Teman-temanku menguji Raka seperti ia peserta kuis berhadiah.
“Apa makanan yang Nara benci?” tanya Iqbal.
“Pepaya.”
“Nama dosen yang paling sering dia keluhkan?”
“Pak Arif.”
“Apa yang dia lakukan kalau gugup?”
Raka melirikku. “Bicara terlalu banyak lalu bilang ‘itu bukan poinnya’.”
Semua orang tertawa.
Aku tidak.
Bukan karena malu. Karena aku tidak ingat pernah mengatakan kepadanya bahwa aku benci pepaya. Mungkin ia melihatku memindahkan potongan buah dari kotak makan. Mungkin ia mendengar keluhanku tentang Pak Arif sekali. Mungkin ia memang memperhatikan sebanyak itu.
“Giliran Nara,” kata Keira.
Aku membalas dengan det**l tentang Raka. Americano tanpa gula. Tidak suka orang menyentuh maket tanpa izin. Selalu memeriksa jam ketika gugup. Menyimpan kamera analog meski jarang memotret orang.
Raka menatapku setelah jawaban terakhir.
“Kamu tahu?”
“Aku juga bisa memperhatikan.”
Permainan selesai, tetapi sesuatu di kepalaku tidak.
Malamnya, aku membuka kalender. Hari ke-38.
Enam puluh dua hari tersisa.
Aku langsung menutupnya.
Keira yang sedang membaca di ka**r sebelah berkata, “Kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Kamu lihat kalender seperti baru dapat diagnosis.”
“Aku cuma hitung tugas.”
“Kamu bohong jelek.”
Aku melempar kaus kaki ke arahnya.
Hari berikutnya, Raka menungguku setelah kelas membawa minuman.
“Kopi susu, gula setengah,” katanya.
“Aku tidak minta.”
“Benar.”
“Ini bagian kontrak?”
“Tidak ada yang lihat.”
Aku menerima gelas itu.
Kami berjalan ke halte. Di tengah jalan, ia berhenti di minimarket hanya untuk membeli permen jahe karena pernah mendengarku bilang aku mual kalau terlalu lama belum makan.
Hal kecil. Semuanya hal kecil.
Tetapi justru itu yang berbahaya.
Orang bisa menganggap bunga sebagai kewajiban. Hadiah sebagai gestur. Unggahan sebagai citra. Tetapi siapa yang mengingat aku tidak suka pepaya? Siapa yang tahu nada suaraku berbeda ketika pura-pura baik-baik saja?
Malam itu, aku membuka foto kontrak.
Aturan lima: tidak boleh jatuh cinta.
Aku tertawa sendiri.
“Secara teknis,” bisikku pada layar, “mengingat det**l bukan cinta.”
Aku ingin mempercayai kalimat itu.
Maka aku menambahkan widget countdown di ponsel.
62 hari lagi.
Entah kenapa aku merasa seperti sedang menghitung sesuatu menuju akhir, bukan menuju bebas.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!