Aluna masih menatap layar ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Foto di layar itu benar-benar mirip dengan cowok menyebalkan yang selama beberapa minggu ini berbagi kamar dengannya. Elian. Cowok yang suka protes kalau Aluna menaruh *skincare* sembarangan, cowok yang kemarin dengan telaten mengompres dahinya saat dia demam, dan cowok yang beberapa menit lalu pamit pergi ke warung Padang dengan kaos oblong putih tipis dan celana pendek longgar.
"Nggak mungkin... Ini pasti salah orang," gumam Aluna, mencoba menolak kenyataan yang terpampang jelas di depan matanya.
Tapi, bekas luka kecil di alis kiri itu tidak bisa berbohong. Tahi lalat tipis di bawah telinga kanan itu juga terlalu spesifik untuk disebut sebagai sebuah kebetulan.
Adrian Elian Wiratama. Pewaris tunggal salah satu gurita bisnis terbesar di negara ini.
Aluna melempar ponselnya ke atas ka**r, lalu menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Kepalanya mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa seorang anak konglomerat legendaris yang dicari-cari seluruh negeri dengan imbalan lima miliar rupiah, malah nyasar di kos-kosan murah berukuran tiga kali empat meter ini? Dan yang lebih g*** lagi, kenapa dia harus sekamar dengan Aluna?
Di tengah kepanikan yang berkecamuk di kepalanya, Aluna tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tidak biasa dari luar koridor.
Biasanya, koridor kos-kosan khusus campur ini hanya diramaikan oleh langkah kaki sant** para mahasiswa yang memakai sandal jepit murah. Kadang terdengar seretan langkah malas, atau tawa berisik anak-anak kamar sebelah. Tapi kali ini berbeda. Langkah kaki ini terdengar berat, tegas, dan serempak. Seperti suara sepatu pantofel mahal bersol tebal yang menghentak lant** semen dengan penuh wibawa.
*Tap. Tap. Tap.*
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu Kamar Nomor 7.
Jantung Aluna berdegup dua kali lebih cepat. Perasaannya mendadak tidak enak. Dia menahan napas, menatap daun pintu kayu yang sudah agak lapuk di depannya dengan waswas.
*Tok! Tok! Tok!*
Ketukan itu terdengar sangat formal. Tiga kali ketukan dengan jeda yang presisi. Jelas bukan ketukan asal-asalan ala Elian yang biasanya suka menendang pintu kalau kedua tangannya penuh membawa belanjaan.
Aluna menelan ludah. Dengan langkah ragu-ragu, dia turun dari ka**r dan berjalan mendekati pintu. Perlahan, dia memutar kunci dan membuka pintu itu sedikit.
Begitu pintu terbuka, napas Aluna seolah berhenti di tenggorokan.
Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam formal yang sangat rapi dan licin, lengkap dengan dasi abu-abu gelap. Rambutnya klimis disisir ke belakang, dan kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya. Di belakang pria itu, berdiri dua orang laki-laki berbadan tegap luar biasa dengan setelan jas serupa dan kacamata hitam, menjaga koridor sempit itu seolah-olah tempat ini adalah area steril kepresidenan.
Suasana koridor kos yang biasanya pengap mendadak terasa mencekam dan dingin.
Pria berjas di depan Aluna tersenyum tipis. Sebuah senyuman ramah yang anehnya tidak terasa hangat sama sekali, melainkan dingin dan penuh intimidasi.
"Selamat sore, Nona Aluna," sapa pria itu dengan suara bariton yang tenang namun berwibawa.
Aluna mengerjapkan mata, benar-benar syok. "S-selamat sore... Maaf, Anda siapa, ya? Dan kok tahu nama saya?"
Pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sopan. "Perkenalkan, nama saya Danu. Saya adalah sekretaris pribadi dari Bapak Hartawan Wiratama."
Mendengar nama belakang itu, lutut Aluna rasanya langsung lemas. *Wiratama.* Nama yang baru saja dia baca di layar ponselnya beberapa menit yang lalu. Insting Aluna langsung berteriak bahwa dia harus segera menutup pintu ini, tapi tubuhnya seolah terkunci di tempat.
"Boleh saya ma**k sebentar? Ada hal penting yang perlu kita bicarakan secara pribadi," pinta Pak Danu. Nada suaranya sopan, namun ada penekanan mutlak di sana yang membuat Aluna merasa tidak punya pilihan untuk menolak.
"Eh... iya, silakan," jawab Aluna terbata-bata.
Dia membuka pintu lebih lebar. Pak Danu melangkah ma**k ke dalam kamar kos nomor 7 yang sempit. Dua pengawal berbadan tegap tetap berjaga di luar, menutup rapat akses jalan dan membuat beberapa anak kos lain yang kebetulan lewat langsung membatalkan niat mereka dan buru-buru ma**k kembali ke kamar masing-masing karena ketakutan.
Pak Danu berdiri di tengah ruangan. Matanya yang tajam menyapu sekeliling kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu. Dia menatap garis lakban merah di lant** yang sudah mulai mengelupas, gantungan baju darurat di balik pintu, tumpukan buku kuliah Aluna, dan dua ka**r single yang diletakkan berdampingan. Ada kilatan jijik dan tidak percaya yang melintas sangat cepat di mata pria paruh baya itu, sebelum dia kembali memasang ekspresi datar yang profesional.
"Ternyata di sini Adrian tinggal selama tiga bulan ini," gumam Pak Danu pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Dia kemudian berbalik menatap Aluna yang berdiri dengan canggung di dekat meja belajar.
"Adrian... maksud Anda, Elian?" tanya Aluna memastikan, suaranya terdengar mencicit.
"Benar. Adrian Elian Wiratama. Putra tunggal dari majikan saya," jawab Pak Danu tenang. "Kami sudah melacak keberadaannya sejak lama, dan pencarian kami akhirnya berujung di kamar kos yang... sangat sederhana ini." Pak Danu memberikan penekanan halus pada kata 'sederhana', seolah kata itu adalah sinonim dari kata 'tidak layak'.
Aluna meremas ujung kaosnya sendiri. Dia merasa sangat kecil di hadapan pria ini. Perbedaan kelas sosial di antara mereka terasa seperti jurang pemisah yang sangat lebar, bahkan hanya dari cara mereka berdiri dan berpakaian.
"Saya... saya benar-benar nggak tahu kalau Elian itu anak orang kaya," kata Aluna jujur. "Dia datang ke sini dan sewa kamar ini karena aturan kos-kosan ini yang aneh. Kita cuma sekamar karena terpaksa, Pak. Benar-benar nggak ada maksud lain."
Pak Danu tersenyum tipis, seolah sudah memprediksi jawaban itu. Dia berjalan mendekati meja belajar kecil milik Aluna, lalu meletakkan sebuah kartu nama hitam dengan tulisan berwarna emas di atasnya.
"Saya percaya Anda, Nona Aluna. Lagipula, gadis kuliahan biasa seperti Anda tentu tidak akan berani merencanakan hal sejauh ini," ucap Pak Danu.
Kata-kata itu terdengar halus, tapi Aluna merasakannya seperti tamparan tidak kasatmata. *Gadis kuliahan biasa.* Itu adalah penegasan bahwa statusnya sangat jauh di bawah level mereka.
"Namun," Pak Danu melanjutkan, melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Aluna, membuat aura intimidasi di ruangan itu semakin pekat. "Adrian adalah masa depan Wiratama Group. Dia memiliki tanggung jawab besar, pernikahan bisnis yang sudah diatur, dan jalan hidup yang sudah dirancang dengan sempurna oleh ayahnya. Keberadaannya di sini, bersama Anda, hanyalah sebuah fase pemberontakan remaja yang tidak berarti."
Pak Danu menjeda kalimatnya, membiarkan setiap kata yang diucapkannya meresap ke dalam benak Aluna.
"Saya di sini untuk memberikan saran terbaik demi kebaikan Anda sendiri, Nona Aluna. Tolong jauhi Adrian. Jangan pernah mencoba menahannya di sini, dan jangan pernah berpikir bahwa Anda bisa menjadi bagian dari dunianya. Dunia Anda dan dunia Adrian itu terlalu berbeda. Seperti bumi dan langit."
Napas Aluna tercekat. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan dingin yang begitu menusuk. Meskipun Pak Danu menyampaikannya dengan nada bicara yang sangat sopan dan tanpa emosi, esensi dari ancaman halus itu sangat jelas: *Sadar diri. Lo gak selevel sama dia.*
"Saya nggak pernah nahan dia di sini..." bisik Aluna, matanya mulai terasa panas. Dia mati-matian menahan air mata agar tidak jatuh di depan pria ini. Dia tidak ingin terlihat semakin lemah.
"Baguslah kalau begitu," sahut Pak Danu puas. "Saat Adrian kembali nanti, saya harap Anda bisa bersikap bijaksana. Biarkan dia pulang ke tempat yang seharusnya. Dan jika Anda bekerja sama dengan baik untuk tidak mempersulit proses kepulangannya, kami tentu tidak akan mempersulit hidup Anda atau kelangsungan kuliah Anda di kampus."
Ancaman itu kini menjadi sangat nyata. Aluna menelan ludah yang terasa sekering pasir. Kuliahnya, masa depannya, segalanya bisa hancur dalam sekejap jika dia menyinggung keluarga sekuat Wiratama.
"Saya mengerti," jawab Aluna akhirnya, nyaris tanpa suara.
Pak Danu mengangguk puas. "Terima kasih atas pengertiannya, Nona Aluna. Senang bisa berbicara dengan orang yang realistis seperti Anda." Pria itu kemudian merapikan jasnya, berbalik, dan melangkah menuju pintu kamar. "Kami akan menjemput Adrian secara resmi besok pagi. Pastikan dia sudah siap."
Sebelum melangkah keluar, Pak Danu berhenti sejenak di ambang pintu tanpa menoleh ke belakang. "Satu lagi. Tolong jangan beritahu Adrian tentang kunjungan saya sore ini. Biarkan ini menjadi rahasia kecil di antara kita."
Tanpa menunggu jawaban dari Aluna, Pak Danu melangkah keluar. Kedua pengawal berbadan tegap itu segera mengikutinya dari belakang. Suara langkah sepatu pantofel mereka perlahan-lahan menjauh dan akhirnya menghilang dari koridor.
Pintu kamar kos dibiarkan setengah terbuka.
Aluna langsung luruh terduduk di lant** semen yang dingin. Kedua lututnya benar-benar lemas, tidak sanggup lagi menopang berat badannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Dia memeluk lututnya sendiri, menatap sekeliling kamar kos nomor 7 yang tiba-tiba terasa sangat asing dan dingin.
Selama beberapa minggu ini, dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Elian. Dia mulai terbiasa dengan suara tawa cowok itu, omelan menyebalkannya, bahkan perhatian-perhatian kecil yang diberikan Elian saat dia sakit. Aluna sempat berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka bisa menjadi teman dekat atau bahkan lebih dari sekadar teman sekamar yang terpaksa berbagi ruang.
Tapi hari ini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun.
Elian bukan cuma sekadar cowok biasa yang sedang mencari kos-kosan murah. Elian adalah Adrian Elian Wiratama. Dia adalah pangeran dari kerajaan bisnis yang tak tersentuh. Sementara Aluna? Dia hanyalah mahasiswi biasa penerima beasiswa yang harus memutar otak setiap akhir bulan hanya untuk membeli mie instan.
Garis lakban merah di lant** yang membatasi area mereka kini tampak seperti simbol pemisah yang sesungguhnya. Batas nyata yang mengingatkan Aluna bahwa sejak awal, mereka memang tidak pernah ditakdirkan untuk berada di dunia yang sama. Dunianya dan dunia Elian terlalu jauh berbeda untuk bisa disatukan.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki lain dari arah koridor. Langkah kaki yang sangat Aluna kenal. Langkah sant** yang agak terseret, disert** siulan kecil yang riang.
Itu Elian.
Aluna buru-buru menghapus air matanya dengan kasar, mencoba menata emosinya yang masih berantakan. Dia tahu, mulai detik ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi. Kesunyian
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!