Jangan Buka Pintu Setelah Pukul 02.17

Bab 3: Bab 3: Rekaman yang Sama

Pengaturan Membaca

Recorder Mira rusak parah.

Kaset digitalnya mengalami drop, motor aus, dan noise floor-nya seperti hujan logam.

Aku sudah membersihkannya berkali-kali di lab.

Pagi setelah malam kedua, aku kembali ke Arsip Suara Nusantara dan mengunci ruang restorasi.

Sinta ma**k tanpa mengetuk.

“Kamu pakai ruang lab untuk ka**s pribadi lagi.”

“Ini belum ka**s.”

“Kalau kamu bilang begitu sambil menutup tirai, itu ka**s.”

Aku memasang headphone untuknya.

“Dengar.”

Ia mendengar rekaman Mira.

Tiga ketukan.

Lalu rekamanku dari 1717.

Tiga ketukan.

Sinta melepas headphone.

“Mirip.”

“Bukan mirip.”

Aku membuka analisis timing.

“Jarak impuls pertama ke kedua 0,702. Kedua ke ketiga 0,698. Rekaman baru: 0,701 dan 0,699.”

“Bisa dibuat sengaja.”

“Decay ketiga.”

Aku tampilkan spektrum.

Sinta menyipit.

“Ruang yang sama?”

“Itu yang mau kubuktikan.”

Aku membuka metadata lama.

Sebagian rusak, tetapi satu string masih terbaca:

A17-1717 / 02:17 / BP

Sinta menatapku.

“BP?”

Aku tidak menjawab.

B**m Pradipta.

Ayahku.

Nama itu tidak pernah kutemukan dalam arsip resmi Asteria 17. Tapi inisialnya ada di recorder perempuan yang hilang enam tahun lalu.

Sinta mematikan monitor.

“Naya, kamu tinggal di 1717 karena ini?”

“Ya.”

“Kamu bilang butuh tempat dekat kantor.”

“Itu juga benar.”

“Setengah benar.”

Aku menatap waveform.

“Aku perlu tahu kenapa Ayah terhubung ke rekaman ini.”

Sinta duduk.

“Kamu sudah lapor polisi?”

“Belum.”

“Pengelola?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku belum tahu apakah yang kupegang bukti atau kebetulan dengan noise.”

Sinta menghela napas.

“Kamu tinggal sendirian di unit yang terhubung dengan recorder orang hilang.”

“Secara teknis, Mira tidak dinyatakan hilang. Berita menyebut pindah mendadak.”

“Itu tidak membuat kalimatmu lebih baik.”

Aku menyimpan file.

Di layar, metadata 02:17 tetap menyala.

Aku sudah menghabiskan hidup dengan percaya bahwa suara menyimpan sesuatu yang lebih jujur daripada manusia.

Sekarang suara ayahku tidak ada.

Hanya inisial.

Dan tiga ketukan yang kembali setiap malam.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca