Sejak mukanya berubah jadi mirip visual grup K-pop papan atas, hidup Anya bener-bener nggak tenang. Bukannya tenang menikmati *glow up* gratisan ini, dia malah dibuat senam jantung setiap hari. Penyebabnya cuma satu: Jeremy.
High Priest ganteng tapi kaku kayak kanebo kering itu bener-bener niat banget pengen "menyembuhkan" Anya. Bagi Jeremy, kecantikan ekstrem Anya adalah bukti nyata kalau energi kegelapan sedang menggerogoti tubuh gadis itu.
"Gue gak mau sembuh, ya ampun! Tolong dengerin suara hati gue yang terdalam ini!" gumam Anya frustrasi, sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Dia baru saja selesai mengagumi kulitnya yang saking mulusnya sampai-sampai nyamuk pun bakal terpeleset kalau mencoba hinggap. "Kalau kutukan ini ilang, gue bakal balik jadi kentang purba lagi! Gak mau!"
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang berat dan berwibawa dari arah depan rumahnya.
*Tok! Tok! Tok!*
"Anya. Ini aku, Jeremy. Buka pintunya."
Anya langsung membeku. Jantungnya serasa copot ke usus dua belas jari. "Mampus, si kulkas dua pintu dateng lagi!" bisiknya panik.
Anya buru-buru mengintip dari celah tirai jendela kamar. Di luar rumah sederhananya, berdirilah Jeremy dengan jubah putih kebesarannya yang berkilau di bawah sinar matahari. Di tangannya, pria itu membawa sebuah wadah perak berisi cairan bening yang memancarkan aura keemasan.
*Air Suci tingkat tinggi!*
"Anya, aku tahu kamu di dalam," suara Jeremy terdengar dingin tapi tegas. "Aku membawa Air Suci dari mata air murni katedral. Satu siraman saja akan langsung meluruhkan sisa-sisa sihir hitam yang mengikat tubuhmu."
*Disiram?!* Anya melotot horor. *Enak aja! Ini skincare alami dari penyihir hitam susah payah gue dapet! Kalau disiram air suci terus muka gue balik kusam dan komedoan lagi gimana?!*
Tanpa pikir panjang, insting bertahan hidup Anya langsung aktif. Dia melihat ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar. Kamarnya memang berada di lant** dua, tapi di bawah jendela ada tumpukan jerami tebal milik tetangganya yang memelihara kuda.
"Oke, Anya. *Work smart*, jangan *work hard*," bisik Anya pada dirinya sendiri.
Dia mengangkat gaun rumahan yang dipakainya, memanjat bingkai jendela, lalu tanpa ragu langsung melompat bebas.
*Sreeettt... BUK!*
Anya mendarat dengan selamat di atas tumpukan jerami. Berkat kutukan kecantikan ini, entah bagaimana fisiknya juga jadi lebih lentur dan ringan. Dia bahkan jatuh dengan posisi yang sangat anggun, menyisakan beberapa helai jerami di rambut sutranya yang malah membuatnya kelihatan kayak model yang lagi pemotretan bertema pedesaan.
"Aman!" bisik Anya girang, lalu buru-buru bangkit dan lari menyelinap lewat gang sempit sebelum Jeremy menyadari kamarnya sudah kosong.
***
Keesokan harinya, Jeremy ternyata tidak menyerah. High Priest itu kembali lagi, kali ini bukan membawa air suci, melainkan sebuah ramuan pemurni yang sangat berharga. Anya yang baru saja kembali dari pasar terpaksa harus bersembunyi di balik lemari dapur ketika mendengar Jeremy ma**k ke dalam rumahnya setelah diizinkan oleh bibi tetangga yang memegang kunci cadangan.
Dari celah lemari, Anya melihat Jeremy meletakkan sebuah botol kaca kecil di atas meja dapur. Di dalam botol itu ada cairan berwarna biru safir yang berpendar cantik.
"Ini adalah Ramuan Air Mata Solaria," gumam Jeremy pelan, berbicara pada dirinya sendiri dengan raut wajah super serius. "Bahan-bahannya sangat langka dan berharga ribuan koin emas. Tapi demi menyelamatkan satu jiwa dari kegelapan, ini sangat layak."
Anya yang mendengar itu hampir saja berteriak. *Ribuan koin emas?! Daripada dibikin ramuan buat ng***ngin muka cantik gue, mending duitnya buat gue belanja seumur hidup!*
Jeremy kemudian berbalik untuk mengambil air hangat di sumur belakang rumah, berniat mencampurkan ramuan tersebut agar bisa langsung diminum oleh Anya begitu gadis itu pulang.
Melihat kesempatan emas itu, Anya langsung keluar dari tempat persembunyiannya dengan gerakan secepat kilat. Dia mengendap-endap ke meja dapur. Matanya tertuju pada botol ramuan mahal itu, lalu beralih ke rak bumbu dapur milik ibunya yang berdebu.
Di sana, ada sebotol c**a makan yang baunya sangat menyengat dan sebotol kecap ikan yang sudah kedaluwarsa.
"Sori ya, High Priest ganteng. Tapi ramuan lo harus gue modifikasi dikit," seringai Anya nakal.
Dengan tangan gemetar namun mantap, Anya membuka tutup botol ramuan suci itu. Dia meneteskan lima tetes c**a makan yang asamnya minta ampun, ditambah beberapa tetes kecap ikan biar aromanya makin semerbak. Setelah itu, dia mengocok botolnya sampai cairan biru safir yang tadinya estetik berubah warna jadi ungu kecokelatan yang agak keruh.
Tepat saat Jeremy melangkah kembali ke dalam dapur, Anya langsung melompat kembali ke balik lemari dengan gerakan super mulus.
Jeremy mendekati meja, lalu mengernyitkan dahi indahnya ketika melihat perubahan pada ramuannya. Dia mengangkat botol itu dan mendekatkannya ke hidung. Begitu mencium aromanya, sang High Priest yang biasanya tanpa ekspresi itu langsung menutup hidungnya dengan punggung tangan, wajahnya tampak sedikit syok.
"Aroma ini... sangat asam dan amis?" gumam Jeremy dengan mata menyipit tajam. "Apakah energi kegelapan yang ada di rumah ini sudah begitu kuat? Hingga sanggup meracuni dan merusak kemurnian Air Mata Solaria hanya dalam hitungan menit?"
Anya yang mengintip dari balik lemari hampir saja menyemburkan tawa. *Ngakak banget! Energi kegelapan dibilang! Itu namanya c**a apel campur kecap ikan, woi!*
Jeremy menghela napas berat, menatap ramuan yang kini rusak itu dengan tatapan penuh simpati. "Kutukan yang menyerang Anya ternyata jauh lebih mengerikan dari yang kuduga. Energi hitam di tubuhnya menolak untuk disembuhkan secara pasif. Aku harus mencari cara yang lebih langsung."
Anya langsung menepok jidatnya di balik lemari. *Lah, malah makin salah paham!*
***
Hari ketiga adalah puncaknya. Jeremy tampaknya sudah kehabisan kesabaran menghadapi "keengganan" Anya untuk diobati. Dia berhasil menyergap Anya yang baru saja kembali dari sumur umum.
"Anya, berhenti," panggil Jeremy. Suaranya yang berat dan dingin langsung mengunci pergerakan Anya di depan pintu rumah.
Anya perlahan berbalik, memasang senyum paling manis nan polos yang dia punya. "Eh, High Priest Jeremy... Ada apa ya? Pagi-pagi udah mampir ke rumah rakyat jelata?"
Jeremy berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa sangat mengintimidasi, namun juga sangat memanjakan mata karena jubahnya yang berkibar indah ditiup angin pagi. Dia mengeluarkan sebuah cangkir perak kecil yang berisi air suci murni yang baru saja dia berkati secara personal.
"Tidak ada jalan keluar lagi hari ini. Kamu harus meminum ini sekarang juga," ujar Jeremy datar, namun matanya memancarkan tekad yang tidak bisa diganggu gugat. "Aku tidak akan membiarkan kegelapan merusak tubuhmu lebih lama lagi."
Anya melangkah mundur setapak demi setapak hingga punggungnya menempel pada pintu kayu rumahnya. Dia panik setengah mati. Kalau dia minum air suci itu, tamat sudah riwayat keglowingan hakikinya!
*Gimana nih?! Kabur lewat jendela gak bisa, ngerusak ramuannya juga gak sempat!* otak Anya berputar dengan kecepatan cahaya, mencari taktik darurat.
*Aha! Jurus andalan cewek-cewek di drakor dan novel romantis: Pingsan!*
Tapi pingsannya harus estetik, biar Jeremy gak curiga dan tetap terlihat cantik di depan kamera (kalau saja ada kamera yang merekamnya).
Anya langsung menarik napas dalam-dalam. Dia memasang ekspresi wajah yang sangat rapuh, matanya dibuat sayu menatap Jeremy seolah-olah dia sedang menahan beban hidup yang luar biasa berat.
"High Priest... tubuhku... rasanya sangat lemah..." bisik Anya dengan suara yang sengaja dibuat serak-serak basah dan bergetar dramatis.
Dia menempelkan satu tangannya yang lentik ke dahi, sementara tangan satunya lagi memegang dadanya secara dramatis. Dengan presisi 45 derajat, Anya membiarkan tubuhnya limbung ke arah samping, memastikan kepalanya akan mendarat dengan lembut di atas tumpukan kain bersih yang kebetulan ada di dekat pintu. Rambut cokelat indahnya tergerai dengan sempurna di lant**, membingkai wajahnya yang kelihatan sangat damai dan cantik luar biasa, mirip putri tidur yang sedang menanti pangeran.
*Hup! Pas banget jatuhnya,* batin Anya girang di dalam hati sambil memejamkan mata rapat-rapat.
Melihat Anya yang tiba-tiba ambruk, Jeremy langsung terkejut. Reputasi anti-wanita yang biasanya dia agung-agungkan langsung menguap entah ke mana. Refleks, Jeremy berlutut di samping Anya. Tangannya yang terbungkus sarung tangan putih bersih menyentuh dahi Anya dengan lembut.
"Anya? Anya, buka matamu!" panggil Jeremy, suaranya yang biasanya sedingin es kini terdengar ada nada panik yang terselip di dalamnya.
Anya tetap bergeming, menahan napasnya seatur mungkin agar terlihat benar-benar tidak sadarkan diri. Dia bahkan sengaja membiarkan bibir merah mudanya sedikit terbuka untuk menambah efek rapuh yang estetik.
Jeremy menatap wajah gadis di pangkuannya itu. Di bawah sinar matahari pagi yang menerobos ma**k, wajah Anya terlihat begitu bercahaya. Kulit porselennya bersih tanpa celah, dan bulu matanya yang lentik tampak sedikit bergetar.
Jeremy tertegun. Pria yang selama hidupnya hanya mendedikasikan diri pada dewa dan kuil itu, mendadak merasakan detak jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Namun, akal sehat Jeremy yang super peka dan sangat logis (menurut standarnya sendiri) langsung merumuskan sebuah kesimpulan baru yang luar biasa salah paham.
Dia menatap cangkir air suci di tangannya, lalu menatap Anya yang "pingsan".
*Mengapa dia selalu menghindariku?* pikir Jeremy dalam hati.
*Dia melompat dari jendela tinggi demi menghindari air suci. Dia merusak Ramuan Air Mata Solaria yang sangat mahal kemarin. Dan sekarang, dia memilih pingsan menahan rasa sakit akibat kutukan ini daripada harus meminum obat dariku...*
Sebuah pemikiran yang sangat mengharukan mendadak melintas di kepala Jeremy. Matanya yang biru sedingin es perlahan melunak, memancarkan rasa kagum dan haru yang mendalam.
*Ah... begitu rupanya,* batin Jeremy, merasa seolah baru saja memecahkan misteri terbesar di dunia.
*Gadis ini... dia sengaja menghindari pengobatan karena dia tahu seberapa berharganya sumber daya kuil. Dia tahu ramuan yang kubawa seharga ribuan koin emas, dan dia merasa dirinya yang hanya seorang rakyat biasa tidak pantas menerima kemurahan hati yang begitu besar. Dia melompat dari jendela agar aku tidak membuang-buang energi suci untuknya. Dia merusak ramuan kemarin agar kuil tidak kekurangan bahan obat untuk orang lain.*
Jeremy menatap wajah damai Anya dengan rasa hormat yang luar biasa tinggi.
*Bahkan dalam keadaan digerogoti oleh kutukan kegelapan yang menyakitkan ini, dia masih memikirkan kepentingan kuil dan orang lain. Dia memilih menderita sendirian dalam diam demi tidak merepotkan Katedral Agung. Sungguh gadis yang luar biasa tegar... Hatinya begitu murni, jauh lebih murni dari para bangsawan yang selalu memohon bantuan kuil demi kepentingan pribadi mereka.*
Anya yang sedang pura-pura pingsan, tentu saja bisa mendengar gumaman lirih Jeremy yang berada sangat dekat di atasnya.
"Anya... maafkan kesalahpahamanku selama ini," bisik Jeremy dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti embusan angin malam. "Aku tidak tahu kalau kamu memikul beban ini sendirian demi menjaga kesucian kuil. Kamu adalah gadis paling baik hati dan tanpa pamrih yang pernah kutemui."
Di balik mata yang terpejam rapat, kelopak mata Anya berkedut hebat.
*Hah?!* batin Anya menjerit histeris. *Bentar, bentar! Ini kulkas dua pintu ngomong apaan sih?! Siapa yang mikirin kuil?! Gue cuma gak mau muka glowing gue ilang, woi! Kenapa kesimpulannya malah jadi gue gadis suci tanpa pamrih?! Ini orang imajinasinya melompati galaksi atau gimana?!*
Anya ingin sekali melek dan berteriak menjelaskan yang sebenarnya, tapi kalau dia bangun sekarang, akting pingsan estetiknya bakal ketahuan. Dia terpaksa tetap menutup mata, sementara batinnya meronta-ronta frustrasi.
Jeremy perlahan bangkit berdiri. Dia menatap Anya dengan tatapan penuh tekad baru yang jauh lebih membara dari sebelumnya.
"Aku berjanji padamu, Anya," ucap Jeremy dengan nada khidmat, seolah sedang mengucapkan sumpah suci di depan altar dewa. "Aku tidak akan membiarkan pengorbananmu sia-sia. Karena hatimu yang begitu mulia, aku, High Priest Jeremy, bersumpah akan mengerahkan seluruh kekuatan terbaik Katedral Agung Solaria untuk menyembuhkanmu. Tidak peduli seberapa kuat kutukan kegelapan itu, aku pasti akan menyelamatkanmu."
*TIDAKKKKK!* Anya berteriak sekencang-kencangnya di dalam hati. *JANGAN SEMBUHIN GUE, JURAGAAAN! BIARKAN GUE TETEP DIKUTUK JADI CANTIK KAKAKKKK!*
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kesalahpahaman Jeremy kini telah mencapai level kosmis. Bukannya mundur, sang High Priest justru semakin termotivasi untuk melakukan "misi penyelamatan" paling agresif dalam sejarah kekaisaran untuk menyelamatkan gadis yang dia kira sebagai "Sang Gadis Suci yang Tegar".
Dan hari-hari penuh aksi kejar-kejaran yang lebih ekstrem baru saja dimulai bagi Anya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!