Kamar Kos Nomor 7 Punya Aturan Aneh

Bab 3: Perang Dingin di Atas Garis Pembatas

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Perang Dingin di Atas Garis Pembatas**

Lakban merah selebar lima sentimeter itu merekat erat di lant** lant** vinil, membentang lurus dari bawah pintu ma**k, membelah tengah ruangan, naik ke dinding, hingga berakhir di ujung kamar mandi.

Garis pembatas itu adalah saksi bisu gencatan senjata darurat antara Aluna dan Elian.

Di sebelah kiri lakban adalah wilayah kekuasaan Aluna: ka**r dengan seprai bermotif buah persik yang estetik (tapi sering kali berantakan), meja belajar yang dipenuhi tumpukan kertas draf skripsi, binder, gelas bekas kopi instan, dan gantungan baju yang penuh dengan kemeja magang.

Sementara di sebelah kanan adalah wilayah kekuasaan Elian: ka**r dengan seprai abu-abu gelap yang selalu tegang tanpa kerutan, meja belajar super rapi dengan laptop mahal, *tablet*, *holder* ponsel, dan sebuah tanaman sukulen kecil di sudut meja yang diletakkan dengan presisi milimeter. Sangat rapi, sangat minimalis, dan sangat menyebalkan di mata Aluna.

"Hari kelima," gumam Aluna sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas malam.

Tubuh Aluna rasanya mau rontok. Seharian ini dia habis diperas bagai cucian basah di kantor magangnya daerah Sudirman. Belum lagi revisi bab tiga skripsinya dicoret habis-habisan oleh dosen pembimbing lewat *e-mail* sore tadi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Aluna menyeret langkahnya ma**k ke dalam kamar nomor 7.

*B**k!*

Aluna tidak sengaja menjatuhkan tas ranselnya yang berat karena pundaknya sudah mati rasa. Suara itu menggema c**up keras di dalam kamar yang sunyi.

Dari balik meja belajarnya, Elian yang sedang fokus membaca buku tebal ber-cover bahasa Inggris langsung menoleh. Sepasang matanya yang tajam menatap Aluna dengan pandangan menghakimi. Cowok itu mendengus pelan, lalu sengaja memakai *headphone* nirkabelnya dengan gerakan dramatis.

Aluna memutar bola matanya malas. *Sok ganteng, sok misterius, sok sibuk!* batinnya kesal.

Dengan sengaja, Aluna melepaskan flat shoes-nya dengan hentakan yang sedikit lebih keras dari biasanya. *Pletak! Pletak!*

"Bisa pelan-pelan gak?"

Suara berat Elian memecah keheningan. Cowok itu melepas sebelah *headphone*-nya, menatap Aluna datar. "Gue butuh ketenangan buat belajar. Suara lo berisik banget kayak rombongan sirkus baru pulang."

Aluna yang sudah lelah lahir batin langsung tersulut. Dia berbalik, bersedekap di areanya, tepat satu sentimeter di belakang garis lakban merah. "Heh, Tuan Muda! Gue baru pulang kerja jam sebelas malam, jalan kaki dari halte MRT, kehujanan dikit, dan lo malah komplain soal suara sepatu? Tolong ya, punya empati dikit napa!"

"Empati itu buat hal yang ma**k akal," sahut Elian dingin. "Kalau lo tahu lo bakal pulang malam dan bikin berisik, minimal belajar jalan tanpa bikin polusi suara. Kamar ini sempit, Aluna."

"Kalau sempit, ya lo pindah aja! Gak usah ngekos di tempat empat ratus lima puluh ribu sebulan kalau mau ketenangan sekelas hotel bintang lima!" cerocos Aluna kesal.

Elian tidak membalas. Dia hanya menatap Aluna dari atas ke bawah dengan tatapan dingin yang sangat menyebalkan, lalu kembali memakai *headphone*-nya dan berbalik membelakangi Aluna.

"Argh! Pengen gue kunyah rasanya nih orang!" desis Aluna pelan, menahan teriakan frustrasinya di dalam bantal.

***

Perang dingin mereka tidak berhenti di situ. Karena malas berbicara langsung yang ujung-ujungnya selalu memicu adu mulut, mereka beralih ke metode komunikasi baru: perang *sticky notes*.

Kulkas mini di sudut kamar mandi yang terletak tepat di tengah-tengah garis pembatas menjadi medan perang utama tempelan kertas neon tersebut.

Pagi itu, Aluna yang baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan melangkah ke kulkas untuk mengambil air dingin. Matanya langsung menangkap selembar *sticky note* warna kuning terang yang tertempel di pintu kulkas sisi kanan.

