Kena Kutukan Jadi Cantik: Tolong Jangan Sembuhkan Aku!

Bab 5: Dia Malah Tambah Glowing?!

Pengaturan Membaca

"Ini bener-bener di luar nalar sihir medis mana pun," gumam Jeremy.

Cowok itu berdiri di ambang pintu kamar, bersandar pada kusen kayu sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam dan berwarna biru sedingin es itu menatapku tanpa berkedip. Ada kerutan dalam di dahinya, pertanda kalau otak jenius sang High Priest paling disegani di negeri ini sedang mengalami *error* sistem.

Aku yang sedang duduk di tepi ranjang langsung memasang tampang paling menderita yang bisa kurekayasa. Aku buru-buru menarik selimut tebal sampai sebatas dada, lalu melepaskan batuk kecil yang sengaja dibuat-buat agar terdengar mengenaskan.

"Uhuk! Uhuk! Aduh... Priest Jeremy, dada saya rasanya sesak sekali hari ini. Kayaknya... kayaknya kutukan hitam ini mulai menyerang organ dalam saya," rintihku dengan suara yang sengaja dibikin serak-serak basah, lengkap dengan nada lemah gemulai ala aktris drakor yang divonis sisa umur tinggal tiga bulan.

Dalam hati, gue sebenarnya lagi nahan tawa setengah mati.

G***, akting gue udah dapet nilai A plus belum, ya? Harusnya sih dapet. Tapi masalahnya, Jeremy gak kelihatan kasihan sama sekali. Dia malah berjalan mendekat, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit untuk mengamati wajahku dari jarak yang sangat dekat. Dekat banget, sampai-sampai gue bisa mencium aroma maskulin khas cowok itu yang mirip wangi *white sage* bercampur mint segar. Wangi cowok mahal, deh pokoknya.

"Anya," panggil Jeremy, suaranya berat dan terdengar sangat skeptis. "Menurut seluruh manuskrip kuno yang ada di perpustakaan kuil, korban kutukan hitam tingkat tinggi seharusnya mengalami penurunan vitalitas yang drastis. Kulit mereka akan memucat seperti mayat, mata cekung, bibir pecah-pecah, dan tubuh mereka perlahan layu."

Jeremy mengulurkan satu jarinya, lalu dengan lembut menyentuh pipiku. Sentuhan jarinya yang dingin langsung membuat kulitku merinding geli.

"Tapi kamu..." Jeremy menyipitkan matanya, menatap area pipiku yang merona merah alami tanpa perlu bantuan *blush-on*. "Kenapa kulit kamu malah makin hari makin kenyal? Pori-pori kamu bahkan tidak kelihatan. Dan ini..." Dia mengusap pelan tulang pipiku yang sekarang kelihatan tegas dan berkilau alami. "Kenapa kamu malah kelihatan makin *glowing* setiap harinya? Kamu seperti habis melakukan ritual kecantikan tingkat tinggi, bukan sedang sekarat karena sihir hitam."

*Mampus!* pekik gue dalam hati. Insting detektif ini cowok emang gak main-main.

Gue langsung memutar otak secepat kilat. Gak boleh panik. Kehilangan kutukan cantik ini adalah mimpi buruk terbesar dalam hidup gue yang baru dimulai ini. Gue gak mau balik jadi cewek dengan muka kusam dan kantung mata segede kantong kresek lagi!

"Itu... itu karena kekuatan cinta hidup saya yang besar, Priest!" jawab gue asal ceplos dengan mata berkaca-kaca yang dibuat-buat. Gue buru-buru meraih tangan Jeremy yang masih ada di pipi gue, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan gue dengan eratβ€”akting gadis rapuh yang butuh pegangan hidup.

"Saya menolak kalah dari kegelapan! Setiap kali sihir hitam itu mencoba merusak tubuh saya, jiwa saya memberontak. Rasa ingin hidup saya memancar keluar dalam bentuk... em, aura positif! Iya, aura positif yang membuat wajah saya kelihatan segar. Padahal di dalam... aduh, di dalam dada saya rasanya seperti diaduk-aduk oleh ribuan jarum, Priest!" ucap gue dramatis, bahkan sempat-sempatnya menyeka sudut mata yang sebenarnya gak ada air matanya sama sekali.

Jeremy terdiam. Dia menatap tangannya yang sedang gue genggam erat. Detik berikutnya, dia menarik tangannya perlahan dengan telinga yang entah kenapa agak memerah sedikit. Dia berdeham pelan untuk menetralkan suasana.

"Begitukah?" tanya Jeremy, nadanya terdengar agak goyah dari biasanya. "Saya belum pernah mendengar ada teori medis seperti itu. Tapi... jika itu memang karena kekuatan tekadmu, saya menghargainya. Namun, ramuan pemurni ini tetap harus kamu minum."

Dia menunjuk sebuah cawan perak di atas meja nakas yang berisi cairan berwarna hijau pekat. Aromanya? Jangan ditanya. Bau kaki dicampur belerang.

"Nanti pasti saya minum, Priest. Setelah saya agak enakan," dusta gue sambil tersenyum manis selebar mungkin. Senyuman yang gue jamin bisa bikin cowok-cowok di luar sana langsung sujud syukur, tapi Jeremy cuma memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Ya sudah. Istirahatlah. Saya harus kembali ke kuil untuk memimpin doa sore," kata Jeremy datar, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kamar gue dengan langkah kaki yang terburu-buru.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, gue langsung melempar selimut ke sembarang arah dan melompat dari ranjang. Gue langsung lari ke arah cermin besar di sudut kamar.

"Oh my god... g***, g***, g***! Ini kutukan emang bener-bener definisi mukjizat!" pekik gue kegirangan sambil memegang kedua pipi gue. Kulit gue bener-bener *glass skin* parah! Pantulan cahaya dari lampu kamar bahkan bisa mantul dengan estetik di dahi gue.

Tapi di tengah rasa bangga ini, gue juga sadar kalau posisi gue lagi terancam. Jeremy itu High Priest jenius. Dia gak bakal bisa dib***-b***in selamanya pakai alasan 'aura positif' atau 'semangat hidup'. Lambat laun, dia pasti bakal menyadari kalau kutukan di tubuh gue ini gak bekerja layaknya kutukan normal. Dan kalau dia berhasil menemukan penawarnya...

*No!* Gue gak boleh membiarkan itu terjadi!

Gue harus bergerak cepat. Kemarin saat gue ke pondok penyihir hitam di Hutan Terlarang, ternyata tempat itu kosong karena si penyihir lagi pergi mencari bahan mantra. Tapi gue sempat melihat sebuah simbol aneh yang terukir di pintunya. Satu-satunya tempat yang punya arsip terlengkap tentang simbol sihir hitam dan cara mengunci kutukan adalah Perpustakaan Agung Kuil tempat Jeremy bekerja.

Maka di sinilah gue sekarang, beberapa jam setelah Jeremy pergi.

Dengan menggunakan jubah pelindung berkerudung besar untuk menutupi wajah *glowing* gue yang terlalu mencolok ini, gue berhasil menyelinap ma**k ke dalam kuil lewat pintu samping yang biasanya digunakan oleh para pelayan. Karena kuil sedang mengadakan doa sore massal, area perpustakaan yang megah dan sunyi ini benar-benar kosong melompong.

"G***, gede banget ini perpus. Udah kayak perpus di film Harry Potter," gumam gue kagum sambil menatap rak-rak buku kayu raksasa yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit kuil yang dihiasi lukisan para dewa.

Gue berjalan mengendap-endap di antara lorong buku yang remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya matahari sore yang menerobos ma**k lewat jendela kaca patri besar. Bau kertas tua dan kayu pinus langsung menyergap indra penciuman gue.

"Oke, bagian sihir terlarang... bagian sihir terlarang..." gue membaca label di setiap rak dengan teliti.

Setelah berputar-putar selama hampir lima belas menit, mata gue akhirnya tertuju pada sebuah rak kayu yang berada di sudut paling gelap perpustakaan. Di bagian atas rak tersebut, ada papan nama kecil berdebu bertuliskan: *Arsip Sihir Kuno & Fenomena Anomali*.

"Nah! Ini dia!"

Gue mendongak dan mendesah frustrasi. Buku-buku atau dokumen yang gue cari ternyata diletakkan di rak paling atas, yang tingginya sekitar empat meter dari lant**. Di dekat rak tersebut, untungnya ada sebuah tangga kayu tua beroda yang disandarkan di sana.

Tanpa pikir panjang, gue langsung menaiki anak tangga satu per satu. Tubuh baru gue yang enteng ini bikin pergerakan gue jadi lebih lincah. Begitu sampai di anak tangga teratas, gue mulai mencari-cari dokumen yang relevan.

"Mana ya... Dokumen Kutukan Fisik... Ah, ini dia!"

Gue melihat sebuah gulungan kertas kuno dengan segel lilin berwarna hitam yang agak rusak di ujung rak. Gue menjulurkan tangan kanan gue sejauh mungkin, sementara tangan kiri gue berpegangan pada pembatas tangga. Jari-jari gue baru saja menyentuh ujung gulungan itu ketika tiba-tiba...

*KRETEK!*

Suara kayu patah terdengar sangat nyaring di kesunyian perpustakaan. Anak tangga tempat gue berpijak mendadak retak dan patah menjadi dua!

"Eh?! EH?!"

Keseimbangan gue langsung hilang. Tubuh gue terhuyung ke belakang. Tangga kayu tua itu bergeser dari posisinya, membuat gue melayang bebas di udara selama beberapa detik yang terasa sangat lambat.

Gue otomatis memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan hantaman keras pada tulang punggung gue di atas lant** marmer yang dingin ini. Dalam hati gue cuma bisa pasrah, *Duh Gusti, kalau gue mati sekarang, seenggaknya gue mati dalam keadaan cantik luar biasa!*

Namun, rasa sakit yang gue bayangkan sama sekali gak datang.

Alih-alih mendarat di lant** yang keras, tubuh gue justru jatuh ke dalam sesuatu yang sangat empuk, hangat, dan... kokoh. Sepasang lengan yang kuat dengan sigap menangkap tubuh gue, menahan pinggang dan bawah lutut gue dengan erat dalam posisi *bridal style*.

Gue membuka mata dengan perlahan, napas gue tersengal-sengal karena syok.

Hal pertama yang gue lihat adalah sepasang mata biru safir yang menatap gue dengan kilatan amarah yang bercampur dengan rasa cemas yang teramat sangat. Jubah putih bersih dengan sulaman benang emas khas High Priest bergoyang pelan tertiup angin dari jendela perpustakaan yang terbuka.

Jeremy.

"Anya! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Jeremy dengan suara tertahan. Napasnya juga memburu, seolah-olah dia baru saja berlari maraton sejauh sepuluh kilometer hanya untuk menangkap gue sebelum menyentuh tanah.

Gue terpaku. Lidah gue mendadak kelu, gak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Jarak wajah kami dekat banget. Saking dekatnya, gue bisa melihat pantulan diri gue sendiri di dalam bola matanya yang jernih. Gue juga bisa merasakan embusan napas hangatnya yang menerpa permukaan kulit pipi gue. Dan entah kenapa, pelukannya di pinggang gue terasa sangat... protektif. Kuat banget, seolah-olah dia bener-bener gak mau melepaskan gue setetes pun.

*Dug-dug. Dug-dug.*

Gue menelan ludah. Suara apa itu? Keras banget.

Setelah gue sadari, ternyata itu adalah suara detak jantung gue sendiri yang mendadak mengg*** seperti lagi nonton konser musik rock di baris paling depan. Dada gue rasanya sesak, tapi kali ini bukan karena kutukan atau karena akting sekarat gue. Ini murni karena... cowok di depan gue ini gantengnya bener-bener gak ma**k akal kalau dilihat dari jarak sedekat ini!

"Kamu... kamu g*** ya?" bisik Jeremy lagi, kali ini suaranya melembut, tapi ada nada frustrasi yang kentara di sana. Dia menatap wajah gue yang sekarang sudah sewarna kepiting rebus. "Bagaimana kalau saya tadi tidak datang tepat waktu? Tubuhmu itu sedang lemah, Anya. Kamu bisa terluka parah kalau jatuh dari ketinggian seperti ini!"

"P-Priest... Jeremy..." suara gue keluar seperti cicitan anak ayam. Sumpah, ke mana perginya sifat bar-bar gue yang biasanya sangat tangguh ini? Kenapa gue mendadak jadi se-meleyot ini cuma karena ditatap sama satu cowok?!

"Kenapa kamu bisa ada di perpustakaan kuil? Dan kenapa kamu mencoba mengambil dokumen ini?" tanya Jeremy lagi, matanya beralih menatap gulungan kertas kuno berselimut sihir hitam yang tanpa sadar masih gue genggam erat di tangan kanan gue.

Gue langsung panik. Waduh, ketahuan!

Gue harus cari alasan! Tapi melihat wajah Jeremy yang begitu dekat, dengan alisnya yang bertaut cemas dan tatapan matanya yang tulus... pertahanan gue rasanya mau runtuh. Jantung gue makin gak karuan, berdegup kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari rusuk gue.

Gue buru-buru menyembunyikan gulungan itu di balik punggung gue, lalu menatap Jeremy dengan mata yang berkedip-kedip gugup.

"Saya... saya cuma... aduh, Priest, kepala saya mendadak pusing banget!" seru gue sambil memegang dahi gue dengan tangan kiri, mencoba berakting pingsan demi menghindari interogasi maut ini. Gue memejamkan mata dan menyandarkan kepala gue di dada bidang Jeremy yang terasa sangat nyaman dan hangat.

Jeremy menghela napas panjang. Gue bisa merasakan dadanya bergetar saat dia mengembuskan napas panjang tersebut.

Dia tidak langsung menurunkan gue. Sebaliknya, dia justru mengeratkan dekapannya pada tubuh gue, membawa gue berjalan keluar dari lorong perpustakaan yang remang-remang itu menuju area luar kuil yang lebih terang.

"Kamu ini... benar-benar merepotkan," bisik Jeremy pelan, sangat pelan sampai hampir menyerupai desau angin sore. Tapi anehnya, ada secercah nada hangat dan lembut di dalam kalimat dinginnya itu yang sukses membuat jantung gue makin bergetar hebat.

*Aduh, tolong!* jerit gue dalam hati sambil meremas ujung jubah Jeremy dengan gugup. *Gue gak boleh baper sama High Priest ini! Fokus, Anya, fokus! Prioritas utama lo adalah mempertahankan kutukan cantik ini, bukan malah jatuh cinta sama cowok yang tugasnya justru mau menyembuhkan lo!*

Tapi tetap saja, wangi tubuh Jeremy yang begitu menenangkan dan dekapan hangatnya sore itu membuat gue benar-benar salah tingkah sendiri, berdoa dalam hati agar dia tidak bisa mendengar suara detak jantung gue yang super berisik ini.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca