Sumpah, kabur dari altar suci yang penuh dengan badai gliter pink neon adalah olahraga kardio terbaik sekaligus paling menegangkan seumur hidup gue.
Sekarang, di sinilah gue. Terduduk di atas sofa kayu yang agak berdebu di dalam sebuah pondok rahasia di tengah hutan pinus pinggiran ibu kota. Pondok ini kecil, tapi lumayan estetik dengan perapian hangat dan aroma kayu pinus yang menenangkan.
Di depan gue, Jeremy—sang Pendeta Agung kebanggaan Kekaisaran yang biasanya selalu tampil necis dan rapi—lagi sibuk nepuk-nepuk jubah putih keemasannya yang sekarang udah mirip donat ditaburi misis warna pink berkilau. Bahkan di bulu matanya yang lentik itu masih ada beberapa butir gliter yang menempel. Si****, kenapa dalam kondisi sekacau ini dia tetep kelihatan ganteng mirip visual grup K-pop yang lagi konser?
Gue buru-buru meraba wajah gue sendiri, lalu mengeluarkan cermin saku mini dari balik lipatan gaun satin hijau emerald gue yang sekarang juga udah penuh noda pink. Gue memandang pantulan wajah gue lekat-lekat.
"Aman..." desah gue lega setengah mati. "Gak ada kerutan, gak ada jerawat batu, kulit gue masih se-glowing pantat bayi baru lahir. Terima kasih, dewa-dewa skincare!"
Jeremy menghentikan gerakannya. Dia menatap gue datar, tapi ada binar geli di matanya yang sewarna biru safir itu. "Anya, kita baru aja jadi buronan seluruh Kekaisaran karena mengacaukan ritual suci, dan hal pertama yang kamu khawatirkan adalah... kondisi kulit kamu?"
"Ya iyalah!" sahut gue ngegas, tapi tetep berusaha anggun. "Jeremy, lo gak paham rasanya jadi cewek dengan visual pas-pasan yang sering dapet *treatment* kasta kedua di pergaulan sosial. Begitu dapet visual sekelas dewi begini, mana mau gue balik jadi remah-remah rengginang?! Ini tuh aset hidup dan mati gue!"
Jeremy menghela napas panjang. Dia berjalan mendekat, lalu duduk di sebelah gue. Jarak kami dekat banget, sampai gue bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi stroberi—efek samping bom mandi buatan Adrian tadi.
"Kamu bener-bener cewek paling aneh, paling ajaib, dan paling random yang pernah aku temuin seumur hidup aku," gumam Jeremy, suaranya yang bariton terdengar lembut banget di telinga gue.
"Makasih pujiannya. Gue anggap itu sebagai sanjungan," balas gue sambil nyengir lebar.
Jeremy menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi kemudian dia tersenyum. Sumpah, senyuman cowok kulkas dua pintu ini kalau udah mencair tuh bahaya banget buat kesehatan jantung gue. Senyumnya manis banget, tipe-tipe senyuman yang bisa bikin es di kutub utara langsung meleleh dalam tiga detik.
"Aku serius, Anya," kata Jeremy lagi. Dia memutar tubuhnya menghadap gue sepenuhnya. Kedua matanya menatap gue lurus-lurus, bikin gue mendadak salah tingkah dan refleks meremas ujung gaun gue. "Awalnya, waktu aku ditugaskan buat menyembuhkan 'kutukan' kamu, aku pikir kamu cuma cewek bangsawan manja yang obsesif sama penampilan luar."
"Terus sekarang?" tanya gue dengan suara pelan, mendadak jadi agak ciut karena tatapannya yang kelewat intens.
"Sekarang aku sadar kalau aku salah besar," Jeremy meraih tangan gue, menggenggamnya dengan jemarinya yang hangat dan kokoh. "Kamu itu... gigih banget. Kamu tahu apa yang kamu mau, dan kamu berjuang keras buat itu, meskipun cara-cara yang kamu pakai sering kali absurd dan di luar nalar sehat manusia biasa. Kamu ceria, berisik, dan jujur sama diri kamu sendiri. Kamu gak jaim kayak cewek bangsawan lain yang selalu pakai topeng di depan aku."
Gue menelan ludah. "Jeremy, lo... lo gak lagi kesurupan s**** hutan pinus, kan?"
Jeremy tertawa kecil, suara tawa yang kedengaran begitu renyah. "Enggak, Anya. Aku sadar sepenuhnya. Dan aku baru sadar satu hal lagi... aku jatuh cinta sama kamu. Bukan cuma karena wajah cantik hasil kutukan ini, tapi karena jiwa kamu yang kacau dan menyenangkan ini. Aku suka semua hal tentang kamu. Bahkan sifat absurd kamu yang bikin pusing tujuh keliling ini."
*DUG! DUG! DUG!*
Dada gue langsung serasa disko keliling. G***, ini beneran Jeremy sang Pendeta Agung yang dinginnya melebihi salju musim dingin lagi nembak gue?! Rasanya kayak dapet lotre tapi bonus ketiban gantengnya pangeran dongeng. Muka gue langsung panas, dan gue yakin banget sekarang pipi gue udah sewarna dengan gliter pink di baju kami.
"L-lo... lo serius?" tanya gue gagap. "Tapi gue kan... egois? Gue gak mau disembuhin. Gue mau tetep cantik begini seumur hidup gue!"
"Ya udah, jangan disembuhin," jawab Jeremy sant** sambil menepuk pelan puncak kepala gue. "Aku gak akan pernah memaksa kamu buat sembuh lagi. Aku bakal lindungi wajah cantik kamu ini dari siapa pun, terma**k dari kuil."
"Tapi gimana caranya, pinter?!" gue langsung tersadar dari mode baper. "Kita sekarang buronan. Kuil pasti bakal nyari kita sampai ke lubang semut. Belum lagi si Adrian, penyihir jenius tapi rada gesrek itu pasti bakal dituduh melakukan makar karena bikin bom gliter stroberi di altar suci!"
Jeremy tampak berpikir sejenak. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk dagunya yang tegas secara ritmis. Ekspresi seriusnya kembali, tapi kali ini kelihatan jauh lebih bersahabat.
"Kita gak bisa terus-terusan sembunyi di sini," gumam Jeremy. "Kita harus kembali ke ibu kota, tapi dengan strategi baru."
"Strategi apa?" tanya gue penasaran, mencondongkan tubuh ke arahnya.
Jeremy menatap gue dengan binar jenius di matanya. "Kita lakukan *reb**nding*."
"Hah? *Reb**nding*? Lo tahu istilah marketing modern dari mana?" tanya gue cengo.
"Aku belajar dari kamus kata-kata aneh yang sering kamu ucapin tiap hari," Jeremy mengedipkan sebelah matanya jahil. "Gini rencananya. Alih-alih menyebut kondisi kamu sebagai 'kutukan hitam' yang harus disembuhkan, kita bakal mengumumkan ke publik kalau ini adalah 'Berkah Dewi Kecantikan yang Unik'. Kita bikin narasi kalau Dewi sendiri yang memilih kamu untuk menjadi representasi kecantikan sejati di dunia ini."
Gue melongo. Otak gue langsung bekerja cepat mencerna ide Jeremy. "Bentar... itu jenius banget! Kalau kita sebut ini 'Berkah Dewi', kuil gak bakal berani menyentuh gue lagi. Karena kalau mereka maksa mau 'menyembuhkan' gue, itu sama aja mereka menentang kehendak Dewi yang mereka sembah sendiri!"
"Tepat sekali," Jeremy tersenyum puas. "Dan untuk Adrian, kita bakal bilang kalau dia bukan menyabotase ritual, melainkan dia sedang membantu menyalurkan energi suci dari berkah tersebut menggunakan ramuan khusus miliknya—yang secara kebetulan berwujud gliter pink wangi stroberi. Kita posisikan Adrian sebagai penyihir pelindung berkah."
"Sumpah, Jeremy, lo ternyata lebih licik dari rubah ekor sembilan!" pekik gue girang, refleks memeluk leher Jeremy erat-erat.
Jeremy sempat tegang sesaat karena pelukan tiba-tiba gue, tapi sedetik kemudian dia membalas pelukan gue hangat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gue. "Aku cuma belajar dari ahlinya," bisiknya lembut.
***
Tiga bulan kemudian.
Aula utama Istana Kekaisaran dipenuhi oleh ribuan pasang mata yang memandang ke arah altar tengah dengan penuh kekaguman. Tapi kali ini, suasananya bener-bener beda. Gak ada lagi ketegangan, gak ada lagi aura suram ritual pembersihan kutukan.
Gue berdiri di sana, mengenakan gaun putih megah bertabur kristal yang berkilau setiap kali gue bergerak. Rambut gue ditata sesempurna mungkin, dan kulit gue... oh, jangan ditanya. Dengan status baru gue sebagai "Ikon Berkah Dewi", gue punya akses ke bahan-bahan skincare paling premium di seluruh kekaisaran. Gue bener-bener bersinar, literal dan figuratif.
Di samping gue, Adrian berdiri dengan jubah penyihir barunya yang berwarna biru dongker dengan sulaman benang perak. Mukanya kelihatan bangga banget, dagunya terangkat tinggi. Gak ada lagi status buronan buat dia. Sekarang, dia resmi menyandang gelar sebagai Penyihir Resmi Istana Kekaisaran, berkat kontribusi "luar biasa"-nya dalam menjaga stabilitas Berkah Dewi (baca: bikin efek gliter estetik tiap kali gue tampil di depan publik).
Kaisar sendiri yang menyematkan lencana penghargaan di dada Adrian, sambil tersenyum ramah—meskipun gue bisa melihat sedikit trauma di matanya, mungkin dia masih ingat rasanya punya kumis pink berkilau tiga bulan lalu.
"Dan sekarang," suara protokol istana menggema dengan megah. "Mari kita sambut pendamping setia sang Ikon Berkah, Pendeta Agung Jeremy!"
Jeremy berjalan ma**k ke aula. Dia kelihatan luar biasa tampan dengan jubah kebesarannya yang bersih tanpa gliter (untuk saat ini). Dia berjalan lurus ke arah gue, mengabaikan bisikan kagum dari para gadis bangsawan di sekeliling aula. Matanya cuma tertuju ke gue.
Begitu sampai di depan gue, Jeremy menekuk satu lututnya, meraih tangan gue, lalu mengecup punggung tangan gue dengan sangat takzim. Tindakan formal yang kelihatan begitu romantis sampai-sampai terdengar helaan napas iri dari bangku penonton.
"Kamu kelihatan luar biasa hari ini, Tuan Putri Berkah," bisik Jeremy dengan nada menggoda yang cuma bisa didengar oleh gue sendiri.
"Tentu saja. Gue kan harus menjaga reputasi dewi kita," balas gue setengah berbisik sambil tersenyum lebar ke arah kamera—maksud gue, ke arah kerumunan penonton. "Gimana? Rencana kita sukses besar, kan?"
"Sangat sukses," Jeremy berdiri kembali, menyejajarkan posisinya di sebelah gue, lalu melingkarkan tangannya di pinggang gue dengan protektif. "Sekarang kuil gak bakal berani macam-macam sama kamu. Dan aku... akhirnya resmi dibebaskan dari tugas menyembuhkan kamu."
Gue mendongak, menatap matanya yang biru safir indah itu. "Jadi, lo gak bakal pernah coba-coba bawa air suci atau dahan pohon aneh itu lagi ke deket gue?"
Jeremy tertawa pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga gue, memberikan bisikan yang bikin seluruh bulu kuduk gue meremang indah.
"Aku bersumpah demi nama Dewi, aku gak akan pernah menyembuhkan kamu, Anya. Aku lebih memilih jadi pawang pribadi kamu seumur hidup, menjaga kecantikan absurd kamu ini tetap glowing selamanya."
Gue tersenyum sangat puas. Hidup gue sekarang bener-bener sempurna. Visual dewi dapet, pacar pendeta ganteng spek surga dapet, dan yang paling penting: *skincare* gue gratis dibiayai negara seumur hidup!
*Tolong, jangan pernah sembuhkan aku, karena jadi cantik itu bener-bener menyenangkan!*
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!