Pada hari ketiga, kami bertengkar soal pencahayaan lobby selama empat puluh menit dan pintu penghubung selama lima.
"Lampu amber membuat hotel terasa hangat," kataku.
"Terlalu gelap untuk jalur evakuasi visual."
"Kita bisa menambah floor light."
"Itu jawaban yang ma**k akal. Mengganggu."
Setelah rapat, kami ma**k lift yang sama dan keluar di lant** 17 dengan keheningan terlalu penuh. Aku berhenti di depan 1708. Sena berhenti di 1707.
Mata kami sama-sama jatuh pada pintu kamar masing-masing.
"Kita butuh aturan," kataku.
"Untuk proyek?"
"Jangan sok polos. Tidak cocok."
Sepuluh menit kemudian kami berdiri di depan pintu penghubung. Aku memegang sticky note hotel dan spidol hitam.
"Tidak ada pintu setelah tengah malam," kataku sambil menulis NO DOOR AFTER MIDNIGHT.
"Kenapa tengah malam?"
"Karena jam sebelas lima puluh sembilan masih bisa disebut keputusan kerja yang buruk. Lewat jam dua belas biasanya keputusan hidup yang buruk."
Sena menyandarkan bahu ke dinding. "Analisis ilmiah."
"Aku konsultan. Semua yang kubilang bisa jadi framework kalau diberi tiga kotak dan panah."
Ia hampir tertawa.
Aku menempelkan catatan pada pintu.
Sena memutar kunci dari sisinya. Aku memutar kunci dari sisiku.
"Pintu ini cuma bisa terbuka kalau dua sisi sama-sama tidak mengunci," katanya.
"Bagus. Consent versi arsitektur hotel."
Tatapannya berubah sedikit.
"Alea."
"Kita kerja sampai proyek selesai. Tidak ada sejarah lima tahun lalu. Tidak ada eksperimen bodoh."
"Aku dengar."
"Dan setelah tengah malam, pintu tetap tertutup."
"Aku dengar."
Aku ma**k ke kamar 1708 dan menyalakan TV hanya agar ada suara.
Pukul 00.03, aku masih melihat catatan di pintu.
NO DOOR AFTER MIDNIGHT.
Aturan terasa paling penting ketika ada bagian dirimu yang ingin melanggarnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!