Setelah sembuh, aku merasa perlu mengembalikan keseimbangan.
Nara menyebutnya “rasa bersalah orang sakit”. Aku menyebutnya kencan kontrak formal.
Kami pergi ke pasar seni akhir pekan di B**ga. Ada musik jalanan, tenda makanan, dan terlalu banyak orang yang berhenti untuk mengambil foto. Tempat ideal untuk terlihat sebagai pasangan. Setidaknya itu alasanku.
Nara memakai kemeja putih longgar dan membawa tote bag yang sama seperti biasa. Ia melihat kamera analog di tanganku.
“Kamu akhirnya bawa kamera untuk manusia?”
“Bisa jadi.”
“Jangan terlalu romantis, aku bisa salah paham.”
Aku menatapnya. Ia tersenyum seolah kalimat itu hanya lelucon.
Kami mencoba makanan terlalu pedas, berdebat soal poster jelek, dan membeli dua stiker yang tidak kami butuhkan. Beberapa kali orang mengenali Nara dari media kampus dan meminta foto. Kami berdiri berdekatan. Tersenyum. Selesai.
Lalu kami menemukan stan polaroid.
“Wajib,” kata Nara.
“Tidak ada yang wajib.”
“Ini riset visual pasangan.”
Aku menyerah.
Foto pertama terlalu formal. Foto kedua diambil ketika Nara tiba-tiba mendorong bahuku karena aku menolak tersenyum lebih lebar. Hasilnya bagus.
“Dua salinan,” kata penjaga stan.
Nara mengambil satu. Aku mengambil satu lagi.
“Buat bukti,” katanya.
“Ya.”
Aku menyimpan foto itu di dalam dompet, di belakang kartu identitas.
Sore menjelang malam. Kami duduk di trotoar dengan minuman dingin. Tidak ada agenda berikutnya.
“Kamu kelihatan beda hari ini,” kata Nara.
“Beda bagaimana?”
“Lebih sant**.”
“Aku memang sant**.”
“Raka, kamu pernah bikin spreadsheet hubungan.”
Aku mengakui kekalahan dengan diam.
Ia tertawa. Aku mengambil kamera dan memotret tanpa berpikir.
Klik.
Nara menatapku. “Kamu barusan motret aku?”
“Cahayanya bagus.”
“Oh, jadi aku cuma objek pencahayaan.”
“Kurang lebih.”
“Tidak romantis.”
“Bagus.”
Sekali lagi, kalimat itu membuat sesuatu berubah tipis di wajahnya.
Malamnya, saat aku pulang, aku mengeluarkan polaroid kedua dari dompet.
Aku seharusnya menyimpannya di map kontrak.
Sebagai bukti.
Sebaliknya, aku meletakkannya di meja samping tempat tidur.
Di bawah kalender kecil dengan titik-titik hitam.
Aku tidak menulis apa pun di Hari ke-46.
Aku tidak perlu.
Aku akan mengingatnya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!