Kamar Kos Nomor 7 Punya Aturan Aneh

Bab 5: Sisi Lain Cowok Es Kutub

Pengaturan Membaca

Namun, karena momentum jatuhnya yang terlalu cepat, tubuh Elian ikut limbung. Mereka berdua ambruk ke lant** dengan posisi yang sangat tidak elit.

*Bruk!*

Aluna memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan sakitnya hantaman lant** vinil. Tapi anehnya, yang dia rasakan justru permukaan yang empuk dan hangat. Saat Aluna perlahan membuka mata, napasnya langsung tercekat.

Wajah Elian berada tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya. Saking dekatnya, Aluna bahkan bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi sabun mint yang segar dari tubuh cowok itu. Kedua tangan Elian masih melingkar erat di pinggangnya, melindungi punggung Aluna agar tidak langsung menghantam lant** keras.

Sepasang mata elang Elian menatapnya tajam, namun ada kilatan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan di sana. Untuk beberapa detik yang terasa seperti satu jam, mereka berdua hanya diam saling mengunci tatapan. Kamar kos nomor 7 mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jantung yang entah milik siapa, berdegup sangat kencang.

"Lo... mau tiduran di atas gue sampai besok pagi?"

Suara berat dan dingin Elian seketika memecah keheningan.

Aluna langsung tersadar. Mukanya mendadak panas, pasti sekarang sudah merah merona mirip kepiting rebus. Dengan panik, dia segera bangkit dan mundur teratur sampai kembali ke areanya sendiri, menyeberangi garis lakban merah dengan gerakan kikuk.

"S-sorry! Sumpah, gue nggak sengaja!" seru Aluna panik, merapikan kaus oblongnya yang agak kusut. "Kabel *charger* gue nyangkut di kaki. Makasih udah... makasih udah nangkep gue."

Elian berdiri dengan sant**, menepuk-nepuk celananya seolah ada debu tak kasat mata yang menempel di sana. Wajahnya kembali datar, sedingin es kutub seperti biasa.

"Singkirkan kabel lo. Jangan sampai lewat garis lagi," sahut Elian ketus. Dia kembali duduk di kursi belajarnya, langsung memakai *headphone* besar di kepalanya tanpa melirik Aluna lagi.

Aluna mendengus pelan, menatap punggung tegap cowok itu dengan kesal. "Dasar es batu. Bilang 'sama-sama' apa susahnya sih?" gumamnya super pelan, takut kedengaran. Dengan cepat, dia merapikan kabel *charger*-nya agar tidak memicu perang dunia ketiga di kamar kos itu.

***

Keesokan siangnya, Elian ada kelas praktikum yang padat sampai sore. Aluna yang hari itu tidak ada jadwal kuliah memilih untuk tetap di kosan demi menyelesaikan revisi bab tiga yang sempat tertunda semalam.

Saat sedang fokus mengetik, pulpen kesayangan Aluna tiba-tiba menggelinding dari meja belajar. Sialnya, pulpen itu terus meluncur, melewati garis lakban merah, dan ma**k tepat ke bawah kolong ka**r Elian.

Aluna menghela napas panjang. Dia menatap garis pembatas merah itu dengan ragu.

"Elian kan nggak ada di kamar. Ambil cepet-cepet juga nggak bakal ketahuan," gumam Aluna meyakinkan diri sendiri.

Dengan langkah mengendap-endap seperti pencuri, Aluna melompati garis merah. Dia berlutut di samping ka**r Elian, lalu menunduk untuk meraba-raba kolong ka**r yang gelap. Tangannya menyapu lant**, mencari pulpennya yang hilang.

Namun, jemari Aluna justru menyentuh sesuatu yang keras dan halus. Seperti sebuah kotak atau koper kecil. Karena penasaran, Aluna menarik benda itu sedikit keluar dari bawah tempat tidur.

Mata Aluna membelalak lebar.

Itu adalah sebuah koper kulit premium berwarna hitam *matte* dengan logo timbul yang sangat familier di dunia fesyen mewah: *Rimowa*. Di atas koper itu, ada sebuah tas belanja berbahan kertas tebal bertuliskan *Hermès* dan *Gucci*.

Rasa penasaran Aluna yang sudah di ubun-ubun membuatnya nekat mengintip ke dalam tas belanja yang tidak tertutup rapat itu. Di dalamnya terdapat sebuah kotak jam tangan mewah bermerek *Rolex*, lengkap dengan sertifikatnya, serta sebuah dompet kulit bermerek *Bottega Veneta* yang di dalamnya menyembul ujung sebuah kartu berwarna hitam legam—*American Express Centurion*, alias *Black Card* legendaris yang hanya dimiliki oleh kaum miliarder dunia.

Aluna membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak.

"G***... ini beneran?" bisik Aluna dengan tangan gemetar. "Cowok es kutub itu... punya barang-barang beginian? Ini nilainya bisa buat beli kos-kosan ini beserta isinya!"

Pikiran Aluna langsung traveling ke mana-mana. Mengapa cowok sekaya ini memilih tinggal di kosan murah berukuran 3x4 meter yang kamar mandinya di luar? Mengapa dia harus berbagi kamar dengan aturan aneh dan lakban merah? Apakah Elian ini sebenarnya buronan? Atau anak konglomerat yang sedang menyamar seperti di drama-drama Korea?

*Cklek.*

Suara knop pintu yang diputar dari luar membuat jantung Aluna hampir copot. Dengan kecepatan cahaya, dia mendorong kembali koper dan tas mewah itu ke bawah ka**r, menyambar pulpennya, lalu melompat kembali ke areanya sendiri tepat saat pintu terbuka.

Elian melangkah ma**k dengan ransel hitamnya. Matanya langsung tertuju pada Aluna yang berdiri tegak dengan napas terengah-engah dan wajah super tegang.

"Lo ngapain?" tanya Elian curiga, matanya menyipit menatap Aluna.

"Hah? Nggak! Nggak ngapa-ngapain! Cuma... cuma lagi peregangan otot! Ya, pegel banget ngetik mulu!" jawab Aluna asal, sambil melakukan gerakan memutar bahu yang sangat kaku dan aneh.

Elian menatapnya datar selama beberapa detik, lalu menghela napas malas. "Aneh," gumamnya pelan, berjalan melewati Aluna menuju mejanya tanpa menyadari kalau rahasia besarnya di bawah ka**r baru saja diintip.

Sementara itu, Aluna hanya bisa menelan ludah. Mulai sekarang, pandangannya terhadap teman sekamarnya yang super menyebalkan ini benar-benar berubah total. Elian bukan sekadar mahasiswa biasa yang irit. Ada rahasia besar yang sedang dia sembunyikan.

***

Malam harinya, hujan deras mengguyur kota. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng kosan menciptakan suasana yang dingin dan melankolis.

Di sudut kamarnya, Aluna duduk meringkuk di atas ka**r tipisnya. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu meja belajar Elian yang masih menyala redup di seberang sana. Elian tampak sedang memakai *headphone* sambil fokus membaca buku tebal, memunggungi Aluna.

Ponsel Aluna yang diletakkan di atas bantal tiba-tiba bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nomor tidak dikenal. Dengan perasaan cemas, Aluna menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, selamat malam..." bisik Aluna lirih, berusaha mengecilkan suaranya agar tidak mengganggu Elian.

Namun, suara dari seberang telepon tampaknya c**up keras dan menuntut. Aluna mendengarkan dengan saksama, dan perlahan, bahunya mulai bergetar. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos membasahi pipinya.

"Iya, Pak... saya tahu bunganya terus berjalan," ucap Aluna dengan suara serak, menahan tangis yang mendesak di dadanya. "Tapi tolong kasih saya waktu lagi. Saya baru bayar setengah dari cicilan bulan ini... Sisa uang tabungan saya bener-bener habis buat bayar semesteran dan sewa kosan ini."

Di seberang sana, Elian sebenarnya tidak sedang mendengarkan musik. *Headphone* di telinganya mati. Sejak ponsel Aluna bergetar, Elian sudah menaruh perhatian diam-diam. Dan begitu mendengar suara gemetar Aluna, gerakan tangan Elian yang sedang membalik halaman buku seketika terhenti.

"Saya mohon, Pak... jangan disita dulu rumah peninggalan Ibu di kampung," pinta Aluna, kini air matanya mengalir semakin deras. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar suara tangisnya tidak pecah. "Itu satu-satunya kenangan yang saya punya. Saya janji bulan depan saya akan cari kerja sampingan tambahan buat nutupin sisa utang biaya pengobatan rumah sakit Ibu kemarin... Tolong jangan disita..."

Suara Aluna terdengar sangat putus asa. Gadis yang biasanya selalu terlihat ceria, berisik, dan keras kepala itu kini terdengar begitu rapuh dan hancur di sudut kamar yang gelap.

Elian terpaku di kursinya. Dadanya mendadak terasa sesak mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Aluna. Selama ini, dia mengira Aluna adalah gadis manja yang cerewet. Dia tidak pernah menyangka kalau cewek itu menanggung beban seberat ini di pundak ringkihnya—kehilangan ibu, dikejar utang rumah sakit yang menumpuk, dan berjuang sendirian untuk bertahan hidup di kota ini.

Setelah beberapa menit yang menyakitkan, pangg***n telepon itu akhirnya terputus. Aluna meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menarik lututnya erat-erat ke dada, menyembunyikan wajahnya di sana, dan mulai menangis sesenggukan dalam diam. Bahunya naik turun menahan isak tangis yang begitu menyayat hati.

Elian masih duduk membelakanginya, mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk berbalik, mendekati Aluna, dan menenangkannya. Namun, egonya dan aturan lakban merah yang mereka buat seolah menahannya. Dia hanya bisa mendengarkan suara tangis pilu itu sampai akhirnya Aluna tertidur karena kelelahan.

Malam itu, Elian tidak bisa memejamkan mata sedetik pun.

***

Keesokan sorenya, Aluna baru saja pulang dari kampus dengan wajah yang sangat pucat. Dia belum makan apa pun sejak pagi karena sisa uang di rekeningnya benar-benar mengenaskan—hanya c**up untuk membeli beberapa bungkus mi instan sampai akhir bulan.

Saat dia membuka pintu kamar, aroma harum yang sangat menggoda langsung menusuk hidungnya. Aroma ayam goreng mentega hangat dan nasi putih yang masih mengepul.

Aluna mengerutkan kening. Di atas meja belajarnya, terdapat satu kotak makan berukuran besar dari restoran Cina premium yang terkenal mahal di dekat kampus. Di sampingnya, ada segelas teh manis hangat yang masih berembun karena uapnya.

Elian sedang duduk di ka**rnya, pura-pura sibuk bermain ponsel.

Aluna menatap kotak makanan itu, lalu menatap Elian bergantian dengan bingung. "El... ini apaan?" tanya Aluna heran.

Elian meliriknya sekilas dengan tatapan datar andalannya. "Makanan," jawabnya singkat.

"Ya, gue tahu ini makanan. Maksudnya, kenapa ada di meja gue?"

Elian berdeham pelan, lalu memalingkan wajahnya kembali ke layar ponsel. "Gue tadi beli lewat aplikasi. Tapi drivernya b***, malah beliin porsi jumbo yang ada ayam goreng menteganya. Padahal gue kan pesennya ayam kuluyuk masam manis. Terus mereka nggak mau terima retur."

Aluna menaikkan sebelah alisnya, curiga. "Terus?"

"Daripada mubazir dibuang ke tempat sampah, mending lo makan aja. Gue nggak suka ayam goreng mentega, kemanisan," ketus Elian. "Tapi inget, jangan geer. Gue cuma nggak suka buang-buang makanan."

Aluna menatap kotak makanan itu lagi. Porsi jumbo dari restoran mahal ini jelas-jelas tidak murah. Dan setahu Aluna, Elian adalah tipe orang yang sangat teliti. Sangat tidak mungkin cowok se-perfeksionis Elian bisa salah memesan menu makanan yang sangat berbeda jauh seperti itu.

Perut Aluna tiba-tiba berbunyi dengan sangat nyaring di tengah keheningan kamar.

*Kruuuk...*

Wajah Aluna langsung memerah karena malu. Dia buru-buru memegangi perutnya.

Elian mendengus pelan, tapi ada sedikit kedutan di sudut bibirnya yang hampir membentuk senyuman tipis—yang langsung dia sembunyikan dengan cepat.

"Makan gih. Berisik banget suara perut lo, ganggu konsentrasi gue main *game*," ujar Elian ketus, kembali ke mode cueknya.

Aluna menatap punggung Elian yang kembali membelakanginya. Entah kenapa, rasa hangat yang asing tiba-tiba menjalar di hatinya. Dia tahu Elian sedang berbohong. Sisi dingin cowok es kutub ini perlahan mulai menunjukkan celah kehangatan yang tidak pernah Aluna duga sebelumnya.

"Makasih ya, El," bisik Aluna tulus.

Elian tidak menjawab. Dia hanya memakai kembali *headphone*-nya, tapi kali ini, dia membiarkan volume musiknya tetap di angka nol, hanya untuk mendengarkan suara kunyahan pelan Aluna yang tampak sangat menikmati makanan darinya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, senyum tipis yang tulus akhirnya terukir di wajah tampan cowok es kutub itu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca