...tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata, melainkan jenis senyuman dingin yang biasa digunakan oleh orang-orang berkuasa untuk mengintimidasi lawan bicaranya.
"Selamat malam, Nona Aluna," ucap pria paruh baya itu. Suaranya berat, tenang, namun sukses membuat bulu kuduk Aluna meremang seketika. "Saya Gunawan, kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan Tuan Besar Wiratama."
Aluna meremas ujung kaosnya erat-erat. Lidahnya mendadak kelu. "A-ada perlu apa, ya, Pak?"
Pak Gunawan membetulkan letak kacamatanya yang berbingkai emas, lalu melirik sekilas ke dalam kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu dengan tatapan menilai yang tersirat akan rasa jijik.
"Kami tahu Tuan Muda Adrianβatau yang Anda kenal sebagai Elianβtinggal di sini bersama Anda," ujar Pak Gunawan langsung pada intinya. "Tuan Besar sangat tidak menyukai fakta bahwa pewaris tunggal Wiratama Group tinggal di tempat kumuh seperti ini. Terlebih lagi, sekamar dengan seorang gadis biasa."
"S-saya nggak tahu kalau dia..." Aluna terbata-bata, mencoba membela diri.
"Saya tahu Anda tidak tahu, Nona Aluna. Tapi sekarang Anda sudah tahu," potong Pak Gunawan dengan nada dingin yang mutlak. "Tuan Besar meminta saya menyampaikan pesan ini langsung kepada Anda. Berada di dekat Tuan Muda hanya akan mendatangkan kesulitan bagi orang biasa seperti Anda. Beasiswa kuliah Anda di Universitas Pelita, masa depan Anda, bahkan ketenangan hidup Anda... semua itu bisa hilang dalam sekejap jika Anda mempersulit kepulangan Tuan Muda. Anda mengerti maksud saya, kan?"
Jantung Aluna rasanya seperti dihantam godam besar. Beasiswanya. Itu adalah satu-satunya tiket Aluna untuk memperbaiki hidupnya. Bagaimana bisa orang-orang kaya ini dengan begitu mudahnya mengancam masa depan seseorang seolah itu hanya selembar kertas tanpa harga?
"Saya... saya nggak menahan Elian di sini," cicit Aluna dengan suara bergetar menahan tangis.
"Bagus kalau begitu. Pastikan dia pulang ke rumah keluarga Wiratama sebelum minggu ini berakhir. Jika tidak, kami terpaksa menggunakan cara yang tidak menyenangkan. Permisi, Nona Aluna."
Pak Gunawan membungkuk formal, lalu berbalik arah. Kedua pria berbadan tegap di belakangnya segera mengikuti, melangkah pergi meninggalkan koridor kosan dengan langkah berat yang perlahan menghilang di ujung tangga.
Aluna langsung menutup pintu kamar rapat-rapat, menguncinya, lalu merosot jatuh ke lant** semen yang dingin. Kedua lututnya lemas. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Dia ketakutan. Sangat ketakutan.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, sampai tiba-tiba pintu kosan diketuk dengan kasar. Bukan ketukan formal seperti tadi, melainkan ketukan tidak sabaran yang sangat Aluna kenal.
"Al? Aluna! Buka pintunya, Al. Ini gue!"
Suara Elian.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aluna bangkit dan membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, sosok Elian langsung ma**k dengan napas terengah-engah. Di tangan kanannya, dia masih memegang bungkusan nasi Padang yang tadi dibelinya. Namun, wajah cowok itu tampak luar biasa tegang dan pucat.
Mata Elian langsung tertuju pada wajah Aluna yang basah oleh air mata dan hidungnya yang memerah. Detik itu juga, rahang Elian mengeras. Bungkusan nasi Padang di tangannya jatuh begitu saja ke lant**.
"Mereka ke sini?" tanya Elian dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Orang-orang bokap gue ke sini, Al?!"
Aluna tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak pecah lagi.
"Si****!" Elian berteriak frustrasi, lalu menonjok tembok kamar mandi dengan keras hingga menimbulkan suara debuman yang nyaring. "Bokap gue bener-bener udah g***! Kenapa harus lo yang disamperin?!"
"El, tangan lo..." Aluna refleks ingin meraih tangan Elian yang memerah akibat pukulan tadi, tapi Elian langsung mundur selangkah, menghindari sentuhan Aluna.
"Jangan deket-deket gue dulu, Al," kata Elian dengan napas memburu. Matanya menyiratkan rasa bersalah yang teramat sangat. "Mereka ngancem lo apa aja? Bilang sama gue!"
"Mereka... mereka tahu soal beasiswa gue, El," bisik Aluna parau. "Mereka bilang, kalau lo nggak pulang minggu ini, beasiswa gue bakal dicabut. Dan... dan mereka bakal bikin hidup gue susah."
Mendengar hal itu, Elian memejamkan matanya rapat-rapat. Bahunya merosot turun. Kemarahan yang tadi meluap-luap mendadak berganti dengan keputusasaan yang kentara. Elian tahu persis watak ayahnya. Ayahnya tidak pernah menggertak sambal. Apa yang diucapkan oleh Pak Gunawan pasti akan benar-benar dilakukan jika Elian tidak menuruti perintahnya.
"Gue harus pergi," gumam Elian tiba-tiba.
Aluna tertegun. "Hah?"
"Gue harus cabut dari kosan ini sekarang juga, Al," ulang Elian dengan nada yang lebih tegas, meskipun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Tanpa membuang waktu, Elian langsung berjalan ke arah lemari pakaian plastik mereka. Dia membuka resletingnya dengan kasar, lalu menarik tas duffel hitam miliknya dari kolong tempat tidur.
Dengan gerakan panik dan terburu-buru, Elian mulai mema**kkan baju-bajunya ke dalam tas. Dia tidak peduli lagi apakah baju-baju itu terlipat rapi atau kusut. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya menjauhkan bahaya dari Aluna secepat mungkin.
"El, tunggu... lo mau ke mana malam-malam begini?" Aluna mendekat, mencoba menahan tangan Elian yang sedang mema**kkan jaket denimnya.
"Ke mana aja asal nggak di sini, Al!" potong Elian tanpa menatap Aluna. Tangannya masih sibuk menjejalkan pakaian ke dalam tas. "Gue nggak bisa egois lagi. Selama gue ada di sini, bokap gue nggak akan pernah berhenti neror lo. Gue nggak mau masa depan lo hancur cuma karena cowok nggak berguna kayak gue!"
"Tapi nggak usah malam ini juga, El! Ini udah jam sebelas lewat!"
"Nggak bisa, Aluna! Makin cepat gue pergi, makin aman posisi lo!" Elian menarik resleting tas duffel-nya dengan sekali sentakan kuat. Dia menyampirkan tas itu di bahu kanannya, lalu berbalik menatap Aluna.
Melihat Elian yang sudah siap pergi dengan tas besarnya, dada Aluna mendadak terasa sangat sesak. Seperti ada batu besar yang menghimpit paru-parunya hingga dia kesulitan bernapas.
Selama beberapa minggu ini, Elian adalah orang yang selalu ada di dekatnya. Cowok menyebalkan yang selalu mengomel kalau Aluna lupa mematikan lampu kamar mandi, tapi juga cowok yang paling pertama panik saat Aluna sakit. Cowok yang rela berjalan kaki di tengah hujan deras hanya untuk membelikannya pembalut dan obat pereda nyeri haid.
Aluna baru menyadari satu hal yang selama ini selalu dia sangkal dalam hatinya. Dia sudah jatuh cinta pada cowok menyebalkan di depannya ini. Sangat dalam. Dan membayangkan hari-esok tanpa kehadiran Elian di kamar kos nomor 7 ini membuat hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Elian melangkah menuju pintu. "Makasih buat semuanya, Al. Maaf gue udah bikin hidup lo berantakan. Jaga diri lo baik-baik, ya."
Tangan Elian sudah memegang gagang pintu dan bersiap untuk membukanya.
"Jangan pergi..."
Langkah Elian terhenti. Namun, dia tidak berbalik. "Al, tolong jangan persulit semuanya. Gue harus pergi demi kebaikan lo."
"Kebaikan gue yang mana, El?!" teriak Aluna akhirnya, menumpahkan segala emosi yang membuncah di dadanya. Air matanya kembali mengalir deras membasahi pipinya. "Lo pikir gue bakal bahagia kalau lo pergi gitu aja?!"
Aluna berlari kecil dan langsung berdiri di depan pintu, menghalangi jalan keluar Elian. Dia menatap Elian dengan mata yang sembab dan penuh luka.
"Al, minggir," pinta Elian, suaranya terdengar sangat lirih, seolah dia juga sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
"Nggak! Gue nggak mau!" Aluna menolak keras. Kedua tangannya mencengkeram erat kerah kaos oblong putih yang dipakai Elian. "Lo selalu bikin aturan aneh-aneh di kosan ini! Aturan nomor satu, dilarang ikut campur urusan masing-masing. Aturan nomor dua, harus bagi tugas bersihin kamar. Dan aturan lo yang paling konyol... aturan nomor tiga: dilarang jatuh cinta!"
Elian tertegun, menatap Aluna dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo yang bikin aturan sampah itu, El! Tapi lo juga yang tiap hari bikin gue langgar aturan itu!" isak Aluna, dadanya naik turun karena emosi yang meluap. "Lo yang bikin gue terbiasa ada lo di sini. Lo yang bikin gue ngerasa aman. Dan sekarang, setelah gue bener-bener jatuh cinta sama lo, lo mau pergi gitu aja dan pura-pura nggak terjadi apa-apa?!"
"Aluna..."
"Gue sayang sama lo, Adrian Elian Wiratama! Gue sayang sama lo, peduli s**** sama siapa bokap lo atau berapa triliun harta keluarga lo! Gue nggak peduli!" Aluna memukul dada Elian dengan kepalan tangan kecilnya, meluapkan segala rasa frustrasinya. "Gue cuma mau lo tetap di sini... Jangan pergi, El. Tolong, jangan tinggalin gue..."
Suara Aluna melemah di akhir kalimatnya, berubah menjadi bisikan putus asa yang menyayat hati. Kepalanya tertunduk, bersandar pada dada bidang Elian yang berdetak sangat kencang. Bahunya berguncang hebat karena tangisan yang tak lagi tertahankan.
Elian terpaku di tempatnya berdiri. Pengakuan jujur dari mulut Aluna bagaikan petir yang menyambar seluruh pertahanan diri yang sudah dibangunnya dengan susah payah sejak tadi. Matanya memanas. Rasa hangat yang asing sekaligus sangat menenangkan mendadak menjalar di seluruh dadanya.
Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri lagi. Dia juga mencint** gadis ini. Teramat sangat.
*Bruk.*
Tas duffel hitam di bahu Elian merosot jatuh begitu saja ke lant** semen.
Tanpa ragu lagi, Elian langsung melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling tubuh mungil Aluna. Dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, sangat erat, seolah-olah jika dia melonggarkannya sedikit saja, Aluna akan lenyap dari pandangannya.
"B***... lo benar-benar cewek terb*** yang pernah gue kenal, Aluna," bisik Elian di sela-sela rambut Aluna. Suara cowok itu serak, menahan tangis yang akhirnya pecah juga. "Gue ini pembawa sial buat lo. Kenapa lo harus jatuh cinta sama cowok kayak gue?"
Aluna tidak menjawab, dia justru semakin menenggelamkan wajahnya di dada Elian, menghirup aroma khas tubuh cowok itu yang selalu membuatnya merasa tenang. Kedua tangannya beralih memeluk pinggang Elian dengan sangat erat, tidak membiarkan ada celah sedikit pun di antara mereka.
Elian mengecup puncak kepala Aluna dengan lembut, berkali-kali. Dia mengusap punggung Aluna dengan tangan kanannya yang masih gemetar, mencoba menenangkan tangisan gadis itu yang perlahan mulai mereda.
"Maaf," ucap Elian lirih. "Maaf karena gue pengecut dan hampir ninggalin lo sendirian di sini."
Elian perlahan merenggangkan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Aluna dengan kedua tangannya. Dia menghapus sisa air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya, menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu dengan tatapan penuh keyakinan dan kehangatan yang mendalam.
"Gue nggak akan pergi lagi, Al. Gue janji," ujar Elian dengan nada yang sangat bersungguh-sungguh. "Pers**** sama bokap gue, pers**** sama ancaman mereka. Gue bakal cari cara buat selesaiin ini semua tanpa harus ngorbanin beasiswa lo. Kita bakal hadapi ini bareng-bareng. Jadi, tolong... jangan nangis lagi, ya?"
Aluna menatap mata Elian, mencari keraguan di sana, namun yang dia temukan hanyalah ketulusan dan tekad yang bulat. Perlahan, senyum tipis mulai terukir di bibir Aluna yang masih basah oleh air mata. Dia mengangguk pelan.
"Janji?" tanya Aluna memastikan, sambil menyodorkan jari kelingkingnya yang mungil.
Elian terkekeh kecil, sebuah tawa khas yang selama beberapa minggu ini selalu berhasil membuat jantung Aluna berdegup kencang. Elian mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Aluna.
"Janji," jawab Elian mantap. "Mulai malam ini, aturan dilarang jatuh cinta di kamar nomor 7 resmi dihapus."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!