Bungkusan nasi Padang yang hangat itu terlepas begitu saja dari genggaman Elian, mendarat di atas meja kayu kecil yang reyot dengan suara debuk pelan. Aroma rendang dan sambal ijo yang biasanya menggugah selera mendadak terasa hambar, menguap digantikan oleh atmosfer pekat yang memenuhi kamar kos nomor 7.
Elian langsung berlutut di depan Aluna yang masih terduduk lemas di lant** semen dingin. Wajah gadis itu sembap, matanya merah, dan bahunya masih gemetar hebat.
"Al? Lo kenapa? Ada apa?!" Elian memegang kedua bahu Aluna, matanya menatap cemas, mencari luka fisik yang mungkin ada. "Siapa yang ke sini? Tadi gue liat ada mobil hitam mewah pergi dari gang depan. Itu orang-orang bokap gue, kan?"
Aluna mendongak, menatap Elian dengan pandangan kosong yang perlahan berubah menjadi keputusasaan yang mendalam. Air matanya kembali luruh.
"Pak Gunawan, El," bisik Aluna, suaranya parau dan bergetar. "Kepala pelayan bokap lo. Dia tahu lo ada di sini."
Rahang Elian mengeras seketika. "Si****. Terus dia ngapain lo? Dia main tangan? Bilang sama gue, Al!"
Aluna menggeleng pelan, lalu meremas kaos Elian dengan jemari yang gemetaran. "Nggak. Dia nggak mukul gue. Tapi dia ngancem gue, El. Dia tahu gue kuliah pake beasiswa di Universitas Pelita. Dia bilang... kalau lo nggak pulang minggu ini, beasiswa gue bakal dicabut. Masa depan gue, hidup gue... semuanya bisa dihancurin sama bokap lo dalam sekejap."
Mendengar itu, Elian seperti dihantam kenyataan pahit tepat di dadanya. Napasnya memburu. Kemarahan yang luar biasa membakar dadanya, namun di sisi lain, rasa bersalah yang teramat sangat merayap naik, mencekik tenggorokannya.
"Br******..." Elian mengumpat pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ini semua salah gue. Harusnya gue nggak pernah datang ke kosan lo. Harusnya gue nggak egois."
"Gue takut, El," isak Aluna, menyembunyikan wajahnya di dada Elian. Tangisnya pecah lagi. "Gue nggak punya siapa-siapa lagi. Nyokap gue di kampung lagi sakit, utang keluarga gue numpuk. Beasiswa itu satu-satunya tiket gue buat benerin hidup. Kalau itu hilang... gue harus bayar ganti rugi ratusan juta ke yayasan. Gue harus gimana?"
Elian memeluk Aluna erat, mencoba menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang sebenarnya dia sendiri pun tidak miliki saat ini. Di dalam otaknya yang cerdas, berbagai skenario buruk berputar cepat. Dia tahu persis watak ayahnya. Tuan Besar Wiratama tidak pernah menggertak sambal. Jika ayahnya berkata akan menghancurkan hidup Aluna, maka pria itu benar-benar akan melakukannya tanpa berkedip.
Selama ini, Elian berpikir dengan kabur dari rumah dan bersembunyi di kosan murah ini, dia bisa menghukum ayahnya. Tapi ternyata, dia salah besar. Orang kaya dan berkuasa seperti ayahnya tidak akan pernah kalah dengan cara pasif seperti ini. Mereka justru akan menindas siapa pun yang ada di sekitar Elian untuk memaksa Elian tunduk.
C**up lama mereka terdiam dalam posisi itu, hanya ditemani suara detak jam dinding murah dan deru kipas angin yang berputar malas.
Sampai akhirnya, Aluna perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Sorot matanya yang tadinya penuh ketakutan, mendadak berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Ada kilat kemarahan di sana.
"Gue capek takut, El," kata Aluna tiba-tiba. Suaranya tidak lagi bergetar sehebat tadi.
Elian menatapnya heran. "Maksud lo?"
"Kita nggak bisa terus-terusan kayak gini. Sembunyi di kamar kos ukuran tiga kali empat, makan nasi Padang sebungkus berdua, sambil nunggu hari di mana bokap lo bener-bener ngehancurin hidup gue," Aluna berdiri, berjalan ke arah dispenser, lalu menenggak segelas air putih dingin untuk menenangkan sarafnya.
Elian ikut berdiri, memperhatikan gerak-gerik Aluna. "Terus kita harus gimana? Gue nggak mungkin balik ke sana dan jadi boneka bokap gue lagi. Gue mending mati daripada harus hidup diatur-atur sama dia."
Aluna berbalik, bersandar pada meja dispenser. "Gue juga nggak mau lo balik jadi boneka dia. Tapi kita juga nggak bisa lari. Jadi, pilihan kita cuma satu."
"Apa?"
"Lawan."
Elian tertawa getir. "Lawan? Al, lo realistis dikit dong. Bokap gue itu raksasa bisnis. Dia punya pengacara terbaik di negeri ini, punya koneksi ke pejabat, punya duit yang nggak bakal habis tujuh turunan. Kita cuma dua mahasiswa semester akhir yang nggak punya apa-apa."
"Kita punya otak, El. Dan kita tahu kelemahan mereka," potong Aluna cepat. Ia melangkah mendekati Elian, matanya menatap tajam langsung ke manik mata cowok itu. "Dengerin gue. Di kantor agensi PR tempat gue magang sekarangβMedia Linkβkita sering banget nanganin krisis komunikasi buat perusahaan-perusahaan besar, terma**k kompetitor Wiratama Group. Gue belajar satu hal penting: korporasi besar itu kayak balon. Keliatannya raksasa dan kokoh, tapi begitu ditusuk di titik yang pas pake jarum kecil, mereka bakal kempes."
Elian mulai tertarik. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Oke. Terus jarum apa yang lo punya?"
"Wiratama Group lagi mempersiapkan IPO (Initial Public Offering) buat anak perusahaan teknologi mereka bulan depan, kan?" tanya Aluna, mengingat-ingat berita bisnis yang sempat ia baca di kantor magangnya.
Elian mengangguk perlahan. "Iya. Itu proyek ambisius bokap gue tahun ini. Nilainya triliunan."
"Bagus. Investor paling sensitif sama yang namanya isu etika kepemimpinan dan stabilitas keluarga pendiri," Aluna tersenyum tipis, sebuah senyuman taktis yang biasanya ia lihat dari bosnya di agensi PR saat menyusun strategi kampanye. "Kalau publik tahu pewaris tunggal Wiratama Group kabur karena kekerasan verbal dan pemaksaan kehendak, terus pihak keluarga menggunakan kekuasaan mereka untuk mengintimidasi mahasiswa miskin pemegang beasiswa... gimana menurut lo? Berapa persen saham mereka bakal anjlok sebelum bahkan sempat melant** di bursa?"
Mata Elian melebar. Ia menatap Aluna seolah baru pertama kali melihat gadis itu. "Al... lo mau nge-<i>spin</i> taktik PR buat nyerang bokap gue?"
"Bukan nyerang, El. Ini namanya menciptakan posisi tawar yang seimbang," ujar Aluna sant**, meski jantungnya sebenarnya berdegup kencang karena kenekatannya sendiri. "Bokap lo nggak mempan diancam pake drama keluarga atau air mata. Dia cuma paham satu bahasa: bahasa bisnis. Untung dan rugi."
Elian terdiam. Otak bisnisnya yang selama ini dididik keras oleh ayahnya langsung bekerja dengan kecepatan penuh. Strategi Aluna sangat ma**k akal. Ayahnya adalah seorang narsistik yang sangat memuja reputasi dan angka-angka di atas kertas saham.
"Lo bener," gumam Elian, mulai mondar-mandir di kamar kos yang sempit itu. "Bokap gue nggak bakal peduli kalau gue nangis-nangis minta bebas. Tapi kalau langkah gue bisa ngebuat valuasi perusahaannya turun beberapa persen, dia bakal dengerin gue."
Elian berhenti melangkah, lalu menatap Aluna dengan binar mata yang kini dipenuhi tekad baru. Ketakutan yang tadi menyelimutinya kini menguap, digantikan oleh adrenalin yang memuncak.
"Gue punya ide yang lebih g*** lagi," kata Elian dengan senyum miring yang khas.
"Apa?"
"Gue nggak bakal nemuin dia sebagai anak durhaka yang minta ampun. Gue bakal datang sebagai pebisnis profesional yang menawarkan kesepakatan," Elian duduk di tepi ka**r lipatnya, memberi isyarat agar Aluna mendekat.
Aluna ikut duduk di sampingnya. "Kesepakatan kayak gimana?"
"Bokap gue terobsesi menjadikan gue pewaris tunggal karena dia nggak mau aset keluarganya jatuh ke tangan paman-paman gue yang serakah. Dia butuh nama 'Adrian Wiratama' ada di dokumen resmi perusahaan," jelas Elian. "Jadi, gue bakal tawarkan ini: Gue akan tanda tangan surat pelepasan hak waris utama gue secara sukarela."
"Hah?! Lo g***?" Aluna menutup mulutnya terkejut. "Itu warisan triliunan, El! Lo lepas gitu aja?"
"Gue nggak butuh duit haram yang bikin hidup gue kayak di penjara, Al. Gue bisa cari duit sendiri pake otak gue," jawab Elian tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. "Tapi, pelepasan hak waris ini nggak gratis. Gue bakal minta kompensasi."
"Kompensasi apa?"
"Dana investasi mandiri sebesar sepuluh miliar rupiah. Jumlah itu kecil banget buat bokap gue, nggak ada satu persen dari total asetnya. Tapi buat gue, itu modal yang lebih dari c**up buat jalanin start-up teknologi yang lagi gue rancang bareng anak-anak teknik." Elian menatap Aluna dalam-dalam. "Dan di dalam draf kesepakatan itu, gue bakal ma**kin klausul khusus. Sebagian dari dana itu bakal langsung ditransfer ke rekening lo sebagai 'biaya kompensasi profesional' atas tekanan psikologis yang lo terima dari Pak Gunawan tadi."
Aluna terbelalak. "El, nggak! Gue nggak bisa terima duit sebanyak itu. Itu namanya pemerasan!"
"Itu bukan pemerasan, Aluna. Itu namanya ganti rugi atas ancaman terhadap masa depan lo," sela Elian dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Duit itu bisa langsung ngelunasin semua utang nyokap lo di kampung, dan sisanya bisa lo pake buat tabungan masa depan lo tanpa perlu pusing mikirin beasiswa lo dicabut atau nggak. Dengan begitu, bokap gue nggak punya kartu as lagi buat ngancem lo. Kita berdua menang. Kita berdua bebas."
Aluna menatap Elian, mencoba mencari keraguan di mata cowok itu, namun ia hanya menemukan keyakinan yang mutlak. Ide ini memang sangat nekat, bahkan cenderung g***. Mereka sedang berencana mendikte salah satu orang paling berkuasa di negeri ini.
Namun, melihat kondisi mereka sekarang yang sudah terdesak di ujung tanduk, rencana g*** ini adalah satu-satunya jalan keluar yang paling ma**k akal.
"Terus, gimana kalau bokap lo nolak?" tanya Aluna, mencoba mengantisipasi skenario terburuk.
"Disitulah peran lo sebagai anak magang agensi PR terbaik," Elian tersenyum tipis. "Gue butuh lo siapin draf 'Rencana B'. Sebuah rilis media dan dokumen kronologis intimidasi yang dilakukan oleh Pak Gunawan, lengkap dengan rekaman CCTV koridor kosan kita yang tadi sempat merekam kedatangan mereka. Kita taruh itu di dalam map hitam. Kalau bokap gue nolak tanda tangan kesepakatan bisnis gue... kita tinggal bilang kalau dokumen itu bakal sampai di meja redaksi media bisnis nasional dalam waktu lima menit."
Aluna menelan ludah. "G***. Ini bener-bener rencana nekat dua orang putus asa."
"Tapi lo mau, kan?" tantang Elian, menyodorkan tangannya ke depan Aluna. "Kita hadapi monster itu bareng-bareng."
Aluna menatap telapak tangan Elian, lalu beralih menatap wajah cowok yang selama beberapa minggu ini berbagi ruang sempit dengannya. Keberanian perlahan mengalir di nadinya, menggantikan sisa-sisa rasa takut yang sempat melumpuhkannya.
Aluna menyambut uluran tangan Elian, menjabatnya dengan erat. "Oke. Mari kita bikin Tuan Besar Wiratama tahu rasanya dikerjain sama anak kosan."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!