*Langkah kaki lo kayak gajah. Dan tolong, kalau bikin kopi instan malam-malam, ampasnya jangan dibuang di wastafel kamar mandi. Menyumbat. - E*

Aluna mendengus fana. Dia langsung menyambar pulpen gel hitamnya, menulis di *sticky note* warna merah muda menyala, dan menempelkannya tepat di sebelah memo Elian.

*Gue bukan gajah! Itu namanya gaya gravitasi bumi ya, pinter! Dan fyi, susu oat milk lo yang harganya selangit itu makan tempat di kulkas. Tolong geser ke area lo! Gak usah sok menguasai wilayah bersama! - A*

Sore harinya, saat Aluna pulang magang dengan wajah kuyu, dia menemukan balasan baru di bawah kertas merah mudanya.

*Oat milk itu kebutuhan nutrisi. Dan tolong, alarm lo jam 5 pagi matiin kalau lo gak berniat buat bangun. Suara alarm lo yang pake lagu dangdut koplo itu merusak siklus tidur gue yang berharga. - E*

Aluna menggeram. Dia kembali menulis balasan dengan huruf kapital besar-besar.

*ALARM ITU BIAR GUE GAK TERLAMBAT KRL! KALAU TIDUR LO KEGANGGU, SILAKAN BELI PENYUMBAT TELINGA DI SHOPEE! HARGANYA CUMA SERIBU PERAK! TUAN MUDA MANJA! - A*

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Mereka saling menyindir lewat tulisan kertas berwarna-warni yang kini sudah memenuhi hampir setengah pintu kulkas. Mulai dari masalah gantungan handuk yang terlalu dekat dengan garis batas, aroma mi instan cup Aluna yang dianggap Elian "terlalu menusuk hidung", sampai masalah Elian yang hobi menyalakan AC terlalu dingin seperti di kutub utara.

Bagi Aluna, Elian adalah cowok paling menyebalkan sedunia. Cowok manja yang sok misterius, jarang keluar kamar kecuali untuk kuliah, dan selalu terlihat rapi seolah hidupnya tidak punya beban. Sementara bagi Elian, Aluna adalah perwujudan dari segala hal yang paling dia hindari: berisik, berantakan, dan terlalu banyak drama.

Namun, perlahan-lahan, dinding pertahanan Elian mulai sedikit retak.

***

Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta. Jam dinding menunjukkan pukul setengah satu pagi.

Elian masih terjaga, duduk di meja belajarnya dengan draf desain arsitektur yang harus dia kumpulkan besok pagi di layar laptop. Tangannya bergerak lincah di atas *mouse*, namun fokusnya sesekali terpecah oleh suara gemuruh guntur di luar.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar. Disusul oleh suara kunci magnetik yang berbunyi.

*Cklek.*

Pintu terbuka, dan sosok Aluna muncul dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Rambutnya basah kuyup di bagian ujung, kemeja kerjanya lembap, dan tas ranselnya dipeluk erat di dada seolah-olah itu adalah satu-satunya barang berharga yang tersisa di dunia. Wajah cewek itu pucat pasi, matanya merah karena menahan kantuk dan lelah yang luar biasa.

Aluna bahkan tidak punya tenaga untuk menyindir Elian malam ini. Dia berjalan gont**, melewati garis lakban merah tanpa peduli, lalu menjatuhkan dirinya begitu saja ke atas ka**r tanpa sempat mengganti baju atau membersihkan diri. Dia meringkuk, memeluk lututnya, menatap kosong ke arah dinding.

Elian memperhatikan setiap gerak-gerik itu dari pantulan layar laptopnya. Dia melepas *headphone*-nya. Suasana kamar mendadak begitu sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air dari payung Aluna yang ditaruh sembarangan di dekat pintu, dan helaan napas berat cewek itu.

"Lo gak ganti baju? Basah semua itu," kata Elian, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

Aluna tidak menjawab. Dia hanya menggeleng pelan, lalu menarik selimut tebalnya sampai ke dada, menyembunyikan wajahnya yang tampak sangat rapuh.

Elian menghela napas. Dia kembali menghadap laptopnya, mencoba mengabaikan keberadaan cewek di seberang garis merah itu. Namun, konsentrasinya buyar. Pikirannya mendadak dipenuhi oleh hal-hal yang tidak penting.

Dia ingat, kemarin dia sempat melihat Aluna s****an dengan mi instan mentah yang diremas di dalam bungkusnya karena buru-buru mengejar kereta pagi. Dia juga ingat melihat tumpukan kertas draf skripsi Aluna yang dipenuhi coretan tinta merah dari dosennya, lengkap dengan tulisan *"REVISI TOTAL!"* di halaman depan. Dan malam ini, cewek itu pulang jam setengah satu pagi dengan kondisi basah kuyup setelah menerjang badai Jakarta.

*Keras banget ya hidup lo,* batin Elian sambil menatap tanaman sukulennya.

Setengah jam berlalu. Elian melirik ke arah ka**r Aluna. Cewek itu sudah tertidur lelap, terdengar dari dengkur halus yang keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka. Tapi tidurnya kelihatan tidak tenang. Tubuhnya sesekali menggigil karena kemeja lembap yang masih melekat di badannya, ditambah dengan suhu AC kamar yang dingin.

Elian berdecit pelan. Dia berdiri dari kursi belajarnya, lalu melangkah mendekati garis lakban merah. Dia ragu-ragu sejenak.

Aturan kamar nomor 7 sangat jelas: *Jangan melewati garis pembatas.*

Namun, melihat Aluna yang menggigil seperti anak kucing yang kehujanan, ego Elian sedikit melunak. Dia melangkahi lakban merah itu dengan hati-hati.

Elian berjalan mendekati ka**r Aluna. Dia melihat laptop cewek itu masih menyala di atas ka**r, menampilkan dokumen Word skripsi yang kursornya masih berkedip-kedip. Di sebelahnya, ada selembar kertas tagihan kosan bulan depan yang sudah dicoret-coret dengan perhitungan sisa uang di rekening yang jumlahnya sangat memprihatinkan.

Elian tertegun sesaat. Jadi, cewek ini benar-benar berjuang sendirian di kota ini? Di usia yang sama dengannya, saat Elian masih bisa menikmati uang kiriman bulanan dari orang tuanya tanpa perlu memikirkan bayar kosan, Aluna harus membagi otaknya antara kerja magang, skripsi, dan bertahan hidup dengan uang pas-pasan.

Perasaan asing yang hangat tiba-tiba menyusup ke dalam dada Elian. Sifat ketus yang selama ini dia tunjukkan mendadak terasa kekanak-kanakan.

Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak membangunkan Aluna, Elian mengambil laptop cewek itu dari ka**r, menyimpannya di atas meja belajar Aluna, lalu memasang kabel pengisinya yang hampir habis.

Setelah itu, Elian melirik remot AC yang tergeletak di meja. Dia mengambilnya dan menaikkan suhunya dari 18 derajat menjadi 24 derajat celcius. Dia juga mengambil selimut tambahan bermotif persik yang terlipat di ujung ka**r Aluna, lalu membentangkannya di atas tubuh cewek itu sampai batas leher.

"Berisik lo kalau lagi tidur," bisik Elian pelan, menatap wajah polos Aluna saat tertidur yang kelihatan jauh lebih tenang tanpa ekspresi galak yang biasa dia tunjukkan.

Sebelum kembali ke wilayahnya, Elian melirik ke arah pintu kulkas. Dia berjalan ke sana, mencopot salah satu *sticky note* kuning miliknya yang bertuliskan sindiran kasar, lalu menggantinya dengan kertas baru yang ditulis dengan tulisan tangannya yang rapi.

***

Keesokan paginya, sinar matahari menerobos ma**k dari celah gorden kamar nomor 7.

Aluna mengerjapkan matanya, merentangkan tangannya yang terasa kaku. Dia terkejut saat menyadari tubuhnya terasa hangat dan dilapisi oleh dua lapis selimut. Lebih terkejut lagi saat melihat laptopnya sudah rapi tercolok ke pengisi daya di atas meja belajar, bukan terhimpit di bawah punggungnya seperti biasa.

Aluna mengerutkan kening. Dia menoleh ke arah kanan kamar. Ka**r Elian sudah rapi, kosong. Cowok itu sepertinya sudah berangkat kuliah pagi.

Dengan rasa penasaran yang membuncah, Aluna turun dari ka**r dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air minum. Matanya langsung tertuju pada selembar *sticky note* baru berwarna biru muda yang tertempel tepat di tengah-tengah pintu kulkas, menggantikan memo ketus kemarin.

*Gue naikin suhu AC-nya semalam karena lo menggigil kayak orang kedinginan di freezer. Dan laptop lo hampir mati, makanya gue charge. Jangan GR, gue cuma gak mau lo sakit lalu mati di kamar ini dan bikin kosan ini berhantu. P.S. Di meja makan ada bubur instan anget, makan sebelum lo pingsan di jalan. - E*

Aluna membaca tulisan itu sekali, dua kali, lalu tanpa sadar seulas senyum kecil terukir di bibirnya. Dia melirik ke arah meja belajarnya, di mana sebuah cup bubur instan hangat yang dibungkus plastik plastik minimarket diletakkan di sana.

"Dasar cowok aneh," gumam Aluna pelan, dadanya mendadak terasa sedikit lebih hangat di tengah dinginnya pagi Jakarta. "Sok ketus, tapi ternyata punya hati juga."

Perang dingin di atas garis lakban merah itu belum berakhir. Tapi pagi ini, batas itu rasanya tidak lagi sedingin sebelumnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca