Kena Kutukan Jadi Cantik: Tolong Jangan Sembuhkan Aku!

Bab 2: High Priest Dingin dan Akting Batuk Darah

Pengaturan Membaca

**Bab 2: High Priest Dingin dan Akting Batuk Darah**

Anya masih tidak bisa berhenti menatap pantulan dirinya di cermin retak yang menggantung di dinding kamar.

Demi apa pun, ini g***! Kutukan penyihir hitam semalam sama sekali tidak membuatnya berubah jadi monster berlendir atau nenek sihir bungkuk. Alih-alih menderita, Anya justru mengalami *glow up* paling ekstrem sepanjang sejarah umat manusia.

Rambut cokelatnya yang biasa mekar mirip singa sekarang berubah menjadi gelombang sutra berkilau yang jatuh dengan sempurna di bahunya. Kulitnya yang dulu kusam dan dihiasi bintik-bintik kurang tidur, kini seputih porselen, mulus tanpa pori-pori, dan seolah-olah memancarkan efek *glowing* alami seolah dia habis melakukan perawatan klinik kecantikan seharga puluhan juta rupiah. Bahkan matanya yang dulu sayu sekarang terlihat bulat, jernih, dan berkilau seperti batu permata paling mahal di kekaisaran.

"G***... Ini sih namanya bukan dikutuk, tapi dapet jackpot!" gumam Anya dengan mata berbinar-binar. Dia berputar di depan cermin, mengagumi lekuk tubuhnya yang tiba-tiba jadi seindah gitar Spanyol. "Visual gue sekarang bener-bener level dewi! Kalau gue ikutan audisi idol di duniaku yang dulu, fiks langsung jadi *center*!"

Namun, kebahagiaan Anya tidak berlangsung lama. Di luar rumahnya yang sederhana, kehebohan besar sedang terjadi. Kabar tentang Anya yang "diserang penyihir hitam dan terkena kutukan mematikan" telah menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru ibukota. Tetangga-tetangga yang heboh mulai bergosip bahwa tubuh Anya sedang digerogoti oleh energi kegelapan yang sangat jahat.

Dan sialnya, gosip lebay itu sampai ke telinga orang yang paling salah.

***

Di Katedral Agung Solaria, atmosfer terasa begitu dingin hingga membuat siapa saja yang ma**k akan merinding. Di tengah altar yang megah, berdirilah sang High Priest, Jeremy.

Pria itu adalah definisi nyata dari kata "sempurna tapi tak tersentuh". Jeremy memiliki rambut perak panjang yang berkilau layaknya cahaya bulan, dengan sepasang mata biru sedingin es kutub yang sanggup membuat siapa saja langsung bungkam hanya dengan satu tatapan. Wajahnya yang luar biasa tampan sering kali membuat para gadis bangsawan pingsan berjamaah. Namun, di balik visualnya yang aduhai, Jeremy terkenal sangat dingin, kaku, dan memiliki reputasi anti-wanita garis keras. Dia bahkan memasang pelindung sihir tipis di sekeliling tubuhnya agar tidak ada satu pun wanita yang bisa menyentuhnya secara tidak sengaja.

"High Priest Jeremy," panggil seorang pendeta muda dengan nada gemetar, membungkuk hormat. "Kami baru saja menerima laporan dari distrik bawah. Seorang gadis biasa bernama Anya telah diserang oleh penyihir hitam. Tubuhnya kini digerogoti oleh kutukan kegelapan yang sangat pekat. Kondisinya dilaporkan sangat kritis."

Tangan Jeremy yang sedang memegang kitab suci berhenti bergerak. Matanya menyipit tajam.

"Penyihir hitam berani beraksi di dekat kuil?" suara Jeremy terdengar sangat rendah dan dingin, bergema di langit-langit katedral yang tinggi. "Sungguh tidak tahu diri."

"Benar, Yang Mulia. Gadis malang itu kabarnya sangat menderita. Kulitnya berubah aneh dan auranya sangat tidak wajar," tambah si pendeta, melebih-lebihkan laporan yang dia dengar dari gosip pasar.

Jeremy menutup kitab sucinya dengan sekali sentakan keras. Jubah putih bersihnya yang bersulam benang emas berkibar saat dia berbalik.

"Demi dewa yang agung, aku bersumpah akan melenyapkan energi hitam itu dari tubuhnya. Aku sendiri yang akan turun tangan untuk memurnikannya," ucap Jeremy dengan nada penuh wibawa dan keadilan yang mutlak. "Siapkan kereta kuda sekarang juga."

Bagi Jeremy, menyelamatkan umat manusia dari kegelapan adalah tugas sucinya. Dia tidak akan membiarkan satu jiwa pun menderita di bawah bayang-bayang sihir hitamβ€”bahkan jika korban itu adalah seorang wanita sekalipun.

***

Sementara itu, di kamar Anya yang sempit, kepanikan massal baru saja dimulai.

"Anya! Oh dewa, Anya! Kita selamat, Nak!" Helena, ibu Anya, mendadak mendob**k pintu kamar dengan wajah yang luar biasa heboh. Napasnya terengah-engah seperti habis lari maraton.

Anya yang sedang asyik mematut diri langsung melonjak kaget. "Kenapa sih, Ma? Ma**k kamar ketuk pintu dulu dong, hampir aja jantung Anya copot!"

"Itu... di luar! High Priest Jeremy! Pria paling suci dan tampan di kekaisaran ini ada di depan rumah kita! Dia bawa pa**kan ksatria suci!" seru Helena dengan mata melotot saking tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Anya langsung melongo. "Hah? Ngapain High Priest agung ke rumah kita yang mirip kandang merpati ini?"

"Dia dengar kamu kena kutukan hitam, Anya! Dia datang khusus buat menyembuhkanmu pakai sihir pemurnian sucinya! Ya ampun, dewa baik banget ya sama keluarga kita!" Helena menyatukan kedua tangannya di dada, air mata haru mulai menggenang di matanya.

Mendengar kata 'menyembuhkan' dan 'pemurnian', seluruh bulu kuduk Anya langsung berdiri tegak. Otaknya yang biasa lambat mendadak bekerja secepat komputer super.

*Tunggu, tunggu, tunggu!* batin Anya panik setengah mati. *Kalau dia memurnikan gue, berarti kutukan kecantikan ini bakal hilang?! Gue bakal balik lagi jadi Anya si gadis kentang yang mukanya standar pas-pasan?!*

Anya menatap pantulan wajah dewinya di cermin sekali lagi. Kulit *glowing*, mata indah, bibir merah merona... Tidak! Dia tidak mau kehilangan semua ini! Dia baru menikmati visual tingkat dewa ini selama beberapa jam, mana rela kalau harus kembali jadi figuran tidak kasat mata!

"Nggak bisa! Ini nggak boleh terjadi!" pekik Anya dalam hati. "Gue harus mempertahankan visual ini sampai titik darah penghabisan!"

*Dug... Dug... Dug...*

Suara langkah kaki yang berat, berwibawa, dan sangat teratur terdengar menaiki tangga kayu rumah mereka. Setiap ketukan langkah itu terdengar seperti lonceng kematian bagi kecantikan Anya.

"Anya, siap-siap ya! Ibu mau sambut High Priest dulu!" Helena langsung bergegas turun ke bawah dengan heboh.

"Duh, gimana ini?! Mikir, Anya, mikir!" Anya mondar-mandir di kamarnya seperti setrikaan. Panik tingkat dewa membuat otaknya berputar mencari akal bulus. "Gimana caranya bikin High Priest itu batal pakai sihir pemurniannya sekarang?"

Tiba-tiba, mata Anya tertuju pada meja kecil di sudut kamar. Di sana terletak sebuah toples kaca kecil berisi sirup stroberi buatan ibunya. Sirup itu sangat kental, berwarna merah tua pekat, dan biasanya digunakan untuk selai roti.

Sebuah ide g*** nan brilian mendadak melintas di kepala Anya.

"Oke, saatnya mengeluarkan bakat akting terpendam gue!" gumam Anya dengan seringai licik.

Dengan gerakan cepat, Anya meraih toples sirup stroberi itu. Dia membuka tutupnya, lalu meminum dua sendok besar sirup kental tersebut. Rasanya luar biasa manis dan sedikit asam, tapi Anya menahannya di dalam mulut, tidak menelannya. Dia membiarkan sebagian sirup merah pekat itu menggenang di rongga mulutnya.

Setelah itu, dia buru-buru menaburkan sedikit bedak putih ke seluruh wajahnya secara asal-asalan agar terlihat sangat pucat. Dia mengacak-acak rambut sutranya sedikit agar terlihat berantakan secara estetisβ€”seperti karakter utama wanita di film-film tragis yang sedang sekarat tapi tetap kelihatan cantik jelita.

Anya langsung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur, menarik selimut lusuhnya sampai ke dada, dan mulai memejamkan mata sambil mengatur napasnya agar terdengar putus-asa.

*Cklek.*

Pintu kamar Anya terbuka perlahan.

Aroma harum bunga lili dan energi suci yang hangat langsung memenuhi ruangan yang sempit itu. Cahaya keemasan yang lembut seolah memancar dari sosok yang baru saja melangkah ma**k.

Anya membuka matanya sedikit, mengintip lewat celah bulu matanya yang lentik. Di sana berdiri Jeremy, sang High Priest. Jantung Anya sempat berhenti berdetak sesaat. *G***, aslinya ganteng banget! Kayak malaikat jatuh dari surga!* batin Anya menjerit histeris. Tapi dia langsung menggelengkan kepalanya secara mental. *Fokus, Anya! Ganteng-ganteng gitu, dia adalah ancaman buat visual lo!*

Jeremy berjalan mendekati tempat tidur Anya. Langkahnya terhenti ketika melihat wajah gadis yang terbaring di sana. Meskipun wajah gadis itu pucat pasi, Jeremy tidak bisa memungkiri bahwa kecantikan gadis ini sangat tidak wajar untuk ukuran manusia biasa. Energi hitam yang samar-samar terasa di sekeliling gadis itu memang sangat pekat, persis seperti laporan yang diterimanya.

"Gadis malang," ucap Jeremy, suaranya terdengar sangat dingin namun memiliki getaran magis yang menenangkan. Dia mengangkat tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan putih bersih. Cahaya putih keemasan yang sangat terang mulai berkumpul di ujung jemarinya. "Jangan takut. Aku akan memurnikan kutukan hitam yang menyiksamu ini. Ini mungkin akan terasa sedikit perih, tapi bertahanlah."

Melihat cahaya suci yang siap ditembakkan ke arahnya, insting bertahan hidup Anya langsung berteriak *SIAGA SATU!*

Sekarang atau tidak sama sekali!

Anya mendadak menegakkan tubuhnya dengan paksa. Dia mencengkeram dadanya dengan kedua tangan seolah-olah sedang mengalami kesakitan yang luar biasa luar biasa. Matanya membelalak lebar, lalu...

"Uhukk! *Cof... Uhuk!* Hoooek!"

Dengan akting kelas kakap yang layak mendapatkan piala Oscar, Anya menyemburkan sirup stroberi kental dari mulutnya. Cairan merah pekat itu menyembur dengan dramatis, mengotori selimut putih dan sebagian sprei tempat tidurnya. Beberapa tetes bahkan sengaja dia biarkan mengalir estetis dari sudut bibirnya yang bergetar.

"Anya!!!" Helena yang mengintip dari balik pintu langsung menjerit histeris, hampir pingsan di tempat melihat putrinya "muntah darah" sebanyak itu.

Jeremy langsung menarik kembali tangannya. Cahaya pemurnian di jemarinya padam seketika. Mata birunya yang biasanya sedingin es kini membelalak kaget. Dia refleks mundur satu langkah, terkejut dengan reaksi tubuh Anya yang begitu ekstrem bahkan sebelum sihir pemurniannya menyentuh kulit gadis itu.

"Uhuk... Uhuk..." Anya terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat (yang tentu saja disengaja). Dia menatap Jeremy dengan mata yang berkaca-kaca, memberikan tatapan paling rapuh dan menyedihkan yang pernah ada.

"Yang... Yang Mulia..." suara Anya terdengar sangat lemah, serak-serak basah seperti sisa tenaga terakhir. "Tolong... jangan sekarang... Uhuk!" Anya menyeka "darah" di bibirnya dengan punggung tangan, membuat noda merah itu semakin berantakan di wajah pucatnya.

"Apa yang terjadi? Sihirku bahkan belum menyentuhmu," tanya Jeremy, alisnya berkerut tajam. Nada suaranya masih dingin, namun ada sedikit nada kebingungan di dalamnya.

"Kutukan ini... uhuk... sudah menyatu dengan aliran darah dan jantung saya..." ucap Anya dengan nada dramatis, mendramatisir situasi seolah-olah dia adalah ahli sihir medis profesional. "Energi suci Anda... terlalu kuat... Tubuh saya yang lemah ini tidak sanggup menerimanya sekarang. Jika Anda memaksakan pemurnian sekarang... jantung saya... pasti akan langsung hancur..."

Anya menjatuhkan kepalanya kembali ke bantal dengan lemas, memejamkan mata sambil memegangi dadanya yang naik turun secara berlebihan.

"Saya... saya hanya butuh waktu untuk menstabilkan kondisi tubuh saya dulu... Tolong, Yang Mulia... jika Anda memurnikan saya sekarang, Anda sama saja dengan membunuh saya..." rintih Anya dengan tetesan air mata buatan yang keluar karena dia terlalu banyak menahan napas.

Jeremy terdiam di tempatnya berdiri. Dia menatap cairan merah pekat di atas sprei. Sebagai High Priest yang menguasai sihir suci tingkat tinggi, dia memang jarang berurusan dengan penyakit fisik biasa, sehingga dia tidak begitu paham tentang perbedaan bau darah asli dengan sirup stroberi yang super manis itu. Baginya, reaksi penolakan tubuh terhadap energi suci memang bisa terjadi jika sihir hitam sudah merusak organ dalam korbannya.

"Begitukah?" gumam Jeremy, matanya menatap Anya dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam.

Anya menahan napas di dalam hati. *Plis, plis, percaya dong! Masa cowok secakep ini gampang dikibulin sih? Tapi plis percaya!* batinnya berkomat-kamit panik.

"Baiklah," ucap Jeremy akhirnya setelah keheningan yang menegangkan selama beberapa detik. Dia menurunkan tangannya sepenuhnya. "Jika tubuhmu menolak energi suci sekeras ini, memaksakan pemurnian memang akan berakibat fatal."

Anya bersorak gembira dalam hati. *YES! Berhasil! Akting gue emang nggak ada tandingannya!*

"Namun," Jeremy melanjutkan kalimatnya, membuat jantung Anya kembali copot. "Aku tidak bisa membiarkan korban sihir hitam berkeliaran tanpa pengawasan. Aku akan kembali ke sini setiap tiga hari sekali untuk memeriksa kondisimu. Begitu tubuhmu dinilai c**up kuat, aku akan langsung melakukan pemurnian."

Mendengar hal itu, Anya rasanya ingin pingsan beneran. *Apa?! Tiga hari sekali?! Yang bener aja! Berarti gue harus terus-terusan akting batuk darah fiktif begini?!*

"Terima kasih... atas kebaikan Anda, Yang Mulia..." jawab Anya dengan senyum super lemah dipaksakan, padahal di dalam hati dia sedang menangis meratapi nasibnya yang harus terus menyediakan stok sirup stroberi di bawah ka**rnya.

Jeremy memberikan satu tatapan dingin terakhir sebelum berbalik arah, jubah putihnya berkibar elegan saat dia melangkah keluar dari kamar sempit itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Begitu pintu kamar tertutup rapat dan suara langkah kaki Jeremy menjauh, Anya langsung bangkit berdiri tegak dari tempat tidurnya. Dia mengusap sirup stroberi di bibirnya dengan kasar, lalu menjilat jarinya sendiri.

"Hmm, tapi untunglah sirup buatan Ibu emang enak banget," gumam Anya sambil tersenyum lebar menatap cermin. "Visual dewi gue... aman untuk tiga hari ke depan!"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca