Kamar Kos Nomor 7 Punya Aturan Aneh

Bab 2: Satu Kamar, Dua Pemilik, dan Lakban Merah

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Satu Kamar, Dua Pemilik, dan Lakban Merah**

"Demi apa pun, ini ka**r empuk banget! Berasa jadi *princess* semalam!"

Aluna langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ka**r berukuran *King Size* yang super empuk. Aroma seprai yang wangi lavender langsung menyergap indra penciumannya. Di atasnya, AC menyemburkan hawa dingin yang sangat kontras dengan udara Jakarta di luar yang mirip simulasi neraka bocor. Di depannya, ada Smart TV layar datar yang terpajang manis di dinding, lengkap dengan kulkas mini di sudut kamar yang setelah dibuka ternyata berfungsi dengan sangat baik.

Semua ini cuma empat ratus lima puluh ribu rupiah sebulan. Aluna merasa seperti baru saja memenangkan lotre sepuluh miliar.

"Bu Ambar, lihat nih! Mantan anak kosmu sekarang tinggal di tempat yang jauh lebih estetik!" gumam Aluna puas, menatap langit-langit kamar dengan senyum lebar yang hampir merobek pipinya.

Namun, momen kemenangan Aluna tidak bertahan lama. Baru saja ia memejamkan mata untuk menikmati sisa-sisa rasa syukurnya, terdengar suara *bip* nyaring dari arah pintu.

*Cklek.*

Aluna langsung terduduk tegak. Jantungnya berdegup kencang. *Wah, jangan-jangan ini kosan sekte sesat beneran dan tumbalnya mau diambil sekarang?* batinnya panik.

Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok cowok tinggi berbalut jaket *hoodie* hitam dan celana jins gelap. Cowok itu membawa satu koper hitam besar dan sebuah ransel yang penuh dengan barang. Wajahnya blasteran, dengan rahang tegas, hidung mancung, dan rambut hitam acak-akan yang kelihatan sangat pas di wajahnya. Intinya, cowok itu ganteng. Sangat ganteng, tipe-tipe visual cowok fiksi di aplikasi oren yang sering dibaca anak remaja.

Tapi, begitu mata mereka bertemu, ekspresi cowok itu langsung berubah dari lelah menjadi super ketus.

"Lo siapa? Ngapain di kamar gue?" tanya cowok itu dengan suara berat, terdengar sangat tidak ramah.

Aluna mengerutkan keningnya, langsung turun dari ka**r dengan mode defensif penuh. "Hah? Lo yang siapa? Main ma**k kamar orang sembarangan! Keluar nggak lo, sebelum gue teriak maling!"

Cowok itu mendengus kasar, lalu mengangkat sebuah kunci kartu magnetik di depan wajah Aluna. "Gue penyewa kamar nomor 7. Nama gue Elian. Dan kamar ini, secara hukum dan transaksi digital, adalah hak gue."

"Enak aja! Gue juga penyewa kamar nomor 7! Nama gue Aluna, dan gue udah bayar lunas buat sebulan ke depan!" Aluna tidak mau kalah. Ia langsung menyambar ponselnya dan menyodorkan bukti transfer serta pesan konfirmasi dari pengelola kos tepat di depan hidung cowok bernama Elian itu. "Lihat nih! Tanggal ma**k hari ini, Kamar Nomor 7!"

Elian tidak mau kalah. Ia juga merogoh saku jinsnya dan menyodorkan layar ponselnya sendiri yang menampilkan bukti transaksi yang persis sama. "Gue juga hari ini. Jam transfer gue jam dua siang. Lo jam berapa?"

Aluna memicingkan mata, membaca det**l di layar ponsel Elian. "Gue... jam dua lewat lima menit."

"Nah, berarti secara teori, gue yang dapet kamar ini duluan. Lo silakan angkat kaki," kata Elian dingin, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.

"Nggak bisa gitu dong! Masa selisih lima menit doang gue diusir? Gue nggak punya tempat tinggal lain tahu!" pekik Aluna frustrasi. "Pokoknya gue nggak mau pindah!"

Keributan mereka akhirnya memancing kedatangan Pak Edi, pengelola kos yang dari penampilannya kelihatan seperti bapak-bapak paruh baya yang sedang mengalami krisis paruh baya. Pak Edi datang dengan kaos oblong putih yang sudah agak menguning di bagian ketiak dan celana kolor motif tentara, sambil terus-menerus mengusap keringat di dahinya yang botak sebagian.

"Aduh, aduh... ada apa ini ribut-ribut?" tanya Pak Edi dengan wajah panik yang dibuat-buat.

"Pak, ini maksudnya apa ya? Kenapa kamar nomor 7 disewain ke dua orang sekaligus?" tuntut Elian, suaranya terdengar sangat menuntut penjelasan.

Pak Edi meringis, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, maaf banget Mas Elian, Mbak Aluna... Jadi gini, kemarin itu sistem aplikasi booking kosan kita lagi eror gara-gara kena retas atau apa gitu lah. Saya juga gaptek, asal pencet 'OK' aja pas ada notifikasi ma**k. Eh, nggak tahunya uang sewa dari kalian berdua malah ma**k semua ke rekening pemilik kos yang lagi liburan di Bali."

"Terus solusinya gimana, Pak? Balikin uang saya sekarang, biar saya cari tempat lain!" sahut Aluna cepat. Walaupun sebenarnya ia tahu mencari kosan dengan harga segini di Jakarta adalah hal yang mustahil.

Pak Edi makin meringis lebar, menampilkan deretan giginya yang agak kekuningan. "Waduh, Mbak... Uangnya kan langsung ma**k ke rekening bos besar. Saya nggak punya akses buat *refund*. Kalau mau diproses, minimal harus nunggu bos pulang dari Bali, itu juga tiga minggu lagi. Kamar lain di kosan ini juga udah penuh semua."

"Tiga minggu?!" Aluna dan Elian berteriak kompak.

"Iya... Jadi, gimana kalau kalian berdua... bagi kamar aja dulu?" usul Pak Edi tanpa dosa, sambil memberikan senyum tanpa bersalah. "Kamarnya kan luas, ka**rnya juga muat buat bertiga malah. Lagian cuma buat sementara waktu sampai uangnya bisa dikembalikan."

"G*** YA, PAK?!" teriak Aluna histeris. "Saya cewek, dia cowok! Mana bisa sekamar!"

"Saya juga nggak sudi sekamar sama cewek berisik kayak dia," timpal Elian pedas.

"Yaelah Mas, Mbak, zaman sekarang mah fleksibel aja. Anggap aja lagi *sharing room* kayak di luar negeri itu lho. Daripada kalian berdua menggelandang di jalanan Jakarta? Lagian kan di sini aman, ada CCTV di koridor," kata Pak Edi sant**. Sebelum mereka sempat memprotes lagi, ponsel Pak Edi tiba-tiba berbunyi nyaring. "Aduh, istri saya manggil nih, mau minta anterin ke pasar. Pokoknya kalian rembukan aja dulu ya! Damai itu indah!"

Dan dengan kecepatan yang sangat tidak sinkron dengan fisiknya yang tambun, Pak Edi langsung melesat pergi, meninggalkan Aluna dan Elian yang mematung di tengah kamar.

Hening sesaat menyergap ruangan ber-AC itu.

Aluna melirik Elian dengan sudut matanya. Cowok itu kelihatan sedang berpikir keras, wajahnya sangat kusut. Di sisi lain, Aluna meraba kantong celananya. Di sana hanya ada sisa uang beberapa ratus ribu rupiah. Kalau ia pergi sekarang, ia bener-bener harus tidur di emperan toko. Gengsinya yang setinggi langit akan hancur lebur, dan ia tidak mau dicap sebagai anak magang yang gagal bertahan hidup di Jakarta.

"Lo..." Elian akhirnya membuka suara, memecah keheningan. "Bener-bener nggak bisa pergi?"

Aluna menghela napas pasrah, bahunya merosot. "Gue cuma punya duit pas-pasan di dompet. Kalau gue keluar dari sini, gue bakal jadi tuna wisma. Gue mohon, plis... biarin gue tinggal di sini. Gue janji nggak bakal ganggu lo."

Elian menatap Aluna lekat-lekat, menilai ketulusan di mata cewek di hadapannya itu. Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu abad, Elian mengembuskan napas panjang.

"Oke. Kita bagi kamar ini," kata Elian akhirnya.

Aluna hampir saja melompat kegirangan kalau saja Elian tidak langsung mengangkat telunjuknya ke udara.

"Tapi dengan satu syarat mutlak," lanjut Elian dengan nada dingin yang tidak bisa dibantah. "Lo harus mematuhi semua aturan yang gue buat. Nggak ada tawar-menawar."

"Aturan? Aturan apaan?" tanya Aluna curiga.

Elian tidak menjawab. Ia malah melangkah ke arah ransel besarnya, merogoh bagian dalam tas, dan mengeluarkan satu gulungan lakban merah tebal. Aluna mengernyitkan dahi. *Mau ngapain nih cowok?*

Tanpa memedulikan tatapan heran Aluna, Elian berjongkok di lant**. Dengan gerakan presisi yang sangat rapiβ€”seolah-olah dia adalah seorang arsitek yang sedang mengukur garis bangunanβ€”Elian menarik lakban merah itu dan menempelkannya tepat di tengah-tengah lant** kamar, membagi ruangan berukuran 4x4 meter itu menjadi dua bagian yang sama persis.

Garis lakban merah itu terus ditarik lurus ke atas, membelah lant** kayu, merayap naik ke ranjang *King Size*, membelah seprai lavender tepat di bagian tengah, lalu berakhir di dinding belakang ka**r.

"G*** lo ya? Ka**r juga ditarikin lakban?!" protes Aluna, menatap tidak percaya pada garis merah menyala yang kini membagi tempat tidurnya menjadi dua bagian.

"Ini namanya pembatasan wilayah," sahut Elian sant**, bangkit berdiri sambil menepuk kedua telapak tangannya. "Sisi kanan punya gue, sisi kiri punya lo. Barang-barang lo nggak boleh melewati garis merah ini bahkan cuma satu milimeter pun. Kalau gue nemu kaos kaki, tas, atau rambut lo lewat batas... gue buang ke tempat sampah."

Aluna mendengus, melipat dadanya kesal. "Segitunya banget? Kayak anak TK rebutan meja belajar!"

"Ini demi kenyamanan bersama. Dan satu lagi," Elian mengeluarkan selembar kertas HVS putih dari map di tasnya, lalu menempelkannya di pintu kamar menggunakan sisa lakban merah. Di atas kertas itu, tertulis tulisan tangan yang sangat rapi: **ATURAN ANEH KAMAR NOMOR 7**.

Aluna mendekat untuk membaca poin-poin yang tertulis di sana.

"Aturan nomor satu: Batas wilayah adalah sakral. Siapa yang melanggar, denda sepuluh ribu per kejadian," baca Aluna keras-keras. "Aturan nomor dua: Dilarang bising setelah jam sepuluh malam. Gue butuh ketenangan buat ngerjain tugas kuliah."

"Gue ini mahasiswa jurusan arsitektur tingkat akhir, tugas gue banyak dan butuh konsentrasi tinggi. Gue nggak mau denger suara drama Korea atau tangisan lo pas malam-malam," potong Elian ketus.

Aluna memutar bola matanya malas. "Oke, terserah lo. Terus ini aturan nomor tiga apa maksudnya? Ditulis pakai spidol merah tebal gini."

Aluna membaca tulisan di baris terakhir, dan matanya langsung membelalak lebar.

*Aturan Nomor Tiga: DILARANG KERAS BAPER ALIAS JATUH CINTA SATU SAMA LAIN.*

Aluna langsung menoleh ke arah Elian dengan ekspresi wajah seolah-olah ia baru saja melihat alien berkepala dua. "Lo... lo serius nulis aturan ginian?"

"Gue sangat serius," kata Elian, menatap Aluna dengan pandangan mengintimidasi. "Gue tahu gue ganteng. Di kampus, cewek-cewek selalu cari perhatian ke gue. Karena kita bakal tinggal sekamar untuk beberapa minggu ke depan, gue mau menegaskan dari awal: jangan pernah ada perasaan apa pun di antara kita. Jangan baper sama apa yang gue lakuin, dan jangan coba-coba tebar pesona. Kita di sini murni karena terpaksa berbagi ruang."

Aluna terdiam selama tiga detik, lalu meledak dalam tawa yang sangat keras sampai-sampai ia harus memegangi perutnya. "Hahahaha! Aduh... bengek gue! G***, tingkat kepedean lo bener-bener udah menembus lapisan atmosfer ya!"

"Gue nggak bercanda, Aluna," desis Elian, mukanya mulai memerah karena kesal ditertawakan.

"Denger ya, Elian yang super pede," kata Aluna setelah berhasil meredakan tawanya, meskipun sisa-sisa senyum mengejek masih menempel di bibirnya. Ia melangkah maju hingga ujung sepatunya tepat menyentuh garis lakban merah di lant**. "Tipe cowok idaman gue itu yang ramah, humoris, dan yang paling penting... nggak punya gangguan kepribadian narsistik kayak lo. Jadi lo tenang aja, mending gue jatuh cinta sama tiang jemuran daripada sama cowok modelan kulkas dua pintu kayak lo!"

Elian menatap Aluna tajam, matanya menyipit penuh selidik. "Bagus kalau gitu. Pegang ucapan lo."

"Gue bakal pegang kata-kata gue. Sekarang, minggir! Gue mau beresin barang-barang gue di area kekuasaan gue," usir Aluna, menunjuk sisi kiri kamar yang kini resmi menjadi wilayahnya.

Elian hanya mendengus dingin, lalu berbalik menuju mejanya di sisi kanan, langsung membuka laptopnya tanpa memedulikan Aluna lagi.

Aluna menghela napas panjang, menatap garis lakban merah di lant** yang memisahkan dunia mereka berdua. Satu kamar sempit, dua orang asing yang sama-sama keras kepala, dan satu set aturan aneh yang harus mereka patuhi.

*Tuhan... tolong kuatkan iman dan kesabaran Aluna selama tiga minggu ke depan,* doa Aluna dalam hati, sebelum mulai membongkar kardus mi instannya dengan kasar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca