Damar datang ke hotel tanpa memberi tahu.
Aku sedang mempresentasikan konsep "Aruna After Dark" kepada tim ketika Mira mengirim pesan: ada pria di lobby, pakai jam yang dulu kamu belikan, mukanya seperti campaign bank swasta.
Damar.
Ia menunggu di lounge dengan kemeja putih dan ekspresi tenang yang dulu membuatku merasa aman. Sekarang ekspresi itu terasa seperti ruang yang sudah kutinggalkan tetapi masih menyimpan namaku di pintu.
"Aku cuma mau bicara," katanya.
"Kamu bisa telepon."
"Kamu tidak angkat."
"Itu informasi."
Damar menghela napas. "Kita tujuh tahun, Lea. Kamu batalin pernikahan dua bulan sebelum hari H lalu ma**k proyek hotel sembilan puluh hari. Semua orang pikir kamu lari."
"Semua orang tidak hidup di kepalaku."
"Aku minta cincinnya kembali."
Tanganku spontan menyentuh pouch kecil di tas. Cincin itu tidak kupakai sejak hari aku membatalkan semuanya.
Aku tahu ia berhak meminta benda itu. Namun cara Damar mengatakannya membuat keputusan lama terasa sedang diadili.
"Besok," kataku.
"Kenapa tidak sekarang?"
"Karena aku bilang besok."
Sena muncul di ujung lounge. Ia tidak mendekat, hanya berhenti c**up jauh untuk melihat apakah aku perlu bantuan. Aku membenci betapa cepat aku merasa lebih tenang.
Damar mengikuti tatapanku.
"Dia?"
"Jangan."
"Alea, aku cuma—"
"Jangan bikin versi baru tentang hidupku hanya karena versi lama sudah selesai."
Aku pergi.
Malam itu, pukul 00.17, aku duduk di lant** kamar 1708 dengan cincin di telapak tangan. TV menyala tanpa suara. Kota di luar jendela terlihat terlalu jauh.
Lalu terdengar langkah di kamar 1707.
Aku menatap pintu penghubung.
Aturannya jelas.
Aku memutar kunci dari sisiku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!