**Bab 12: Skakmat untuk Sang Konglomerat**
Gedung pencakar langit berbalut kaca biru itu menjulang angker di kawasan segitiga emas Jakarta. Di bawah terik matahari yang menyengat, gedung pusat Grup Wiratama tampak seperti kerajaan modern yang tidak tersentuh oleh rakyat jelata. Bagi Aluna, tempat ini terasa asing, dingin, dan sangat mengintimidasi.
Aluna menatap jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Dingin dan gemetar. Di sebelahnya, di dalam taksi online yang baru saja berhenti di lobi, Elian menggenggam tangannya erat-erat.
"Tenang, Al. Ada gue," bisik Elian. Suaranya rendah, namun penuh keyakinan yang entah bagaimana berhasil menyalurkan sedikit kehangatan ke tubuh Aluna yang kaku.
Aluna menarik napas panjang, lalu mengangguk. Hari ini dia memakai kemeja putih terbaiknya—satu-satunya kemeja yang dia setrika dengan sangat rapi di kamar kos nomor 7 semalam—dipadu dengan celana bahan hitam. Sementara Elian, cowok itu hanya memakai kemeja flanel hitam-merah yang kancing atasnya dibuka, memamerkan kaos dalaman hitam polos. Sangat ka**al untuk ukuran seseorang yang akan menemui salah satu manusia paling berkuasa di negeri ini. Tapi sorot mata Elian tidak main-main. Ada kilatan dingin di sana, tipe sorot mata yang belum pernah Aluna lihat selama mereka tinggal satu atap di kosan reyot itu.
Mereka turun dari taksi dan melangkah ma**k ke dalam lobi yang megah. Lant** marmernya begitu meng***p sampai Aluna bisa melihat bayangan wajahnya yang cemas. Beberapa staf keamanan bertubuh tegap sempat menghadang mereka, namun begitu Elian menyebutkan namanya, raut wajah para sekuriti itu langsung berubah tegang. Mereka segera membungkuk hormat dan mengarahkan keduanya ke lift khusus eksekutif.
Pintu lift berdenting terbuka di lant** 45. Suasana di lant** ini jauh lebih sunyi. Hanya ada aroma kopi mahal dan wangi pengharum ruangan yang elegan.
Seorang pria paruh baya berjas rapi—Pak Gunawan, kepala pelayan sekaligus tangan kanan ayah Elian—sudah berdiri menunggu di depan pintu ganda kayu m***ni yang besar. Begitu melihat Aluna, seringai tipis sempat melintas di wajah Pak Gunawan, namun langsung hilang saat matanya beradu dengan tatapan tajam Elian.
"Tuan Besar sudah menunggu di dalam, Muda Elian. Dan... Anda membawa gadis ini?" tanya Gunawan dengan nada meremehkan yang halus.
"Minggir, Gun. Jangan sampai gue patahin hidung lo di sini," jawab Elian sant**, namun nadanya begitu dingin hingga membuat Gunawan mundur selangkah dan membukakan pintu tanpa banyak bicara lagi.
Di dalam ruangan kantor yang luasnya hampir menyamai luas seluruh lant** kos-kosan Aluna, seorang pria paruh baya sedang duduk di balik meja kerja raksasa. Pria itu adalah Ardi Wiratama. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis disisir rapi ke belakang. Setelan jas rancangan desainer ternama melekat sempurna di tubuhnya yang tegap. Auranya begitu pekat, mendominasi seluruh ruangan dengan aroma kekuasaan yang mutlak.
Ardi bahkan tidak mendongak saat pintu terbuka. Dia sibuk menandatangani beberapa berkas sebelum akhirnya meletakkan pena emasnya dengan ketukan pelan yang terdengar seperti vonis mati di telinga Aluna.
"Akhirnya kamu pulang, Elian," suara Ardi berat dan berwibawa, menggema di ruangan sunyi itu. Matanya yang tajam seperti elang perlahan beralih ke arah Aluna. "Dan kamu membawa... pengganggu ini ke kantor Papa?"
Aluna refleks mencengkeram ujung kemeja Elian. Intimidasi pria itu nyata. Rasanya seperti oksigen di sekitar mereka mendadak tersedot habis.
"Dia bukan pengganggu. Namanya Aluna," potong Elian cepat. Dia menarik kursi di depan meja ayahnya tanpa dipersilakan, lalu memberi isyarat agar Aluna duduk di sebelahnya. "Dan kita ke sini bukan buat drama keluarga, Pa. Kita ke sini buat bisnis."
Ardi terkekeh sinis. Suaranya terdengar meremehkan. "Bisnis? Kamu mau bicara bisnis apa dengan Papa? Uang jajan kamu yang Papa stop? Atau kamu mau mengemis agar Papa tidak mencabut beasiswa pacar miskinmu ini?"
Aluna menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. Penghinaan itu terasa begitu menyengat, membuatnya ingin segera lari dari tempat ini. Namun, genggaman tangan Elian di bawah meja menahannya untuk tetap bertahan.
"Gue nggak butuh uang jajan dari Papa. Dan Aluna nggak butuh belas kasihan Papa," ujar Elian. Penggunaan kata 'gue-Papa' yang tidak biasa itu menunjukkan betapa Elian menjaga jarak aman secara emosional. Cowok itu kemudian merogoh tas ranselnya yang tampak dekil di tengah kemewahan ruangan itu, lalu mengeluarkan sebuah map biru tebal dan melemparkannya ke atas meja kerja sang ayah.
*B**k.*
Map itu mendarat tepat di depan Ardi Wiratama.
Ardi menatap map itu dengan sebelah alis terangkat. "Apa ini? Surat perjanjian bahwa kamu menyerah dan bersedia menikah dengan Kiara?"
"Buka aja dulu," tantang Elian sant**. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum miring yang penuh kemenangan. "Itu draf final perjanjian merger antara Grup Wiratama dan Mahardika Group lewat jalur perjodohan gue. Draf yang harusnya Papa tanda tangani minggu depan."
Ardi mendengus, namun rasa penasarannya tampaknya terusik. Dia membuka map tersebut dan mulai membaca lembar demi lembar. Awalnya, wajah pria tua itu tampak datar dan bosan. Namun, perlahan-lahan, dahi Ardi berkerut dalam. Matanya bergerak cepat menyusuri baris-baris kalimat hukum yang rumit di sana.
"Papa terlalu sibuk ngurusin pelarian gue ke kosan murah, sampai Papa nggak sadar kalau tim hukum Mahardika Group diam-diam mema**kkan klausul jebakan di pasal 7 ayat 3 mengenai 'Transfer Teknologi dan Aset Digital'," Elian mulai berbicara dengan nada tenang, namun presisi, seperti seorang pengacara senior yang sedang membacakan dakwaan.
Aluna menatap Elian dengan mata melebar. Dia tahu Elian cerdas, tapi melihat cowok yang biasanya malas-malasan di sofa kosan sambil main *game* kini berbicara dengan bahasa bisnis kelas tinggi membuat jantungnya berdegup kencang karena kagum.
"Apa maksud kamu?" tanya Ardi, suaranya mulai kehilangan nada meremehkannya.
"Coba Papa baca baik-baik anak kalimat di bagian akhir," Elian mencondongkan tubuhnya ke depan, mengetuk permukaan meja dengan jarinya. "Di situ tertulis bahwa jika pernikahan atau merger ini batal di tengah jalan karena alasan apa pun dari pihak pertama—yaitu gue—maka seluruh hak paten atas sistem logistik digital terbaru milik Wiratama akan otomatis jatuh ke tangan Mahardika Group sebagai kompensasi ganti rugi tanpa syarat. Tanpa opsi pembelian kembali."
Ardi langsung membalik halaman dengan cepat. Wajahnya mulai memucat saat menyadari kebenaran ucapan anaknya.
"Dan Papa tahu apa rencana Kiara?" Elian melanjutkan dengan senyum dingin. "Kiara udah punya pacar di London. Dia juga terpaksa ikut perjodohan ini karena ditekan bokapnya. Begitu kami nikah, dia berencana buat bikin skandal cerai dalam waktu kurang dari sebulan. Dan coba tebak siapa yang bakal disalahkan atas perceraian itu? Gue. Pihak pertama. Yang artinya, Wiratama bakal kehilangan aset digital senilai triliunan rupiah dalam semalam karena keteledoran Papa yang terlalu egois pengen ngatur hidup anaknya."
Sunyi senyap seketika melanda ruangan itu. Bahkan jarum jatuh pun mungkin akan terdengar. Pak Gunawan yang berdiri di sudut ruangan tampak menahan napas, ikut tegang.
Ardi Wiratama menatap dokumen di tangannya, lalu menatap Elian dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kemarahan di sana, namun di balik kemarahan itu, ada kilatan keterkejutan dan... rasa bangga yang terselubung.
"Dari mana kamu tahu soal rencana Kiara? Dan bagaimana kamu bisa menemukan celah hukum sekecil ini?" tanya Ardi, suaranya kini terdengar sangat serius, tidak ada lagi nada meremehkan.
"Kamar kos nomor 7 punya Wi-Fi yang lumayan kencang kalau malam, Pa," jawab Elian sant**, membuat Aluna hampir saja kelepasan tersenyum di tengah situasi menegangkan ini. "Dan jangan lupa, anak Papa ini mantan juara olimpiade hukum tingkat nasional sebelum Papa paksa ma**k jurusan bisnis. Menemukan jebakan murahan kayak gini cuma butuh waktu satu jam buat gue."
Elian mengetuk meja sekali lagi, menegakkan punggungnya. "Sekarang, kita bicara soal kesepakatan baru. Skakmat buat Papa."
Ardi menyandarkan tubuhnya, menatap putranya dengan saksama. "Katakan."
"Pertama, batalkan perjodohan konyol itu. Papa bisa cari cara lain buat kerja sama dengan Mahardika tanpa harus mengorbankan masa depan gue. Kalau Papa butuh strategi merger yang bersih tanpa jebakan, gue bisa bikin draf barunya dalam waktu tiga hari."
Ardi mengangguk pelan, mengakui keunggulan taktik anaknya. "Kedua?"
"Kedua, masalah Aluna." Elian menatap Aluna sekilas, memberikan senyum tipis yang menenangkan sebelum kembali menatap ayahnya dengan sorot mata sekeras baja. "Papa jamin beasiswa Aluna sampai dia lulus master. Tanpa syarat, tanpa gangguan dari orang-orang Papa lagi. Dan satu lagi, Papa bayar lunas seluruh utang keluarga Aluna di kampung. Anggap aja itu sebagai biaya konsultasi hukum yang baru saja gue berikan gratis ke Papa hari ini. Nilainya nggak ada apa-apanya dibanding kerugian triliunan rupiah yang hampir Papa alami."
Aluna menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Dia menatap Ardi Wiratama, menunggu reaksi sang konglomerat. Apakah pria itu akan mengamuk? Apakah dia akan mengusir mereka?
Ardi terdiam c**up lama. Dia menatap Elian, lalu beralih menatap Aluna yang meskipun gemetar, namun tetap menatapnya dengan berani. Perlahan, sudut bibir Ardi Wiratama terangkat. Sebuah senyuman tipis—yang sangat jarang dia perlihatkan—muncul di wajah tegasnya.
Pria paruh baya itu terkekeh pelan, yang lama-kelamaan berubah menjadi tawa renyah yang memenuhi ruangan.
"Cerdas. Licik. Dan tidak kenal takut," gumam Ardi sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu benar-benar darah dagingku, Elian. Kamu menggunakan senjata yang aku ajarkan untuk menyerangku balik."
Ardi menarik selembar kertas kosong dari lacinya, menuliskan beberapa baris kalimat dengan pena emasnya, lalu menandatanganinya dengan coretan cepat yang tegas. Dia mendorong kertas itu bersama dengan selembar cek ke arah Elian.
"Itu jaminan tertulis untuk beasiswa pacarmu, dan cek untuk melunasi seluruh masalah finansial keluarganya," kata Ardi dengan nada suara yang kini terdengar lebih sant**, bahkan hampir hangat. "Anggap saja ini kesepakatan bisnis pertama kita yang sah."
Elian mengambil kertas dan cek tersebut, memeriksanya dengan teliti sebelum menyerahkannya kepada Aluna yang menatap lembaran kertas itu dengan mata berkaca-kaca. Air mata haru perlahan menetes di pipi Aluna. Semua beban berat yang menghimpit pundaknya selama bertahun-tahun—beasiswa yang terancam, utang keluarga yang menumpuk, ketakutan akan masa depan—mendadak menguap begitu saja.
"Tapi ada satu syarat dari Papa, Elian," tambah Ardi sebelum Elian sempat beranjak.
Elian mengernyit curiga. "Apa?"
"Kamu bebas tinggal di mana saja sekarang, terma**k di kosan sempit itu. Papa tidak akan mengganggumu lagi. Tapi, setelah kamu lulus kuliah, kamu harus kembali ke sini untuk memimpin divisi digital Wiratama. Bukan karena dipaksa, tapi karena Papa tahu, tidak ada tempat lain yang c**up menantang untuk otak jeniusmu itu selain di sini."
Elian terdiam sejenak. Dia menatap ayahnya, lalu tersenyum tipis. "Kita lihat nanti, Pa. Tergantung seberapa besar Papa mau bayar gaji gue."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Elian berdiri, menggenggam erat tangan Aluna, dan menuntun gadis itu keluar dari ruangan kerja ayahnya.
Begitu pintu ganda m***ni itu tertutup di belakang mereka, Aluna langsung lemas. Kakinya terasa seperti jeli. Jika Elian tidak sigap merangkul pinggangnya, dia pasti sudah merosot ke lant** marmer yang meng***p itu.
"El... ini beneran?" bisik Aluna, suaranya serak karena menahan tangis bahagia. Dia menatap cek di tangannya yang nominalnya c**up untuk mengubah hidup keluarganya selamanya.
Elian tersenyum sangat lebar, jenis senyuman hangat dan usil yang biasa Aluna lihat di kosan nomor 7. Dia menghapus air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya.
"Iya, beneran, Al. Masalah lo udah kelar. Mulai hari ini, lo nggak usah pusing mikirin biaya kuliah atau utang lagi. Tugas lo sekarang cuma satu."
"Apa?" tanya Aluna polos.
"Mikirin nanti malam kita mau makan nasi Padang lauk apa di kosan. Gimana kalau rendang pakai ayam pop sekaligus? Kan kita udah kaya sekarang," goda Elian sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aluna tertawa di sela sisa tangisnya, lalu memukul dada Elian pelan. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Di tengah kemegahan gedung pencakar langit yang dingin ini, Aluna tahu, kamar kos nomor 7 dengan segala aturan anehnya adalah tempat paling hangat yang pernah dia miliki. Dan di samping cowok ini, dia akhirnya merasa benar-benar aman.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!