**Bab 6: Melanggar Jam Malam**
Suara gemuruh guntur bersahut-sahutan di luar, diringi hantaman air hujan yang super deras menghantam kaca jendela kamar kos nomor 7. Angin malam itu berembus kencang, membuat suasana makin dingin mencekam.
Elian melirik jam digital di atas meja belajarnya.
*23.45.*
Cowok itu berdecak kesal, lalu melempar pulpennya ke atas meja. Dia melipat kedua tangan di dada, menatap nanar ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. Di bawah kakinya, garis lakban merah pembatas wilayah mereka berdua tampak menyala samar di bawah temaram lampu tidur.
Aturan kos nomor 7 sangat jelas: jam malam maksimal pukul 22.00. Siapa pun yang melanggar harus siap-siap menerima konsekuensi, atau minimal mendapat teguran dingin khas Elian. Tapi malam ini, aturan itu telak dilanggar oleh si anak baru, Aluna.
"Bisa-bisanya tuh cewek belum balik jam segini. Sengaja mau nantangin gue?" gumam Elian dengan dahi berkerut dalam.
Dia mencoba kembali fokus ke layar laptopnya, tapi nihil. Pikirannya mendadak kacau. Hujan di luar makin brutal, dan fakta bahwa Aluna—cewek ceroboh yang kemarin hampir membuatnya jantungan karena jatuh di atas tubuhnya—belum pulang, entah kenapa membuat dada Elian terasa sesak karena cemas.
*Cklek.*
Suara gagang pintu yang berputar pelan langsung membuat Elian menoleh cepat.
Pintu terbuka. Di ambang pintu, berdiri sesosok tubuh yang tampak sangat menyedihkan. Aluna berdiri di sana dengan tubuh gemetaran hebat. Rambut panjangnya basah kuyup hingga menempel di pipi, bajunya menyerap air hujan sampai berat, dan sepasang sepatu ketsnya becek menimbulkan genangan air di lant**.
Wajah Aluna pucat pasi, bibirnya yang biasa ceriwis kini membiru karena kedinginan.
Elian langsung berdiri dari kursinya. Niatnya untuk mengomeli Aluna langsung menguap begitu saja saat melihat kondisi cewek itu. "Aluna? Lo... kok bisa basah kuyup gini? Dari mana aja lo jam segini baru balik?!" tanya Elian, nadanya agak meninggi karena panik yang menyamar sebagai kemarahan.
Aluna menatap Elian dengan pandangan sayu dan kosong. Matanya setengah terpejam. "M-motor gue... mogok di jalan, El," bisik Aluna dengan suara super serak dan bergetar. "HP gue mati... gue terpaksa dorong motor sampai dapet bengkel, tapi ternyata tutup semua..."
"Kenapa nggak neduh dulu, bodoh? Kenapa malah maksain jalan?" cecar Elian, melangkah mendekat.
"Gue takut... takut dikunciin dari luar..." Aluna tersenyum tipis, senyum yang sangat dipaksakan sebelum tubuhnya tiba-tiba limbung ke depan.
"Aluna!"
Refleks, Elian melompati garis lakban merah tanpa ragu-ragu. Dia menangkap tubuh Aluna sebelum cewek itu ambruk ke lant** yang dingin. Begitu kulit mereka bersentuhan, Elian langsung tersentak. Badan Aluna sangat panas, berbanding terbalik dengan pakaiannya yang sedingin es.
"G***, lo panas banget!" seru Elian panik. Dia bisa merasakan napas Aluna yang memburu dan terasa membakar di ceruk lehernya.
Tanpa memikirkan gengsi atau aturan anehnya lagi, Elian langsung menggendong tubuh ringan Aluna ala *bridal style* dan memindahkannya ke atas ka**r milik cewek itu. Pers**** dengan ka**r yang ikut basah, keselamatan Aluna jauh lebih penting sekarang.
"Al, denger gue. Lo harus ganti baju dulu. Baju lo basah semua, nanti demam lo makin parah," kata Elian setengah menepuk pipi Aluna lembut, mencoba menjaga kesadaran cewek itu.
Aluna hanya mengerang pelan, matanya terpejam erat sambil memeluk dirinya sendiri karena menggigil. "D-dingin..."
Elian menghela napas kasar. Dia segera berbalik ke lemari pakaian Aluna—mengabaikan rasa sungkannya—dan mengambil satu setel kaus longgar serta celana training panjang yang kering.
"Gue taruh bajunya di sini. Lo bisa ganti sendiri, kan? Gue tunggu di luar kamar mandinya," ujar Elian. Dengan sisa tenaga yang ada, Aluna mengangguk lemah. Elian membantunya berdiri dan memapahnya sampai ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Selama sepuluh menit menunggu di luar, Elian tidak bisa tenang. Dia berjalan bolak-balik di kamarnya seperti setrikaan. Setelah memastikan Aluna selesai ganti baju dan keluar dengan langkah yang sangat gont**, Elian langsung membimbingnya kembali ke tempat tidur.
Aluna langsung meringkuk di balik selimut tebalnya, masih menggigil hebat meskipun sudah mengenakan pakaian kering.
Elian berdiri di samping ka**r Aluna, menatap cewek itu dengan perasaan campur aduk. Cowok yang biasanya terkenal cuek, dingin, dan tidak peduli pada sekitar ini mendadak merasa dadanya bergemuruh aneh. Ada rasa kasihan, tapi juga rasa tanggung jawab yang mendadak muncul.
"Gue nggak boleh cuek sekarang. Dia bisa mati kedinginan," gumam Elian pada dirinya sendiri, meruntuhkan benteng pertahanan yang selama ini dia bangun rapat-rapat.
Elian bergegas ke dapur kosan. Dia mengambil wadah berisi air hangat dan handuk kecil. Di sudut kamarnya, dia juga menyalakan kompor listrik mini untuk memasak bubur instan yang selalu dia stok di lemari kecilnya. Tangannya yang biasa cekatan saat mengetik tugas pemrograman, kini tampak agak canggung saat mengaduk bubur di atas panci kecil.
Setelah bubur matang dan diletakkan di mangkuk, Elian kembali ke sisi ka**r Aluna dengan membawa peralatan kompres.
Dia duduk di tepi ka**r Aluna—area yang selama ini terlarang keras untuk dia injak. Elian memeras handuk kecil yang sudah dicelupkan ke air hangat, lalu perlahan menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi Aluna. Dengan gerakan yang sangat lembut, dia meletakkan kompresan hangat itu di atas dahi Aluna.
Aluna sedikit mengerang saat merasakan kehangatan itu, tapi perlahan ekspresi wajahnya yang menegang mulai rileks.
"Al, bangun bentar. Makan bubur dulu beberapa suap, terus minum obat," bisik Elian pelan. Nadanya melembut, sangat jauh dari kesan Elian yang dingin sehari-hari.
Aluna membuka matanya perlahan. Pandangannya masih kabur, tapi dia bisa melihat siluet Elian yang sedang memegang mangkuk bubur hangat. "El...?"
"Iya, ini gue. Duduk bentar, gue bantu." Elian menyisipkan tangannya di belakang punggung Aluna, membantunya bersandar pada kepala ranjang.
Dengan sabar, Elian meniup sesendok bubur hangat sebelum menyodorkannya ke depan mulut Aluna. "Ayo, buka mulut lo. Sedikit aja, yang penting perut lo nggak kosong."
Aluna menerima suapan itu dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat sakit untuk menelan, tapi kehangatan bubur itu entah bagaimana membuat hatinya terasa hangat. Air mata yang sejak tadi dia tahan di jalanan sepi saat motornya mogok, tiba-tiba mendesak ingin keluar.
Setelah suapan kelima, Aluna menggeleng lemah. "Udah... nggak kuat, El. Mual."
Elian tidak memaksa. Dia menaruh mangkuknya di meja nakas, lalu mengambil segelas air hangat dan satu tablet obat penurun panas. "Minum obatnya dulu."
Setelah Aluna meminum obatnya, dia kembali berbaring. Namun, saat Elian hendak berdiri untuk merapikan mangkuk, ujung jarinya tiba-tiba ditahan oleh tangan Aluna yang terasa sangat panas namun gemetaran.
"El... jangan pergi dulu..." bisik Aluna dengan suara serak. Matanya yang berkaca-kaca menatap Elian dengan pandangan yang sangat rapuh.
Elian tertegun. Detak jantungnya mendadak berdegup kencang melihat sisi Aluna yang seperti ini. Biasanya, cewek di hadapannya ini selalu terlihat ceria, berisik, dan menyebalkan. Tapi malam ini, Aluna terlihat seperti anak kecil yang tersesat di tengah badai.
Akhirnya, Elian kembali duduk di kursi di samping ka**r Aluna. Dia membiarkan tangan mungil Aluna menggenggam erat telapak tangannya. "Gue nggak ke mana-mana. Gue di sini."
Air mata Aluna akhirnya luruh membasahi pipinya yang memerah karena demam. Di tengah kesadarannya yang mulai menipis akibat pengaruh obat, Aluna mulai meracau pelan, mengeluarkan semua sesak yang selama ini dia pendam sendirian.
"Gue capek, El... capek banget," isak Aluna pelan, suaranya terdengar sangat menyedihkan. "Kenapa semuanya harus sesusah ini buat gue? Kuliah dari pagi, terus lanjut kerja part-time sampai malem... Kadang gue pengen nangis, tapi gue nggak punya siapa-siapa di kota ini. Nggak ada yang bisa gue andelin..."
Genggaman tangan Aluna di tangan Elian makin mengencang, seolah Elian adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra luas yang sedang menenggelamkannya.
"Semua orang mikir gue cewek kuat yang selalu ketawa," lanjut Aluna, air matanya terus mengalir tanpa bisa dicegah. "Tapi sebenernya gue rapuh banget... Gue cuma pengen ada yang nanya 'lo capek ya hari ini?' atau sekadar nemenin gue pas gue lagi takut kayak gini. Gue capek berjuang sendirian, El..."
Mendengar setiap unt**an kalimat yang keluar dari bibir Aluna, dada Elian terasa seperti dihantam batu besar. Ada rasa nyeri yang aneh yang menjalar di hatinya. Dia menatap wajah Aluna yang basah oleh air mata, menyadari bahwa di balik keceriaan cewek itu selama ini, tersimpan luka dan beban hidup yang sangat berat untuk ukuran cewek seumurannya.
Elian menghela napas pelan. Sifat dingin yang selama ini dia banggakan mendadak runtuh tak bersisa.
Perlahan, Elian menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya. Gerakannya sangat lembut, seolah takut menyakiti cewek itu.
"Lo nggak sendirian lagi sekarang, Al," ucap Elian dengan suara berat yang menenangkan. "Ada gue. Mulai sekarang, lo nggak usah pura-pura kuat di depan gue."
Aluna tidak menjawab. Pengaruh obat penurun panas rupanya sudah mulai bekerja, membuatnya perlahan-lahan terlelap ke dalam tidur yang lebih tenang. Napasnya mulai teratur, meskipun tangannya masih menggenggam erat jemari Elian.
Elian menatap tangan mereka yang saling bertautan, lalu beralih menatap garis lakban merah di lant** yang kini terasa sangat konyol. Benteng pertahanan dingin yang dia bangun selama bertahun-tahun untuk menghindari komitmen dan perasaan rumit, malam ini resmi hancur berantakan hanya karena seorang Aluna yang sedang demam.
Sambil membetulkan posisi kompresan di dahi Aluna, Elian berbisik pelan pada malam yang dingin, "Lo bener-bener pengacau aturan gue, Al."
Namun, anehnya, ada senyum tipis yang terukir di sudut bibir cowok es itu saat dia memutuskan untuk tetap duduk di sana, menggenggam tangan Aluna sampai pagi menjelang.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!