Aula utama Istana Kekaisaran malam ini bener-bener kayak set film fantasi berbudget triliunan. Lampu gantung kristal segede gaban menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Karpet beludru merah yang tebal dan empuk melapisi sepanjang lant** marmer. Tapi jujur, fokus gue malam ini sama sekali bukan ke kemewahan istana ini. Fokus gue adalah gimana caranya menyelamatkan masa depan *skincare* dan keglowingan wajah gue yang terancam punah.
Gue bersumpah, kalau gue tahu jadi cantik sesusah ini, gue... ah, tetep mau sih. Siapa juga yang mau balik jadi Anya yang dulu dengan muka kusam dan kantung mata segede kantong kresek hitam? Gak akan sudi!
Masalahnya, si Jeremy—High Priest berwajah sedingin es tapi gantengnya gak ma**k akal itu—bener-bener gak main-main sama ucapannya kemarin. Dia beneran menganggap kecantikan gue sebagai "kutukan hitam mematikan" yang harus segera dimurnikan demi keselamatan jiwa gue. Cuih, keselamatan apa? Ini namanya pembunuhan berencana terhadap visual estetik gue!
Lebih parahnya lagi, malam ini Jeremy berencana melakukan ritual pemurnian massal secara publik di tengah pesta dansa kekaisaran. Dia sengaja memanfaatkan rasa penasaran Kaisar yang pengen melihat "kecantikan tragis" gue untuk melegalkan ritual darurat ini menggunakan Pusaka Suci Kekaisaran. Kalau ritual itu berhasil, kelar sudah hidup gue. Gue bakal balik jadi cewek burik dalam semalam.
"Gue gak mau ya balik jadi Anya yang dulu! Pokoknya gak mau!" jerit gue panik waktu kami lagi menyusun rencana darurat di kamar kemarin.
Adrian, satu-satunya sekutu gue yang waras—meskipun kadang otaknya agak geser juga—cuma ketawa pelan sambil mengunyah biskuit cokelat. "Tenang, Anya. Selama ada gue, visual lo yang berharga itu aman. Kita bakal bikin pertunjukan yang gak bakal dilupakan sama seisi kekaisaran," katanya dengan senyum licik yang bener-bener menenangkan jiwa raga gue.
Rencana sabotase tingkat tinggi kami malam ini c**up simpel tapi berisiko tinggi. Adrian bertugas menyelinap ke ruang penyimpanan pusaka suci tempat air suci ritual disiapkan. Sementara tugas gue? Jadi umpan. Gue harus mengalihkan perhatian Jeremy biar dia gak sadar kalau pusakanya lagi diutak-atik. Dan cara terbaik untuk mengalihkan perhatian cowok sekaku Jeremy adalah dengan mengajaknya berdansa.
Saat pintu aula dansa dibuka lebar-lebar oleh pengawal istana, bentara langsung meneriakkan nama gue dengan lantang.
"Menyambut, Lady Anya dari kediaman Baron!"
Begitu gue melangkah ma**k, seluruh ruangan yang tadinya bising langsung hening seketika. Serius, heningnya kayak kuburan. Semua mata—dari para bangsawan senior sampai para gadis bangsawan yang biasanya hobi nge-gossip—langsung tertuju ke arah gue.
Malam ini gue memakai gaun satin berwarna hijau emerald yang potongan bahunya agak terbuka, memperlihatkan tulang selangka gue yang indah. Rambut gue disanggul modern dengan beberapa helai sengaja dijatuhkan di samping wajah untuk memberikan kesan *effortlessly beautiful*. Dan efek kutukan cantik ini emang gak main-main; kulit gue kelihatan sangat halus, bersinar alami seperti dilapisi mutiara, bahkan tanpa perlu bantuan *highlighter* sama sekali.
Bisikan-bisikan mulai terdengar di seluruh penjuru aula.
"G***... itu beneran Lady Anya?"
"Katanya dia sekarat karena kutukan hitam, tapi kenapa dia malah kelihatan kayak dewi yang turun dari surga?"
"Visualnya bener-bener gak nyata. Gue yang cewek aja sampai lupa cara napas!"
Gue cuma tersenyum tipis—senyum misterius nan anggun yang biasa dipakai aktris drakor papan atas. Padahal dalam hati gue lagi bersorak kegirangan: *Yasss! Puji terus! Jangan biarkan keglowingan ini sirna!*
Di ujung aula, Kaisar yang duduk di takhta megahnya langsung mencondongkan tubuh ke depan dengan mata berbinar tertarik. "Anya," panggil Kaisar, suaranya menggema penuh wibawa. "Kecantikanmu memang pantas menjadi legenda baru di kekaisaran ini. Sungguh tragis jika keindahan seperti ini harus hancur oleh sihir hitam."
"Terima kasih atas perhatian Anda yang begitu besar, Yang Mulia," jawabku sambil melakukan *curtsy* dengan sangat sempurna. "Saya hanya berusaha bertahan hidup di tengah penderitaan yang indah ini." (Padahal menderita dari Hongkong! Gue justru bahagia setengah mati dengan muka ini!).
Gue melirik ke sudut ruangan lain, dan di sanalah dia berada. Jeremy berdiri tegak dengan jubah kebesaran kuil berwarna putih-emas. Dia kelihatan sangat berwibawa, tampan, tapi juga sangat berbahaya buat kelangsungan hidup wajah *glowing* gue. Di tangannya, dia memegang sebuah kitab doa kecil, siap untuk merusak kebahagiaan hidup gue malam ini.
Gue menarik napas dalam-dalam. Oke, Anya. Saatnya beraksi.
Gue berjalan mendekati Jeremy dengan langkah anggun yang sengaja dibuat agak lambat. Begitu jarak kami dekat, gue bisa melihat mata biru esnya menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit kilatan terkejut di sana, tapi langsung dia sembunyikan di balik ekspresi datarnya.
"Anya," sapa Jeremy dingin, tapi suaranya agak tertahan. "Kamu seharusnya tidak memakai gaun sejelas ini jika tubuhmu sedang tidak sehat."
"Priest Jeremy," panggilku dengan nada termanis yang pernah gue buat seumur hidup. "Justru karena saya merasa lemah, saya butuh sedikit hiburan. Dan sebelum ritual pemurnian Anda yang agung itu dimulai... saya mau meminta satu hal dari Anda."
Jeremy menaikkan sebelah alisnya yang tebal. "Apa?"
"Berdansalah denganku. Satu lagu saja," kataku sambil mengulurkan tangan kanan gue secara blak-blakan di depan wajahnya.
Beberapa bangsawan di sekitar kami langsung tersedak minuman mereka sendiri. Mengajak High Priest berdansa? Itu hampir sama aja kayak ngajak patung marmer di kuil buat main TikTok. Mustahil dikabulkan!
"Aku tidak berdansa, Anya. Tugas saya malam ini adalah bersiap untuk menyelamatkan jiwamu," tolak Jeremy datar, berniat mengabaikan uluran tangan gue.
"Oh, ayolah. Masa High Priest yang paling dihormati se-kekaisaran gak bisa dansa satu lagu aja? Apa jangan-jangan..." Gue sengaja memajukan tubuh gue sedikit, lalu berbisik dengan nada menantang, "...Anda takut jatuh cinta sama saya kalau kita sedekat ini?"
*Hook, line, and sinker.* Cowok gengsian kayak Jeremy pasti bakal langsung terpancing.
Jeremy menatap mata gue tajam. Perlahan, dia meletakkan kitab doanya di atas meja terdekat. "Jangan terlalu percaya diri, Anya. Kutukan hitammu tidak akan pernah memengaruhi fokusku."
Dia menyambut tangan gue. Begitu kulit kami bersentuhan, rasa hangat langsung menjalar dari tangannya yang besar dan kokoh.
Kami bergerak ke tengah lant** dansa tepat saat musik waltz yang lambat dan romantis mulai mengalun. Gue harus mengakui, meskipun Jeremy sekaku kanebo kering dalam kehidupan sehari-hari, gerakan dansanya bener-bener mulus. Tangan kirinya hinggap di pinggang gue, menarik tubuh gue mendekat sampai wangi maskulin khas *white sage* dan mint segar dari tubuhnya langsung memenuhi indra penciuman gue.
*Duh, deket banget lagi,* batin gue mulai agak *overthinking*. Jantung gue sempat berdegup kencang gak karuan, tapi gue langsung menampar mental gue sendiri. *Anya, fokus! Jangan baper sama cowok yang mau menghilangkan kebahagiaan duniawi lo!*
Gue melirik ke arah pintu belakang aula melalui celah bahu Jeremy. Di sana, sekilas gue melihat bayangan Adrian yang memberikan kode jempol sebelum dia menyelinap pergi ke arah ruang penyimpanan pusaka suci. *Bagus, Adrian! Laksanakan tugasmu dengan estetik!*
"Kamu tidak fokus, Anya," bisik Jeremy tiba-tiba, suaranya yang berat terdengar sangat dekat di telinga gue, membuat bulu kuduk gue meremang. "Matamu terus melihat ke arah lain. Apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku?"
*Mampus!* Insting detektif cowok ini tajam banget kayak silet!
"G-gak ada kok," jawabku langsung memasang tampang paling sendu yang bisa gue rekayasa. Gue mendongak, menatap langsung ke bola mata birunya yang indah. "Aku cuma... takut. Gimana kalau ritual ini gagal? Gimana kalau setelah ini aku gak bisa sedekat ini lagi sama kamu?"
Gue sengaja memperdalam tatapan mata gue, memberikan efek *puppy eyes* maksimal yang dipadukan dengan pesona kutukan cantik ini. Hasilnya? Mematikan. Gue bisa merasakan cengkeraman tangan Jeremy di pinggang gue sempat mengencang selama satu detik penuh, dan napasnya agak tertahan sebelum dia membuang muka sedikit.
"Ritual ini tidak akan gagal," kata Jeremy, suaranya terdengar sedikit lebih serak dari biasanya. "Aku sendiri yang akan memimpinnya. Kamu akan terbebas dari sihir hitam ini, Anya. Aku berjanji."
"Iya deh, terserah kamu aja," gumamku sambil sengaja menyandarkan kepala gue sejenak di bahunya yang lebar, membuat dia semakin tidak bisa melihat ke arah mana pun selain ke arah gue.
Sementara itu, di ruang penyimpanan pusaka suci, Adrian sedang melakukan aksinya dengan sangat profesional. Di atas meja beludru, terdapat sebuah Cawan Suci berlapis emas murni yang berisi air suci berkilau keperakan untuk ritual pemurnian nanti.
Adrian menyeringai nakal. "Sorry ya, Priest tampan. Air suci lo terlalu membosankan. Mari kita beri sedikit sentuhan festival warna-warni."
Dengan gerakan cepat, Adrian membuang air suci asli itu ke dalam pot tanaman hias di pojok ruangan (yang anehnya langsung tumbuh bunga mawar subur dalam hitungan detik), lalu dia mengisi kembali cawan suci itu dengan air keran biasa. Tapi tidak sampai di situ, Adrian merogoh sakunya dan mengeluarkan satu botol penuh bubuk glitter warna pink neon metalik yang super halus. Dia menuangkan seluruh isi botol itu ke dalam cawan, lalu mengaduknya sampai air itu berubah menjadi cairan berkilau yang kelihatan sangat mencurigakan tapi luar biasa estetik.
"Sempurna. *Enjoy the show*, teman-teman," bisik Adrian sambil terkekeh pelan, lalu menyelinap keluar kembali ke aula pesta tanpa ketahuan oleh satu pengawal pun.
Kembali ke lant** dansa, musik akhirnya berakhir. Riuh tepuk tangan dari para undangan menggema di seluruh aula pesta.
Jeremy perlahan melepaskan pegangannya pada pinggang gue. Dia menatap gue sekilas sebelum berbalik untuk berjalan menuju altar darurat yang sudah disiapkan di depan takhta Kaisar.
Kaisar berdiri dari takhtanya dengan penuh semangat. "Hadirin sekalian! Malam ini, kita semua akan menyaksikan keagungan kekuatan kuil suci kita. High Priest Jeremy akan memurnikan Lady Anya dari kutukan hitam yang mengerikan ini untuk selamanya!"
Sorak-sorai dan bisikan penuh antisipasi langsung memenuhi ruangan.
Gue dipandu oleh seorang pendeta muda untuk berdiri di tengah-tengah lingkaran sihir yang sudah digambar di lant** altar. Jeremy berjalan dengan langkah mantap, jubah kebesarannya berkibar dramatis. Dia menerima Cawan Suci yang dibawakan oleh asistennya. Karena pencahayaan aula yang sedikit temaram dan tertutup oleh dekorasi bunga, Jeremy tidak terlalu memperhatikan perubahan warna air di dalam cawan emas itu. Lagi pula, siapa juga yang berani menyabotase barang suci kekaisaran di bawah hidungnya?
"Anya, pejamkan matamu," perintah Jeremy dengan nada suara yang megah dan sakral, khas seorang pemuka agama tingkat tinggi.
Gue memejamkan mata gue rapat-rapat, tapi sebenarnya gue masih menyisakan sedikit celah untuk mengintip. Di sudut ruangan, gue bisa melihat Adrian berdiri di balik pilar sambil menutupi mulutnya dengan saputangan, tubuhnya gemetar menahan tawa.
Jeremy mulai merapalkan mantra suci dalam bahasa kuno yang terdengar sangat berwibawa. Udara di sekitar altar mulai berdesir, menciptakan angin spiritual yang membuat jubahnya dan gaun gue berkibar pelan.
"Dengan kekuatan cahaya murni, hancurkanlah kegelapan yang membelenggu jiwa ini! Bersihkan raga ini dari noda sihir hitam yang menyesatkan!"
Jeremy mengangkat Cawan Suci tinggi-tinggi dengan kedua tangannya, lalu dengan gerakan memutar yang sangat dramatis, dia memercikkan air suci di dalamnya ke arah gue menggunakan dahan pohon suci.
*SWYUUUT! SPLASH!*
Bukannya cahaya putih suci yang membakar kegelapan seperti yang diharapkan...
Sebuah ledakan awan glitter berwarna pink neon metalik yang luar biasa besar justru meledak di udara!
*PUFF!*
Angin sihir dari mantra Jeremy justru membuat bubuk glitter pink super halus itu terbang menyebar ke segala arah seperti badai salju warna pastel. Seluruh area altar seketika berubah menjadi panggung konser pop bintang dunia lengkap dengan efek *special effect* yang sangat cetar membahana.
Gue langsung terbatuk-batuk kecil—kali ini beneran karena kelilipan glitter pink. Tapi pemandangan di depan gue bener-bener membuat seluruh usaha gue menahan tawa terasa sia-sia.
Jeremy—High Priest kekaisaran yang selalu rapi, bersih, tanpa cela, dan ditakuti semua orang—sekarang berdiri mematung dengan seluruh tubuhnya dipenuhi glitter pink yang berkilau kerlap-kerlip di bawah cahaya lampu gantung. Rambut peraknya yang indah sekarang berwarna pink berkilau, wajah tampannya penuh dengan serbuk *glowing*, bahkan jubah putih-emasnya sekarang kelihatan seperti kostum karnaval bertema peri bunga.
Aula dansa yang megah itu langsung sunyi senyap. Sunyi sesunyi-sunyinya. Semua orang melongo dengan mulut terbuka lebar, tidak tahu harus merespons apa.
Kaisar di takhtanya sampai berdiri, membetulkan letak mahkotanya yang agak miring, lalu mengucek matanya berulang kali. "Apakah... apakah kuil suci kita baru saja mengubah tema warna ritual pemurnian menjadi merah muda?"
Gue berusaha setengah mati menahan tawa sampai perut gue rasanya melilit hebat. Air mata gue sampai menetes karena menahan tawa yang luar biasa dahsyat ini.
Jeremy perlahan menurunkan tangannya. Dia menatap telapak tangannya yang penuh dengan glitter pink berkilau, lalu menatap cawan suci di tangannya. Perlahan, kepalanya mendongak menatap langsung ke arah gue.
Matanya yang biru es itu sekarang berkilat tajam—bukan lagi karena dingin, tapi karena kemarahan yang membara bercampur rasa malu yang luar biasa di depan seluruh bangsawan kekaisaran.
"Anya..." desis Jeremy, suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan bener-bener berbahaya di tengah keheningan aula pesta.
Gue langsung memasang tampang paling polos, terkejut, dan tak berdosa yang bisa gue lakukan. Gue menangkupkan kedua tangan gue di pipi dengan dramatis.
"Ya ampun, Priest Jeremy!" seruku dengan suara yang sengaja dibuat panik dan ketakutan. "Kutukan hitam saya... kutukan saya ternyata sudah bermutasi jadi luar biasa kuat! Sampai-sampai kekuatan suci Anda yang agung pun berubah jadi pink berkilau begini! Aduh, kayaknya kutukan ini bener-bener gak bisa disembuhkan deh! Tolong jangan paksa saya untuk dimurnikan lagi, saya takut merusak kesucian kuil Anda!"
Di sudut ruangan, suara tawa Adrian akhirnya pecah dengan sangat keras, yang langsung memicu tawa geli yang tertahan dari para bangsawan lainnya. Mereka semua mulai berbisik-bisik melihat High Priest mereka yang kini kelihatan sangat *glowing* maksimal dengan warna pink neon yang berkilauan.
Gue tersenyum penuh kemenangan di dalam hati. Rencana sabotase berhasil total. *Skincare alami dan keglowingan wajah gue yang berharga: Terselamatkan dengan sangat sukses dan estetik!*
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!