Aku tidak suka keramaian ketika sedang cemas. Sialnya, pekerjaanku di media kampus membuatku dikelilingi suara justru ketika tubuhku paling ingin kabur.
Hari itu studio siaran penuh. Dua nara**mber terlambat, file audio rusak, dan Iqbal berbicara tiga hal sekaligus. Aku menangani semuanya sampai satu notifikasi ma**k dari nomor baru.
Aku tahu itu Dimas sebelum membaca isinya.
Aku cuma mau pastikan kamu baik-baik saja.
Tanganku dingin. Jantungku terlalu cepat. Ruangan tidak berubah, tetapi tiba-tiba semua suara terdengar jauh.
Aku mengetik: Aku baik-baik saja. Lalu menghapusnya.
Mengetik: Tolong jangan hubungi aku. Menghapus lagi.
Aku bahkan tidak sadar Raka datang sampai ia berdiri di dekat pintu ruang kontrol.
“Kamu pucat,” katanya.
“Aku pakai bedak yang salah.”
“Jawaban jujur.”
Aku membenci dia karena mengingat kalimat itu.
Aku menyerahkan ponsel tanpa berkata apa-apa.
Raka membaca pesan, lalu mengembalikannya. Ia tidak bertanya bagaimana Dimas dapat nomor baru. Tidak bertanya kenapa aku belum membalas. Tidak menyuruhku blokir lagi.
“Kamu mau aku tinggal?” tanyanya.
Itu saja.
Aku mengangguk.
Ia duduk di kursi pojok ruang kontrol selama hampir satu jam. Aku menyelesaikan siaran, memeriksa rundown, dan menjawab pesan tim. Sesekali aku melihat ke arahnya. Ia tidak menatap terus. Tidak mengawasi. Hanya ada.
Setelah studio kosong, aku akhirnya duduk di lant**.
“Ini memalukan,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena satu pesan bisa bikin aku seperti ini.”
“Tubuhmu nggak baca teori soal move on.”
Aku tertawa kecil. “Kamu mulai pintar ngomong.”
“Jangan dibiasakan.”
Aku menatap layar ponsel. “Aku nggak akan balas.”
Raka mengangguk.
“Aku juga nggak perlu kamu yang balas.”
“Aku tahu.”
Kalimat itu membuat bahuku turun sedikit.
Aku memblokir nomor tersebut.
Kami keluar ketika kampus mulai sepi. Di halte, aku bertanya kenapa ia datang.
“Kamu bilang siaran pagi,” jawabnya.
“Itu tiga hari lalu.”
“Aku ingat jadwalnya.”
“Tapi kenapa ke sini?”
Ia diam sebentar. “Aku lewat.”
“Kamu anak arsitektur. Gedungmu di sisi kampus lain.”
“Jalan memutar.”
Aku menatapnya.
Raka akhirnya menghela napas. “Aku pikir kamu mungkin belum makan.”
“Dan itu alasan normal?”
“Lebih normal daripada bilang aku khawatir.”
Kami terdiam.
Aku tahu seharusnya membuat lelucon. Itu biasanya caraku menyelamatkan diri dari kalimat yang terlalu jujur.
Namun malam itu aku hanya berkata, “Terima kasih sudah tinggal.”
Raka mengangguk. “Sama-sama.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada adegan dramatis. Hanya dua orang di halte dan hujan tipis yang mulai turun.
Tetapi saat bus datang, aku menyadari sesuatu yang menakutkan.
Aku merasa aman bersamanya bukan karena ia menyelesaikan masalahku.
Aku merasa aman karena ia tidak mencoba mengambil alih.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!