**Bab 7: Saat Benteng Pertahanan Mulai Runtuh**
Butuh waktu tiga hari penuh sampai demam Aluna benar-benar turun dan tenaganya pulih total. Selama tiga hari itu pula, dunia Aluna serasa berbalik seratus delapan puluh derajat. Kamar kos nomor 7 yang biasanya terasa dingin dan penuh sekat pembatas, mendadak berubah menjadi tempat paling hangat yang pernah ia tinggali.
Semua itu berkat Elian.
Cowok bermuka tembok yang biasanya super pelit senyum itu ternyata bisa juga bersikap manusiawi. Aluna masih ingat betul bagaimana paniknya Elian malam itu. Walau cowok itu terus-menerus mengomelinya "bodoh" dan "ceroboh", tangan Elian sangat telaten mengompres dahinya, menyuapinya bubur instan hangat yang agak keasinan (Aluna curiga itu pertama kalinya Elian memasak bubur), dan memastikan Aluna meminum obatnya tepat waktu.
"Lo ngeliatin gue kayak mau gigit. Kenapa? Masih pusing?"
Suara berat Elian membuyarkan lamunan Aluna.
Aluna mengerjapkan mata, mendapati Elian sedang berdiri di dekat meja belajarnya, menyampirkan jaket hitam ke sandaran kursi. Aluna yang sedang duduk selonjoran di atas ka**rnya langsung menyengir lebar.
"Nggak kok. Udah seger banget ini, siap keliling lapangan bola sepuluh kali," sahut Aluna asal.
Elian mendengus, tapi ada kedutan tipis di sudut bibirnya yang menunjukkan kalau cowok itu hampir tersenyum. "Nggak usah sok kuat. Kemarin aja nangis-nangis pas gue kompres."
"Heh! Fitnah!" Aluna langsung melempar bantal kecil ke arah Elian, yang dengan mudah ditangkap oleh cowok itu dengan satu tangan. "Gue nggak nangis ya, itu air mata refleks karena panas demam!"
"Sama aja." Elian meletakkan bantal itu kembali ke kursi, lalu berjalan mendekat ke arah ka**r Aluna.
Secara refleks, mata Aluna turun ke lant**. Di sana, garis lakban merah pembatas wilayah mereka masih menempel erat. Tapi anehnya, beberapa hari ini, garis itu seolah kehilangan fungsinya. Elian melangkah melewatinya begitu saja tanpa ragu, membawa segelas air putih hangat dan meletakkannya di meja kecil samping ka**r Aluna.
Aluna menatap gelas itu, lalu menatap Elian yang kini berdiri menjulang di hadapannya dengan celana training abu-abu dan kaus hitam polos. Sederhana banget, tapi entah kenapa di mata Aluna, level ketampanan cowok ini naik drastis sejak jadi "perawat dadakan".
"Makasih ya, El," ucap Aluna tulus. Suaranya melembut, kehilangan nada bercandanya yang tadi. "Sumpah, gue nggak tahu harus gimana kalau malam itu lo nggak ada. Mungkin gue udah pingsan di teras dan jadi konsumsi nyamuk semalaman."
Elian terdiam sejenak. Dia menatap Aluna dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya menghela napas pendek dan duduk di pinggiran ka**r Alunaβmengabaikan total aturan "dilarang saling menyentuh area ka**r masing-masing" yang dulu ia buat sendiri dengan sangat ketat.
"Makanya, lain kali jangan b***," kata Elian, meskipun nadanya sama sekali tidak galak. Malah terdengar... khawatir? "Kalau motor lo mogok, ya neduh. Hubungin gue. Kan bisa."
"Gimana mau hubungin lo, HP gue mati total," bela Aluna sambil mengerucutkan bibirnya. Tapi kemudian, otaknya menangkap sesuatu dari ucapan Elian. "Bentar... emang kalau gue hubungin lo, lo mau jemput gue?"
Elian langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, berdeham canggung. "Ya... daripada gue repot musti gotong lo yang pingsan kayak karung beras."
Aluna tertawa kecil. Jantungnya mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Si****, kenapa cowok gengsian kayak Elian malah kelihatan lucu banget kalau lagi salah tingkah gini?
Sejak kejadian malam badai itu, benteng pertahanan yang dibangun Elian perlahan tapi pasti mulai runtuh. Mereka jadi jauh lebih sering mengobrol. Aluna tidak lagi merasa sungkan untuk meminjam buku referensi kuliah Elian, dan Elian tidak lagi mendengus kesal tiap kali Aluna menyalakan musik akustik sore-sore. Mereka bahkan sering berbagi makanan. Kamar nomor 7 kini dipenuhi suara tawa dan obrolan random, bukan lagi keheningan yang canggung.
Namun, di tengah semua kehangatan baru ini, Aluna tidak buta. Dia menyadari ada satu hal yang salah.
Satu hal besar yang selalu berhasil menarik Elian kembali ke dalam cangkang gelapnya yang dingin.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Ponsel Elian yang diletakkan di atas meja belajar bergetar hebat di atas permukaan kayu.
Seketika itu juga, atmosfer di dalam kamar langsung berubah. Bahu Elian yang tadinya rileks mendadak menegang. Senyum tipis yang sempat menghias wajahnya menguap tanpa bekas, digantikan oleh gurat kecemasan yang sangat kentara.
Aluna memperhatikan perubahan itu dengan dada yang mendadak ikut menyempit.
Elian berdiri dari ka**r, melangkah cepat ke arah mejanya. Dia mengambil ponselnya, menatap layarnya selama beberapa detik dengan rahang yang mengeras. Aluna bisa melihat dari pantulan kaca jendela kalau napas Elian mendadak memburu, seolah nama yang tertera di layar ponselnya adalah sebuah ancaman besar.
Elian langsung mematikan dayanyaβbukan cuma me-reject, tapi benar-benar mematikan ponselnya hingga layar menjadi hitam pekat.
"El?" panggil Aluna pelan, hampir berupa bisikan. "Ada masalah?"
Elian membelakangi Aluna selama beberapa saat, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik. Wajahnya sudah kembali datar, tipikal Elian yang pertama kali Aluna temui. Dingin dan tak tersentuh.
"Nggak. Bukan apa-apa," jawab Elian singkat. Suaranya terdengar datar, sangat kontras dengan kehangatan obrolan mereka beberapa menit lalu.
Aluna menelan ludah. Ini bukan pertama kalinya. Selama tiga hari terakhir, kejadian seperti ini sudah terjadi berkali-kali. Setiap kali ponsel Elian berdering, cowok itu akan langsung berubah cemas, menutup diri, atau bahkan pergi keluar kamar dengan terburu-buru untuk mengangkat telepon dengan suara berbisik yang penuh emosi di lorong kosan.
Pernah sekali Aluna tidak sengaja mendengar Elian setengah berteriak di ujung lorong, *"Gue udah nggak ada hubungannya sama kalian! Jangan cari gue lagi!"* sebelum akhirnya cowok itu kembali ke kamar dengan napas tersengal-sengal dan mata yang memerah karena marah sekaligus frustrasi.
Siapa yang meneleponnya? Keluarga? Musuh? Atau... masa lalunya?
Rasa penasaran di dada Aluna merayap naik, begitu besar hingga rasanya sesak. Dia ingin sekali bertanya. Dia ingin bilang, *'Gue di sini, El. Lo bisa cerita apa aja ke gue.'* Dia ingin menjadi tempat Elian bersandar, sama seperti Elian yang menjadi sandarannya saat dia sakit kemarin.
Namun, saat melihat bagaimana Elian kini kembali menyibukkan diri di depan laptopnya dengan punggung yang kaku, Aluna mengurungkan niatnya. Dia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang saling bertautan.
Aluna tahu batas. Dia tahu, meski mereka kini sering bercanda dan berbagi tawa, dia tetaplah hanya seorang teman satu kamar kos. Ada area pribadi dalam hidup Elian yang belum diizinkan untuk ia ma**ki. Dan menghargai privasi cowok itu adalah satu-satunya hal terbaik yang bisa ia lakukan sekarang, meski hatinya didera rasa ingin tahu yang luar biasa.
Dan mungkin... bukan cuma rasa ingin tahu.
Aluna menyentuh dadanya yang berdegup dengan ritme yang tidak biasa. Ada perasaan lain yang mulai tumbuh di sana, menyelinap diam-diam di antara tawa mereka dan perhatian-perhatian kecil yang Elian berikan. Rasa suka yang tak tertahankan, yang kini mulai terasa sedikit menyakitkan karena ia tahu, ada dinding raksasa tak kasatmata yang masih kokoh melindungi misteri di dalam hidup Elian.
"El," panggil Aluna lagi, kali ini dengan nada yang lebih sant**, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak pekat.
Elian menoleh sedikit, meliriknya dari balik bahu. "Apa?"
"Gue laper. GoFood martabak manis enak kali ya? Lo mau yang rasa apa? Gue yang traktir, sebagai tanda terima kasih resmi karena udah diselamatkan dari maut." Aluna tersenyum manis, berusaha sekeras mungkin menyembunyikan rasa cemasnya sendiri.
Elian menatap Aluna selama beberapa detik. Perlahan, ketegangan di bahunya tampak sedikit mengendur. Sorot matanya yang tadi sempat mendingin kini kembali melembut.
"Keju susu," jawab Elian pelan. "Setengah cokelat kacang."
Aluna langsung berbinar. "Oke! Meluncur!"
Sambil mengotak-atik ponselnya untuk memesan makanan, Aluna mencuri pandang ke arah Elian yang kini kembali fokus ke layar laptopnya. Dalam hati, Aluna berbisik pelan.
*Gue nggak tahu rahasia apa yang lagi lo sembunyiin, El. Tapi suatu hari nanti, kalau lo udah siap buat cerita... gue bakal jadi orang pertama yang siap dengerin.*
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!