Aku tidak suka orang ma**k ke ruang kerjaku ketika maket belum selesai.
Nara ma**k sambil membawa makanan.
“Aku bawa damai,” katanya.
“Kamu tidak perang.”
“Aku selalu perang dengan orang yang lupa makan.”
Aku memandang jam. Pukul 21.18. Aku memang belum makan sejak siang.
Studio hampir kosong. Sela pulang lebih awal. Lampu putih, bau lem, dan tumpukan karton biasanya membuatku tenang. Malam itu, Nara duduk di lant** dekat mejaku dan membuka dua bungkus nasi.
“Kamu boleh kerja,” katanya. “Aku nggak ganggu.”
Lima menit kemudian ia bertanya apa fungsi struktur rangka di maket. Sepuluh menit kemudian ia mengkritik warna papan presentasi. Dua puluh menit kemudian ia sudah memegang penggaris dan membantu memotong kertas.
“Kamu bilang nggak ganggu,” kataku.
“Aku berevolusi.”
Aku membiarkannya.
Sekitar tengah malam, tanganku mulai gemetar karena terlalu banyak kopi. Nara merebut cangkir dari mejaku.
“C**up.”
“Aku belum selesai.”
“Kamu bisa selesai besok.”
“Deadline dua hari.”
“Kamu nggak harus selalu kuat.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Ia mengucapkannya biasa saja, sambil menutup tutup gelas. Seolah tidak tahu ada orang yang pernah menghabiskan hidupnya dengan prinsip sebaliknya.
“Aku nggak merasa kuat,” kataku.
“Ya. Itu poinnya.”
Aku duduk.
Nara tidak menuntut penjelasan. Ia hanya mengambil lembar kerja yang paling sederhana dan bertanya, “Yang ini bisa kubantu?”
Aku mengangguk.
Kami bekerja dalam diam selama hampir satu jam.
Ada sesuatu yang aneh tentang membiarkan orang melihat pekerjaan sebelum selesai. Mereka melihat bagian berantakan, garis miring, lem yang bocor, keputusan yang belum yakin. Mungkin itu sebabnya aku biasanya sendirian.
Nara melihat semuanya dan tidak membuatnya terasa seperti kegagalan.
Saat ia pulang, aku mengantar ke halte. Hujan tipis turun.
“Besok aku ada siaran pagi,” katanya. “Jadi jangan chat jam dua malam.”
“Aku tidak pernah chat jam dua malam.”
“Kamu balas chat jam dua malam.”
“Itu berbeda.”
Bus datang. Sebelum naik, ia menoleh.
“Makan besok.”
“Aku catat.”
Pintu bus tertutup.
Aku kembali ke studio dan menemukan satu sticky note oranye di meja maket.
Jangan jadi pahlawan sendirian. Membosankan.
Aku menyimpannya di dalam notebook.
Bukan karena penting.
Setidaknya itu yang kukatakan pada diriku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!