**Bab 8: Siapa Lo Sebenarnya, Elian?**
"Gimana mau hubungin lo, handphone gue aja mati total waktu itu gara-gara kema**kan air hujan," gerutu Aluna malam itu, menyudahi ingatan tentang momen manis sekaligus konyol saat Elian merawatnya beberapa hari yang lalu.
Kini, hampir seminggu telah berlalu sejak Aluna sembuh total dari demamnya. Hubungan mereka di kamar kos nomor 7 yang sempit itu perlahan-lahan mulai mencair. Tidak ada lagi aksi saling melotot galak atau perdebatan sengit tentang siapa yang paling berhak menggunakan meja belajar kecil di sudut ruangan. Garis lakban merah di lant** bahkan sudah agak mengelupas karena sering terinjak, dan anehnya, baik Aluna maupun Elian sama-sama malas untuk menempelnya kembali.
Sore itu, hari Sabtu yang c**up terik. Elian sedang keluar untuk membeli makan siang di warung padang depan gang, sementara Aluna memilih untuk malas-malasan di atas ka**rnya. Udara kamar terasa pengap, hanya dibantu oleh putaran kipas angin dinding yang berderit pelan.
Aluna merebahkan tubuhnya, berselancar tanpa arah di aplikasi TikTok untuk mengusir bosan. Jari jempolnya bergerak cepat merayapi layar, melewati video-video joget, resep masakan, hingga akhirnya dia berhenti pada sebuah video berita yang sedang *trending* di beranda fyp-nya.
Akun berita *infot**nment* terkenal mengunggah sebuah video dengan musik latar yang menegangkan.
*“Misteri hilangnya Adrian Elian Wiratama, putra mahkota sekaligus pewaris tunggal Wiratama Group, raksasa bisnis terbesar di I****esia, masih belum menemui titik terang. Sudah tiga bulan pemuda berusia 21 tahun ini menghilang tanpa jejak. Pihak keluarga kini menjanjikan imbalan fantastis sebesar 5 miliar rupiah bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi akurat mengenai keberadaannya…”*
Aluna awalnya hanya menyimak dengan setengah hati. Tapi, begitu layar menampilkan foto portrait beresolusi tinggi dari sang "putra mahkota", napas Aluna mendadak tercekat di tenggorokan.
Jantungnya serasa merosot sampai ke lambung.
Aluna langsung menegakkan duduknya, matanya membelalak lebar menatap layar ponsel yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidungnya. Di layar itu, terpampang foto seorang cowok mengenakan setelan jas desainer berwarna biru tua yang sangat pas di badannya yang tegap. Rambutnya ditata rapi ke belakang dengan gaya *slick back*, menonjolkan dahi bersih dan wajah yang luar biasa tampan—dingin, angkuh, dan sangat berwibawa.
Tapi bukan itu yang membuat Aluna gemetar.
Mata elang yang tajam itu. Garis rahang yang kokoh itu. Dan yang paling membuat Aluna yakin adalah sebuah bekas luka kecil samar di dekat alis kirinya, serta tahi lalat tipis di bawah telinga kanan.
"Nggak... Nggak mungkin..." bisik Aluna dengan suara bergetar.
Dia buru-buru membuka Google, mengetikkan nama *Adrian Elian Wiratama*. Ratusan artikel langsung bermunculan. Aluna mengklik salah satu artikel dari media ekonomi terpercaya. Di sana ada foto lain, kali ini foto candid saat cowok itu menghadiri gala dinner mewah bersama seorang pria paruh baya berwajah keras yang sangat mirip dengannya—yang diidentifikasi sebagai Albert Wiratama, salah satu orang terkaya di Asia Tenggara.
Di foto itu, si "Adrian Elian" sedang memegang gelas sampanye, menatap kamera dengan tatapan bosan yang sangat khas.
Tatapan bosan yang sama persis dengan yang Aluna lihat setiap hari di kamar kos ukuran 3x3 meter ini.
"Elian..." gumam Aluna, suaranya nyaris hilang.
Tepat pada detik itu, terdengar suara kunci pintu diputar dari luar. Jantung Aluna berdegup dua kali lebih cepat. Pintu kayu kosan yang agak lapuk itu terbuka, menampilkan sosok Elian yang sesungguhnya.
Cowok itu ma**k dengan sant**, hanya mengenakan kaus oblong hitam polos yang agak longgar, celana training abu-abu, dan sandal jepit karet seharga dua puluh ribu rupiah. Di tangan kanannya, dia menjinjing satu kantong plastik berisi dua bungkus nasi padang. Rambutnya yang sedikit berantakan tampak agak basah karena keringat setelah berjalan di bawah terik matahari.
Sangat kontras dengan sosok pangeran berjas mewah yang baru saja Aluna lihat di layar ponselnya.
Elian menutup pintu dengan kakinya, lalu menatap Aluna yang duduk kaku di atas ka**r dengan wajah pucat pasi.
"Kenapa lo? Muka lo kayak ngelihat s****," tanya Elian datar. Dia berjalan menuju meja lipat mereka dan meletakkan bungkusan nasi di sana. "Ini nasi padangnya. Gue beliin ayam bakar, lo kan nggak suka rendang yang keras."
Aluna tidak menjawab. Dia hanya menatap Elian tanpa berkedip. Matanya bergerak menyapu penampilan Elian dari ujung rambut sampai ujung kaki, mencoba mencocokkan realitas di depannya dengan informasi g*** yang baru saja dia baca.
Merasa tidak ada respons, Elian berbalik dan mengernyitkan dahi. "Aluna? Lo kesambet ya?"
Aluna menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Dengan gerakan lambat, Aluna mengangkat ponselnya, memutar layarnya tepat ke arah wajah Elian.
"Ini... lo, kan?" tanya Aluna, suaranya serak.
Mata Elian turun ke arah layar ponsel Aluna. Begitu melihat foto dirinya yang mengenakan setelan jas mahal di situs berita nasional, tubuh Elian langsung menegang. Kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka beberapa hari terakhir ini mendadak lenyap begitu saja. Tatapan mata Elian berubah drastis—menjadi sangat dingin, tajam, dan penuh dengan jarak.
Ekspresi yang belum pernah Aluna lihat sebelumnya dari seorang Elian si anak kos biasa.
Elian perlahan melepaskan bungkusan kunci dari jarinya, membiarkannya jatuh ke atas meja dengan bunyi *klunting* yang nyaring di tengah keheningan kamar.
"Dari mana lo dapet itu?" tanya Elian. Suaranya rendah, terdengar sangat tenang namun ada nada mengancam yang tersirat di dalamnya.
Aluna refleks memeluk lututnya, merasa sedikit terintimidasi oleh perubahan aura Elian yang begitu mendadak. "F-fyp TikTok gue... Terus gue cari di Google. Beritanya udah rame banget dari sebulan lalu. Dan sekarang... bokap lo bikin sayembara lima miliar buat siapa aja yang bisa nemuin lo."
Aluna menjeda kalimatnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dia menatap langsung ke manik mata Elian yang hitam pekat.
"Siapa lo sebenarnya, Elian? Lo... beneran Adrian Elian Wiratama? Putra mahkota Wiratama Group yang dicari-cari satu negara ini?"
Sunyi menjajah kamar nomor 7 selama beberapa saat. Hanya suara kipas angin berderit yang mengisi kekosongan. Elian berdiri mematung di dekat meja, sebelum akhirnya dia menghela napas panjang dan kasar. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, seolah-olah beban berat yang selama ini dia sembunyikan akhirnya runtuh.
Elian berjalan mendekat, lalu duduk di kursi belajarnya. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, tampak sangat frustrasi.
"Iya. Itu gue," jawab Elian akhirnya, mengakui identitas aslinya tanpa bantahan.
Meskipun sudah menduganya, mendengar pengakuan langsung dari mulut Elian tetap membuat otak Aluna serasa meledak. Dia melongo, menatap Elian dengan pandangan tidak percaya.
"G***... Demi apa?!" seru Aluna, refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Gue satu kamar sama anak konglomerat terkaya di negara ini?! Lo bercanda kan, El? Ini semacam acara *social experiment* atau acara TV kamera tersembunyi?"
Aluna bahkan sampai celingukan menatap sudut-sudut kamar, mencari-cari apakah ada kamera kecil yang tersembunyi di sela-sela lemari pakaiannya.
"Nggak ada kamera, Aluna. Ini nyata," sela Elian dengan nada lelah. "Gue emang kabur dari rumah."
"Tapi kenapa?!" Aluna menuntut penjelasan, setengah histeris. "Lo punya segalanya! Rumah lo pasti segede lapangan bola, lo bisa beli apa aja yang lo mau tanpa perlu mikir, lo punya mobil mewah, pelayan... Tapi lo malah milih tinggal di kamar kos sempit yang AC-nya sering mati, airnya kuning kalau hujan, dan makan mi instan bareng gue?! Otak lo geser ya?"
Elian tersenyum tipis, tapi itu adalah senyum paling pahit yang pernah Aluna lihat.
"Punya segalanya?" Elian mengulang kalimat Aluna dengan nada mengejek. "Gue nggak punya apa-apa di sana, Al. Bahkan diri gue sendiri bukan milik gue."
Cowok itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kamar kos yang catnya mulai mengelupas.
"Dari kecil, hidup gue udah diatur kayak robot. Gue harus bangun jam berapa, les apa aja, temenan sama siapa, bahkan jurusan kuliah gue pun bokap yang nentuin. Gue nggak boleh punya pilihan. Di mata bokap, gue bukan anak. Gue cuma aset berharga, piala yang bisa dipamerin ke rekan bisnisnya, dan calon penerus yang harus sempurna tanpa celah."
Suara Elian terdengar begitu sunyi, menyimpan luka mendalam yang selama ini dia simpan rapat-rapat di balik sikap menyebalkan dan dinginnya.
"Puncaknya tiga bulan lalu," lanjut Elian, pandangannya beralih menatap Aluna. "Bokap tiba-tiba ngumumin perjodohan bisnis gue sama anak dari salah satu pemegang saham terbesar mereka. Cewek yang bahkan nggak pernah gue temuin sebelumnya. Pas gue nolak, bokap nampar gue di depan umum. Dia bilang, semua fasilitas yang gue punya itu milik dia, dan kalau gue nggak mau nurut, gue nggak bakal dapet sepeser pun warisan dan bakal didepak dari keluarga."
Elian terkekeh pelan, kali ini terdengar lebih lepas. "Dia pikir gue bakal takut dan berlutut minta maaf. Tapi malam itu juga, gue packing baju seadanya, ambil tabungan pribadi gue yang gak seberapa yang gak bisa dia lacak, dan pergi dari rumah itu. Gue cuma pengen bebas, Al. Gue cuma pengen ngerasain hidup sebagai manusia biasa, bukan pion bisnis."
Aluna tertegun. Kemarahan dan rasa syoknya perlahan mereda, digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Dia menatap Elian yang kini tampak sangat rapuh di balik topeng dinginnya. Siapa yang menyangka bahwa di balik kemewahan yang diimpikan semua orang, ada jiwa yang begitu terkekang dan kesepian?
"Tapi... kenapa lo milih kos-kosan ini? Kenapa kamar nomor 7?" tanya Aluna lembut.
"Karena bokap gue nggak bakal pernah nyari gue di tempat kayak gini," jawab Elian, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Dia bakal nyari gue di hotel bintang lima, apartemen mewah temen-temen gue, atau di luar negeri. Dia nggak bakal pernah kepikiran kalau anak tunggalnya tinggal di gang sempit, berbagi kamar kos satu sejuta sebulan sama cewek cerewet kayak lo."
Aluna mendengus mendengar ejekan itu, tapi dia tidak marah. "Jadi aturan aneh yang lo buat waktu pertama kali kita ketemu... 'jangan kepo urusan masing-masing', itu karena lo takut identitas lo ketahuan?"
"Iya," aku Elian jujur. "Gue nggak mau lo terlibat masalah sama keluarga gue kalau mereka tahu lo tinggal sama gue."
Aluna terdiam sejenak, memproses semua informasi fiksi-ilmiah yang terasa begitu nyata ini. Pikirannya melayang pada angka yang tertera di layar ponselnya tadi.
"Lima miliar..." gumam Aluna pelan, matanya berkedip-kedip menatap Elian. "El, kalau gue telepon nomor aduan di berita itu sekarang dan bilang lo ada di sini, gue langsung jadi miliarder mendadak, dong?"
Elian menatap Aluna datar, sama sekali tidak terlihat panik. Dia malah bersedekap dada. "Silakan kalau lo mau telepon. Hubungin aja sekarang."
Aluna mengerutkan kening. "Lo nggak takut?"
"Gue tahu lo nggak bakal lakuin itu," ucap Elian dengan nada sangat yakin. "Lo emang berisik, sering bikin gue pusing, dan pelit kalau urusan makanan kosan. Tapi lo bukan orang jahat, Aluna. Lo nggak bakal ngejual kebebasan temen lo sendiri demi duit."
Kata "temen" yang keluar dari mulut Elian terasa begitu hangat, membuat dada Aluna berdesir aneh.
Aluna menghela napas panjang, lalu melempar bantal kecilnya tepat ke wajah Elian—yang lagi-lagi ditangkap cowok itu dengan mudah sembari terkekeh.
"Si**** lo. Kok lo bisa seyakin itu sih?" keluh Aluna sambil cemberut. "Padahal cicilan motor gue masih nunggak dua bulan, dan uang semesteran gue belum lunas. Lima miliar itu bisa bikin hidup gue tenang sampai tujuh turunan tahu!"
"Ya udah, telepon sana," tantang Elian jahil, menyodorkan ponsel Aluna kembali.
"Nggak mau, ah! Nanti kalau lo balik ke rumah lo, siapa yang bakal masakin gue bubur keasinan pas gue sakit? Siapa yang bakal dengerin gue ngomel-ngomel tiap pulang kuliah?" sahut Aluna asal, wajahnya mendadak merona merah setelah menyadari apa yang baru saja dia katakan.
Elian tertegun mendengar ucapan Aluna. Senyum hangat yang sangat jarang diperlihatkannya kini terukir jelas di wajah tampannya. Kali ini, senyum itu benar-benar tulus, membuat matanya menyipit ramah.
"Makasih ya, Al," kata Elian pelan, suaranya terdengar sangat tulus.
Aluna berdeham canggung, mencoba mengalihkan perhatian dari debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak keruan. Dia menunjuk nasi padang di atas meja.
"Udah ah, nggak usah melow gitu! Sekarang mending kita makan nasi padangnya sebelum dingin. Tapi..." Aluna menatap Elian dengan seringai jahil di wajahnya.
"Tapi apa?" tanya Elian waswas.
"Karena sekarang gue udah tahu kalau roommate gue ini calon pewaris takhta bisnis raksasa... nanti kalau lo udah baikan sama bokap lo dan balik jadi kaya raya, lo harus traktir gue makan daging wagyu sepuasnya di restoran paling mahal di Jakarta! Nggak mau tahu gue!"
Elian tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat bebas dan tanpa beban—seolah semua penat yang dia bawa selama tiga bulan ini menguap begitu saja ke udara kamar kos mereka yang sempit.
"Oke, deal," jawab Elian penuh keyakinan. "Restoran wagyu paling mahal di Jakarta. Catat itu."
Sore itu, di kamar kos nomor 7 yang sederhana, rahasia terbesar akhirnya terungkap. Namun, bukannya membuat mereka semakin berjarak, rahasia itu justru mengikat mereka dalam sebuah dimensi hubungan yang baru—sesuatu yang lebih dari sekadar dua orang asing yang terpaksa berbagi kamar karena aturan aneh.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!