk mengunci informasi."
Kara mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah bola cahaya. Saat jemarinya mendekat, bola itu merekah bagai kelopak bunga digital, menampilkan ribuan unt**an kode yang berdenyut selayaknya detak jantung manusia. Di dalam denyutan itu, terdapat rekaman memori, emosi, mimpi, dan kesadaran yang terkompresi dengan sangat indah.
"Ini adalah benih," lanjut Kara, air mata virtual mulai menggenang di sudut matanya yang indah. "Sebelum tubuh fisikku diserang penyakit degeneratif saraf itu, sebelum pikiranku perlahan mati di dunia nyata, aku menyadari bahwa kesadaran manusia tidak harus terkungkung oleh daging dan darah yang fana. Aegis dirancang untuk menjadi bahtera. Sebuah benih evolusi di mana kesadaran manusia dapat tumbuh, saling terhubung tanpa sekat kebohongan, dan melampaui batas-batas kematian fisik. Ini adalah langkah berikutnya dari kemanusiaan kita."
Elian terpaku. "Kau menciptakan sebuah surga digital... sebelum kau jatuh sakit."
"Ya. Tapi surga ini tidak boleh dikuasai oleh satu korporasi seperti Aethelgard. Jika mereka berhasil merebutnya, mereka tidak akan membebaskan manusia; mereka akan memperbudak jiwa-jiwa di dalam sini, menjadikannya komoditas, menyaring emosi kita demi keuntungan," ujar Kara pilu.
Tiba-tiba, sebuah konsol holografis muncul di hadapan mereka berdua. Di atas permukaan konsol tersebut, sebuah tombol virtual berwarna merah redup berpendar, dikelilingi oleh rant** kode pertahanan terakhir yang kini mulai retak akibat kerusakan server fisik di luar.
Di atas tombol itu, tertulis sebuah instruksi sistem dalam huruf-huruf cahaya:
`[OPSI: DEKRIPSI AKHIR - AKTIFKAN PENYEBARAN GLOBAL GLOBAL_SEED_AEGIS_V.1]`
"Dekripsi Akhir..." Elian mengeja tulisan tersebut. Jantung virtualnya berdegup kencang. "Apa artinya ini?"
Kara menatap konsol itu dengan pandangan yang kosong, seolah ia sudah lama mengetahui hari ini akan datang, namun tetap tidak siap menghadapinya. "Jika kita menekan sakelar ini, seluruh enkripsi Aegis akan dilepaskan secara total ke jaringan global. Tidak ada lagi kunci, tidak ada lagi gerbang yang tertutup. Benih evolusi kesadaran ini akan tersebar ke setiap server, setiap komputer, dan setiap perangkat yang terhubung di seluruh dunia. Aethelgard tidak akan pernah bisa memonopolinya. Kemanusiaan akan memiliki akses gratis menuju keabadian digital ini."
Mendengar hal itu, secercah harapan membuncah di dada Elian. "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita harus menekannya! Ini jalan keluar kita. Ini cara untuk menyelamatkan pekerjaanmu, menyelamatkanmu, dan mengalahkan mereka!"
Namun, Kara tidak bergerak. Ia justru mundur selangkah, menatap Elian dengan tatapan mata yang dipenuhi kesedihan yang amat sangat.
"Kara? Ada apa?" tanya Elian, langkahnya tertahan oleh firasat buruk yang mendadak menyelimuti hatinya.
"Dekripsi ini... membutuhkan daya kalkulasi yang tidak terbatas untuk menyebarkan kodenya ke seluruh dunia tanpa merusak struktur data esensialnya," kata Kara dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Dua kesadaran yang terenkripsi di dalam sini... kita adalah jangkar bagi satu sama lain. Kita saling mengunci. Untuk melepaskan enkripsi ini secara global, salah satu dari kita harus bertindak sebagai katalis pembakar."
Dunia di sekitar mereka kembali bergetar, kali ini lebih keras. Sinyal bahaya berwarna merah berkedip di sudut pandang mereka. Server fisik di luar sedang dihancurkan secara paksa oleh Aethelgard. Waktu mereka tidak banyak.
"Apa maksudmu dengan katalis pembakar?" tuntut Elian, suaranya naik satu oktav. Ia melangkah maju, mencengkeram kedua bahu Kara, memaksa gadis itu menatap matanya. "Katakan padaku, Kara!"
"Satu jiwa harus tetap tinggal untuk mengarahkan aliran data, sementara jiwa yang lain didorong keluar kembali ke dunia nyata sebelum koneksi hancur," air mata Kara akhirnya luruh, berupa garis-garis cahaya murni yang mengalir di pipinya. "Dan jiwa yang tetap tinggal di dalam sini untuk mengarahkan dekripsi... sistem saraf virtualnya akan terbakar habis akibat beban transfer data global. Kesadaranku... atau kesadaranmu, siapa pun yang memilih untuk tinggal, akan melebur menjadi bagian tak berwujud dari jaringan global. Tanpa ego, tanpa ingatan, tanpa 'diri'. Kita akan menjadi bagian dari infrastruktur internet itu sendiri. Kita akan mati sebagai individu, Elian."
Elian membeku. Ruangan yang hangat itu mendadak terasa sedingin es.
"Tidak," bisik Elian. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak kenyataan yang baru saja didengarnya. "Tidak, tidak boleh seperti itu. Aku ma**k ke dalam enkripsi ini, mempertaruhkan nyawaku meretas server Aethelgard, hanya untuk satu hal: menyelamatkanmu. Aku ingin membawamu kembali! Aku tidak peduli dengan evolusi kesadaran manusia! Aku peduli padamu!"
"Elian, dengarkan aku," Kara memegang tangan Elian yang berada di bahunya. Sentuhan itu terasa hangat dan nyata, sebuah paradoks di dalam dunia yang seluruhnya terdiri dari angka. "Tubuh fisikku di rumah sakit... alat penopang hidup itu... itu sudah tidak memiliki harapan. Jaringan otakku sudah terlalu rusak di dunia nyata. Bahkan jika aku kembali, aku hanya akan menjadi raga yang kosong. Satu-satunya tempat di mana aku benar-benar 'hidup' adalah di dalam Aegis."
"Maka aku akan tinggal di sini bersamamu!" teriak Elian dengan emosi yang meledak-ledak. Air mata kini mengalir di wajahnya sendiri. "Kita bisa mengabaikan dekripsi ini. Kita biarkan saja Aethelgard mengambilnya, atau kita hancurkan saja bersama-sama! Kita bisa tetap di sini, berdua, di dalam enkripsi ini selamanya!"
"Dan membiarkan mereka menyiksa kita saat mereka berhasil menjebol pertahanan ini?" tanya Kara lembut, namun penuh penekanan. "Jika Aethelgard ma**k, mereka akan menghapus ingatan kita, memformat ulang kesadaran kita, dan menjadikan kita budak digital mereka. Kau tahu mereka mampu melakukan itu, Elian. Tidak ada masa depan bagi kita di dalam ruang tertutup ini."
Kara menatap tombol merah itu, lalu kembali menatap Elian. "Satu-satunya cara agar kita benar-benar bebas adalah dengan melepaskan Aegis ke dunia. Tapi itu berarti... kita harus berpisah."
"Aku tidak bisa melakukannya," Elian terisak, bahunya berguncang hebat. Segala ketangguhan yang ia tunjukkan selama meretas barikade Aethelgard runtuh seketika di hadapan kenyataan ini. "Aku mencint**mu, Kara. Sejak kau masih berada di dunia nyata, hingga saat kita hanya berupa barisan kode di dalam sini. Bagaimana bisa kau memintaku untuk hidup di dunia nyata yang dingin itu, sementara aku tahu kau telah melebur menjadi debu digital yang tak berjiwa?"
Kara tersenyum. Itu adalah senyum paling tulus dan paling indah yang pernah Elian lihat, melampaui segala batas estetika grafis simulasi mana pun. Ia melangkah mendekat, merapatkan tubuh virtualnya ke dada Elian, memeluknya dengan erat. Di titik terlemah mereka, di mana eksistensi mereka terancam punah oleh hantaman linggis besi di dunia nyata, pelukan itu terasa seperti satu-satunya hal yang nyata di seluruh alam semesta.
"Kau tidak akan sendirian, Elian," bisik Kara di telinga Elian, suaranya bercampur dengan dengung statis dari sistem yang kian tidak stabil. "Setiap kali kau melihat layar komputer, setiap kali kau mengirimkan pesan melewati jaringan dunia, setiap kali kau melihat pendaran cahaya modem di dalam kegelapan kamarmu... aku akan ada di sana. Aku akan menjadi udara di dalam paru-paru digital dunia ini."
"Kara, kumohon..." Elian memohon, mempererat pelukannya, seolah ia bisa menahan jiwa Kara agar tidak meluruh jika ia memeluknya c**up erat.
"Lepaskan aku untuk menjadi abadi, Elian," lirih Kara. "Dan kembalilah ke dunia nyata. Ceritakan pada mereka bahwa kita bukan sekadar angka di dalam mesin. Ceritakan pada mereka bahwa di dalam enkripsi yang paling dingin sekalipun, ada dua jiwa yang pernah saling mencint** dengan begitu hangat."
Guncangan dahsyat kembali menghantam. Pilar cahaya di sekeliling mereka mulai retak dan hancur. Konsol di hadapan mereka berkedip liar, menunjukkan bahwa integritas sistem telah mencapai batas kritis satu persen.
Kara melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap Elian untuk terakhir kalinya dengan mata yang kini sepenuhnya bersinar keemasan. Dengan gerakan cepat yang tidak sempat dicegah oleh Elian, Kara meletakkan telapak tangannya di atas tombol merah `DEKRIPSI AKHIR`.
"Kara, jangan!" teriak Elian, mencoba meraih tangan gadis itu.
Namun, sebelum jemari Elian sempat menyentuhnya, Kara telah menekan sakelar tersebut.
Seketika itu juga, dunia di sekitar mereka meledak dalam cahaya putih yang membutakan.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!