Kita Putus Setelah 100 Hari

Bab 1: Kebohongan Hari ke-0

Pengaturan Membaca

Aku sudah menyiapkan tiga versi kalimat untuk mengakhiri percakapan dengan Dimas. Tidak ada satu pun yang berhasil keluar dari mulutku.

Koridor gedung komunikasi Universitas Arunika ramai oleh mahasiswa yang baru selesai kelas sore. Aku berdiri di dekat mesin minuman, memegang ponsel terlalu erat, sementara Dimas berdiri di depanku dengan ekspresi yang dulu selalu membuatku merasa bersalah sebelum aku tahu apa kesalahanku.

“Aku cuma mau ngobrol baik-baik, Nar.”

“Kita sudah ngobrol baik-baik tiga kali.”

“Karena kamu selalu pergi sebelum selesai.”

Aku menarik napas. Secara teknis, aku pergi setelah dua jam mendengar dia menjelaskan kenapa semua masalah kami adalah salah caraku bereaksi. Tapi pengalaman mengajariku satu hal: menjelaskan ulang tidak selalu membuat orang lebih mengerti. Kadang hanya memberi mereka bahan baru untuk diperdebatkan.

“Aku nggak mau balikan,” kataku.

Dimas mengangguk pelan, seolah aku baru saja memberi jawaban sementara. “Aku juga nggak bilang mau balikan. Aku cuma bilang kita jangan buang dua tahun kayak gitu aja.”

Kalimat itu mendarat tepat di tempat yang paling ia kenal. Dua tahun. Foto. Ulang tahun. Keluarga yang pernah saling kenal. Semua bukti bahwa pergi akan selalu terlihat lebih kejam daripada bertahan.

Lalu aku melihat seseorang di ujung koridor. Raka Adinata. Aku tahu namanya karena semua orang yang pernah meminjam ruang media kampus tahu cowok arsitektur yang selalu datang mengambil kunci ruang pameran tepat waktu. Ia membawa tabung gambar di satu tangan dan kamera analog di tangan lain. Tatapannya sempat bertemu denganku, lalu berpindah ke Dimas.

Dimas masih bicara. “Atau ada orang lain?”

Aku tidak tahu kenapa pertanyaan itu membuat sesuatu dalam diriku patah. Mungkin karena selama ini kata tidak dariku selalu dianggap belum c**up. Seolah keputusan seorang perempuan baru sah kalau ada laki-laki lain yang mengambil tempat.

“Ada,” jawabku.

Dimas berhenti.

Aku juga berhenti bernapas.

“Siapa?”

Aku seharusnya bilang itu bukan urusannya. Seharusnya aku berjalan pergi. Seharusnya aku melakukan banyak hal yang lebih dewasa daripada menoleh ke satu-satunya orang yang sedang berada dalam jarak sepuluh meter.

Raka sedang berdiri di dekat pintu ruang pameran ketika aku menunjuk ke arahnya.

“Dia.”

Keheningan yang datang sesudahnya lebih keras daripada suara mahasiswa di koridor.

Raka menatap telunjukku, lalu wajahku. Salah satu alisnya naik.

Dimas tertawa pendek. “Serius?”

“Serius.” Aku menjawab terlalu cepat.

Raka berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat kebohonganku tumbuh kaki sendiri. Aku menunggu dia berkata, Maaf, siapa kamu? atau setidaknya menatapku seperti orang g***.

Sebaliknya, ia berhenti di sebelahku.

“Sudah selesai?” tanyanya.

Aku menatapnya.

Dimas juga.

Raka menambahkan, datar, “Aku nunggu dari tadi.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Dimas memandang kami bergantian. “Sejak kapan?”

“Bukan urusanmu,” jawabku, kali ini berhasil menggunakan kalimat yang seharusnya sejak awal.

Wajah Dimas mengeras. Ia mema**kkan tangan ke saku jaket. “Oke. Kalau memang begitu, aku cuma mau lihat kamu konsisten sama omonganmu.”

Ia pergi tanpa pamit. Aku mengikuti punggungnya sampai hilang di tangga, baru kemudian berani menoleh ke Raka.

“Terima kasih,” kataku. “Dan maaf. Sangat maaf.”

Raka menatap jam tangan tua di pergelangan kirinya. “Aku punya tujuh menit sebelum rapat.”

“Oke. Aku bisa menjelaskan dalam lima.”

“Aku rasa aku mengerti bagian kamu berbohong.”

“Itu bukan poinnya.”

“Kelihatannya justru itu poin utamanya.”

Aku menutup wajah sebentar. “Aku panik.”

“Kelihatan.”

Anehnya, tidak ada nada menghakimi dalam suaranya. Hanya fakta.

Aku mengira percakapan selesai ketika ia mulai berjalan menuju ruang pameran. Namun dua langkah kemudian ia berhenti.

“Dimas akan minta bukti,” katanya tanpa menoleh.

“Ya. Aku tahu.”

“Kebetulan aku juga sedang butuh bukti.”

Aku mengernyit. “Bukti apa?”

Sekarang ia menoleh. Tatapannya tenang dengan cara yang terasa berbahaya bagi orang yang baru saja membuat satu kebohongan besar.

“Bahwa aku punya pacar.”

Untuk pertama kalinya hari itu, aku lupa bagaimana cara bicara.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca