Jangan Buka Pintu Setelah Pukul 02.17

Bab 5: Bab 5: Jangan Buka

Pengaturan Membaca

Aku menghabiskan enam jam membersihkan satu bisikan.

Di recorder Mira, setelah tiga ketukan, ada hum rendah sekitar 58 hertz. Di bawahnya, suara perempuan.

Aku membuat spectral subtraction.

Masih kotor.

Aku mempersempit band.

Memutar.

“...buka...”

Sinta berdiri di belakangku.

“Putar lagi.”

Aku lakukan.

“...jangan...buka...”

Aku memindahkan noise profile.

Memutar ketiga kali.

Suara perempuan itu akhirnya muncul.

“Jangan buka pintu setelah pukul 02.17.”

Ruangan lab terasa lebih dingin.

Sinta melepas headphone.

“Kamu pindah dari sana malam ini.”

“Belum.”

“Naya.”

“Peringatan itu enam tahun lalu.”

“Dan ketukannya kembali.”

“Makanya aku harus tahu sumbernya.”

Sinta menatapku lama.

“Ayahmu pernah bilang obsesi terdengar seperti disiplin kalau orangnya pintar.”

Aku membenci karena ia benar.

Malam itu aku kembali ke 1717 dengan recorder asli Mira tidak lagi bersamaku. Aku menyimpannya di vault lab dan membawa salinan kerja.

Pukul 02.16, semua lampu unit kumatikan kecuali lampu meja.

Aku duduk tiga meter dari pintu.

02.17.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku tidak bergerak.

Ponsel menunjukkan koridor kosong.

Aku menunggu bisikan.

Tidak ada.

Lalu interkom unit mengeluarkan bunyi klik pendek.

Layar tetap mati.

Suara statis.

Aku berdiri.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku mendekat satu langkah.

Interkom mati.

Ketukan tidak datang lagi.

Aku mencatat waktu.

02.17.13.

Tiga belas detik setelah pukul 02.17.

Aku memutar rekaman Mira sekali lagi.

“Jangan buka pintu setelah pukul 02.17.”

Dulu aku mengira kalimat itu peringatan terhadap orang di luar.

Malam itu aku mulai mempertimbangkan kemungkinan lain.

Mungkin peringatannya tentang sistem yang membuat kita percaya tidak ada siapa-siapa di luar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca