**Bab 1: Diusir dan Kamar Murah Spek Dewa**
Dunia ini emang kadang nggak ada akhlak.
Aluna berdiri di pinggir trotoar jalanan Jakarta yang super panas, menatap nanar tiga kardus mi instan berisi baju-bajunya dan satu koper biru besar yang salah satu rodanya sudah copot. Di sebelahnya, deru knalpot metromini dan kepulan debu jalanan seolah mengejek nasibnya yang lagi berada di titik nadir.
Baru dua jam yang lalu, Ibu Kost lamanya, Bu Ambar, tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya dengan wajah tanpa dosa.
"Aluna, mulai bulan depan harga sewa kamar kamu naik jadi dua juta lima ratus, ya. Ibu mau pasang AC baru soalnya," kata Bu Ambar sant**, sambil mengipasi wajahnya pakai kipas anyaman bambu.
Aluna hampir saja tersedak ludah sendiri. "Hah? Dua juta setengah, Bu? Kan kemarin perjanjiannya satu juta seratus! Lagian AC-nya kan saya nggak minta, Bu. Pakai kipas angin hias gantung yang muternya kayak mau copot itu juga saya udah bersyukur."
"Ya nggak bisa gitu. Kalau kamu nggak mau, ya udah, silang aja dari sini. Hari ini juga ya, soalnya sore nanti ada anak kuliahan kaya yang mau langsung nempatin. Barang-barang kamu tolong dikemas sekarang."
Dan di sinilah Aluna sekarang. Diusir tanpa ampun.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang lagi magang di sebuah agensi periklanan dengan gaji yang bahkan nggak c**up buat beli tiket konser band indie, Aluna bener-bener mau nangis. Saldo di rekeningnya cuma tersisa Rp 750.000. Angka yang sangat tidak ramah untuk bertahan hidup di ibu kota, apalagi buat bayar uang deposit kos-kosan baru.
"G*** ya, masa gue harus tidur di kolong jembatan sih?" gumam Aluna frustrasi. Ia berjongkok di samping kopernya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri.
Sambil menahan tangis, Aluna membuka ponselnya. Jarinya dengan cepat berselancar di aplikasi pencari kos dan grup-grup Facebook *‘Info Kos Murah Jakarta’*. Hampir semua kosan yang layak huni mematok harga di atas 1,5 juta. Yang harganya di bawah satu juta? Kamar mandinya di luar, bareng-bareng sama sepuluh orang, dan penampakannya lebih mirip lokasi syuting film horor lokal.
Saat Aluna hampir menyerah dan berniat menelepon temannya untuk menumpang tidur—meski gengsinya setinggi langit—sebuah postingan di forum diskusi kos-kosan mendadak lewat di berandanya.
**[DISEWAKAN CEPAT: KAMAR KOS EKSKLUSIF - KOS NO. 7]**
*Lokasi: Strategis, dekat area kampus dan perkantoran.*
*Fasilitas: Kamar mandi dalam (shower + water heater), AC, Smart TV, Wi-Fi super cepat, ka**r King Size, kulkas mini.*
*Aturan: Ada beberapa aturan khusus yang wajib dipatuhi.*
*Harga: Rp 450.000 / bulan (Nett, sudah terma**k listrik).*
*Hubungi nomor di bawah ini untuk booking langsung.*
Aluna mengerjapkan matanya berulang kali. Ia bahkan sampai mengucek matanya dengan kasar, takut kalau-kalau dehidrasi akibat panas Jakarta membuatnya berhalusinasi.
"Empat ratus lima puluh ribu? Spek dewa kayak gini?!" bisik Aluna histeris. "Ini penipuan nggak sih? Atau jangan-jangan kosan sekte sesat?"
Tapi, putus asa adalah bahan bakar terbaik untuk nekat. Tanpa berpikir panjang lagi, Aluna langsung menekan tombol hijau untuk menghubungi nomor WhatsApp yang tertera di sana.
**Aluna:** *Halo, Kak. Kamar Kos No. 7 masih kosong? Saya mau booking sekarang.*
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, sebuah balasan ma**k.
**Pemilik Kos:** *Masih. Mau langsung ma**k hari ini?*
**Aluna:** *Mau banget, Kak! Tapi ini beneran harganya 450 ribu kan? Nggak ada biaya tambahan tersembunyi?*
**Pemilik Kos:** *Iya, beneran. Kirim DP 200 ribu sekarang ke rekening ini untuk keep kamar. Kunci kamar saya taruh di dalam loker nomor 7 di lobi depan. Kamu bisa langsung ma**k sendiri. Aturan kos ada di meja kamar.*
Tanpa membuang waktu untuk berpikir logis—seperti kenapa harganya murah banget atau kenapa pemiliknya nggak mau ketemu langsung—Aluna langsung membuka *m-banking* dan mentransfer uang Rp 200.000. Pers**** dengan penipuan, yang penting dia punya tempat berteduh malam ini.
***
Tiga puluh menit kemudian, taksi online yang ditumpangi Aluna berhenti di depan sebuah bangunan tiga lant** yang tampak sangat modern. Desain bangunannya bergaya industrial minimalis dengan cat abu-abu gelap dan aksen kayu yang estetik. Di bagian depannya, ada papan nama kayu bertuliskan **"KOS NO. 7"**.
"Sumpah, ini beneran kosan harga 450 ribu?" Aluna melongo lebar saat turun dari taksi. Bangunan ini kelihatan seperti kos-kosan elit yang harga sewanya minimal empat sampai lima juta per bulan.
Suasana di sekitar kosan itu sangat sepi. Tidak ada penjaga kos, tidak ada orang yang lalu lalang, bahkan gerbangnya pun tidak terkunci. Aluna menyeret kopernya ma**k ke dalam lobi yang bersih dan ber-AC dingin. Di sana, berderet loker kayu kecil. Ia membuka loker nomor 7 dan benar saja, ada sebuah kunci fisik dengan gantungan kayu berbentuk angka '7' di dalamnya.
"Oke, Aluna. Keberuntungan lo tahun ini akhirnya kepakai juga," batinnya girang setengah mati.
Ia segera menyeret koper rusaknya dan menggendong kardus-kardusnya menaiki tangga menuju lant** dua, tempat kamar nomor 7 berada. Lorong lant** dua itu dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kakinya. Suasananya begitu sunyi, hanya ada suara sayup-sayup AC sentral yang berembus lembut.
Di ujung lorong, pintu kayu jati kokoh dengan plat logam kuningan berangka **'7'** berdiri dengan anggun.
Aluna menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang karena saking senangnya. Ia mema**kkan kunci ke lubangnya, memutarnya dua kali hingga terdengar bunyi *klik* yang memuaskan, lalu mendorong pintu itu terbuka.
"Permisiii..."
Embusan angin dingin langsung menyapu wajah Aluna. Kamar itu luar biasa luas. Bau aromaterapi sandalwood yang menenangkan langsung menyapa indra penciumannya. Kamar itu memiliki jendela besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota, sebuah TV layar lebar yang menempel di dinding, meja kerja kayu minimalis, dan sebuah ka**r berukuran *King Size* dengan seprai abu-abu gelap yang kelihatan sangat empuk.
Namun, senyum lebar di wajah Aluna langsung membeku dalam hitungan detik.
Matanya melebar sempurna. Jantungnya serasa copot dari tempatnya.
Di atas ka**r empuk yang seharusnya menjadi hak miliknya itu, sedang berbaring seorang cowok.
Cowok itu memakai kaos hitam polos longgar dan celana kargo pendek. Di telinganya terpasang *headphone* besar berwarna hitam. Rambut hitamnya sedikit berantakan, membingkai wajahnya yang memiliki garis rahang tegas, hidung mancung yang kelewat sempurna, dan bibir tipis yang saat ini sedang mengatup rapat. Dia sedang fokus menatap layar iPad di tangannya.
Aluna mematung di ambang pintu, masih memeluk kardus mi instannya erat-erat.
Merasa ada pergerakan di pintu, cowok itu perlahan menurunkan *headset*-nya ke leher. Ia menolehkan kepalanya, menatap Aluna dengan sepasang mata elang yang hitam pekat dan... sangat dingin. Dinginnya bahkan sanggup mengalahkan suhu AC di kamar itu.
Selama beberapa detik, keheningan yang mencekam menyelimuti mereka berdua.
"Lu siapa?" suara cowok itu terdengar berat, serak, dan sangat tidak bersahabat.
Aluna mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat melayang. "Hah? Lu... lu yang siapa?!" pekik Aluna dengan suara yang agak melengking karena syok. "Kenapa lu bisa ada di kamar gue?!"
Cowok itu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan iPad-nya di atas nakas dengan gerakan pelan yang sangat tenang, lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia menatap Aluna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang membuat Aluna merasa risi.
"Kamar lu?" Cowok itu menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman sinis yang super menyebalkan. "Kayaknya lu salah alamat. Ini kamar gue."
"Nggak mungkin!" Aluna langsung melangkah ma**k, meletakkan kardusnya di lant** dengan kasar, lalu menunjukkan kunci kamar yang dipegangnya. "Lihat nih! Kunci nomor 7! Gue udah bayar DP ke pemilik kosan ini dan dia bilang kamar ini kosong!"
Cowok itu menghela napas pendek. Ia berdiri dari ka**r, membuat Aluna tersadar kalau cowok ini ternyata tinggi banget—mungkin sekitar 180 senti lebih, membuat Aluna yang tingginya cuma 160 senti harus mendongak.
"Gue nggak peduli lu dapet kunci dari mana," kata cowok itu dingin. Langkah kakinya mendekat ke arah Aluna, membuat Aluna secara refleks mundur satu langkah sampai punggungnya membentur pintu yang tertutup. "Tapi kamar nomor 7 ini cuma punya satu penghuni. Dan itu gue."
"Tapi—"
"Sekarang, mending lu keluar sebelum gue panggil keamanan," potong cowok itu tanpa ekspresi, suaranya sedatar tripleks.
Aluna mengepalkan tangannya. Rasa lelah karena diusir, ditambah panasnya jalanan Jakarta, dan sekarang dihadapkan pada situasi absurd ini membuat emosinya langsung meledak. Gengsi dan rasa takutnya menguap entah ke mana.
"Eh, denger ya, Mas Ganteng tapi Nggak Ada Sopan Santunnya!" seru Aluna kesal, menunjuk dada cowok itu dengan telunjuknya. "Gue hari ini udah diusir dari kosan lama gue! Saldo rekening gue tinggal sisa buat beli seblak beberapa porsi doang! Gue udah bayar DP buat kamar ini, dan gue NGGAK AKAN PERGI dari sini sebelum dapet penjelasan yang jelas!"
Cowok itu menatap jari telunjuk Aluna yang hampir menyentuh dadanya. Matanya menyipit berbahaya. "Jangan lancang."
"Gue nggak peduli! Pokoknya gue mau telepon pemilik kosan ini sekarang juga!" Aluna dengan panik merogoh kantong celananya, mengambil ponselnya, dan langsung menekan tombol telepon pada kontak pemilik kosan tadi.
Ponselnya didekatkan ke telinga. Jantungnya berdegup kencang.
*Tutt... Tutt...*
Setelah beberapa saat, telepon itu diangkat.
"Halo! Kak! Ini maksudnya apa ya?!" cerocos Aluna tanpa memberi kesempatan orang di seberang sana untuk berbicara. "Katanya kamar nomor 7 kosong? Kenapa di dalam kamar ini ada cowok asing yang tiba-tiba ngaku kalau ini kamar dia?!"
Terdengar suara helaan napas berat dari seberang telepon. Suara seorang wanita paruh baya, terdengar sangat lelah namun juga tenang.
*"Oh, kamu sudah sampai ya, Aluna? Iya, kamar nomor 7 memang sudah ada penghuninya. Namanya Elian."*
Aluna melongo. "Hah? Terus kenapa Kakak sewain ke saya kalau udah ada orangnya?!"
*"Saya pemilik kosan ini, panggil saja Ibu Ratna. Aluna, dengerin saya baik-baik. Kamar nomor 7 itu memang kamar bertipe duplex loft, atau kamar dengan konsep dua lant** di dalamnya. Tapi itu bukan poin utamanya. Harga sewa kamar itu sengaja saya buat sangat murah, karena ada satu syarat."*
"Syarat apa, Bu?" tanya Aluna, mendadak punya firasat buruk.
*"Kamu harus mau berbagi kamar dengan Elian, keponakan saya yang super antisosial itu. Dia nggak pernah mau berinteraksi dengan orang lain, dan saya harap dengan adanya teman sekamar, dia bisa sedikit berubah. Tapi yang paling penting..."* Suara Ibu Ratna terdengar semakin serius. *"Kalian berdua wajib mematuhi seluruh aturan aneh yang tertulis di atas meja kamar itu. Jika melanggar satu aturan saja... akibatnya bisa sangat fatal."*
Aluna tertegun. Ia perlahan menurunkan ponselnya dari telinga saat sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Ibu Ratna.
Ia menatap cowok di depannya—yang kini diketahui bernama Elian. Elian tampak bersedekap dada, menatap Aluna dengan pandangan dingin yang seolah berkata, *'Gue udah bilang kan?'*
Aluna menelan ludah dengan susah payah. Matanya kemudian beralih menatap meja kayu di sudut ruangan. Di atas meja itu, terletak selembar kertas putih tebal berbingkai kayu hitam, dengan tulisan cakar ayam yang tampak sangat mencolok.
Dengan langkah ragu, Aluna mendekati meja tersebut. Ia membaca baris demi baris tulisan di kertas itu, dan seketika itu juga, bulu kuduknya meremaj tajam.
**[ATURAN KAMAR KOS NOMOR 7]**
1. *Jangan pernah membuka jendela kamar setelah pukul 22.00 malam, apa pun suara ketukan yang kalian dengar dari luar.*
2. *Jika mendengar suara langkah kaki di atas loteng pada jam 12 malam, tetaplah berada di atas ka**r dan tutup seluruh tubuh kalian dengan selimut hingga suara itu hilang.*
3. *Teman sekamar dilarang keras saling jatuh cinta. Jika salah satu dari kalian mulai memiliki perasaan lebih, salah satu harus pergi, atau kalian berdua akan menanggung konsekuensinya.*
Aluna terkesiap. Ia menatap Elian dengan wajah pucat pasi.
"Ini... ini maksudnya apa?" bisik Aluna ngeri.
Elian hanya mendengus dingin, lalu kembali berjalan menuju ka**rnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Gue udah bilang, kamar ini punya aturan aneh. Kalau lu takut, mending lu angkat kaki sekarang."
Aluna menatap kardus bajunya, lalu menatap sisa saldo rekeningnya di layar ponsel yang menyala. Pergi dari sini berarti dia harus menggelandang di jalanan malam ini. Tapi tetap di sini... berarti dia harus berbagi kamar dengan cowok super dingin ini, sekaligus menghadapi aturan-aturan g*** yang ada di kertas itu.
Aluna mengepalkan tangannya erat-erat, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.
"Gue..." Aluna menarik napas panjang. "Gue nggak akan pergi!"
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!