Kena Kutukan Jadi Cantik: Tolong Jangan Sembuhkan Aku!

Bab 1: Kutukan yang Salah Alamat

Pengaturan Membaca

**Bab 1: Kutukan yang Salah Alamat**

Menjadi orang biasa di Kekaisaran Solaria itu rasanya seperti menjadi figuran di dalam film fantasi berbiaya besar. Di saat orang lain sibuk memamerkan kekuatan sihir elemen mereka, atau memamerkan ketampanan dan kecantikan kelas atas khas bangsawan, Anya hanya bisa pasrah dengan statusnya sebagai "gadis biasa-biasa saja".

Anya tidak punya sihir yang hebat. Wajahnya? Ya, standar. Tipe wajah yang kalau berjalan di tengah keramaian pasar ibukota, tidak akan ada satu orang pun yang menoleh dua kali. Rambut cokelatnya sering kali mekar seperti singa kalau bangun tidur, dan bintik-bintik tipis di hidungnya selalu membuatnya terlihat seperti remaja yang kurang tidur akibat begadang maraton membaca novel romansa.

"Anya, tolong belikan garam dan kentang ke pasar bawah! Cepat, sebelum toko Paman Bob tutup!" teriak ibunya, Helena, dari arah dapur. Suaranya yang melengking sanggup mengalahkan suara terompet perang kekaisaran.

"Iya, Ma! OTW!" sahut Anya otomatis, meski ibunya jelas tidak tahu apa arti singkatan 'OTW' itu.

Anya segera menyambar mantel cokelatnya yang sudah agak pudar warnanya. Dia melangkah keluar dari rumah kecil mereka yang terletak di pinggiran ibukota. Udara malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti jalanan berbatu yang sepi. Seharusnya Anya merasa takut, tapi karena perutnya sudah menyanyikan lagu keroncongan demi sepiring sup kentang hangat, dia mempercepat langkahnya melewati gang-gang sempit yang gelap.

Namun, keputusannya mengambil jalan pintas lewat gang belakang kuil kuno ternyata adalah kesalahan terbesar—atau mungkin, keberuntungan terbesar dalam hidupnya.

*B**k!*

Anya menab**k sesuatu. Bukan dinding, melainkan sesosok tubuh tinggi yang terbungkus jubah hitam legam. Benturan itu begitu keras hingga kantong koin di tangan Anya terlepas dan menggelinding di atas tanah.

"Aduh! Kalau jalan pakai mata dong, Mas!" gerutu Anya sambil mengusap dahinya yang terasa pening.

Sosok berjubah itu tidak menjawab. Dia perlahan mendongak, memperlihatkan wajahnya yang separuh tertutup topeng perak. Di balik celah topeng itu, sepasang mata berwarna merah darah menyala dalam kegelapan. Atmosfer di sekitar mereka mendadak turun drastis hingga Anya bisa melihat napasnya sendiri mengristal di udara.

"Beraninya... manusia fana yang tidak berguna mengotori jubah kegelapanku," desis pria itu. Suaranya terdengar ganda, bergema seperti suara ribuan jiwa yang tersiksa.

Anya langsung merinding disko. *Waduh, fiks ini penyihir hitam psikopat yang sering digosipkan di koran mingguan!* batinnya panik.

"Ma-maaf, Mas... saya nggak sengaja. Sumpah! Ini saya mau ambil koin saya terus langsung pergi. Anggap aja kita nggak pernah ketemu, oke?" Anya mencoba mundur perlahan, tapi kakinya mendadak terasa kaku, seolah-olah semen basah baru saja dicor di atas sepatunya.

Penyihir hitam itu tertawa dingin. Tawa yang terdengar sangat klise layaknya penjahat di komik-komik lawas. Dia mengangkat satu tangannya yang pucat dengan kuku-kuku hitam panjang. Cahaya keunguan yang pekat mulai berkumpul di ujung jarinya, memancarkan aura kematian yang sangat kuat.

"Kau telah mengusik ritual keheninganku, Gadis Bodoh. Sebagai hukumannya, nikmatilah sisa hidupmu dalam kehinaan! Rasakan kutukan kuno terdahsyat yang pernah diciptakan oleh Raja i****... Kutukan Rupa Monster!" teriak penyihir itu dengan nada dramatis yang sangat berlebihan.

"Tunggu, Mas! Jangan—"

Sebelum Anya sempat membela diri, penyihir itu menghentakkan tangannya. Lingkaran sihir hitam berdiameter dua meter muncul di bawah kaki Anya. Angin kencang berputar, menerbangkan rambutnya yang memang sudah berantakan. Asap hitam berbau belerang mulai menyelimuti tubuh Anya, ma**k ke dalam pori-pori kulitnya.

Anya memejamkan mata rapat-rapat. Dia sudah pasrah. *Habis sudah riwayatku. Aku bakal berubah jadi monster berlendir, atau orc hijau yang giginya tonggos!*

Namun, di tengah-tengah rapalan mantra kuno yang agung itu, tiba-tiba terdengar suara aneh dari lingkaran sihir di bawahnya.

*Bzzzt... Spark!*

Lingkaran sihir itu berkedip-kedip tidak stabil. Cahaya ungu yang tadinya pekat mendadak berubah menjadi merah muda neon, lalu berganti lagi menjadi emas berkilauan sebelum akhirnya meledak kecil dengan bunyi *Puff!* yang terdengar sangat tidak meyakinkan.

Penyihir hitam itu tertegun. Dia melihat tangannya, lalu melihat ke arah Anya yang masih berdiri utuh. "Eh? Tunggu dulu. Kenapa rumusnya... ah, sudahlah! Intinya kau sudah terkutuk! Hahaha! Rasakan penderitaanmu esok hari!"

Dengan kepulan asap hitam yang sisa-sisa, penyihir itu langsung menghilang ke udara, meninggalkan Anya yang masih melongo di tengah gang sepi.

Anya meraba wajahnya. Masih hidung yang sama, pipi yang sama. Tidak ada lendir, tidak ada taring yang tumbuh.

"Apaan sih? Penyihir zaman sekarang ternyata banyak yang modal magang doang," gumam Anya kesal. Dia buru-buru memungut koinnya, membeli garam, dan segera pulang ke rumah sebelum kutukan aneh itu benar-benar membuatnya mules-mules.

***

Keesokan paginya.

Sinar matahari yang hangat menerobos ma**k celah jendela kamar Anya. Gadis itu menggeliat pelan, merasakan tubuhnya luar biasa ringan dan segar. Tidak ada rasa pegal di punggung seperti biasanya. Malah, dia merasa seolah-olah baru saja selesai spa mewah di resor bintang lima.

Anya bangkit dari tempat tidur dan berjalan sant** menuju cermin wastafel di sudut kamarnya untuk mencuci muka.

Namun, begitu matanya menatap pantulan di cermin, Anya langsung membeku.

"Hah?"

Anya mengerutkan kening. Bayangan di cermin juga ikut mengerutkan kening.

Anya mengucek matanya berulang kali sampai matanya memerah. Dia menampar pipinya sendiri pelan. *Aduh, sakit.* Berarti ini bukan mimpi.

"Ini... siapa?" bisik Anya dengan suara gemetar.

Bahkan suaranya pun terdengar berbeda! Terdengar sangat merdu dan lembut, seperti denting lonceng angin di pagi hari yang menenangkan jiwa.

Anya mendekatkan wajahnya ke cermin. Sosok yang ada di dalam cermin itu bukan lagi Anya si gadis NPC biasa berambut singa. Di sana, berdiri seorang gadis dengan kecantikan luar biasa yang sanggup membuat dewi-dewi di kayangan langsung mengajukan surat resign karena minder.

Kulitnya yang dulu kusam kini seputih pualam, sangat mulus tanpa pori-pori, seolah memancarkan cahaya lembut dari dalam. Rambut cokelat kasarnya telah berubah menjadi mahakarya berwarna cokelat karamel berkilau yang jatuh dengan anggun di bahunya seperti aliran sutra. Sepasang matanya yang dulu biasa saja, kini melebar dengan bulu mata lentik alami, dengan iris mata berwarna hazel yang berkilau jernih. Bibirnya kecil, berwarna merah muda merekah seperti kelopak bunga mawar yang basah oleh embun pagi.

"G***... ini fiks *glow up* jalur pintas!" pekik Anya histeris dalam hati.

Dia memegang dadanya yang berdetak kencang. Bukannya merasa takut karena terkena kutukan hitam, Anya justru merasa ingin sujud syukur di depan kuil saat ini juga. Dia berputar-putar di depan cermin, mengagumi lekuk tubuhnya yang kini tampak jauh lebih proporsional dan elegan, bahkan dalam balutan piyama tidurnya yang sudah robek di bagian ketiak.

*Kayaknya sihir semalam ngalamin glitch kosmis deh!* pikir Anya cerdas. Mantra "Kutukan Rupa Monster" yang dirapalkan penyihir amatir itu pasti mengalami malfungsi total karena kesalahan input data atau koneksi sihir yang *lag*. Alih-alih merusak wajahnya, energi hitam itu malah merestrukturisasi seluruh sel tubuhnya menjadi definisi kecantikan absolut.

Tiba-tiba, pintu kamarnya didob**k dengan keras.

*B**k!*

"Anya! Ada apa?! Ibu mencium bau energi hitam yang mengerikan dari kamarmu—OH MY GOD!"

Helena, ibu Anya, langsung menjatuhkan spatula kayu yang dipegangnya ke lant**. Di belakangnya, kakak laki-laki Anya yang bernama Leo, langsung menghunus pedang latihannya dengan wajah panik.

"Mana monsternya, Bu?! Mana—eh?" Leo menghentikan kalimatnya. Pandangannya terjatuh pada gadis luar biasa cantik yang berdiri di dekat wastafel. Leo langsung menurunkan pedangnya, matanya melotot selebar koin emas, dan wajahnya perlahan memerah padam.

"Si... Siapa Anda? Di mana adik saya, Anya?" tanya Leo dengan nada suara yang mendadak dibuat-buat sok jantan dan sopan.

Anya memutar bola matanya. "Ini aku, Kak. Anya. Masak nggak kenal sih?"

Mendengar suara merdu itu, Helena langsung histeris. Dia berlari mendekat dan memeluk Anya sambil menangis tersedu-sedu.

"Oh, dewi yang agung! Anya-ku yang malang! Jiwamu... jiwamu pasti sedang digerogoti oleh i**** kegelapan!" ratap Helena heboh, air matanya membasahi piyama Anya.

"Lho? Ibu kenapa nangis? Aku kan jadi cantik begini!" ujar Anya heran.

"Kamu tidak mengerti, Anya!" Leo ikut berlutut di depan Anya dengan wajah penuh penderitaan dramatis. "Ini adalah fenomena 'Parasit Jiwa Suci'! Penyihir hitam itu pasti mengutukmu agar terlihat sangat indah secara fisik, sementara energi hitam di dalam tubuhmu perlahan-lahan memakan organ dalam dan jiwamu sampai kamu mati kering menjadi abu! Ini kutukan pembunuhan perlahan yang paling kejam di dunia!"

Helena semakin kencang menangis. "Benar, Nak! Ibu pernah membaca tentang ini! Kecantikan instan ini adalah racun yang menyamar! Oh, Anya... anakku yang malang... kenapa nasibmu tragis sekali? Tenang saja, Ibu akan menjual seluruh aset rumah kita untuk menyewa Pendeta Agung dari kuil pusat untuk menyembuhkanmu!"

Anya melotot kaget. *Menyembuhkan? Dijual seluruh aset rumah?*

"Tunggu, tunggu! Jangan!" teriak Anya cepat, menghentikan kepanikan keluarganya. "Maksudku... Ma, Kak, aku merasa sehat walafiat kok! Nggak ada yang sakit sama sekali. Sumpah! Dada nggak sesak, perut nggak mulas. Aku malah ngerasa lebih bertenaga!"

"Itu hanya ilusi sesaat yang diciptakan oleh energi hitam untuk menipumu, Anya!" bantah Leo dengan wajah serius ala ksatria pelindung. "Kita harus bertindak cepat sebelum wajah cantik palsu ini mulai mengelupas dan memakan jiwamu! Aku akan segera pergi ke kuil sekarang untuk meminta bantuan!"

Anya menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Kulit sehalus sutra ini... rambut seindah dewi ini... masa harus dikembalikan ke setelan pabrik yang kusam dan berambut singa?

*Nggak akan pernah! Enak saja! Ini kan glow up gratis seumur hidup tanpa perlu skincare mahal milyaran koin emas!* batin Anya berontak.

Anya langsung menahan lengan Leo dengan kuat. Dia memasang wajah paling memelas yang dia bisa—yang untungnya, dengan wajah barunya yang cantik luar biasa ini, efek memelasnya langsung meningkat satu juta persen hingga membuat Leo dan ibunya terpaku tak berdaya.

"Kak... Ibu... tolong dengarkan aku," ujar Anya dengan nada selembut mungkin, matanya berkaca-kaca buatan. "Kalau kuil menyembuhkanku sekarang, energi hitam itu bisa saja meledak karena dipaksa keluar dan langsung membunuhku seketika. Biarkan... biarkan aku seperti ini dulu untuk sementara waktu. Tolong... jangan sembuhkan aku sekarang. Aku mohon..."

Leo menelan ludah berat, wajahnya memerah melihat tatapan memohon dari adiknya yang kini mirip bidadari turun dari langit. "Ta-tapi Anya..."

"Tolong, Kak... Ibu..." Anya menggenggam tangan ibunya hangat.

Helena menyeka air matanya, tampak bimbang setengah mati setelah terkena serangan visual tingkat tinggi dari anaknya sendiri. "Baiklah... kalau itu maumu untuk sementara waktu. Tapi kalau ada bagian tubuhmu yang terasa aneh atau mulai berubah jadi ungu, kita harus langsung ke kuil!"

"Iya, Ma! Janji!" sahut Anya riang, sambil menahan diri untuk tidak bersorak gembira dan menari *breakdance* di dalam kamar.

Setelah ibu dan kakaknya keluar dari kamar dengan langkah gundah, Anya langsung mengunci pintu kamar rapat-rapat. Dia melompat ke atas ka**r dan berguling-guling sambil memeluk bantalnya erat-erat, menahan tawa kemenangan yang hampir meledak dari dadanya.

"Yesss! Hidup kutukan salah alamat!" pekik Anya girang setengah mati.

Mulai hari ini, Anya bertekad akan melakukan apa saja demi mempertahankan kutukan terindah ini. Siapa pun penyihir hitam yang kemarin malam mengutuknya, Anya benar-benar ingin mengirimkan parsel buah dan surat ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya!

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca