Kamar Kos Nomor 7 Punya Aturan Aneh

Bab 4: Senggolan Tak Sengaja

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Senggolan Tak Sengaja**

Suasana di kamar nomor 7 setelah pertengkaran hebat beberapa malam lalu masih terasa seperti medan perang yang membeku. Dingin, sunyi, dan penuh ketegangan yang tidak kasat mata. Lakban merah selebar lima sentimeter di lant** itu masih merekat erat, seolah-olah menjadi tembok beton tebal yang memisahkan kehidupan Aluna dan Elian.

Malam ini, jam digital di atas meja belajar Elian menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit.

Aluna sedang dalam mode *full stress*. Kepalanya rasanya mau pecah menghadapi revisi bab tiga yang tidak ada habisnya. Jari-jarinya mengetik dengan kecepatan penuh di atas kibor laptop tuanya yang sesekali mengeluarkan bunyi berisik. Di sekitarnya, kertas draf skripsi berserakan seperti kapal pecah. Kabel *charger* laptopnya yang panjang dan berwarna hitam menjulur semrawut di lant**, meliuk-liuk melewati kolong meja, bahkan ujungnya sedikit melipir mendekati garis lakban merah.

Sementara itu, di seberang garis, Elian tampak sangat tenang. Cowok itu duduk tegap di kursi belajarnya yang ergonomis, fokus menatap layar *tablet* sambil sesekali mencatat sesuatu dengan pensil pemindai. Rambut hitamnya yang biasanya rapi agak sedikit acak-acakan, memberinya kesan sant** yang jarang Aluna lihat. Dia memakai kaus hitam polos dan celana pendek abu-abu. Sederhana, tapi sialnya tetap kelihatan seperti model katalog baju rumahan.

Aluna menghela napas berat untuk yang kesekian kalinya. Lehernya pegal, dan tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Dia melirik botol minumnya di sudut meja. Kosong.

*Ah, elah, harus keluar kamar buat ambil air di dispenser koridor,* batin Aluna malas.

Dengan sisa-sisa tenaga dan otak yang sudah setengah matang, Aluna mendorong kursi belajarnya ke belakang. Dia berdiri dengan gerakan cepat, berniat segera mengambil botol minumnya. Tapi, Aluna lupa satu hal penting.

Kabel *charger* laptopnya yang melingkar di lant** seperti jebakan batman.

Saat kaki kanannya melangkah maju, pergelangan kakinya langsung tersangkut jeratan kabel hitam itu. Tubuh Aluna seketika kehilangan keseimbangan.

"Ehβ€”eh, copot!" teriak Aluna panik.

Tubuhnya limbung ke depan. Karena panik, tangannya menggapai-gapai udara kosong, mencoba mencari pegangan. Detik itu juga, Aluna tahu dia akan jatuh tengkurap dengan sangat estetik langsung ke arah lant** vinil yang keras. Dan yang lebih parah, arah jatuhnya adalah melewati garis lakban merahβ€”langsung menuju wilayah kekuasaan Elian.

Aluna refleks memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menyambut rasa sakit yang luar biasa di hidung dan lututnya.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

*Sret!*

Sebuah tangan yang kokoh dan hangat dengan sangat cekatan menangkap pergelangan tangannya. Belum sempat Aluna mencerna apa yang terjadi, satu tangan kekar lainnya mendarat di pinggangnya, menahan tubuh Aluna yang hampir menyentuh lant**.

Dalam gerakan refleks yang super cepat, Elian berhasil menarik tubuh Aluna ke atas. Tapi karena momentum jatuh Aluna yang c**up kuat, Elian tidak bisa mempertahankan keseimbangan berdirinya. Mereka berdua akhirnya ambruk bersama ke atas lant** vinil yang dingin.

*Bruk!*

Hening seketika.

Aluna perlahan membuka matanya. Jantungnya berdegup sangat kencang, seperti habis lari maraton sepuluh kilometer. Hal pertama yang dia lihat adalah dada bidang berbalut kaus hitam yang sangat dekat dengan wajahnya. Hangat. Dan wangi. Aluna bisa mencium aroma sabun mandi maskulin bercampur wangi detergen yang sangat bersih dari tubuh cowok di bawahnya.

Aluna mendongak sedikit. Matanya langsung bertubrukan dengan sepasang mata tajam Elian yang kini juga sedang menatapnya dengan pupil yang sedikit melebar.

Jarak wajah mereka tidak sampai sepuluh sentimeter. Aluna bahkan bisa merasakan embusan napas Elian yang hangat menerpa keningnya. Posisi mereka saat ini benar-benar sangat intim: Aluna setengah menindih tubuh Elian, dengan tangan Elian yang masih melingkar erat di pinggangnya untuk melindungi kepala Aluna agar tidak membentur lant**.

Dan yang paling krusial dari semuanya adalah mereka berdua berbaring tepat di tengah-tengah kamar. Garis lakban merah itu berada tepat di bawah punggung Elian dan perut Aluna. Mereka telah melanggar aturan suci kamar nomor 7 secara total.

Waktu seolah-olah berhenti berputar selama beberapa detik.

Aluna terpaku, tidak bisa bergerak. Dia bisa merasakan detak jantung Elian yang juga berdegup cepat di bawah telapak tangannya yang tidak sengaja menempel di dada cowok itu.

"Lo... mau tiduran di atas gue sampai kapan?"

Suara berat Elian yang sedikit serak memecah keheningan. Nada suaranya tidak sedingin biasanya, melainkan ada sedikit nada gugup yang tertahan di sana.

Kesadaran Aluna langsung kembali 100 persen. Wajahnya seketika memerah padam sampai ke telinga.

"Eh! S-sorry! Sorry banget!" jerit Aluna panik.

Dia langsung berusaha bangkit dengan terburu-buru, tapi saking paniknya, lututnya malah menyenggol paha Elian, membuat cowok itu sedikit mengaduh.

"Aduh, maaf! Gue gak sengaja, beneran!" Aluna buru-buru merangkak mundur ke wilayahnya sendiri, duduk bersila dengan napas terengah-engah sambil merapikan kaus tidurnya yang agak berantakan.

Elian ikut duduk perlahan, menyugar rambut hitamnya dengan jari-jari tangannya yang panjang. Gerakan yang sangat ka**al, tapi entah kenapa di mata Aluna terlihat sangat... em, menawan? Aluna buru-buru menggelengkan kepalanya keras-keras untuk mengusir pikiran aneh itu.

Telinga Elian ternyata juga memerah. Cowok itu berdeham pelan, mencoba mengembalikan ekspresi datarnya yang biasa, meski gagal total karena matanya terus menghindari tatapan Aluna.

"Kabel lo..." Elian menunjuk kabel *charger* yang sekarang sudah terlepas dari stopkontak. "Makanya kalau naruh barang itu yang rapi. Nyaris aja lo bikin hidung lo sendiri rata sama lant**."

Aluna merengut, tapi kali ini dia tidak punya energi untuk membalas dengan galak. Rasa bersalah dan rasa malu yang luar biasa mendominasi dirinya. "Ya... makasih. Dan sorry. Gue beneran gak sengaja tersandung. Terus... soal garis pembatas..."

Aluna melirik lakban merah di lant**.

Elian ikut melirik lakban itu, lalu menghela napas panjang. Ketegangan yang biasanya membuat mereka saling melempar tatapan sinis mendadak mencair, digantikan oleh rasa canggung yang menggelitik.

"Nggak usah dibahas," kata Elian pelan. Dia berdiri, menepuk-nepuk celananya yang sebenarnya tidak kotor sama sekali, lalu berjalan ke arah kulkas kecil di sudut kamarnya. "Lagian itu cuma lakban."

Aluna mengerjapkan mata. *Tunggu, barusan Elian bilang 'cuma lakban'? Bukannya dia yang paling ngotot soal aturan garis itu beberapa hari lalu?*

Sebelum Aluna sempat berpikir lebih jauh, perutnya tiba-tiba mengeluarkan suara yang sangat nyaring.

*Kruuukkk...*

Suara itu terdengar sangat jelas di dalam kamar yang sunyi.

Aluna langsung memejamkan mata erat-erat, merutuki perutnya yang sama sekali tidak tahu situasi dan kondisi. Dia ingin sekali tenggelam ke dalam lant** saat ini juga.

Elian yang baru saja membuka pintu kulkas langsung menghentikan gerakannya. Dia menoleh ke arah Aluna, lalu satu sudut bibirnya sedikit terangkatβ€”sebuah senyuman tipis yang sangat langka, yang membuat wajah dinginnya mendadak terlihat sepuluh kali lebih ramah.

"Belum makan malam?" tanya Elian.

"Belum," cicit Aluna pelan, menyembunyikan wajahnya di balik lutut yang dia tekuk. "Tadi di tempat magang sibuk banget, terus pas pulang langsung megang skripsi."

Elian tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia merogoh bagian atas lemari kecilnya, lalu mengeluarkan dua bungkus mi instan varian mi goreng legendaris dan sebuah panci listrik kecil.

"Mau mi?" tawar Elian sant**.

Aluna mendongak, matanya berbinar seketika mendengar kata 'mi'. Siapa yang bisa menolak mi goreng instan di jam sepuluh malam saat perut sedang demo kelaparan? Tapi Aluna juga tahu diri. "Tapi... kan kita gak boleh masak di dalam kamar kalau malam-malam? Terus baunya nanti..."

"Aturan itu gue yang bikin. Jadi, malam ini gue kasih pengecualian," potong Elian mutlak. Dia mulai mema**kkan air ke dalam panci listrik dan mencolokannya ke stopkontak di dekat meja belajarnya. "Lagipula, bau mi goreng itu bagian dari terapi stres. Anggap aja ini kompensasi karena lo hampir patah tulang tadi."

Aluna tidak bisa menahan senyumnya. "Oke, Tuan Muda. Tapi gue yang bantuin aduk bumbunya, ya."

Tanpa sadar, Aluna bergeser mendekati meja belajar Elian. Dia duduk di lant**, melipat kakinya dengan sant**. Elian juga ikut duduk di lant** di depan panci listrik yang mulai mengeluarkan asap tipis dan aroma harum air mendidih.

Menariknya, mereka berdua duduk tepat di atas garis lakban merah. Aluna di sisi kanan garis, dan Elian di sisi kiri garis. Tapi kali ini, tidak ada yang peduli. Garis itu hanya menjadi seutas p****at plastik biasa di bawah mereka.

Sambil menunggu mi matang, keheningan di antara mereka tidak lagi terasa mencekam. Atmosfer dingin yang menyelimuti kamar nomor 7 selama seminggu terakhir menguap begitu saja bersama uap air dari panci listrik.

"Jurusan lo emang sesibuk itu, ya?" Elian membuka obrolan terlebih dahulu sambil mema**kkan mi ke dalam air mendidih.

Aluna menopang dagunya dengan kedua tangan. "Banget. Manajemen semester tua itu isinya cuma magang, laporan, sama revisi skripsi yang gak ada ujungnya. Dosen pembimbing gue, Pak Bambang, itu perfeksionis banget. Typo satu huruf aja dicoret segaris. Rasanya mau nangis darah gue."

Elian terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar rendah dan menyenangkan di telinga Aluna.

"Pak Bambang yang botak depan itu?" tanya Elian.

"Iya! Kok lo tahu?"

"Kakak tingkat gue di Teknik Informatika banyak yang ngambil mata kuliah pilihan di fakultas lo, dan mereka selalu menyarankan buat menghindari Pak Bambang kalau mau lulus cepat," jelas Elian sambil mengaduk mi dengan sumpit. "Tapi sebenarnya dia baik. Lo cuma perlu tahu celahnya."

"Celah? Emang ada?" Aluna langsung bergeser lebih dekat, matanya berbinar penuh harap.

"Ada. Pak Bambang itu suka banget sama analisis data yang det**l. Kalau lo ma**kin diagram atau grafik yang rapi di bab tiga lo, dia gak bakal banyak nanya. Terus, sebelum bimbingan, usahain beliin dia kopi hitam tanpa gula dari kantin belakang. Mood dia langsung naik drastis."

Aluna melongo. "Seriusan? Kok lo tahu det**l banget, sih?"

"Gue sering denger cutting gue nge-gosip di lab," jawab Elian sant**. Dia mengangkat mi yang sudah matang, meniriskannya, lalu membaginya ke dalam dua piring plastik yang tadi dia ambil dari lemari. Dia mencampur bumbunya dengan lihai, lalu menyodorkan satu piring ke hadapan Aluna. "Nih. Makan selagi hangat."

"Makasih!" Aluna menerima piring itu dengan mata berbinar-binar. Suapan pertama langsung membuat matanya terpejam saking nikmatnya. "G***, ini enak banget. Lo pinter juga masak mi."

"Cuma rebus mi, Aluna. Anak SD juga bisa," sahut Elian datar, tapi ada binar geli di matanya saat melihat cara Aluna makan yang sangat lahap sampai pipinya menggembung.

Mereka makan dalam diam selama beberapa saat, menikmati kehangatan makanan instan di tengah malam yang dingin.

"El," panggil Aluna setelah menelan suapan terakhirnya.

"Apa?"

"Sorry ya... soal beberapa hari ini. Gue tahu gue berisik banget kalau pulang malam, terus barang-barang gue sering berantakan sampai ngelewatin batas." Aluna menunduk, memainkan garpu plastiknya dengan perasaan agak bersalah.

Elian terdiam sejenak. Dia meletakkan piring kosongnya di samping, lalu menatap Aluna. Tatapannya tidak lagi dingin atau menghakimi, melainkan tampak lebih lembut.

"Gue juga minta maaf," kata Elian pelan. "Gue terlalu kaku. Gue biasa tinggal sendiri dari SMA, jadi pas harus berbagi kamar, gue agak kaget dan gampang keganggu sama hal-hal kecil."

Aluna mengangkat kepalanya, menatap Elian dengan senyum lebar yang tulus. "Jadi... kita baikan, nih? Garis lakban ini boleh kita pensiunkan?"

Elian melirik lakban merah di lant**, lalu kembali menatap senyum manis Aluna yang entah kenapa membuat dadanya terasa sedikit hangat.

"Biarin aja di situ," kata Elian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil yang sangat menawan. "Buat pengingat aja. Biar lo gak kesandung kabel lagi."

Aluna tertawa lepas. Suara tawa yang sudah lama tidak terdengar di dalam Kamar Nomor 7. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar dan sisa-sisa aroma mi instan, aturan aneh di kamar itu rasanya tidak lagi terlalu menyebalkan. Malah, entah sejak kapan, kehadiran satu sama lain mulai terasa hangat dan dinantikan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca