**Bab 13: Aturan Baru: Nggak Ada Aturan Lagi**
Pintu kayu kusam Kamar Kos Nomor 7 terbuka dengan derit pelan yang sudah sangat mereka hafal. Tapi malam ini, suara derit itu tidak lagi terdengar menyebalkan di telinga Aluna. Malah terasa seperti sebuah ucapan selamat datang yang hangat, menyambut mereka pulang ke tempat yang paling aman.
Aluna langsung mengempaskan tubuhnya ke atas ka**r busa tipis miliknya. Dia menghela napas panjang, memejamkan mata, dan membiarkan seluruh ketegangan yang menumpuk di pundaknya sejak tadi siang menguap begitu saja ke udara.
"G***. Gue masih nggak percaya kita beneran bisa pulang dengan selamat," gumam Aluna, suaranya agak teredam bantal gambar beruangnya yang sudah agak kempes.
Elian terkekeh pelan. Cowok itu menutup pintu, mengunci slotnya dari dalam, lalu melempar kunci kosan ke atas meja kayu kecil di sudut ruangan. Dia melepas kemeja flanel merah-hitamnya yang terasa gerah, menyisakan kaos hitam polos yang membungkus tubuh tegapnya. Dengan gerakan sant**, Elian duduk di lant** semen berlapis vinyil, bersandar pada ranjangnya sendiri yang letaknya berseberangan dengan ranjang Aluna.
"Kan udah gue bilang, Al. Bokap gue emang keras kepala dan berkuasa, tapi dia nggak bodoh. Begitu dia tahu kita pegang semua bukti rekaman transaksi ilegal proyek reklamasi itu, dia nggak punya pilihan lain selain mundur. Dia terlalu sayang sama reputasi perusahaannya," kata Elian. Wajahnya kelihatan capek banget, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tapi sorot matanya kelihatan sangat plong. Nggak ada lagi beban berat yang selama ini bikin pundaknya selalu kelihatan tegang.
Aluna mengubah posisinya jadi duduk, melipat kakinya, dan menatap Elian yang duduk di lant**. "Tapi tetep aja, El. Tadi itu menegangkan banget. Pas bokap lo geb**k meja sampai vas bunganya geser... sumpah, jantung gue rasanya kayak mau copot ke lant**."
"Tapi lo keren banget tadi, tahu nggak?" Elian menatap Aluna sambil tersenyum jahil, matanya menyipit jenaka. "Nggak nangis, nggak pingsan, dan lo bahkan berani natap balik mata bokap gue pas dia mulai ngancem mau ngeluarin lo dari kampus. Gue bangga banget sama lo."
"Siapa bilang gue nggak gemeteran?" Aluna merengut, meraih bantalnya dan memeluknya erat. "Kaki gue lemes banget tahu! Ini aja masih kerasa pegelnya gara-gara nahan gemeter pas pakai *high heels* tadi. Oh iya, kita belum makan malam kan? Gue laper banget. Tadi di restoran VIP kantor bokap lo, gue cuma berani neguk air putih setetes."
Elian tertawa lepas. Suara tawanya yang renyah memenuhi kamar kos sempit itu. Ini pertama kalinya Aluna mendengar Elian tertawa selepas ini, tanpa ada beban atau kepura-puraan di dalamnya.
"Sama. Makanan mahal di tempat kayak gitu rasanya hambar kalau dimakan sambil diintimidasi aura konglomerat g*** hormat," sahut Elian. Dia berdiri, lalu berjalan ke arah kulkas satu pintu kecil yang ada di pojok kamar. "Bentar, gue punya menu mewah buat merayakan kemenangan kita malam ini."
Elian mengeluarkan dua cup mi instan rasa soto dan dua botol teh manis dingin. "Menu legendaris anak kosan. Gimana? Setuju?"
"Setuju banget!" seru Aluna dengan mata berbinar. "Pake telur nggak?"
"Wah, kebetulan stok telur kita abis, Al. Tapi tenang, sensasi micinnya tetep nomor satu," canda Elian sambil melangkah ke dispenser air panas di sudut luar kamar.
Dalam waktu sepuluh menit, aroma bumbu mi instan yang gurih, asin, dan sedikit asam segar dari jeruk nipis sudah memenuhi seluruh penjuru Kamar Nomor 7. Mereka makan dalam diam yang nyaman, hanya diseli-seli oleh suara seruputan mi dan desah kepuasan karena perut mereka akhirnya terisi makanan hangat setelah seharian bertarung nyawa secara mental.
Setelah cup mi instan mereka kosong dan diletakkan di lant**, keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti kamar. Aluna menatap lant** di antara kedua ranjang mereka. Di sana, garis lakban merah tebal masih terbentang lurus, membelah kamar kos berukuran 3x4 meter itu menjadi dua wilayah kekuasaan yang mutlak sejak hari pertama mereka terpaksa tinggal bersama.
Tiba-tiba, Elian meletakkan botol tehnya, lalu bergerak turun. Cowok itu berlutut di lant** semen.
"El? Lo ngapain?" tanya Aluna heran, memperhatikan Elian yang mulai mengorek ujung lakban merah di dekat pintu dengan kuku jarinya.
"Ngebongkar batas suci," jawab Elian singkat tanpa menoleh.
Dengan satu tarikan kuat, suara *sreeettt* yang nyaring terdengar di dalam kamar yang sepi itu. Elian mengelupas lakban merah itu dari lant** semen berlapis vinyil. Dia merangkak perlahan, menarik sisa lakban dengan bertenaga, mengabaikan sisa-sisa lem lengket yang menempel di ujung jarinya.
Aluna terpaku di tempatnya duduk. Dia melihat bagaimana garis merah yang selama ini membatasi gerak-gerik merekaβgaris yang membuat mereka harus ekstra hati-hati agar tidak saling melanggar privasi, garis yang membuat mereka sering berantem konyol hanya karena kaki salah satu dari mereka lewat satu senti sajaβkini tergulung menjadi gumpalan plastik merah kusut tak berguna di tangan Elian.
"Udah nggak butuh ini lagi," ucap Elian sambil mendongak, menatap Aluna dengan senyum tipis yang super manis. "Kamar ini punya kita berdua sekarang. Nggak ada lagi wilayah lo, nggak ada lagi wilayah gue. Semuanya milik kita."
Hati Aluna berdesir hebat. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, membuat matanya mendadak terasa agak panas dan berkaca-kaca. "El..."
Elian tidak berhenti di situ. Dia berdiri, melangkah ke arah lemari pakaian kayu di sisinya. Di pintu lemari itu, tertempel selembar kertas HVS yang sudah agak berdebu. Di bagian atasnya tertulis dengan tinta spidol hitam tebal: **ATURAN KAMAR KOS NOMOR 7**.
Aturan konyol yang dulu sempat membuat Aluna frustrasi setengah mati dan pengin menjambak rambut Elian setiap hari. Aturan tentang batas jam malam, aturan dilarang menyentuh barang masing-masing tanpa izin tertulis, aturan dilarang berbicara lebih dari sepuluh menit kalau tidak penting, dan belasan aturan absurd lainnya yang sengaja mereka buat untuk menjaga jarak.
Elian merobek kertas itu dari pintu lemari dengan sekali sentak. Suara kertas robek itu terdengar begitu memuaskan di telinga Aluna.
"Ayo, kita bakar," ajak Elian, matanya berkilat penuh semangat usil yang menyenangkan.
"Hah? Bakar? Di dalam kamar kosan?" Aluna langsung panik, matanya membelalak. "Entar alarm asapnya bunyi, El! Atau yang lebih parah, kita bisa bikin kosan Ibu Kos yang reot ini kebakaran!"
"Tenang, Al. Kosan murah per bulan sejuta kayak gini mana ada sistem alarm asapnya. Paling canggih juga cuma ada kipas angin dinding yang muternya bunyi *ngek-ngok*," seloroh Elian sambil tertawa. Dia mengambil kaleng bekas biskuit Khong Guan yang biasa mereka jadikan tempat sampah kertas di pojok ruangan. Dia membawa kaleng itu ke dekat jendela yang sengaja dibuka lebar-lebar agar angin malam ma**k.
Elian mengeluarkan korek gas hitam dari saku celananya. Dia memantik api kecil, lalu mendekatkannya ke ujung kertas aturan tersebut.
Api langsung menyambar kertas kering itu dengan cepat. Elian segera menjatuhkan kertas yang mulai berkobar itu ke dalam kaleng biskuit. Cahaya oranye dari kobaran api kecil itu menari-nari di wajah mereka berdua, memantul di bola mata Aluna yang kini benar-benar basah oleh air mata yang siap tumpah.
Mereka berdua berdiri berdampingan di dekat jendela, menatap lembaran kertas berisi aturan-aturan mengekang itu perlahan-lahan berubah menjadi abu hitam yang rapuh dan beterbangan tertiup angin malam yang ma**k lewat celah jendela. Semua batasan konyol, semua rasa canggung, dan semua ketakutan yang mereka bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di kamar ini dengan berat hati, rasanya ikut hancur dan terbakar habis malam itu juga.
"Selamat tinggal, aturan aneh," bisik Aluna sambil tersenyum sangat lebar.
"Selamat tinggal, masa-masa kita musuhan kayak tom and jerry," tambah Elian, lalu meniup sisa asap tipis yang membubung dari dalam kaleng sampai padam sepenuhnya.
Setelah abu mendingin, Elian menaruh kaleng itu kembali ke lant**. Kamar kembali senyap, hanya menyisakan suara deru angin malam dari luar dan embusan napas mereka yang mulai teratur.
Elian berbalik badan, sepenuhnya menghadap ke arah Aluna. Jarak mereka kini sangat dekat. Nggak ada lagi lakban merah di lant** yang melarang Elian untuk melangkah lebih dekat ke arah Aluna.
Elian mengambil langkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai akhirnya dia berdiri tepat di depan Aluna, hingga Aluna bisa mencium aroma sisa parfum maskulin Elian yang bercampur dengan aroma angin malam. Cowok itu menatap Aluna lekat-lekat. Sorot matanya yang biasanya penuh sarkasme, dingin, dan kejahilan, kini melunak sepenuhnya, digantikan oleh tatapan yang begitu hangat, dalam, dan tulus.
"Al," panggil Elian lembut. Suaranya terdengar agak serak, membuat bulu kuduk Aluna meremang halus.
"Ya?" Jantung Aluna mulai berdegup kencang. Kali ini bukan karena takut pada ancaman bokap Elian yang kejam, tapi karena kedekatan fisik dengan cowok di depannya ini.
Elian perlahan meraih kedua tangan Aluna, menggenggamnya erat. Telapak tangan Elian terasa sangat hangat, berbanding terbalik dengan jemari Aluna yang mendadak sedingin es karena saking gugupnya.
"Waktu pertama kali lo salah ma**k kamar dan berakhir jadi teman sekamar gue, jujur, gue sempat mikir lo adalah cewek paling berisik, cerewet, dan ribet yang pernah gue temuin seumur hidup gue," mulai Elian dengan kekehan pelan di ujung kalimatnya.
"Heh! Mulai deh ngejeknya," protes Aluna spontan, pipinya langsung merona merah muda. Dia mencoba menarik tangannya, tapi Elian malah menggenggamnya lebih erat, menolak untuk melepaskannya.
"Tapi dengerin dulu, Al, gue belum selesai ngomong," potong Elian lembut, jempolnya mengusap punggung tangan Aluna dengan perlahan dan menenangkan. "Tapi seiring berjalannya waktu, gara-gara aturan konyol yang kita buat sendiri buat saling jaga jarak, gue malah makin nggak bisa berhenti merhatiin lo. Gue merhatiin gimana lo kalau lagi tidur sambil dengerin lagu galau di Spotify, gimana lo kalau lagi panik ngerjain tugas kuliah sampai rambut lo diikat asal-asalan, dan gimana lo selalu berusaha kelihatan kuat di depan orang lain padahal sebenarnya hati lo itu rapuh banget dan gampang terluka."
Aluna menahan napasnya. Matanya terkunci pada manik mata cokelat gelap milik Elian yang kini memancarkan kesungguhan yang luar biasa.
"Gue sadar, Al. Kamar kos nomor 7 ini, yang tadinya cuma tempat pelarian gue yang dingin, sepi, dan mati rasa dari tuntutan keluarga gue yang g***, perlahan-lahan berubah jadi tempat yang paling pengin gue tuju setiap hari setelah capek kuliah. Bukan karena kamarnya bagus, tapi karena ada lo di dalamnya," lanjut Elian. Nada suaranya terdengar sangat tulus, mengalir begitu saja tanpa ada bumbu kalimat puitis yang berlebihan. "Gue sayang sama lo, Aluna. Gue nggak mau lagi ada batasan jarak atau aturan aneh di antara kita. Gue pengin lo jadi pacar gue. Beneran, tanpa syarat, tanpa batas wilayah, dan tanpa aturan konyol apa pun lagi."
Satu tetes air mata yang sejak tadi ditahan Aluna akhirnya luruh juga, mengalir melewati pipinya yang hangat. Tapi kali ini, itu adalah air mata kebahagiaan yang sangat melegakan. Dia tidak pernah menyangka bahwa cowok cuek, ketus, menyebalkan, dan super kaku yang dulu sangat dia benci setengah mati, kini bertransformasi menjadi orang yang paling berharga dan paling dia inginkan di dalam hidupnya.
"Lo... lo curang banget ya, El. Tiba-tiba ngomong kayak gini pas kita lagi bau mi instan begini," ucap Aluna sambil terisak pelan, berusaha tertawa di sela tangis bahagianya.
Elian tersenyum sangat lebar sampai deretan giginya yang rapi terlihat. Dia mengangkat satu tangannya, lalu menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi Aluna dengan gerakan yang sangat lembut. "Jadi, gimana? Lo mau kan jadi pacar cowok pemilik Kamar Nomor 7 yang aneh ini?"
Aluna mengangguk cepat tanpa ragu sedikit pun. "Mau, El. Gue juga sayang banget sama lo. Makasih ya udah selalu ada buat gue."
Mendengar jawaban itu, senyum Elian makin merekah. Tanpa buang waktu lagi, dia langsung menarik Aluna ke dalam pelukannya. Elian mendekap tubuh Aluna dengan erat, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu nyata dan kini benar-benar berada di pelukannya sebagai miliknya. Aluna menyandarkan kepalanya di dada bidang Elian, memejamkan mata sambil mendengarkan detak jantung cowok itu yang berdegup sangat kencangβsama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.
Kamar Kos Nomor 7 malam ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi hawa dingin yang menusuk kulit, tidak ada lagi rasa canggung yang membatasi komunikasi mereka, dan tidak ada lagi kecemasan tentang hari esok. Ruangan sempit yang dulu terasa seperti penjara darurat ini, sekarang terasa begitu hangat, nyaman, dan penuh dengan cinta yang tulus.
Di atas lant** semen yang kini bersih tanpa garis lakban merah, dan di bawah dinding yang kini bersih dari lembaran kertas aturan aneh, dua hati yang sempat terluka oleh ego keluarga masing-masing itu akhirnya resmi bersatu. Mereka kini bebas melangkah ke mana pun mereka mau, saling merangkul tanpa takut melanggar batas, dan melangkah bersama menghadapi hari esok. Sebab bagi mereka berdua, aturan baru untuk hubungan mereka mulai malam ini adalah: nggak ada aturan lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!