Aku bertemu Dimas tanpa sengaja di depan gedung administrasi.
Setidaknya itu yang kupikir sampai ia berkata, “Gue memang nunggu lo.”
Aku tidak suka konfrontasi yang direncanakan orang lain. Biasanya mereka datang dengan pidato yang sudah disiapkan dan tidak benar-benar ingin jawaban.
“Lima menit,” kataku.
Dimas tertawa tipis. “Nara pernah bilang lo selalu ngitung waktu?”
“Belum.”
Wajahnya berubah sedikit.
Ia mulai bicara tentang hubungan mereka. Dua tahun. Masalah yang menurutnya dibesar-besarkan. Kesalahan Nara yang, katanya, selalu kabur ketika diajak menyelesaikan sesuatu. Aku mendengarkan sampai ia sampai pada kalimat yang sejak awal ingin ia katakan.
“Kamu cuma pelarian.”
“Mungkin.”
Ia tampak tidak siap dengan jawaban itu.
“Tapi kalaupun iya,” lanjutku, “itu tetap pilihan Nara.”
“Lo bahkan nggak tahu dia.”
Kalimat itu mendarat lebih keras daripada seharusnya.
Aku tahu Nara suka kopi susu gula setengah. Aku tahu ia menyimpan power bank tetapi selalu lupa mengisi. Aku tahu kalau cemas ia bicara lebih cepat. Aku tahu ia tidak suka ditanya “kenapa” ketika baru panik. Aku tahu ia akan tertawa dulu sebelum mengakui sesuatu menyakitinya.
Tetapi aku juga tahu baru mengenalnya beberapa minggu.
Dimas mengenalnya dua tahun.
“Benar,” kataku. “Aku masih belajar.”
“Terus lo merasa lebih tahu apa yang baik buat dia?”
“Tidak.”
“Jadi?”
“Aku percaya dia tahu apa yang baik buat dirinya.”
Dimas diam.
Aku berjalan pergi sebelum lima menit habis.
Malamnya, Nara menelepon.
“Kamu ketemu Dimas?”
“Ya.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Baru mau.”
“Apa yang dia bilang?”
Aku menceritakan hampir semuanya. Kecuali bagian ketika kalimat Kamu bahkan nggak tahu dia membuatku marah secara personal.
Nara diam c**up lama.
“Dia benar,” katanya akhirnya.
Aku menatap dinding apartemen. “Tentang?”
“Kamu nggak tahu aku.”
“Belum semuanya.”
“Dan kamu tetap membela aku.”
“Aku membela hakmu membuat keputusan. Beda.”
Terdengar napasnya di seberang.
“Raka.”
“Ya?”
“Terima kasih.”
Pangg***n berakhir beberapa menit kemudian.
Aku membuka kalender ponsel dan, tanpa alasan yang bisa kujelaskan, menambahkan catatan pada Hari ke-34.
Nara bilang terima kasih dengan suara hampir menangis.
Aku menatap catatan itu lama.
Mungkin Dimas benar bahwa aku belum tahu banyak tentang Nara.
Masalahnya, aku mulai ingin tahu semuanya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!