Detik-detik sebelum bencana itu terjadi, suasana di dalam aula bener-bener hening kayak waktu guru killer ma**k kelas pas ujian matematika. Gue berdiri di tengah altar darurat dengan gaun satin hijau emerald gue yang super anggun, berusaha masang komat-kamit muka pasrah layaknya korban yang siap diselamatkan. Di depan gue, Jeremy berdiri tegap. Jubah putih keemasannya kelihatan berkilau kena sorot lampu kristal. Wajahnya yang kelewat simetris itu kelihatan dingin banget, tipe-tipe cowok kulkas dua pintu yang gak bakal goyah meskipun digoda pakai diskon belanjaan akhir tahun.
Jeremy mengangkat cawan emas pusaka suci tinggi-tinggi. Matanya yang berwarna biru safir menatap gue lurus-lurus, seolah-olah dia bisa melihat langsung ke dalam jiwa gue yang penuh dengan dosa *skincare* ilegal ini.
"Dengan kekuatan cahaya yang mengalir dalam nadi Kekaisaran, bersihkanlah jiwa ini dari segala bentuk kutukan hitam. Kembalilah pada wujud aslimu," ucap Jeremy dengan suara baritonnya yang menggema indah di seluruh penjuru aula. Sumpah, kalau situasinya gak lagi mengancam kelangsungan hidup *glowing* gue, gue mungkin udah pingsan karena denger suaranya yang s**** itu.
Jeremy mencelupkan dahan suci ke dalam cawan, lalu dengan gerakan dramatis seperti di film-film fantasi, dia memercikkan air suci itu ke arah gue.
Gue merem, nahan napas, siap-siap buat teriak kalau tiba-tiba kulit gue berubah jadi kasar dan kusam lagi.
Tapi yang terjadi selanjutnya bener-bener di luar nalar.
*DUARRR!*
Bukan suara ledakan bom sih, tapi lebih mirip suara petasan pesta yang meledak kencang. Bukannya percikan air suci yang sejuk, dari dalam cawan emas itu justru menyembur ribuanβbukan, jutaan butiran gliter berwarna pink neon yang super mencolok!
Semburan gliter itu gak cuma sedikit, tapi bener-bener kayak badai pasir pink yang menyapu seluruh panggung dan meluas ke arah para penonton. Dalam hitungan detik, seluruh aula yang tadinya megah dan estetik langsung berubah total jadi kayak tempat pesta ulang tahun anak TK bertema *unicorn*.
"Uhuk! Uhuk! Apa-apaan ini?!"
"Mata gue! Gliternya ma**k ke mata gue, astaga!"
"Kenapa baju gue jadi pink berkilau begini?! Pengawal!"
Teriakan panik langsung pecah di mana-mana. Para bangsawan yang tadinya sok jaim dan elegan sekarang sibuk nepuk-nepuk baju mereka yang penuh gliter pink. Bahkan Kaisar yang duduk di singgasananya pun gak luput dari bencana ini; kumis tebalnya sekarang dilapisi gliter pink yang bikin dia kelihatan kayak karakter anime gemoy.
Gue membuka mata perlahan dan langsung melihat ke arah Adrian yang berdiri di barisan samping. Cowok itu lagi berusaha keras nahan tawa sampai mukanya merah padam, sambil memberikan gestur dua jempol ke arah gue dari balik pilar. *G***, si Adrian bener-bener niat banget nyabotase ritualnya!* Bom mandi gliter stroberi yang dia ma**kin ke air suci bener-bener bekerja seratus sepuluh persen.
"Anya! Lari sekarang!" lirik Adrian tanpa suara, mengode gue dengan kepalanya ke arah pintu samping aula.
Tanpa mikir dua kali, gue langsung mengangkat rok gaun emerald gue tinggi-tinggi, berbalik, dan langsung ngibrit lewat pintu keluar darurat sebelum kepulan asap pink itu mereda.
Kami berlari kencang menyusuri lorong-lorong istana yang sepi. Napas gue udah ngos-ngosan, ditambah lagi memakai *heels* setinggi sepuluh senti yang bener-bener menyiksa kaki indah gue ini. Begitu kami berhasil keluar ke taman belakang istana yang gelap dan sepi, gue langsung merosot di dekat air mancur marmer, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Gokil, Adrian! Lo bener-bener g*** ya!" bisik gue setengah berteriak sambil memukul lengan Adrian yang baru aja tiba di samping gue dengan napas yang juga terengah-engah. "Gue bilangnya sabotase biasa, kenapa malah jadi pesta gliter stroberi begitu?!"
Adrian malah nyengir tanpa dosa, merapikan rambut hitamnya yang agak berantakan. "Lho, bukannya itu estetik? Daripada air suci itu bikin lo balik burik, mending kita kasih mereka sedikit pertunjukan sulap gratis. Lagian, gliternya ramah lingkungan kok, tenang aja."
"Ramah lingkungan gigi lo peyang! Kalau kita ketahuan, kita bisa digantung di alun-alun kota!" omel gue frustrasi.
"Kalian tidak perlu menunggu sampai besok untuk digantung. Aku bisa mengeksekusi kalian di sini sekarang juga."
Suara dingin yang amat familiar itu mendadak terdengar dari balik bayangan pohon-pohon mapel di taman.
Jantung gue rasanya mau copot. Gue dan Adrian refleks menoleh ke sumber suara. Dari kegelapan malam, Jeremy melangkah keluar perlahan. Penampilannya malam ini bener-bener kontras dengan citranya yang biasanya rapi dan suci. Jubah High Priest-nya yang putih bersih kini ternoda noda pink di sana-sini, dan tebak apa? Ada satu butir gliter pink besar yang menempel persis di ujung hidungnya yang mancung itu. Sumpah, gue pengen ketawa tapi aura membunuh yang dipancarkannya bikin gue langsung menelan ludah rapat-rapat.
"H-High Priest..." cicit gue, otomatis mundur satu langkah ke belakang Adrian.
Jeremy berhenti tepat beberapa langkah di depan kami. Matanya menatap kami berdua dengan tajam, seolah-olah bisa menembus tengkorak kepala kami. "Bisa tolong jelaskan, apa arti dari semua kekacauan ini? Dan kenapa air suci warisan leluhur bisa berubah menjadi racun merah muda yang berbau manis?"
"Itu... anu, High Priest... mungkin ada kesalahan teknis dari panitia penyelenggara?" jawab Adrian, mencoba melucu dengan senyum kaku.
"Diam, Adrian," potong Jeremy cepat, suaranya bener-bener gak main-main. Dia mengalihkan pandangan dinginnya langsung ke arah gue. "Gue butuh jawaban dari lo, Lady Anya. Kenapa lo selalu menghindar setiap kali gue mau menyembuhkan kutukan lo? Kenapa lo sampai tega menodai pusaka suci hanya untuk menggagalkan pemurnian ini? Apa lo bener-bener sudah bersekutu dengan kekuatan kegelapan? Apa ada i**** di dalam tubuh lo yang takut dengan cahaya suci?!"
Gue merasa terpojok. Tatapan Jeremy bener-bener mengintimidasi, membuat mental gue yang selembut tahu sutra ini langsung goyah. Ditambah lagi, gue capek. Capek harus terus-terusan bohong, capek harus overthink tiap malam takut ketahuan, dan capek dituduh bersekutu sama i**** padahal peliharaan gue cuma kucing oren di rumah.
Akhirnya, emosi gue meledak juga.
"Gue gak bersekutu sama i****, Jeremy!" teriak gue frustrasi, melangkah maju dari balik punggung Adrian dan menatap balik mata safirnya dengan berani. "Gue sengaja sabotase ritual itu karena gue GAK MAU SEMBUH!"
Suasana taman seketika hening. Bahkan suara jangkrik pun mendadak berhenti berbunyi.
Jeremy mengerutkan dahi, kelihatan bener-bener bingung. "Gak mau sembuh? Maksud lo apa? Kutukan itu perlahan akan merusak jiwa lo jika dibiarkan..."
"Plis deh, kutukan apa sih?! Ini tuh anugerah!" potong gue tanpa rem, bener-bener menumpahkan semua unek-unek yang gue pendam selama ini. "Lo denger gue baik-baik ya, High Priest yang terhormat. Gue sengaja menghindari semua air suci lo karena gue terlanjur cinta mati sama muka cantik gue yang sekarang! Lo tahu gak gimana rasanya jadi Anya yang dulu? Muka gue kusam kayak keset dandan, kantung mata segede kantong kresek hitam karena keseringan begadang, dipandang sebelah mata sama semua orang, bahkan buat dapet senyuman ramah dari pelayan toko aja susahnya setengah mati!"
Napas gue memburu saat gue melanjutkan khotbah kecantikan gue. "Sekarang? Lihat diri gue sekarang! Kulit gue sehalus sutra, pori-pori gue tidak terdeteksi oleh radar, dan visual gue bener-bener bikin semua orang melongo kagum. Gue bisa dapet semua yang gue mau cuma dengan sekali kedipan mata! Terus lo dengan gampangnya mau ng***ngin ini semua atas nama 'pemurnian jiwa'? Gak sudi! Gue lebih baik dikutuk cantik dan glowing selamanya daripada harus balik jadi cewek burik nan kusam!"
Setelah gue selesai teriak, keheningan yang tercipta bener-bener terasa canggung banget.
Adrian di sebelah gue cuma bisa menepuk jidatnya sendiri sambil bergumam, "Aduh, Anya... lo jujurnya kelewat ekstrem."
Sementara itu, Jeremy berdiri mematung. Matanya yang biasanya menyorotkan kebijaksanaan agung sekarang melebar karena syok berat. Mulutnya sedikit terbuka, tapi gak ada kata-kata yang keluar. Otak jeniusnya yang biasanya dipakai untuk memecahkan teologi kuno sepertinya baru saja mengalami *blue screen* akibat mendengar pengakuan sekonyol ini.
"Cuma... karena itu?" suara Jeremy terdengar agak serak, seolah dia baru saja kehilangan kemampuan berbahasa. "Lo merusak ritual sakral kekaisaran... menodai pusaka suci... hanya karena lo takut kehilangan... ke-glowing-an wajah lo?"
"Iya! Dan itu masalah hidup dan mati buat gue!" sahut gue sambil melipat tangan di dada, mengerucutkan bibir kesal. "Orang yang ganteng dari lahir kayak lo gak bakal pernah paham penderitaan kaum kami yang harus berjuang demi sepeser *glow up*!"
Jeremy mengusap wajahnya yang ternoda gliter dengan tangan gemetar. Dia kelihatan frustrasi banget, seakan-akan seluruh keyakinan hidupnya baru saja runtuh berkeping-keping. "Gue pikir... gue pikir lo adalah korban dari kultus hitam terlarang... atau lo sedang dikendalikan oleh penyihir jahat dari menara kuno... ternyata lo cuma cewek narsis yang gak mau kehilangan *skincare*?"
"Penyihir hitam dari Hongkong! Sembarangan aja kalau ngomong!" gerutu gue.
Tapi sebelum perdebatan konyol kami bisa berlanjut, suara langkah kaki yang berat dan teratur tiba-tiba terdengar dari arah gerbang taman. Suara dentingan zirah besi bergemerincing, menandakan kedatangan sekelompok prajurit dalam jumlah besar.
"Di sana mereka! Kepung taman ini!"
Gue langsung membeku. Dari balik kegelapan, muncul belasan Ksatria Suci dengan pedang terhunus. Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan jubah keagamaan yang sangat mewah. Dia adalah Elder Gregory, salah satu tetua kuil yang terkenal korup dan selalu mencari celah untuk menjatuhkan posisi Jeremy sebagai High Priest.
"Ternyata dugaanku benar!" seru Elder Gregory dengan senyum licik yang bener-bener bikin gue pengen ngelempar dia pakai sepatu hak tinggi gue. "Lady Anya! Kamu telah terbukti menggunakan sihir hitam untuk mengacaukan ritual suci dan menodai pusaka kekaisaran! Ini adalah tindakan heretik yang tidak bisa diampuni!"
"Heh, Pak Tua! Ini cuma gliter stroberi ya, bukan sihir hitam!" teriak Adrian mencoba membela gue, tapi suaranya langsung tenggelam oleh gertakan para ksatria.
"Diam, sekutu penyihir!" bentak Elder Gregory kasar. Matanya kemudian beralih ke arah Jeremy dengan tatapan penuh kemenangan politis. "High Priest Jeremy, singkirkan keraguanmu. Wanita ini harus segera ditangkap dan dieksekusi di menara penyucian untuk membersihkan nama baik kuil kita. Minggirlah, biarkan para ksatria suci menjalankan tugas mereka!"
Gue gemetaran hebat. Eksekusi? Menara penyucian? Sumpah, ini udah gak lucu lagi. Niat gue cuma pengen mempertahankan muka cantik gue, kenapa malah dituduh jadi penyihir heretik yang mau dihukum mati?! Gue meremas lengan baju Adrian dengan panik. Adrian sendiri udah bersiap mengambil posisi bertarung, meskipun wajahnya kelihatan tegang banget karena jumlah lawan yang gak sebanding.
Gue melihat ke arah Jeremy. Ini kesempatan dia. Dia tinggal minggir, membiarkan gue ditangkap, dan namanya sebagai High Priest suci akan tetap bersih tanpa cela. Lagian, dia pasti benci banget sama gue setelah tahu alasan konyol gue tadi, kan?
"Maafkan saya, Lady Anya," gumam Jeremy pelan, hampir tidak terdengar.
Gue memejamkan mata erat-erat, pasrah jika ini adalah akhir dari hidup gue yang baru aja mau menikmati masa-masa cantik ini. Air mata gue hampir menetes membayangkan wajah indah ini harus berakhir di tiang gantungan.
Namun, detik berikutnya, bukan suara rant** besi yang gue dengar.
*SRINGGG!*
Sebuah cahaya putih keemasan yang sangat terang mendadak meledak di depan kami, menciptakan dinding penghalang transparan yang sangat besar. Tanah di bawah kaki kami bergetar hebat saat energi suci yang murni mengalir deras dari tubuh Jeremy.
Gue membuka mata dengan terkejut. Jeremy sekarang berdiri kokoh di depan kami berdua, membelakangi kami dengan pedang sucinya yang sudah terhunus indah. Cahaya keemasan dari pedangnya memantulkan bayangan gagah yang bener-bener menakjubkan.
"High Priest Jeremy?! Apa yang Anda lakukan?! Dia adalah heretik!" teriak Elder Gregory dengan wajah merah padam karena terkejut dan marah.
"Dia bukan heretik," jawab Jeremy dengan suara dingin yang terdengar mutlak, tanpa keraguan sedikit pun. "Dia cuma cewek bodoh yang kelewat narsis. Dan saya, sebagai High Priest, tidak akan pernah membiarkan kuil menggunakan tuduhan palsu hanya untuk memenuhi ambisi politik Anda yang kotor, Elder Gregory."
"Anda menentang keputusan kuil?! Ini adalah pengkhianatan!" ancam Elder Gregory histeris.
Jeremy tidak memedulikan teriakan itu. Dia sedikit menoleh ke belakang, mata birunya menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikanβcampuran antara kesal, lelah, tapi juga ada secercah tekad di sana.
"Pegang tangan gue, Anya. Dan jangan pernah lepas," perintah Jeremy tegas.
Gue bener-bener tertegun. Cowok kulkas dua pintu yang kaku, yang beberapa menit lalu hampir frustrasi karena alasan narsis gue, sekarang memilih untuk mempertaruhkan reputasi dan hidupnya demi melindungi gue?
Tanpa pikir panjang, gue langsung meraih tangan Jeremy yang terasa hangat dan kokoh. Adrian juga dengan sigap memegang pundak Jeremy.
"Pegangan yang erat," bisik Jeremy.
Dengan satu hentakan pedangnya ke tanah, Jeremy memicu ledakan cahaya suci yang membutakan mata seluruh ksatria suci dan Elder Gregory. Di tengah kepulan cahaya dan kebingungan musuh, Jeremy menarik tangan gue dengan kencang, membawa kami berlari menembus kegelapan malam, kabur dari kepungan istana yang kini telah berubah menjadi arena perburuan kami.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!