Jangan Buka Pintu Setelah Pukul 02.17

Bab 2: Bab 2: Lorong Kosong

Pengaturan Membaca

Malam kedua aku memasang mic kontak pada pintu.

Alat itu seharusnya membedakan benturan langsung pada daun pintu dari suara yang merambat melalui struktur.

Secara teori.

Pukul 02.17, tiga ketukan datang lagi.

Tok.

Tok.

Tok.

CCTV kosong.

Aku menahan diri agar tidak langsung menyimpulkan.

“Jangan kasih aku kesimpulan sebelum datanya.”

Kalimat itu biasa kuucapkan pada anak magang di lab. Malam itu, aku mengatakannya pada rasa takutku sendiri.

Aku merekam empat kanal: mic kontak, recorder analog, mic ruangan, dan screen recording aplikasi.

Setelah ketukan, aku membuka pintu dua belas menit kemudian.

Koridor kosong.

Aku berjalan sampai lift. Lampu sensor menyala ketika aku lewat. Kalau seseorang berdiri di depan 1717 beberapa menit lalu, seharusnya ada event sensor.

Tidak ada.

Di pos keamanan, aku bertemu Hendra Kurnia untuk pertama kali.

“Kebisingan, Ibu Naya Pradipta?” tanyanya.

Aku berhenti.

Aku belum memperkenalkan nama.

Tentu saja pengelola punya data penghuni. Tidak aneh.

Tapi cara ia menyebut nama lengkapku membuat kulit tengkukku kaku.

“Ketukan,” kataku.

“Pipa.”

“Tiga kali?”

“Gedung tua punya banyak suara.”

“Asteria baru dua belas tahun.”

Hendra tersenyum lembut. “Secara struktur, dua belas tahun c**up lama.”

Ia membuka log sensor lant** 17.

Tidak ada event.

“Lihat? Lorong kosong.”

Aku tidak suka kalimat itu.

Bukan karena salah.

Karena terlalu cepat.

Kembali ke unit, aku memeriksa empat kanal.

Mic ruangan menangkap ketukan jelas.

Recorder analog juga.

Mic kontak menangkap impuls yang aneh: energinya tidak tertinggi di frekuensi benturan daun pintu.

Seolah sumbernya datang dari struktur samping.

Aku mengukur jarak.

0,7 detik.

0,7 detik.

Identik sampai milidetik.

Orang bisa mengetuk dengan ritme teratur.

Tapi tiga malam berbeda dengan jarak yang nyaris sama?

Aku menulis di notebook:

BUKAN SPONTAN.

Lalu menambahkan satu kalimat lain.

SESEORANG INGIN POLA INI DIKENALI.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca