Kena Kutukan Jadi Cantik: Tolong Jangan Sembuhkan Aku!

Bab 4: Aliansi Rahasia dengan Penyihir Pemalu

Pengaturan Membaca

Gue bener-bener gak habis fikri sama jalan pikiran Jeremy.

Bisa-bisanya itu cowok nongkrongin rumah gue hampir seharian cuma demi menuangkan ramuan pemurni yang baunya mirip c**a apel dicampur kaus kaki basah. Untung aja insting bertahan hidup gue setara sama kecoak di kamar mandiβ€”sangat tangguh dan gak gampang mati. Begitu denger langkah kaki Jeremy menjauh dari dapur, gue langsung keluar dari tempat persembunyian di balik lemari dengan napas ngos-ngosan dan baju penuh debu.

"Uhuk! Uhuk! G***, ini gak bisa dibiarin," umpat gue sambil menepuk-nepuk rok yang kotor. "Kalau tiap hari gue harus main petak umpet sama High Priest fanatik itu, yang ada gue mati muda karena TBC gara-gara kebanyakan ngisep debu lemari!"

Gue langsung jalan ke arah cermin kecil yang tergantung di dekat wastafel dapur. Begitu melihat pantulan wajah gue, rasa capek dan emosi gue langsung menguap begitu saja. Digantikan oleh rasa kagum yang luar biasa.

G***, muka gue mulus banget! Pori-pori gue kayaknya udah resign massal, gak ada satu pun yang tersisa. Tulang pipi gue kelihatan tegas, mata gue berbinar indah kayak ada efek filter gliter, dan bibir gue merah merona alami seolah-olah baru selesai pakai *lip tint* mahal. Ini adalah aset berharga! Ini adalah mukjizat estetik yang gak boleh dirusak oleh air suci atau ramuan pemurni dari kuil!

"Gue harus cari cara," gumam gue, menyipitkan mata penuh tekad. "Satu-satunya orang yang bisa bantuin gue mempertahankan kutukan cantik ini cuma si penyihir hitam yang ngutuk gue tempo hari."

Ingatan gue langsung berputar ke kejadian malam itu. Di pinggiran Hutan Terlarang, saat gue gak sengaja ketemu sosok misterius berjubah hitam yang merapalkan mantra sebelum akhirnya kabur karena panik. Berbekal ingatan yang agak samar-samar dan sisa-sisa bubuk sihir yang sempat tertinggal di area itu, gue memutuskan untuk nekat. Pers**** dengan bahaya Hutan Terlarang. Kehilangan muka cantik ini jauh lebih menyeramkan daripada ketemu monster hutan!

***

Perjalanan ke pinggiran Hutan Terlarang ternyata gak se-ekstrem yang gue bayangkan. Berkat tubuh baru gue yang rasanya super enteng dan lincah ini, gue bisa melewati semak-semak berduri dengan sant** tanpa keringatan sama sekali.

Gue terus berjalan mengikuti insting, sampai akhirnya gue mencium bau manis yang anehβ€”seperti perpaduan antara aroma bunga lavender dan... gosong kue nastar?

Di balik pepohonan besar yang rimbun, berdirilah sebuah pondokan kayu kecil yang mungil. Jauh dari kesan estetik ala rumah penyihir di film-film fantasi yang estetik, rumah ini malah kelihatan agak reyot. Di bagian cerobong asapnya, keluar asap berwarna keunguan yang mengepul tipis.

"Nah, ini dia tempatnya," bisik gue girang.

Gue merapikan jubah penutup kepala gue, memastikan wajah K-pop visual gue tersembunyi dengan baik, lalu melangkah mantap mendekati pintu kayu pondok tersebut. Tanpa ragu, gue langsung menggedor pintunya dengan bar-bar.

*B**K! B**K! B**K!*

"Woy! Penyihir Hitam! Keluar lo! Tanggung jawab sama perbuatan lo kemarin!" teriak gue tanpa basa-basi.

Hening sesaat. Tidak ada jawaban dari dalam.

Gue baru aja mau menendang pintu itu ketika tiba-tiba terdengar suara benda pecah dari dalam, disusul oleh suara kepanikan yang kedengaran... imut?

"A-aduh! N-nasi kuahnya tumpah! Eh, bu-bukan! Siapa di luar?! J-jangan bunuh aku!"

Gue mengernyitkan dahi. Suaranya cowok, tapi cempreng karena panik dan kedengaran muda banget. Gak pakai permisi lagi, gue langsung mendorong pintu kayu yang ternyata gak dikunci itu sampai terbuka lebar.

"Gue bilang keluarβ€”" Kalimat gue langsung terhenti di tenggorokan.

Di sudut ruangan yang dipenuhi dengan botol-botol kaca warna-warni dan tumpukan buku tebal, ada seorang pemuda yang sedang jongkok sambil memeluk lututnya erat-erat. Dia memakai jubah hitam kebesaran yang lengannya sampai menutupi telapak tangannya. Rambutnya yang berwarna biru keperakan kelihatan berantakan, dan wajahnya... astaga, dia imut banget dengan pipi yang agak kemerahan karena panik.

Pemuda itu gemetaran hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ketika melihat gue ma**k, dia langsung menarik tudung jubahnya sampai menutup setengah wajahnya, menyisakan sepasang mata besar berwarna abu-abu yang menatap gue dengan horor.

"J-jangan laporkan aku ke ksatria suci! A-aku gak melakukan kejahatan apa-apa! Sumpah! Aku cuma penyihir magang yang lagi numpang hidup!" cerocos cowok itu dengan suara bergetar, air matanya bahkan hampir berlinang di sudut matanya.

Gue melongo. "Bentar, bentar. Lo... penyihir hitam yang ngutuk gue di perbatasan hutan tempo hari?"

Cowok itu makin mengerutkan tubuhnya sampai kelihatan sekecil bola. "M-maaf! Aku gak sengaja! Plis, jangan bakar aku di tiang gantungan!"

"Gue gak bakal bakar lo, astaga! Berdiri gak lo!" perintah gue, gemas sendiri melihat tingkahnya yang super duper ansos dan pemalu ini. Di mana kesan penyihir hitam yang kejam, dingin, dan haus darah yang sering dicerit**n di dongeng-dongeng? Ini mah spek bayek yang butuh dilindungi!

Dengan ragu-ragu dan gerakan yang sangat lambat, cowok itu akhirnya berdiri. Tingginya ternyata lumayan, tapi karena dia bungkuk dan terus-menerus menunduk, dia kelihatan lebih pendek dari aslinya.

"N-nama aku Adrian..." bisiknya pelan banget, hampir gak kedengaran kalau gue gak masang telinga tajam-tajam. "K-kamu... datang ke sini mau balas dendam, ya? Karena kutukan itu?"

Gue langsung membuka tudung jubah gue, memperlihatkan wajah visual dewa gue dengan jelas di bawah temaram cahaya pondoknya. Begitu melihat wajah gue, Adrian langsung membelalakkan matanya. Detik berikutnya, wajahnya langsung berubah merah padam sampai ke telinga. Dia buru-buru menutup mukanya dengan kedua tangan jubahnya yang panjang.

"I-itu... m-muka kamu..." Adrian tergagap-gagap, badannya makin gemetaran. "K-cantikan kamu... m-maksudku, kutukannya bekerja terlalu kuat ya? Maaf! Maaf banget!"

"Gak usah minta maaf, justru ini yang mau gue tanyain," kata gue sambil melangkah mendekat, membuat Adrian refleks mundur selangkah sampai menab**k meja ramuannya. "Gimana caranya lo bisa bikin kutukan se-sempurna ini? Ini sih bukan kutukan, ini mah berkah!"

Adrian mengintip dari celah jari-jarinya yang gemetar. "H-hah? K-kamu gak marah?"

"Marah? Gue malah mau sungkem sama lo kalau bisa!" seru gue jujur. "Tapi masalahnya, gara-gara kutukan 'cantik' ini, gue dikejar-kejar sama High Priest Jeremy dari kuil pusat. Dia mau meluruhkan kutukan ini pakai air suci dan ramuan pemurni. Katanya ini energi kegelapan yang berbahaya."

Mendengar nama Jeremy dan 'air suci', ekspresi Adrian langsung berubah panik lagi. "J-jangan! Jangan biarkan mereka menyirammu dengan air suci!"

"Kenapa emangnya? Bakal melepuh ya muka gue?" tanya gue ngeri.

Adrian mengangguk cepat-cepat, rambut birunya bergoyang lucu. "K-kutukan yang ada di tubuhmu itu... sebenarnya adalah mantra kuno kelas tinggi. Namanya *'Absolute Glamour'*. Aku... aku salah baca halaman buku mantra kemarin karena panik denger suara patroli ksatria suci. Harusnya aku merapalkan mantra *'Decay'* buat mengusir tikus tanah, tapi halamannya kelipet..."

Gue menepuk jidat gue sendiri. *Bengek banget asli.* Jadi gue dapet muka secantik ini murni karena si penyihir ansos ini teledor salah baca halaman buku? Semesta emang kadang random-nya gak ketulungan.

"Terus hubungannya sama air suci apa?" tanya gue lagi.

"Mantra kuno itu sudah menyatu dengan aliran darah dan sihir di tubuhmu. Kalau dipaksa luruh dengan sihir suci tingkat tinggi secara mendadak, efek sampingnya bisa... b-bisa merusak struktur wajahmu secara permanen. K-kulitmu bisa melepuh dan... dan kamu bisa kelihatan kayak monster..." Adrian menjelaskan dengan suara yang makin mengecil di akhir kalimat, takut gue bakal ngamuk.

Mendengar penjelasan Adrian, bulu kuduk gue langsung merinding. G***! Jeremy bener-bener mau merusak aset berharga gue! Untung aja gue kabur kemarin. Kalau sempat disiram, kelar sudah riwayat gue sebagai cewek tercantik di wilayah ini.

Gue menatap Adrian lekat-lekat. Cowok pemalu ini kelihatan sangat bersalah, jarinya terus-menerus memainkan ujung jubah hitamnya sambil menunduk dalam-dalam. Otak cerdas gue langsung berputar cepat. Gue gak bisa menghadapi Jeremy sendirian. Di sisi lain, Adrian adalah penyihir buronan kuil yang pastinya hidup dalam ketakutan setiap hari.

Ini adalah kesempatan emas.

"Adrian," panggil gue dengan nada suara yang dibuat se-ramah mungkin, mirip mbak-mbak sales a**ransi yang mau nawarin polis.

"Y-ya?" Adrian mendongak sedikit, matanya yang bulat menatap gue dengan polos.

"Lo mau hidup tenang tanpa perlu takut ditangkep sama ksatria suci gak?" tanya gue sambil tersenyum manis. Efek senyum gue kali ini bener-bener mematikan sampai-sampai Adrian langsung salah tingkah dan mukanya makin merah merona.

"A-aku... aku cuma mau eksperimen dengan tenang di sini... tapi s-setiap hari selalu ketakutan..." jawabnya jujur, suaranya terdengar sangat menyedihkan.

"Gini aja," gue menepuk pundak Adrian pelan, membuat cowok itu sedikit tersentak kaget karena gak terbiasa disentuh orang lain. "Gue punya penawaran menarik buat lo. Aliansi rahasia. Gimana?"

Adrian mengerjapkan matanya bingung. "A-aliansi?"

"Yup. Lo harus bantuin gue mempertahankan kutukan cantik ini. Caranya, lo bikin ramuan atau alat sihir apa pun yang bisa menutupi aura sihir hitam di tubuh gue, biar radar sucinya si Jeremy gak bisa mendeteksi keberadaan gue lagi. Intinya, bikin muka gue tetep cantik begini, tapi di mata alat deteksi kuil, gue kelihatan kayak manusia biasa yang bebas sihir."

Adrian tampak berpikir, dia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari yang tertutup lengan jubah. "I-itu... sebenarnya bisa. Aku bisa membuat ramuan khusus yang dicampur ke dalam kosmetikmu, atau membuatkanmu aksesori dengan batu mana pelindung... Tapi..."

"Tapi apa? Masalah bahan?" tebak gue cepat.

Adrian mengangguk lemah. "U-uangku habis... dan aku gak berani pergi ke kota untuk beli bahan-bahannya. Aku... aku takut bicara dengan orang asing di pasar. Mereka... mereka menyeramkan..."

Gue langsung menahan tawa. Ya ampun, ini anak bener-bener introvert akut level maksimal. Beli bahan ke pasar aja takut!

"Gak usah khawatir! Itu bagian gue," kata gue dengan bangga sambil menepuk dada. "Gue yang bakal beliin semua bahan ramuan yang lo butuhin. Gue yang bakal jadi perantara lo ke dunia luar. Dan yang paling penting... gue bakal pasang badan buat lo. Gue tahu pergerakan kuil dan Jeremy. Kalau ada patroli ksatria suci yang mengarah ke hutan ini, gue bakal kasih tahu lo duluan biar lo bisa sembunyi."

Gue mengulurkan tangan kanan gue ke arah Adrian, memamerkan senyum paling meyakinkan yang gue punya.

"Gimana? Deal? Lo dapet keamanan dan bahan gratis, gue dapet proteksi buat muka cantik gue ini dari Jeremy. Kita berdua sama-sama untung."

Adrian menatap tangan gue yang terulur, lalu menatap wajah gue bergantian. Dia kelihatan sangat ragu-ragu, menelan ludahnya berkali-kali karena gugup. Setelah perang batin yang c**up lama, perlahan-lahan dia mengeluarkan tangan kanannya dari balik lengan jubah hitamnya yang panjang.

Tangannya putih bersih, jarinya lentik, tapi dingin banget waktu menyentuh telapak tangan gue. Dia menjabat tangan gue dengan sangat lemah dan singkat, seolah-olah takut tangannya bakal meleleh kalau bersentuhan terlalu lama dengan gue.

"D-deal..." bisik Adrian, pandangannya langsung dialihkan ke lant** karena gak kuat menatap mata gue langsung. "T-tolong... jangan biarkan mereka menangkapku, ya?"

Gue tersenyum puas, menggenggam tangannya dengan mantap sebelum akhirnya melepaskannya.

"Tenang aja, Adrian. Selama lo ada di pihak gue, si kulkas dua pintu Jeremy gak bakal bisa menyentuh kita berdua."

Gue melirik ke arah luar jendela pondok yang mulai gelap. Hari ini gue gak cuma berhasil melarikan diri dari kejaran kuil, tapi gue juga dapet satu sekutu berharga yang super imut. Pertarungan mempertahankan visual spek dewa ini baru saja dimulai, dan kali ini, gue udah punya rencana cadangan yang matang.

*Jeremy, rasain lo setelah ini!*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca