Raka sakit dan tidak memberi tahu siapa pun.
Aku tahu dari Sela yang mengirim pesan singkat: Kalau pacar palsumu tidak jawab, dia demam. Tolong pastikan dia makan. Dan jangan bilang aku yang bilang.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Pacar palsu.
Sela tahu ada sesuatu, meski belum semuanya.
Aku datang ke apartemen Raka membawa bubur, obat penurun panas, dan kemarahan yang tidak punya hak resmi.
Ia membuka pintu dengan wajah pucat.
“Kamu ngapain?”
“Romantis sekali.”
“Aku serius.”
“Aku juga. Kenapa nggak bilang sakit?”
“Karena tidak perlu.”
“Ke siapa?”
“Ke siapa pun.”
Aku ma**k tanpa menunggu izin. Apartemennya lebih sepi daripada yang kubayangkan. Rapi, terlalu rapi. Seperti tempat orang tidur tetapi tidak benar-benar tinggal.
“Kamu makan?”
“Sudah.”
“Kapan?”
Ia diam.
“Pembohong.”
Aku menyiapkan bubur. Raka duduk di sofa dengan selimut dan ekspresi tersinggung karena tubuhnya berani gagal berfungsi.
“Ini tidak ma**k jadwal,” katanya.
“Demam juga nggak ma**k.”
“Kamu ada kelas.”
“Sudah selesai.”
“Kamu tidak harus datang.”
Aku berhenti mengaduk bubur.
“Raka, aku tahu.”
Ia menatapku.
“Aku datang karena mau.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa berbeda.
Ia tidak membalas. Hanya menerima mangkuk ketika kuberikan.
Beberapa jam kemudian demamnya turun. Aku hendak pulang ketika ia tertidur di sofa. Ada kalender kecil di meja samping. Beberapa tanggal diberi tanda titik hitam.
Aku seharusnya tidak melihat lebih dekat.
Aku melihat.
Hari pertama kontrak. Foto pertama. Hujan di toko buku. Hari ketika ia datang ke studio siaran. Semua diberi tanda kecil.
Tidak ada keterangan. Hanya titik.
Aku mendengar Raka bergerak dan buru-buru mundur.
“Kamu belum pulang?” tanyanya serak.
“Baru mau.”
Ia mengangguk, lalu berkata, “Terima kasih.”
Aku mengambil tas.
Di pintu ia menambahkan, “Aku nggak suka orang lihat aku sakit.”
“Aku bisa pura-pura nggak lihat.”
“Itu buruk.”
“Makanya cocok sama hubungan kita.”
Ia tertawa pelan, lalu batuk.
Aku pulang dengan dada penuh sesuatu yang tidak bisa dinamai.
Hari ke-43.
Malam itu Keira bertanya, “Kamu yakin ini masih pura-pura?”
Aku menjawab terlalu cepat.
“Ya.”
Lalu aku membuka kalender dan menghitung lima puluh tujuh hari tersisa.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!